Jumat, 30 Oktober 2020

Peran Media dalam Memerangi Kelaparan pada Balita

Dua hari yang lalu kita merayakan Hari Sumpah Pemuda, kan. Hayo, ada yang masih ingat tak apa aja isi Sumpah Pemuda? :) Saya merayakannya dengan berbincang-bincang bersama teman-teman dari Foodbank of Indonesia (FOI) dan media di dunia maya. Topik yang diangkat sbb: Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan Balita. Hm, benarkah media bisa akhiri kelaparan balita? Bagaimana caranya, ya?

“Meski sudah merdeka, momen Hari Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perjuangan belum berakhir. Salah satu cita-cita pendahulu kita adalah semua WNI mendapatkan akses pangan yang baik. Faktanya, masih banyak warga yang kelaparan, termasuk anak-anak. Berdasarkan survei FOI pada 284 PAUD di 13 wilayah, sekitar 57% anak-anak dari pagi sampai siang beraktivitas dengan perut kosong,” demikian kata sambutan dari Pak Hendro Utomo, Founder FOI. FOI organisasi nirlaba yang berdiri pada tanggal 21 Mei 2015 di bawah Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. 

 




    

Indonesia dan kelaparan pada balita

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan jadi bagian dari HAM. Data dari Indeks Kelaparan Global 2019, Indonesia menghadapi masalah kelaparan yang serius, lo. Kelaparan terbagi dua, yakni kelaparan karena kemiskinan dan kelaparan yang tersembunyi a.k.a hidden hunger. Saya baru tahu istilah hidden hunger ini. Hidden hunger maksudnya fenomena kekurangan vitamin dan mineral yang dapat berujung pada stunting (balita gagal tumbuh). Ironis, kasus kelaparan balita malah banyak terjadi di wilayah penghasil pangan seperti Cianjur, Brebes, Subang, dll.        

Fyi, jangan pikir kasus kelaparan ini ada di wilayah pelosok Indonesia doang. Di kota-kota juga! Rata-rata orangtua tidak masak di rumah. Anak-anak berangkat ke sekolah hanya berbekal uang jajan. Well, sudah bisa ditebaklah ya jajanan kesenangan anak-anak apa, biasanya makanan bercitarasa tajam; makanan manis, asam, asin, warna-warni, dan nilai gizinya rendah. Tambahan pula kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Kasus kelaparan jelas meningkat.

Pak Hendro khawatir kita bakal kehilangan satu generasi. Negara kita tidak akan bisa bersaing dengan negara lain jika pemuda-pemudanya pada lemas dan lemot. Masa depan hanya digenggam oleh bangsa yang cerdas dan kreatif!
      

Hak anak atas pangan

Ibu Lenny N. Rosalin, Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, memaparkan bahwa dari 267 juta penduduk Indonesia, sekitar 79,5 juta itu usia anak (di bawah 18 tahun). Usia balitanya ada 8% dari 79,5 juta jiwa tadi dan hanya 85% usia balita diasuh oleh orangtua kandung. Sisanya diasuh oleh orangtua pengganti (anggota keluarga lain, panti, pengungsian, dll). Orangtua pengasuh menjadi faktor penentu kualitas balita yang diasuh.   

  Ibu Lenny memberi beberapa contoh kasus hak anak atas pangan yang terzalimi. Misalnya, pemberian ASI, hanya 2 dari 3 anak di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif. Ibu-ibu belum paham bahwa menyusui bisa membantu tumbuh kembang anak. Lalu, rokok. Rokok jadi komoditi kedua tertinggi setelah makanan pokok beras. Bayangkan! Hari gini kok masih banyak orangtua yang lebih memilih ngudud daripada memenuhi gizi anak. Sungguh ter-la-luh. Seandainya uang rokok dibelikan telur dan susu, gizi anak bisa terpenuhi.      

Ada lima track yang dipakai untuk mengatasi balita kekurangan gizi. Satu yang menarik bagi saya adalah track anak menolong anak. Anak-anak usia pra-remaja dan remaja dilatih menjadi Pelopor dan Pelapor, di mana mereka belajar mencerna dan melaporkan kasus anak di sekitar. Jika mereka melihat ada anak yang kekurangan gizi, sakit, mendapat KDRT, dst, mereka akan membantu melaporkannya ke lembaga terkait. Keren, ya. Saya pernah menulis artikel tentang anak-anak Pelopor dan Pelapor di blog ini. Silakan teman-teman search.    

Pangan lokal sebagai pangan pilihan

            Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, mengajak kita semua kembali ke pangan lokal. Pangan lokal bukan alternatif, melainkan pilihan. Banyak pangan lokal yang bernilai gizi baik dan harganya tidak pula mahal.    

            Hal yang sama diungkapkan oleh Ibu Nur Kholis Bunda PAUD, relawan FOI. Beliau bercerita banyak tentang aktivitasnya mengenalkan pangan lokal di lingkungan PAUD. Hal ini semacam tantangan karena anak-anak sudah terbiasa dengan makanan instan. “Olah pangan lokal jadi makanan yang menggiurkan, minimal anak-anak mencicipi saja dulu,” kata Ibu Nur. Contoh, bunga telang. Bunga telang bisa diolah antara lain jadi teh tarik bunga telang, puding lapis bunga telang, dan nasi biru bunga telang. Yummy! Tuh, Bunda PAUD sudah berusaha menjalankan tugas, eksekusi selanjutnya sangat tergantung kepada orangtua.     

            Shahnaz Haque, seorang ibu dan figur publik, menegaskan bahwa ibu punya peran penting soal suplai pangan karena biasanya ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak. Ciptakan memori di kepala anak akan makanan sehat. Kelak anak melakukan hal yang sama kepada keturunannya. Misal, anak yang punya memori selalu disuguhkan sayur buah, kelak akan berlaku sama kepada keturunannya, sebaliknya anak yang punya memori selalu disuguhkan gorengan, kelak demikian pula. Setuju banget, Shahnaz! Tidak mungkin anak ujug-ujug doyan sayur buah atau gorengan kalau bukan karena habit yang ditanamkan oleh orangtua. Cinta dibentuk oleh pengalaman dan proses yang berulang.         

Peran media akhiri kelaparan balita

Sering bahasa akademisi topik pangan dan gizi sulit dipahami. Media bisa membantu membangun narasi sedemikian rupa, menuliskannya dengan bahasa yang mudah masuk di pemikiran awam. Selain lebih gencar mengangkat isu kelaparan pada balita Indonesia, Ibu Nur ingin media lebih banyak melahirkan tulisan tentang ide bagaimana mengolah pangan lokal yang kekinian, cara memanfaatkan pekarangan, usaha ternak mandiri, dll. Edukasi dari media diharap mampu mengubah perilaku para orangtua soal pemenuhan hak anak atas pangan.      

“Tugas media tidak sekadar membuat tulisan, tapi juga harus memberikan solusi kepada publik.” Andreas Maryanto, wartawan senior Kompas

            Insyaallah FOI komit membantu masyarakat mencari solusi untuk menangani masalah pangan. FOI bergerak dalam redistribusi makanan berlebih sebagai upaya mencegah kemubaziran pangan dan membuka akses pangan bagi kelompok rentan, salah satunya balita. Selama lima tahun terakhir, FOI konsisten membantu melalui program-program pendampingan masyarakat berbasis pangan, seperti Sayap dari Ibu (SADARI), Mentari Bangsaku, dan Pos Pangan. Kini FOI sedang menggalakkan kampanye Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia Seri Ikan untuk Anak bersama Beejay Seafood di mana akan diberikan ikan kepada 20 ribu anak di 7 provinsi di Indonesia sebagai aksi nyata kembali ke pangan lokal.  

 




Yuk, teman-teman media kita bergandengan tangan terlibat dalam isu kelaparan balita demi mewujudkan Indonesia Merdeka 100% dari rasa lapar. Semoga anak-anak Indonesia tetap dapat mengakses pangan bergizi di tengah kesulitan ekonomi yang melanda negeri. [] Haya Aliya Zaki

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan