Senin, 05 Oktober 2020

Melirik Potensi Ekspor Udang Vaname

Kata “EKSPOR” sudah tidak asing lagi di telinga saya. Ketika saya remaja, Abah banting setir resign dari pegawai menjadi eksportir. Keputusan ini tentulah bukan keputusan nekat yang muncul dalam satu malam. Sebelumnya Abah bekerja sekian tahun di sebuah perusahaan ekspor impor di Medan. Di situ beliau menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain hendak mengembangkan kapasitas diri, Abah berhasrat mengeskplorasi hasil bumi Indonesia untuk dijadikan komoditas ekspor. Salut, Abah masih setia dengan passion-nya meski kini sudah berusia 70 tahun lebih.          

  Ekspor, sumber devisa negara

            Kenapa sih kita kudu menambah nilai ekspor? Berkat ekspor, devisa negara meningkat. Devisa adalah barang yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam lingkup internasional. Devisa bisa berupa valuta asing, emas, atau surat berharga. Semakin menjulang nilai ekspor, semakin menjulang pula pendapatan devisa sebuah negara. Kebalikan dengan ekspor, impor justru menghabiskan devisa.

Berkat ekspor, hasil bumi kita akan terus diperbaharui. Ya iyalah, kalau hasil bumi teronggok begitu saja tidak ada yang membeli dan menggunakan, bagaimana kita bisa menjaga ketersinambungannya? Berkat ekspor, kita memberdayakan SDM. Pastinya kita butuh SDM untuk menanam, mengolah, memasarkan, dst. Perekonomian bakal berputar cantik.     

 

Komoditas ekspor Indonesia

Saya masih ingat betul sekitar 23 tahun lalu Abah memulai bisnis ini. Hampir setiap malam beliau mengetik surat pakai mesin tik listrik andalannya, menawarkan sampel barang kepada para importir di Timur Tengah. Beliau memilih spesialisasi eksportir komoditas briket arang untuk kawasan Timur Tengah. Fyi, internet belum booming seperti sekarang. Waktu itu Abah berusaha mendapatkan alamat para importir dari kantor-kantor kedutaan.

Berbicara tentang komoditas ekspor Indonesia, pembagiannya ada 2 macam, yakni migas dan nonmigas.

1. migas

            Minyak bumi dan gas alam (migas) meliputi minyak tanah, elpiji, bensin, dan solar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), per Mei 2020 nilai ekspor migas Indonesia menurun 42,64% dibandingkan tahun lalu (Bisnis.com, 2020). Pertumbuhan konsumsi migas ternyata, oh, ternyata tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan cadangan migas itu sendiri. Hm, butuh langkah konkret nih dari pemerintah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya krisis migas dalam negeri. Kalau bisa, nilai ekspor migas kita kembali naik.

2. nonmigas

            Komoditas nonmigas adalah komoditas selain minyak bumi dan gas alam, seperti hasil pertanian, perkebunan, perikanan, industri, dan tambang nonmigas. Komoditas nonmigas merupakan komoditas jagoan ekspor Indonesia. Saat pandemi Covid-19, ekspor hasil pertanian melesat. Komoditasnya antara lain, tanaman obat keluarga (TOGA), rempah-rempah, dan buah-buahan (Gatra.com, 2020). Keren, ya?       

 

Hasil perikanan

            Kita bisa menambah nilai ekspor Indonesia, salah satunya dengan memanfaatkan hasil perikanan. Sekitar 2/3 bagian wilayah Indonesia adalah lautan. Jelas sekali laut menjadi sumber makanan bagi makhluk hidup.  

Hasil perikanan yang menjadi primadona di pasar internasional antara lain ikan, udang, dan kerang. Soal udang, tidak dimungkiri, potensi ekspornya menggiurkan banget. Indonesia merupakan eksportir udang terbesar di dunia, setelah India, Ekuador, dan Vietnam. Ekspor udang Indonesia terbagi atas udang segar dan udang beku. Tahun ini suami mengikuti jejak Abah menjadi eksportir (selama ini dia berkecimpung di bidang impor bahan baku kimia). Berhubung suami berniat ekspor udang vaname beku, di sini saya akan membahas udang vaname saja.

Mungkin ada teman-teman yang belum pernah mendengar tentang udang vaname? Biasanya yang populer itu udang galah dan udang windu, ya? Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah udang varietas unggul yang berukuran besar dan dapat hidup di lingkungan bersuhu rendah. Kulitnya tipis keras berwarna putih kekuningan. Udang vaname mengandung gizi yang bagus seperti vitamin A serta E, dan mineral natrium, kalsium, serta fosfor. Udang ini juga mengandung asam lemak omega 3 yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Perkara rasa jangan dikata. Udang vaname yang dibawa pulang suami, langsung saya masak pakai bumbu saos padang. Segeeerrr.          

Bagaimana cara meningkatkan potensi ekspor udang vaname? Fyi, udang tidak diambil dari laut. Suami menemui pengusaha tambak dan penduduk di daerah Cidaun, Cianjur Selatan, untuk melihat tambak udang vaname. Ya, pengusaha tambak bekerja sama dengan penduduk untuk membudidayakan udang dengan cara membuat tambak-tambak di sekitar daerah pesisir pantai di sana. Meski udang vaname memiliki ketahanan tubuh yang baik terhadap penyakit (sehingga bisa dibudidayakan di tambak), petambak tetap harus memilih air laut yang bersih dan belum tercemar. Kenapa? Karena benih udang akan dimasukkan ke tambak yang dialiri air laut. Udang vaname yang diekspor harus memenuhi persyaratan antara lain tidak boleh rusak, kotor, dan berparasit. Udang diberi pakan berkualitas dan setiap 3 bulan sekali dipanen. Hasil panen bisa mencapai 50-60 ton. Wow, luar biasa! Doakan ekspor perdana suami lancar. Aamiin.    









Hal-hal yang harus diperhatikan seputar ekspor

            Kalian yang berminat menjadi eksportir, Abah punya pesan apa saja hal-hal yang harus diperhatikan seputar ekspor. Jika poin-poin ini ditaati, bukan tidak mungkin ekspor berjalan lancar dan nilai ekspor pun bertambah. Yuk, simak!

1. mutu barang

            Barang-barang ekspor dari Indonesia bersifat umum dan memiliki banyak kompetitor baik dari dalam maupun luar negeri. Kita mau ekspor udang, Vietnam punya udang. Kita mau ekspor karet, Malaysia punya karet. Kita mau ekspor maple, Singapura punya maple. So, kualitas merupakan faktor utama yang harus diperhatikan. 

Langkah pertama, survei barang-barang bermutu. Lalu, kirimkan sampel barang dengan mutu terbaik kepada importir target. Seandainya sudah sepakat, next kita harus mengirimkan barang dengan mutu yang sama. Soal mutu, sebaiknya tidak main-main. Jenis barang, ukuran, warna, dll semua wajib dicermati. Jika diminta mengirimkan barang grade A, jangan kita kirim yang grade B. Jika diminta panjang barang 5 cm, jangan kita kirim yang panjang 7 cm. Sekali kita menyalahi kesepakatan, rasanya sulit untuk membangun kepercayaan itu lagi. Hati-hati!

2. harga dan kemasan

            Berikan harga yang bersaing. Say no to harga yang terlampau mahal atau terlampau murah. Harga bersaing bukan berarti harga yang terlampau murah, lo. Harga equal dengan mutu barang. Kalau harga terlampau murah, nanti yang ada kita malah buntung, bukan untung. Kita bisa mendapatkan informasi harga penawaran dari berbagai situs ekspor impor di internet.

Berikutnya, kemasan dibuat dengan sebaik-baiknya. Jangan bocor, lembap, atau menimbulkan bau. Jenis kemasan tergantung pada barang yang akan dikirim. Pengemasan udang beku, misalnya, ada tiga jenis, yakni kemasan plastik polypropilen (kemasan primer), inner carton (kemasan skunder), dan master carton (kemasan tersier).  

3. pengiriman

Please be noted, pengiriman kudu tepat waktu dari pelabuhan muat hingga ke pelabuhan bongkar. Janji 1 minggu ya, 1 minggu. Janji 2 minggu ya, 2 minggu. Kontainer pengiriman barang ke luar negeri disesuaikan dengan barang yang akan dikirim. Contoh, kalau hendak mengirim udang, kita kudu memakai kontainer yang memiliki freezer. 

            Kegiatan ekspor berperan penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia. Setuju? Dipikir-pikir, ekspor bukanlah pekerjaan yang mustahil digarap kalau kita benar-benar niat. Buka mata buka telinga. Eksplor wilayah-wilayah laten dan coba jalin kerja sama dengan pengusaha dan penduduk setempat. Apakah teman-teman tertarik dan siap memulai? Kalian punya pengalaman ekspor juga? Share, yuk! [] Haya Aliya Zaki

 

Foto merupakan dokumentasi pribadi

 

Daftar Bacaan

Anjani, Maulani R. 2019. “Teknik Pengemasan Udang Windu Beku di PT Holi Mina Jaya, Rembang, Jawa Tengah”. Repository.unair.ac.id, 18 November 2019. Diakses tanggal 26 September 2020.

http://repository.unair.ac.id/89788/

 

Megumi, Sarah R. 2019. “Udang Vaname, Primadona Budidaya Perikanan”. Greeners.co, 16 Maret 2019. Diakses tanggal 26 September 2020. 

https://www.greeners.co/flora-fauna/udang-vaname-primadona-budidaya-perikanan/

 

SKK Migas. 2017. “Enam Fakta Migas yang Wajib Kamu Tahu”. Liputan6.com, 27 Maret 2017. Diakses tanggal 26 September 2020.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/2899680/enam-fakta-migas-indonesia-yang-wajib-kamu-tahu

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan