Jumat, 23 Oktober 2020

5 Ide Seru Berbagi di Saat Pandemi

 

Oktober 2020 jadi penanda genap 8 bulan kita survive dari pandemi Covid-19, Teman-teman. Peluk diri sorangan dulu ah, ... masya Allah. Bukan hal yang mudah untuk melaluinya mengingat chaos yang mengemuka, terutama dari sisi kesehatan dan ekonomi.

Meski dunia sedang sesak diimpit pandemi, semangat berbagi pantang surut ke belakang. Mungkin kalian pernah mendengar kalimat, “Berbagi tidak bikin rugi.” Ya, ini kalimat klise memang, tapi benar adanya. Beruntung kita, berbagi justru mengganda perasaan bahagia. Kok bisa?

Ternyata, eh, ternyata, berdasarkan penelitian, sikap berbagi memicu produksi hormon endorfin di otak. Kita akan merasakan sesuatu yang disebut helper’s high. Efeknya menyenangkan dan menenangkan. Stephen Post, profesor kedokteran preventif di Universitas Stony Brook, bahkan menuliskan di dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People, bahwa berbagi dapat meningkatkan kesehatan orang-orang berpenyakit kronis, termasuk HIV/AIDS dan sklerosis ganda (Greatmind.id, 2018).

 

Pandemi mengubah cara kita berbagi       

Btw, sejak pandemi, kalian selalu cuci tangan dan pakai masker, kan? Kalian juga jadi lebih hemat dan hati-hati dalam mengontrol keuangan, kan? Perlu dicatat, bukan cuma healthy and money habits yang berubah karena pandemi, cara kita berbagi pun demikian.

Sebelum pandemi, mungkin kita kerap menyambangi anak yatim dan kaum dhuafa ke panti-panti atau mengundang mereka datang ke rumah untuk memberi santunan. Sekarang mission impossible, ya. Kerumunan merupakan sumber utama penyebaran virus korona. Kalau nekat rame-rame, kita bakal didenda dan siap-siap tidur di balik sempitnya jeruji besi.   

Kangen kumpul sama anak-anak yatim ini (foto sebelum pandemi)

Tapi, tidak perlu khawatir. Berbagi ada banyak cara dan bisa dilakukan dengan banyak cara. Saya sering memanfaatkan dunia maya. Teknologi era baru terbukti ampuh merobohkan tembok penghalang manusia dalam berkomunikasi. Berkat teknologi, bantuan kemanusiaan tersebar lebih luas dan tiba dalam waktu yang lebih cepat pula. Berikut 5 ide semangat berbagi di era baru, terutama di saat pandemi.      

 

1. Berbagi hiburan

            Selama pandemi, pemerintah mewajibkan sebagian perusahaan melakoni work from home (WFH). Siapa bilang WFH = leyeh-leyeh a.k.a malas-malasan di rumah? Faktanya, tanpa kita sadari, WFH malah membuat jam kerja kita semakin panjang. Batas jam kerja dengan jam bersama keluarga menjadi samar-samar. Badan kelewat lelah. Level stres meningkat. Ini belum termasuk problem orangtua yang harus full mendampingi anak-anak belajar di rumah.  

            Pepatah bilang, ketawa adalah obat. Saya pribadi senang mencari “obat” yang murah meriah di media sosial. Media sosial riuh menyajikan konten humor. Rata-rata kreatornya dari kalangan muda. Humor receh? Itu yang kerap bikin jatuh hati! Kalau kalian hobi bikin teman cekikikan, silakan dijajal. Hanya, hati-hati, hindari konten yang menyinggung SARA atau provokatif.

 

2. Berbagi ilmu

Rata-rata generasi Z kalau ditanya cita-citanya apa, mereka pada menjawab ... jadi YouTuber! Kesannya YouTuber itu populer dan bergelimang fulus. Miris melihat akhirnya begitu berjebah konten prank tidak jelas di dunia maya demi fulus.

Sebaliknya, teman saya yang seorang guru Fisika, kian giat berbagi ilmu melalui YouTube sejak pandemi melanda. Waktu luang setelah mengajar daring digunakan untuk membuat dan mengunggah video teori-teori Fisika dasar serta soal-soal latihan. Dia sadar, saat pandemi, langkah para siswa untuk belajar (di sekolah maupun bimbel) amatlah terbatas karena larangan keluar rumah dari pemerintah. Kiranya berbagi ilmu Fisika di YouTube bisa sedikit membantu. Terpujilah mereka yang gemar berbagi ilmu. Yang begini ini nih bikin demen. Selain fahala, eh, pahala, kadang berkah fulus pula ngintili. Dua-duanya sama-sama beraroma harum.     

 

 

3. Berbagi dan bekerja sama

Kalau kalian punya media sosial, jangan dianggurin, apalagi kalau jumlah followers dan engagement-nya lumayan. Kenapa tidak coba berbagi dengan cara support bisnis UMKM lokal, terutama yang baru merintis? Soalnya banyak bisnis UMKM lokal yang luluh lantak karena pandemi.

Kadang saya menggunakan blog dan Instagram sebagai ajang promosi cuma-cuma. Saya pernah mengajak beberapa pengusaha UMKM lokal untuk bekerja sama. Sebagian produk dikirimkan gratis, sebagian lagi saya beli sendiri. Kami berdiskusi soal produknya, bagaimana fotonya, pemilihan caption-nya, dst. Kerja sama yang mengasyikkan dan insyaallah berfaedah bagi kedua belah pihak.       

 

4. Berbagi makanan

Saat pandemi, bisnis kuliner semakin marak. Orang-orang dari berbagai profesi banting setir jadi penjual makanan. Belakangan beredar info di media sosial, maskapai penerbangan membuka restoran dan menjual gorengan. Brand makanan global turun ke jalan menawarkan makanan berdampingan dengan pedagang kaki lima. Semua berjuang menyambung hidup dengan caranya masing-masing.   

            Beberapa teman saya menjual paket makanan sekaligus menerima jasa menyalurkannya langsung kepada kaum tidak mampu. Sebelum pandemi, teman-teman katering acap mencetak brosur dan mengirimkannya dari rumah ke rumah. Kini mereka mengandalkan brodkes melalui media sosial dan grup WhatsApp.

Kita bisa memilih berbagi dengan cara ini. Ibarat kata peribahasa, sekali merangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Kita membantu menglariskan usaha teman, kita membantu kaum tidak mampu, dan sesungguhnya kita membantu diri kita sendiri karena menerima balik energi bahagia, seperti yang sudah saya sebutkan di atas itu tadi.        

 

5. Berbagi bersama LAZ UCare Indonesia

Last but not least, kita bisa berbagi donasi melalui LAZ UCare Indonesia. Dikutip dari laman web situs mereka, LAZ UCare Indonesia merupakan lembaga amil zakat yang berdiri pada tanggal 3 Oktober 2017 di Kota Bekasi. Barakallah, berarti Oktober 2020 LAZ UCare Indonesia genap berusia 3 tahun yay. Lembaga ini berkhidmat mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial lainnya, termasuk dana CSR.  

 

Web situs LAZ UCare Indonesia

LAZ UCare Indonesia memiliki beberapa program, yakni Cinta Berdaya (wirausaha), Cinta Yatim (mengasihi yatim), Cinta Sehat (kesehatan), Cinta Ilmu (pendidikan), dan Cinta Insani (peduli lingkungan sekitar).

Sejumlah prestasi telah diraih, salah satunya Lembaga Amil Zakat Terbaik Tingkat Kota/Kabupaten dari BAZNAS Provinsi Jawa Barat (2019). Kelebihan LAZ UCare Indonesia dibandingkan lembaga amil zakat lainnya adalah mereka aktif menjadi penghubung antara pendonor dan penerima manfaat di wilayah Kota Bekasi demi meningkatkan kemakmuran, khususnya bagi kaum tidak mampu.

Cara berdonasi di LAZ UCare Indonesia cukup mudah. Kita masuk ke web situs LAZ UCare Indonesia dan pilih button di sebelah kanan apakah Zakat, Infaq, Shodaqoh, atau Donasi. Kalau mau pilih semuanya juga boleh he-he-he.   

Saya pilih Shodaqoh

Isi nominal donasi

Isi data-data kalian

Nah, tinggal transfer dan konfimasi via WhatsApp, deh

Kalau yang ini via Instagram (klik link di bio)

Pilih mau donasi ke mana 


Ke depannya saya berharap LAZ UCare Indonesia hadir dalam bentuk aplikasi khusus. Tampilan antarmuka menarik. Deretan fitur baik. Akses info terbaru lebih cepat, tidak seperti web situs yang harus melalui proses loading terlebih dahulu. Pastinya berdonasi pun bakal lebih mudah, ya. Teman-teman punya ide seru lain berbagi di era baru, terutama di saat pandemi? Kalian sudah tahu LAZ UCare Indonesia juga? Share di sini, yuk! [] Haya Aliya Zaki

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam  

lomba blog LAZ UCare Indonesia 2020”

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan