Rabu, 08 Juli 2020

[Cerpen] Empon-Empon di Pekarangan Rumah Emon

(Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2020)


Liburan tahun lalu merupakan liburan paling berkesan bagi Emon. Emon belajar menanam toga (tanaman obat keluarga) atau empon-empon dari Eyang Putri yang tinggal di Sukoharjo. Empon-empon adalah tanaman herbal berkhasiat obat seperti kunyit, jahe, dan temulawak. Pemandangan empon-empon yang tumbuh subur di pekarangan Eyang Putri terbawa sampai ke dalam mimpi Emon.
Emon memang suka mencicipi jamu yang dijual ibu-ibu jamu ghendong di kota. Dia meniru kebiasaan Mama dan Papa. Jamu dipercaya mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Tidak heran, Mama dan Papa tampak selalu bugar. Demikian pula Eyang Putri.
Pulang dari rumah Eyang Putri, Emon membantu Mama dan Papa menggarap pekarangan di belakang rumah. Selain empon-empon, mereka juga mencoba menanam kangkung, sawi, cabai, dan lain-lain. Ukuran pekarangan tidak terlalu luas, jadi mereka memanfaatkan wadah bekas seperti ember, kaleng, atau botol air mineral.
Hampir setiap hari ada pemandangan Emon menyeka keringat di pekarangan. Asyiknya kegiatan mencampur pupuk, menanam bibit, menyiram, dan tentu saja … memanen! Pekarangan yang tadinya kosong melompong, kini semarak oleh bermacam-macam tanaman. Sesekali terdengar Emon menyapa tanaman-tanamannya, “Selamat sore. Kalian sedang apa? Pasti pada haus, kan? Aku siram air, ya.” Menurut Eyang Putri, sebaiknya tanaman diperlakukan seperti manusia. Kalau bisa sambil berzikir. Manusia dan tanaman sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.   
Berbeda dengan tahun lalu, liburan kali ini mengharuskan Emon di rumah saja karena pandemi Covid-19. Tidak mengapa, Emon memilih mengurus pekarangannya. Ketika pandemi melanda, empon-empon ramai diburu orang. Kadang Emon berbagi empon-empon gratis kepada tetangga dan teman-temannya di SD Harapan Ibu. Selain untuk bahan minuman jamu, empon-empon juga digunakan sebagai bumbu masakan.
“Kira-kira panennya kapan ya, Mon?” tanya Dimas melalui video call.
“Sekitar beberapa bulan. Hati-hati saat membongkar tanahnya nanti,” jawab Emon.
“Kalau wadahnya pakai ban bekas apa bisa, Mon?” tanya Sri pula. Dia lebih tertarik menanam sayuran daripada empon-empon.
“Bisa, dong. Yang penting wadahnya bisa menampung tanah dan air,” jawab Emon lagi. Emon senang. Teman-temannya jadi tertarik belajar menanam di pekarangan seperti dirinya.
“Pasti seru kalau di sekolah kita ada pelajaran bercocok tanam. Aku bakal jadi peserta nomor satu!” kata Dimas. 
“Sekarang aku tahu bagaimana sulitnya pekerjaan pak tani. Aku tidak mau membuang-buang makanan lagi,” kata Sri. “Terima kasih sudah mengajariku, Mon. Aku pengin traktir kamu, Dimas, dan teman-teman makan-makan di rumahku.”         
Emon bersorak dalam hati. Dia langsung membayangkan melahap ayam bakar Magetan buatan mama Sri yang terkenal lezat. Tapi, sejenak kemudian dia manyun kembali. ”Yeee … Sri, kita kan belum boleh kumpul-kumpul. Korona inget korona!” protes Emon keki.
Dimas dan Sri spontan tertawa. Mama yang sedang duduk di samping Emon ikut tertawa.
“Ada apa ini rame-rame?” tanya Papa tiba-tiba dari dapur. Beliau membawa dua gelas jamu kunyit asam dingin untuk Emon dan Mama. Kelihatannya segar sekali.
Emon dan Mama saling lirik. “Ada, deeeh,” jawab mereka serempak, lalu menyeruput jamu kunyit asam dengan nikmat. [] Haya Aliya Zaki

Cara mengirim cerpen anak atau dongeng ke koran Kedaulatan Rakyat
1.  Tulis cerpen anak atau dongeng maksimal 500 kata.
2. Kirim naskah rubrik CERNAK ke alamat redaksi KR Jl. P. Mangkubumi, Gowongan, Jetis no. 40–46 Yogyakarta 55232. Tidak perlu mengirim soft copy via e-mail.
3.  Lampirkan scan KTP.
4. Sertakan biodata dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.
5. Dongeng di atas saya kirim 16 Juni 2020 dan dimuat 3 Juli 2020 (masa tunggu 2 minggu).
6. Rubrik CERNAK terbit setiap hari Jumat (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di epaper.krjogja.com.  



4 komentar:

  1. Assalamu'alaikum, Mba Haya.

    Sekarang pengiriman honor via transfer, ya, Mba? Terakhir, udah lama banget sih. Tahun 2015. Kata kawan-kawan honornya via wesel. Jadi nggak nyantumin norek juga. Alhasil sampe sekarang honornya gak sampai, Mba. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya ditransfer ya karena jauh. Tapi, saya minta tolong teman yang di Yogya untuk bantu ambilkan karena honor gak kunjung ditransfer.

      Hapus
  2. pengen coba, tapi kalau maksimal 500 imajinasi saya jadi mentok

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan