Sabtu, 16 Februari 2019

Belajar Memaknai Indahnya Irama Kehidupan dari Sosok Stanley Sagala


           Hari Minggu lalu pukul sebelas siang di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta.
Di langit, matahari bersinar semakin garang. Kulit terasa seperti dicubit-cubit. Dari balik kacamata hitam, saya memelototi nomor plat mobil yang berseliweran. Nah, itu dia! batin saya ketika melihat nomor plat mobil yang cocok dengan orderan saya di aplikasi Grab. Saya semangat melambai-lambaikan tangan ke arah mobil tersebut, tiba-tiba ... kata Cancel pop up dengan semena-mena di aplikasi. Astagfirullah! Jarak udah dekat selemparan pisang gini, kok, si sopir tega memilih cancel, sih? GERAAAMMM!!!
Kalau Teman-teman jadi saya, pasti kalian bakal jengkel setengah mati juga, kan? Cuaca panas badan lelah usai meliput event, bikin saya enggak sabar pengin cepat-cepat ngadem di dalam mobil ber-AC dan cap cuss menuju rumah. Tapi, siapa sangka, di balik kejengkelan ini, Allah menganugerahi hikmah lain. Aplikasi Grab otomatis mencari sopir baru. Mata saya mengerjap tidak percaya ketika membaca nama sopir baru yang tertera.
Stanley Michael Sagala ....
Stanley Sagala ....
Stanley ... Sagala ....
Hah, ini beneran Stanley Sagala penyanyi itu?! Dada saya berdegup kencang. Saya memperhatikan dengan saksama foto wajahnya di aplikasi. Iya, benar, ini Stanley Sagala penyanyi itu! Saya mengenalinya! Hanya, kini wajahnya kelihatan sedikit menua. Saya perkirakan usia Stanley sekitar 40 tahun lebih (tepatnya 45 tahun ternyata).
Nostalgia sekedap. Tahun 90-an, saya ngefans berat dengan band-band lokal seperti Modulus Band, Emerald Band, dan Protonema. Lagunya bagus-bagus. Suara vokalisnya keren-keren. Saya tumbuh bersama musik mereka. Sayangnya Ricky Jo, vokalis Emerald Band, dan Miko, vokalis Protonema, udah lama wafat karena serangan jantung hiks. Tinggallah Stanley, mantan vokalis Modulus Band, yang tidak ketahuan di mana rimbanya. Dan, hari Minggu lalu, kami ditakdirkan bertemu.
Kalau membaca berita tentang artis menjadi sopir transportasi online, mungkin udah agak agak biasa ya, tapi kalau kalian mengalami sendiri naik transportasi online yang disopiri artis dan artis itu adalah artis idola kalian, rasanya dijamin W-O-W!

            Saat menunggu Stanley datang, berbagai pertanyaan merecoki kepala saya. Apakah Stanley masih nyanyi? Dia punya band baru enggak? Kenapa dia jadi sopir Grab? Hidupnya susah bangetkah? So, begitu masuk mobil, tanpa ampun saya langsung nembak, “Ini Bang Stanley penyanyi Modulus Band bukan?” Noraaakkk ... hahahahaha! *tutup muka nan cantik jelita*
Stanley mengangguk sambil tersenyum simpul. Sikapnya tampak tenang. Tidak terbaca rasa canggung sama sekali. Tangannya yang tegap dan bertato lihai memutar setir. Perlahan mobil bergerak meninggalkan kerumunan orang-orang di Jl. Jend. Sudirman. Hmmm, kesan pertama yang baik. Kami pun memulai perjalanan .... 



             “Saya masih menyanyi di acara-acara off air, Mbak. Band punya, tapi cuma untuk mengiringi saya menyanyi, bukan band komersil seperti Modulus dulu,” Stanley menjawab sopan pertanyaan saya. Dalam waktu dekat, lelaki keturunan Batak-Ambon ini mengaku akan mengeluarkan album baru. Butuh proses panjang menuju album baru ini karena Stanley punya idealisme tinggi dalam bermusik. Dia tidak mau bikin lagu asal jadi, lalu dijual online. Sekarang tinggal menunggu label yang tepat aja.  
Anak 90-an mungkin pada tahu bahwa selain bersuara merdu, Stanley juga aktor berbakat. Dia sempat membintangi beberapa sinetron beken. Nah, soal sinetron, Stanley menumpahkan kegalauannya.
Proses pembuatan sinetron jadul amat sangat berbeda dengan sinetron zaman sekarang. Duluuu setiap ditawari sinetron baru, Stanley diberi kesempatan mempelajari cerita dan karakter yang akan dia perankan. Sutradara menyerahkan naskah minimal sepuluh episode kepada pemain. Jika mendapat peran sebagai orang Yogya, misalnya, Stanley akan menetap di Yogya selama sekian waktu sebelum syuting dimulai. Di sana, dia memperhatikan lakon orang Yogya, merekam percakapan orang Yogya, dst. Istilahnya seperti risetlah.
            Sekarang? Pemain hanya diberikan selembar kertas untuk satu scene thok pada hari syuting. Naskah untuk scene berikutnya masih di awang-awang. Sinetron tayang setiap hari seperti dikejar setan. Boro-boro riset, sering pemain no clue mau ngomong apa dan berakting apa pada hari syuting. Stanley memilih setop main sinetron sampai dengan jangka waktu yang dia sendiri belum tahu. I feel you, Stanley. That’s why saya malas nonton sinetron zaman sekarang. Rindu sama sinetron Losmen, Pondokan, dan Jendela Rumah Kita. Palingan sesekali nemenin suami nonton sinetron Preman Pensiun dan Tukang Ojek Pengkolan hehe.     
            “Maaf, mmm ... Bang Stanley enggak malu menjadi sopir Grab?” tanya saya hati-hati. Akhirnya saya melontarkan pertanyaan ini juga, pertanyaan sensitif yang saya nanti-nanti jawabannya sedari tadi.
            Stanley spontan tertawa. “Entah sudah berapa kali saya mendapat pertanyaan seperti ini. Awalnya berasa seperti tamparan keras. Lama-lama saya terbiasa. Yaaah, kenapa harus malu? Ini pekerjaan halal! Saya, kan, enggak nyolong, Mbak,” jawabnya enteng. Stanley bercerita, dia menjadi sopir saat weekend aja jika tidak ada tawaran menyanyi off air atau permintaan training dari klien. Lumayan buat tambah-tambah. “Kerja apa pun kalau dijalani dengan ikhlas, tidak akan terasa berat. Yang berat itu gengsi, Mbak,” lanjutnya bijak.
Stanley justru menikmati pekerjaannya sebagai sopir transportasi online karena dia bisa ketemu dan ngobrol dengan macam-macam orang. Maklum, waktu masih aktif di dunia hiburan, segala gerak-geriknya diatur ketat oleh tim manajemen. Stanley dilarang ketemu, apalagi mengobrol dengan sembarang orang.



Jujur, awalnya saya berpikir saya akan mendengar cerita sedih menye menye Stanley soal kehidupannya, tapi rupanya saya salah. Saya juga takut Stanley tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan saya, tapi alhamdulillah tidak.
Laki-laki yang mau bekerja keras mencari rezeki halal (padahal mungkin pekerjaan itu dianggap remeh oleh sebagian orang) adalah laki-laki TANGGUH dan PEMBERANI. Bekerja merupakan cara untuk memuliakan diri sendiri dan keluarga supaya tidak menjadi peminta-minta atau beban bagi orang lain. Stanley Sagala contohnya. Hormat!      
Hampir sepuluh tahun menikah dengan gadis keturunan Batak-Manado, Stanley belum dikaruniai keturunan. Dia tidak terlalu memusingkan hal ini. Lebih baik menyibukkan diri dengan pekerjaan. Wait, wait, cerita belum selesai. Kalau membahas soal pekerjaan, tadi di atas saya menyebutkan kalimat permintaan training dari klien, jadi apa lagi sebenarnya pekerjaan Stanley?
Sejak tahun 2010, Stanley merintis bisnis EO (saya lupa namanya) di bidang training untuk perusahaan-perusahaan. Biasanya dia memberi training motivasi, termasuk memotivasi para pegawai yang hampir pensiun supaya kelak tidak malu memulai bisnis yang mungkin dianggap remeh oleh orang lain. Di setiap acara training, Stanley selalu menyelipkan sesi musik. Believe it or not, orang-orang yang sebelumnya tidak bisa main angklung, jadi bisa, lho, berkat arahan dari Stanley. Apa rahasianya nih hihi. Kayaknya seru kalau kapan-kapan kita undang Stanley mengisi event blogger gathering. :))
“Bagi saya, pengalaman dan kerendahan hati adalah modal yang tidak ternilai dari seorang anak manusia.” – Stanley Sagala

Tidak terasa, satu jam perjalanan bersama Stanley usai, padahal masih banyak hal yang pengin saya tanyakan. Sungguh pengalaman yang berharga. Semoga saya mendapat kesempatan lain, mengobrol entah dengan siapa. Saya pernah mengobrol dengan sopir yang jadi korban KDRT ayahnya, sopir yang dulunya chef di kapal pesiar, dll. Kapan-kapan saya tulis. Saya percaya, setiap orang punya mutiara kehidupannya masing-masing dan insya Allah bermanfaat jika dibagi. Kian ke sini saya kian menyadari, tugas blogger/penulis bukanlah sekadar menulis (dan menghasilkan uang), melainkan juga menyampaikan jutaan pesan dari semesta kepada pembaca. Isn’t that beautiful? Betapa saya mencintai pekerjaan ini. :)
Terima kasih, Stanley Sagala! Indahnya memaknai irama kehidupan tanpa perlu menggugat keputusan Yang Maha Kuasa. Selamat menjemput rezeki halal di bumi-Nya yang kaya. Ditunggu lagu-lagu terbarunya! Aamiin! [] Haya Aliya Zaki

 
PS. Stanley Sagala sudah mengizinkan saya menulis cerita ini. Dia sangat ramah dan welcome, tapi saya memutuskan tidak mengambil foto saat dia menyetir. Bukan apa-apa, saya merasa sungkan dan khawatir fotonya dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Insya Allah cerita di atas benar adanya, meski tanpa foto. ^^

27 komentar:

  1. Akuu tau nih Stanley Sagala. Dulu sukaaa sama lagu2 ya. Skrg lupaaa, coba cari ah di youtube. Beruntung bgt bisa ktmu.

    BalasHapus
  2. Gak asing namanya, awak jadi bernostalgia juga kak 😍 wah hidup banyak beri pelajaran ya bagi yang bisa memaknai dan ambil hikmahnya ❤️ kamuuuu kucintaaa

    BalasHapus
  3. Iya mbak, saya juga suka naik grab yang sopirnya banyak cerita. Jadi bisa dapat wawasan, pelajaran dan hikmah. Cuma sih belum pernah ketemu artis..hihihi..

    BalasHapus
  4. Dari pengalaman orang lain kita jadi bisa belajar hal2 yg tidak kita alami. Cerita yg menyentuh mba Haya:)

    BalasHapus
  5. Waah mba Hayaa kesempatan langka bahagianyaa. Aku jadi ngimpi nail grab disopirin Raditya Dika 😂😂😂

    BalasHapus
  6. Banyak pelajaran yang di petik ketika saat jaya dan sekarang ini.

    Tidak malu berkerja apa saja yang penting halal dan inilah yang akan membuat kita yakin, selama masih mau berusaha pasti ada rezeki

    BalasHapus
  7. Whaaaaa saya suka banget lagunya Modulus! Rejeki banget ketemu Stanley Sagala, Mba Haya! Makasih tulisannya :)

    BalasHapus
  8. cerita yang menarik untuk ditarik pelajaran hidupnya ya

    BalasHapus
  9. Wuih, keren. Btw, aku langsung nyanyi loh. Indahnya sinar bola matamu, manjanya tutur kata-katamu, semua yang ada di dirimu membuatku jatuh cintaaa. Hihihi... Kelihatan umurnya. :))))

    BalasHapus
  10. Suka ama ceritanya. Kayak didongengin artis jaman yang aku rindukan. Sambil nyanyi 😊

    BalasHapus
  11. Hati saya lega baca kisah Stanley ini. Tadi pas baca caption Mbak Haya di IG, sedih banget. Alhamdulillah salut pada Stanley...

    BalasHapus
  12. Cerita yg inspiratif. How lucky you are can meet him in oerson. One a good singer di jamannya. Akupun ngefans sama dia hehehe

    BalasHapus
  13. Saya nggak tahu tentang Modulus Band. Tapi ceritanya menginspirasi sekali. Nggak ada pekerjaan berat selagi halal, yang berat itu gengsi. Benar banget tuh :')

    BalasHapus
  14. hastagaaaaaahhhhhhhh aku iriiiiii mbaaa hahahahhaha.. ini band fav ku jugaaaaa :D. ya ampuuun jd kebayang lg masa 1 smp wkwkwkwkwk.... nih lagu kayak udh lagu kebangsaan lah tiap naksir cowo hahahah.. :D. kereeen memang stanley.. lgian dipikir, ya bener juga.. ngapain malu ngelakuin something yg halal :). makin sukaaaak banget ama stanley sagala :)

    BalasHapus
  15. Sepertinya saya berada di zaman yg sama dgn Mbak Hayya tapi sy tdk mengenalnStanley Sagala..terlebih dgn grup band yg Mba sebit di atas. Tahun segituan saya lg asyik semangat berhujrah di kampus, ngajar ngaji ank2 di masjid kamoung dkt kos2 an...
    Tapi tulisan ini keren n inspiratif. Menuliskan mutiara Kehidupan yg banyak terserak di sekitar kita...keren Mba...semoga semakin banyak org yg tdk gengsian...salut jg utk Stanley ini...:)

    BalasHapus
  16. Hm..inspirasi menulis itu bener-bener enggak pernah terduga ya mbak..cerita otw pulang aja bisa jadi sepanjang ini. .hehehe...suka dengan kalimat: "....yang berat itu gengsi, Mbak." Bener banget deh...

    BalasHapus
  17. Wahh... Seruuu ya mbak

    Menyenangkan ketemu idola plus bisa ngobrol lamaaaaa dan kayak tanpa jarak.

    BalasHapus
  18. Mbak, serius ini Bang Stanley harus diajakin jadi pemateri buat event DBN! Ayo Mbak digodok dulu tema yg mau dibikin apaan, sama cari sponsor tentunya. 😁😁😁😁 Semangat, yaaaa!

    BalasHapus
  19. Keren banget bisa ketemu idola, rezekiii

    BalasHapus
  20. Kalau saya naik tapi online juga suka ngobrol ngalor ngidul sama sang sopir, banyak pelajaran yang bisa dipetik ya, pernah juga naik ojol sopirnya mantan pekerja di kapal pesiar terus beralih menjadi sopir ojol karena usia yang tidak memungkinkan kan lagi berada di kapal pesiar, lalu ada anak muda yang lagi merintis usaha nyambi driver ojol. Sejauh ini banyak inspiratifnya sopir ojol yang saya temui 😁 btw itu lagu modulus kesukaanku dulu. 😀

    BalasHapus
  21. Aku ingat sama namanya, tapi lupa sama lagunya yang mana. Jadii langsung dech liat vudeonya.
    Serru pastinya ya Oma, rezeki dapet drivernya seseorang yg kita ngefans. Ditunggu cerita selanjutnyaa..

    BalasHapus
  22. Jaman now ya mbak, asalkan kita mau menjemput rezeki, pintu mana saja insya Allah dibukakan olehNya. Ngapain gengsi, semua sama di mataNya ... dan emang cerita dari sopir2 OJOL ini macem2 ya mbak. C'est la vie!

    BalasHapus
  23. Ah. Stanley Sagala.
    Baca tulisan ini ikut bernostalgia.
    Tapi aku setuju sekali sama Kak Haya untuk quotes di atas. Laki-laki yang mau bekerja keras demi dapat rezeki halal, itulah lelaki tangguh, lelaki bertanggung jawab.

    BalasHapus
  24. Baru aja saya nonton vidclip kamu ya cuma kamu.... Terus iseng nyari kabar om Stanley, dan ketemu blog ini. Saya denger lagu ini pas SMP/ SMA tahun 1996 atau 1997 kalau tidak salah.... Seperti yg kemarin2, kalau tau lagu ini berarti Anda sudah tua.

    BalasHapus
  25. Tadi sore saya juga naik grab drivernya bang stanley di daerah bogor..orangnya ramah sabar walaupun kena macet dan diarahkan ke rute yg terjauh..makasih ya pak stanley

    BalasHapus
  26. Hr ini br aja sy naik mblny om stanley, dr stasiun gambir plg ke rmh. Orgny asik, baik dan ramah, spnjg jln kita ber2 ngobrol2 santai dan ga terasa sampai di rmh. Wkt dl sy sering nonton sinetron ny "Gerhana" di televisi. Hr ini sy lgsg bertatap muka dan komunikasi lgsg. 😁😁😁

    BalasHapus
  27. Tadi pagi juga kaget pas mau jalan order grab trus dpt driver bernama stanley michael sagala, dalam hati bertanya2 koq kayak pernah denger nama ini ya trnyata bner, gk nyangka sekali kalinya ke ibukota bisa ketemu babang artis di grab yg ternyata ramah bngt pdhal awalnya takut mau mulai tanya2 heheeee

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan