Minggu, 19 Agustus 2018

Benarkah Indonesia Sudah Merdeka 100%?


           Beberapa hari yang lalu kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-73. Seperti biasa, lomba seru-seruan panjat pinang, makan kerupuk, tarik tambang, dll memeriahkan suasana. Belum lagi acara pembukaan Asian Games Jakarta–Palembang 2018 sehari setelahnya. Acara pembukaan nan spektakuler ini disebut-sebut setara dengan acara pembukaan Olimpiade, pesta olahraga terbesar di dunia. Btw, omong-omong soal merdeka, benarkah negara kita sudah merdeka 100%?  
            Saya dkk blogger diundang oleh tim Foodbank of Indonesia (FOI) untuk berbincang-bincang mengenai hal tersebut di Kantor FOI, Cipete, Jakarta (16/8).
FOI adalah lembaga kemanusiaan yang misinya membuka akses pangan. Sehari sebelum perayaan hari kemerdekaan Indonesia, FOI membacakan Deklarasi FOI Menuju Indonesia Merdeka 100%. Tujuannya untuk mengajak semua elemen masyarakat membuka akses pangan bagi fakir miskin, lansia, orang sakit, dan anak-anak telantar.  

foodbank-of-indonesia-foi-undang-blogger
Saya dkk blogger menghadiri acara kampanye Merdeka 100% FOI (credit: @imawan_)


            Kalau Teman-teman sering membuang makanan, berarti kalian termasuk orang yang punya andil dari 13 juta ton metrik makanan yang terbuang sia-sia. Ya, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (FAO), Indonesia jadi negara tukang buang-buang makanan paling buruk kedua di dunia setelah Arab Saudi. Bisa jadi ini sisa makanan dari kondangan, dari restoran, bahkan dari rumah tangga kita sendiri.
Ironisnya, berdasarkan data FAO pula, hampir 19,4 juta penduduk Indonesia masih mengalami kelaparan di mana 7,6 jutanya adalah anak dan balita kurang gizi. Jika dihitung-hitung, 13 juta metrik ton makanan tadi mampu memberi makan 11% penduduk Indonesia, lho. Duh, duh, piye ki. 
            Ir. Soekarno, presiden pertama RI, pernah berkata dalam pidatonya bahwa pangan adalah soal hidup matinya bangsa. Akses pangan merupakan hak dasar setiap warga negara yang merdeka.
Jumlah kelaparan di Indonesia menunjukkan, Indonesia belum sepenuhnya merdeka karena keadilan pangan belum menyentuh semua warga negara.   
            Dengan bantuan sponsor Superindo dan BreadLife, selama ini FOI rutin menyalurkan makanan melalui program Pos Pangan dan makanan tambahan melalui program Mentari Bangsaku ke sekolah-sekolah negeri. Distribusi dibantu oleh JNE ke berbagai daerah seperti Jakarta, Cirebon, Bandung, Surabaya, dan Yogya.
Kenapa ke sekolah-sekolah?
Soalnya, sekitar 40% kasus kelaparan terjadi di sekolah. Anak-anak berangkat ke sekolah dengan perut kosong. Berkat makanan dari FOI, anak-anak tambah semangat belajarnya. Prestasi mereka pun meningkat. Bu Yanti, salah seorang relawan asal Cilincing menyampaikan, anak-anak yang dulunya tidak pernah makan buah, sekarang kenal macam-macam buah seperti pisang, nenas, jagung, dan … mereka suka! Mereka baru paham kalau buah-buahan itu enak dan bermanfaat.
“Insya Allah di usia FOI yang hampir 3 tahun, FOI konsisten murni menjadi lembaga kemanusiaan tanpa disusupi oleh kepentingan politik atau kepentingan apa pun,” tegas Pak Hendro Utomo, Direktur FOI.    

mobil-foi

makanan-dari-donatur

hendro-utomo-direktur-foi
Pak Hendro Utomo, Direktur FOI
foi-relawan
Bu Yanti, relawan FOI asal Cilincing

anak-anak-antre-makanan-di-mobil-foi
Adik-adik SDN 11 Gandaria Utara Jakarta sedang antre makanan sedap!
Deklarasi menuju Indonesia Merdeka 100%

            Selain untuk anak-anak, FOI juga mulai bergerak untuk lansia. Ada lansia yang ditinggalkan keluarganya. Ada pula lansia yang masih memiliki keluarga, tapi tidak diperhatikan. Relawan-relawan FOI berdedikasi, mereka membantu mengolah bahan makanan dan mendistribusikannya. FOI bukan cuma berpangku tangan menerima makanan dari donatur. Mereka juga berupaya memberdayakan masyarakat agar mandiri pangan melalui gerakan Indonesia Merdeka 100%.   

Indonesia Merdeka 100% FOI

1. membantu kesejahteraan kehidupan petani, nelayan lokal, dan UKM pangan agar tetap ada kegiatan produksi makanan untuk kita
2. memberi makan fakir miskin dan anak-anak yang telantar di sekitar kita, mulai dari yang terdekat
3. makan dengan bijaksana; ambil secukupnya dan habiskan yang sudah diambil
4. meramaikan hashtag Merdeka 100%
5. meramaikan aksi 1000 untuk Merdeka dengan mengumpulkan uang seribu rupiah dan memberikan makanan bagi mereka yang membutuhkan.
            Tuh, kita juga bisa berpartisipasi dengan cara tidak membuang-buang makanan dan boleh juga mencari orang-orang yang belum punya akses pangan di sekitar kita. Semoga akses pangan semakin terbuka terutama untuk anak-anak dan kita bisa mencapai kemerdekaan yang hakiki. Semoga anak-anak mewarisi jiwa kemanusiaan seperti teman-teman di tim FOI. Kelak mereka bakal berganti posisi tangan di atas demi membangun negeri. Aamiin. [] Haya Aliya Zaki

2 komentar:

  1. Serius bunda, Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal membuang-buang makanan? Kok jadi sedih.

    Padahal kalo dilihat lagi, baik Arab Saudi dan Indonesia, sama-sama negara berpenduduk Muslim. Berarti, kita sama-sama sadar kalau membuang makanan dan makan berlebihan itu mubazir? Saya jadi malu banget, bun.

    Semoga FOI selalu menebar kebaikan ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Nadia. Aku juga baru tahu, nih. Dalam ajaran agama sebenernya udah jelas banget kalau mubazir itu temen setan. Praktiknya aja yang masih eror, ya.

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan