Sabtu, 19 Desember 2020

Dampak Kekurangan Zat Besi pada Tumbuh Kembang Anak

 

Sejak pandemi Covid-19, kita mendengar banyak slogan soal pentingnya menjaga kesehatan, terutama kesehatan anak. Pasalnya, anak termasuk kelompok yang rentan penyakit. Kabar terbaru, vaksin yang akan didistribusikan nanti cuma boleh diberikan kepada orang-orang yang berusia minimal 18 tahun. Hm, berarti anak-anak tidak termasuk yang divaksin dong, ya. So, selain menjaga kebersihan, cara terbaik supaya anak-anak terhindar dari sakit adalah dengan menjaga kesehatan.

Anak tumbuh sehat mestinya karena memiliki sistem imun yang baik. Sistem imun yang baik terbentuk karena asupan nutrisi yang cukup. “Sayangnya, 1 dari 3 balita Indonesia mengalami anemia (Riskesdas, 2018). Sekitar 50-60% anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Jika dibiarkan, generasi emas Indonesia 2045 tidak akan tumbuh secara optimal, bahkan bisa saja kita kehilangan generasi ini,” kata Pak Arif Mujahidin (Corporate Communication Director Danone Indonesia). Jadi catatan serius bagi tim Danone Specialized Nutrition (Danone SN) Indonesia, nih. Maka, pada tanggal 17 Desember 2020, Danone SN berinisiatif mengadakan webinar Kekurangan Zat Besi sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya terhadap Kemajuan Anak. Senangnya saya diundang untuk menghadiri webinar ini.  

 




  

Ibu hamil dan anemia

Di Indonesia, ibu hamil yang anemia berjumlah sekitar 48%. Lebih tinggi 10% dari jumlah globalnya, Teman-teman. Kebanyakan berusia muda, yakni 15-24 tahun. Berikut dampak anemia pada ibu hamil:

- mudah lelah, letih, dan lesu

- keluhan pada jantung (palpitasi atau berdebar)

- pembesaran otot jantung

- tensi turun

- komplikasi pendarahan saat persalinan

- kelahiran prematur

- berat badan lahir anak rendah. 

 

Anemia pada anak

Menurut dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi., SpGK. (Dokter Spesialis Gizi Klinik dan Ketua Departemen Ilmu Gizi Klinik FK-UI), ibu hamil yang anemia, kemungkinan besar anak yang dilahirkan juga akan anemia. Padahal, anak usia 6 bulan hingga 3 tahun masa pertumbuhannya cepat (pembentukan sel-sel saraf otak) dan kebutuhannya terhadap zat besi pula besar. Ternyata, oh, ternyata, kekurangan zat besi bukan hanya berpengaruh pada perkembangan fisik dan kognitif anak, melainkan pada perilaku sosial juga, lo. 

 



 

Kenapa ya zat besi sangat dibutuhkan tubuh? Zat besi bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh organ tubuh kita. Jadi, tanpa zat besi, organ-organ tubuh kita tidak akan bisa menjalankan fungsinya. Inilah yang menyebabkan terganggunya perkembangan fisik, kognitif, dan perilaku sosial anak. 

Tip supaya anak terhindar dari anemia

Gejala utama anemia pastinya keluhan cepat lelah dan pusing. Selain itu, anak yang anemia juga mengalami pica. Saya baru tahu istilah pica ini. Pica adalah masalah psikologis di mana anak senang mengunyah benda yang bukan makanan, seperti es batu, tisu, sabun, dll. Bahaya, kan. Kalau diperiksa di lab, ukuran sel darah anak yang anemia lebih kecil daripada ukuran sel darah normal.

Apa saja yang harus dilakukan supaya anak terhindar dari anemia? Periksa  kadar hemoglobin di lab terlebih dahulu. Konsumsi makanan yang kaya akan zat besi. Contohnya, ati sapi, ati ayam, daging merah, daging ayam, kuning telur, dan seafood. Konsumsi juga makanan-makanan yang difortifikasi zat besi. Berikan suplemen zat besi untuk anak yang sesuai dan patuhi aturan pakainya, ya.  

Vitamin C untuk anak sangat membantu penyerapan zat besi. Sebaliknya, setop mengonsumi minuman yang mengandung tanin (teh atau kopi) setelah makan. Tanin dapat menghambat penyerapan zat besi. Jadi, apa pun makanannya, minumnya jangan teh atau kopi!
   

Optimalkan tumbuh kembang anak

Meski nutrisi anak sudah tercukupi, orangtua bukan langsung santai kayak di pantai, dong. Anak masih membutuhkan stimulasi supaya tumbuh kembangnya optimal. Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si. (Psikolog Anak dan Keluarga) atau sering dipanggil Mbak Nina ini, ada 3 aspek besar tumbuh kembang anak, yakni aspek kognitif bahasa (kemampuan berpikir dan berbicara), aspek emosi sosial (kemampuan mengenali dan mengendalikan emosi serta berinteraksi dengan orang lain), dan aspek fisik motorik (kemampuan anggota tubuh tumbuh tinggi dan bergerak lincah). Berikut dampak kekurangan zat besi pada psikologis anak.          

 


Dampak kekurangan zat besi ini bisa jangka panjang dan permanen. Awalnya anak lemas, pecah konsentrasi, daya ingat menurun, kualitas tidur bermasalah, dll. Ketika memasuki usia sekolah, anak kepayahan mengikuti pelajaran. Kelak anak sulit bersaing dan tersendat-sendat di dunia kerja. Hambatan-hambatan ini akan membuat anak murung, tidak percaya diri, dan enggan bersosialisasi. Kasihan, kan.  

 

Stimulasi untuk tumbuh kembang anak

            Referensi dari Mbak Nina, anak memiliki 5 potensi prestasi. Ada beberapa stimulasi yang bisa kita lakukan kepada anak seperti stimulasi untuk berpikir cepat, stimulasi untuk aktif bersosialisasi, stimulasi untuk tumbuh tinggi, stimulasi untuk tangguh, dan stimulasi untuk percaya diri. Penjelasannya sbb.   

Stimulasi untuk berpikir cepat

Ajak anak bicara dengan jelas, bukan pura-pura cadel. Perbanyak kosakata dengan membaca buku dan mengobrol. Cermati lingkungan sekeliling untuk mempraktikkan hasil membaca dan mengobrol tadi. Oiya, bermain teka-teki atau menyembunyikan barang juga seru, lo.

Stimulasi untuk aktif bersosialisasi 

Gunakan bahasa utama dalam keseharian supaya anak terbiasa memahami bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain nantinya. Bagi respons positif ketika anak berinteraksi dengan orang lain. Ajak anak bermain role and play.  

Stimulasi untuk tumbuh tinggi

First, nutrisi anak kudu tercukupi, termasuk zat besi. Jangan gampang menuruti keinginan anak yang tidak mau makan daging atau sayur, misalnya. Berikan ruang aman untuk bergerak. Ujung meja tidak runcing, lantai tidak licin, barang-barang tajam tidak berserakan. Anak bebas bereksplorasi. Meski sedang tidak boleh keluar rumah, kita bisa menciptakan macam-macam permainan sederhana bersama anak, kok.      

Stimulasi untuk tangguh

Beri kepercayaan kepada anak untuk berusaha, terutama ketika dia menghadapi situasi yang menantang. Jangan sedikit-sedikit membantu. Ketangguhannya sedang distimulasi di sini. Tidak perlu menunggu dia berhasil untuk mengapresiasi. Dia mau berusaha, itu adalah hal yang baik.   

Stimulasi untuk percaya diri

Lakukan stimulasi supaya anak percaya diri. Contoh, biarkan anak memilih baju yang akan mereka pakai, bukan memaksakan baju pilihan kita. Beri pujian yang spesifik ketika anak bersikap baik. Contoh, “Ummi senang, nih, kamu mewarnainya enggak keluar garis!” Kasih kesempatan kepada anak untuk merawat dirinya sendiri. Contoh, makan sendiri, mandi sendiri, atau memakai sepatu sendiri.    

   

Webinar kali ini menghadirkan dua mamah muda seleb nan cantik jelitah kembaran saya, yakni Alyssa Soebandono dan Tya Ariestya. Alyssa mengungkapkan kekhawatirannya saat dua buah hatinya, Rendra dan Malik, berada dalam situasi PJJ. Anak-anak berjuang untuk fokus belajar full di rumah. Alyssa sebagai ibu pun butuh effort lebih mendampingi anak-anak. Karena itu, nutrisi wajib diperhatikan. “Rendra termasuk anak yang picky eater. Saya mencari berbagai cara supaya nutrisinya tetap terpenuhi, misalnya mencincang ikan untuk menghilangkan bau yang Rendra tidak suka. Intinya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk anak,” kata Alyssa tersenyum.       

Tya turut sharing pengalaman mengasuh anak-anaknya, Kanaka dan Kalundra, di mana latar belakangnya sebagai mantan atlet taekwondo memberi wawasan plus seputar nutrisi dan stimulasi. Orangtua dituntut untuk kreatif supaya nutrisi anak tercukupi. Tya mengolah sayur dan buah menjadi es krim favorit untuk anak-anaknya. Tya juga mengamini penjelasan Mbak Nina soal kebutuhan ruang aman untuk anak, terutama di saat pandemi seperti ini. “Aku sampai menyulap beberapa ruangan di rumah aku supaya jadi tempat bermain yang nyaman anak-anak,” kata Tya tertawa.       

 

Saya yakin, semua poin di atas memang tidak mudah diaplikasikan. Setiap orangtua pasti punya customized strategy masing-masing. Semangaaattt! Nah, Danone SN Indonesia menyediakan platform daring www.generasimaju.co.id untuk membantu teman-teman melakukan tes risiko kekurangan zat besi pada si kecil. Kalian bisa menemukan artikel-artikel terkait topik nutrisi, termasuk artikel tentang kekurangan zat besi dan cara mengatasinya. Ada juga artikel tentang tip-tip mendukung anak menjadi Anak Generasi Maju. Yuk, coba main-main ke situsnya. Semoga bermanfaat, ya. [] Haya Aliya Zaki

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...