Kamis, 14 Mei 2020

Indahnya Silaturahmi di Tengah Pandemi


Siapa pun tahu, Ramadhan tahun ini “istimewa”. Pandemi Covid-19 melanda dunia dan dampaknya demikian luar biasa. Biasanya, saat Ramadhan, kita silaturahmi setiap hari, apakah tarawih berjamaah, tadarus di masjid, atau buka puasa bersama. Kini, semua rutinitas itu tiada, termasuk mudik Lebaran. Rasa sesak memenuhi rongga dada kala menonton video YouTube “Ramai Sepi Bersama” hasil kolaborasi empat musisi; Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita, dan Sal Priadi. Video yang diinisiasi IM3 Ooredoo ini mewakili perasaan saya, bahkan mungkin banyak umat muslim di Indonesia.  



        Ramadhan selalu jadi momen yang paling saya tunggu, terutama beberapa tahun belakangan. Anak-anak sudah beranjak besar sehingga saya bisa leluasa tarawih di masjid. Kalau dulu, saya dan suami selang seling tarawih di rumah dan di masjid karena kami harus bergantian menjaga anak-anak yang masih kecil. Kami tidak bisa selalu membawa anak kecil ke masjid karena kadang kondisi anak kecil kan tidak terduga. Sedih, tahun ini balik tarawih di rumah saja, bahkan full sampai sebulan ya Allah. 
Setiap Ramadhan, pagi-pagi saya selalu ikut tadarusan ibu-ibu pengajian di masjid. Saya lebih senang mengaji tartil, membaca Alquran dengan pelan dan tenang. Jadi, demi mengkhatamkan 30 juz, enaknya memang tadarusan di masjid. Lebih senangnya lagi, ada Bu Hj. Nasir, guru mengaji kami, yang mambantu membimbing seandainya kami salah membaca huruf, tajwid, dan lain-lain. Maklum, pagi hari mata rawan terserang kantuk. Setelah sahur, ibu-ibu tidak balik ke kasur he-he.   
Lanjut ke kebiasaan berikutnya. Bukber blogger saat Ramadhan merupakan kesempatan berpapasan sekaligus menambah wawasan. Saya dan teman-teman blogger bercanda kalau bukbernya blogger itu keren karena sering “disponsori” brand ha-ha! Ya, saat Ramadhan, sesekali kami diundang brand untuk meliput acara dengan narsum dari berbagai bidang profesi. Bahkan, saya pernah ikut bukber yang berbuah laptop canggih dari brand. Pasalnya, tulisan saya dari acara bukber itu diperlombakan dan memenangi juara satu. Silaturahminya dapat, wawasannya dapat, hadiahnya pula dapat. Masyaallah. Tahun ini, bukber blogger terpaksa absen dulu hiks.            
Soal tradisi mudik Lebaran, saya punya cerita lebih heits lagi. Halah. Setiap tahun kami mudik ke tempat orangtua saya di Medan atau ke keluarga besar suami di Yogya. Tahun lalu, giliran kami mudik ke Medan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga nekat mudik ke Medan pakai mobil pribadi dan sopirnya hanya satu, yakni suami saya! Benar-benar pengalaman SUPEEERRR, melebihi pengalaman kami traveling ke berbagai negara di Eropa. Sungguh!
Sebenarnya, kami cukup sering mudik road trip pakai mobil pribadi, tapi paling banter sampai Yogya doang. Sekarang Tangerang–Yogya 12 jam kelar. Lha ini, Tangerang–Medan! Bukan perkara mudah merencanakan road trip Tangerang–Medan-Tangerang sejauh 4000 km atau total 6 hari 6 malam, membawa anak-anak, dan itu tadi sopirnya cuma satu. Kalau istilah orang Medan: ngeri-ngeri sedap. Selain kudu lihai menyetir, stamina suami harus prima. Niat silaturahmi kepada orangtua tidak terbendung, apa daya harga tiket pesawat lagi gila-gilaan banget. Seingat saya, waktu itu ancar-ancar harga tiket pesawat kami mencapai Rp40 juta sekali jalan. Catet, sekali jalan, yo. Harga tiket pesawat naik berkali-kali lipat dibandingkan dengan harga biasa di musim Lebaran. Bolak-balik bisa Rp100 juta. Alamak.
Saat berangkat, suami memilih melewati jalur Sumatera lintas timur. Pulangnya, jalur Sumatera lintas barat. Beberapa kali bapak mertua menelepon karena khawatir. Tante di Medan pun sama khawatirnya. Jangan sampai kami ketemu “bajing loncat”. “Bajing loncat” adalah perampok bengis yang kerap mencegat di jalan. Mereka mengincar barang-barang bawaan truk atau mobil.        
Jelang malam di perjalanan, saya kerap berdebar, teringat suami lelah atau mengantuk. Kadang jurang yang terbentang di kanan kiri jalan, bikin hati diserang takut. Belum lagi kalau jalan gelap tidak berlampu. Alhasil saya komat-kamit melulu baca doa. Istirahat? Belum tentu ada penginapan yang kosong atau layak saat malam tiba. Kami pernah menginap di dalam mobil karena tidak dapat penginapan! Perjuangan mudik tahun lalu rasanya tidak sia-sia bila mengingat akhirnya kami bisa silaturahim ke orangtua. Tambahan pula ternyata tahun ini kami tidak bisa mudik sama sekali gara-gara pandemi.  

Kenang-kenangan mudik ke Medan tahun lalu

Pandemi Covid-19 membuat saya banyak menabung syukur. Saya diberi waktu bermuhasabah bahwa silaturahmi itu indah. Betapa berharganya makna keluarga dan handai tolan. Alhamdulillah, meski pandemi, #SilaturahmiSetiapHari tetap terjaga. Berkat paket Freedom Kuota Harian IM3 Ooredoo, jarak bukan lagi kendala. Hanya dengan 1 GB, saya bisa tadarusan bersama ibu-ibu via grup media sosial. Niat one day one juz insya Allah terlaksana. Hanya dengan 1 GB, saya bisa bukber online teman-teman blogger. Mungkin bakal seru kalau ceritanya nanti ditulis di blog ha-ha! Hanya dengan 1 GB, saya bisa video call dengan orangtua dan keluarga besar. Kok ya jadi ngikik-ngikik geli melihat rambut bapak-bapak yang mulai berkibar.  

Tahun ini silaturahmi virtual saja, ya

Pandemi tidak menghalangi IM3 Ooredoo menciptakan karya kolaborasi bareng empat musisi; Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita, dan Sal Priadi. Unik, syuting dilakukan dari rumah masing-masing. Lahirnya lagu “Ramai Sepi Bersama” jadi penyemangat sekaligus pengingat bahwa apa pun yang terjadi, tidak ada yang lebih penting daripada silaturahmi. Duh, saya sudah beberapa kali menonton videonya, tapi mata tetap berkaca-kaca. Liriknya bikin hati sendu. Salut dengan IM3 Ooredoo yang menginisiasi kolaborasi empat musisi hebat ini. Kami-kami berasa tidak sendiri menghadapi pandemi.            
Ramadhan tahun ini memang pelik. Kita sedang ditempa habis-habisan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lagi. Insya Allah kita bisa. Semoga pandemi lekas berlalu. “Apa pun yang terjadi, tidak apa ....” [] Haya Aliya Zaki

1 komentar:

  1. Tahun ini, Ramadan yang spesial banget ya, Mak. Spesial karena ngajinya Live dari facebook atau dari Youtube. Setoran hapalannya juga online, dari whatsapp. Semua serba online karena lagi pandemi. Sampe sedih aja, ngebayangin jalin silaturahim secara online karena enggak bisa mudik. Tapi, semoga aja nanti enggak nambah sedih karena jaringan internet yang lambat. Alhamdulillah di tempatku sinyal indosat bagus dapetnya. Jadi optimis sampai lebaran.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan