Dahsyatnya Manfaat Menulis Tangan

Permisiii … numpang lewat … mau tanya, kapan terakhir kali kalian menulis?

Maksud saya, menulis di atas kertas, bukan mengetik di gadget atau laptop.

Berdasarkan info yang saya kutip dari situs kesehatan, satu dari tiga orang ternyata sama sekali tidak pernah menulis di atas kertas selama lebih dari enam bulan! Ini hasil survei yang dilakukan oleh Docmail, sebuah perusahaan pengiriman surat dan percetakan di Inggris, terhadap dua ribu responden pada tahun 2014.

Kebayang ya itu survei tahun 2014, lho. Sekarang mesti tambah banyak orang yang jarang menulis, Teman-teman. Pasalnya, teknologi yang canggih semakin hari membuat kita semakin pengin say goodbye for good sama kegiatan menulis. Tinggal pencet tombol ini itu kerjaan beres. Hari gini teknologi begitu diagung-agungkan.

Nah, orang dewasa aja males menulis, apalagi generasi milenial? Sejak kecil generasi milenial udah kenal sama yang namanya gadget. Jujur, saya sering adu urat leher setiap kali mengajak si bungsu (7 tahun) untuk menulis tegak bersambung di buku tulis hiks. Kalau saya pribadi sempat mencoba rutin mengisi daily plan di aplikasi Evernote, tapi dasarnya saya generasi jadoel, akhirnya balik lagi ke buku agenda. Sensasi menulis di atas kertas berbeda dengan mengetik di gadget atau laptop. Saya bisa memberi stabilo warna-warni, bikin gambar ala ala, menempel tiket atau foto, aaah … seru!

 Makanya, waktu diundang ke acara Membangun Generasi Cerdas Indonesia Melalui Kebiasaan Menulis di Morrisey Hotel, Jakarta (8/5) oleh SiDU, saya senang banget! Siapa sih yang enggak kenal SiDU?

SiDU atau Sinar Dunia adalah merek buku tulis unggulan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang udah hits sejak zaman old. Rupanya, oh, rupanya sekarang SiDU punya wadah baru untuk meningkatkan kompetensi generasi milenial melalui gerakan nasional Ayo Menulis Bersama SiDU!

Terus, apa hubungannya kompetensi generasi milenial dengan menulis?

Menurut Kak Nurman Siagian (Pakar Edukasi Anak dari Wahana Visi Indonesia), kompetensi anak Indonesia sedang mencapai tahap kritis. Hasil survei tiga tahunan dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang dikeluarkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 72 negara dari sisi kemampuan membaca, matematika, dan science. Wah, wah, asli ini bikin kaget! Indonesia kalah dibandingkan Malaysia dan Kamboja yang masuk 40 besar.

Fakta berikutnya, Pak Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) menyampaikan kegalauan beliau saat melakukan uji publik RUU Perbukuan tahun 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang. Kesulitan anak-anak SMA, bahkan mahasiswa, untuk menulis sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu masih cukup tinggi. Hmmm, kebanyakan ngetik status di medsos apa ini, ya. Mana statusnya pada alay dan disingkat-singkat pula.

Fakta berikutnya lagi, berdasarkan hasil studi dari Kemendikbud tahun 2014, skor kompetensi rata-rata guru di Indonesia 44,5 sementara yang ideal adalah 70. Pengamatan Kak Nurman dan tim Wahana Visi Indonesia, guru-guru masih kesusahan menulis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mereka sendiri. Biasanya pada main copy paste aja. Hanya 25% dari 125 guru yang mampu menulis dan mengajarkan apa yang mereka tuliskan itu di dalam kelas. Kondisi guru yang seperti ini jelas berpengaruh pada kondisi siswa.

Di acara juga hadir Ibu Melly Kiong (Praktisi Mindful Parenting dan penulis buku). Saya fans berat buku-buku beliau terutama yang berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?. Ibu Melly menjelaskan bahwa sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, beliau memiliki lebih sedikit waktu dalam mendidik anak. Lalu, apa kuncinya agar bisa optimal? Jawabannya: menulis!

Ibu Melly punya support system, yakni mbak ART yang sebelumnya udah diajarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak-anak di rumah. Istilah Ibu Melly: menjalin kemitraan dengan mbak ART. Selain itu, setiap hari Ibu Melly tidak pernah alpa menulis pesan untuk anak-anak di mocil (memo kecil).

“Pagi hari, ketika saya mulai meraut pensil, anak-anak duduk tekun memperhatikan. Dari situ saja kami bisa menjalin ikatan emosional. Tanpa sadar, anak-anak belajar menyenangi kegiatan menulis. Saat mereka beranjak besar, kami bergantian menulis pesan. Melalui tulisan sederhana anak-anak, saya dapat melihat talenta terpendam mereka atau bahkan masalah yang sedang mereka hadapi di sekolah. Sekarang mereka sudah remaja, mocil masih kami simpan sebagai kenang-kenangan,” kata Ibu Melly dengan wajah terharu. So sweet banget mendengar cerita Ibu Melly. Kami-kami jadi ikutan terharu. Fyi, Ibu Melly masih menyimpan semua gigi susu anaknya di dalam selipan buku tulis!

Ibu Melly yang juga penggagas Komunitas Menata Keluarga (eMKa) ini mencoba menularkan aktivitas menulis yang bermanfaat melalui program SAGITA (Saling Berbagi Cerita) kepada ibu-ibu member komunitasnya. Member diminta memperhatikan aksi baik anak setiap hari dan menuliskannya menjadi cerita. Wih, kece, ya?

Menulis tangan merupakan keterampilan dasar yang mendukung berbagai aktivitas. Dengan menulis tangan, kita belajar mengkonstruksi isi pikiran, mengolahnya, kemudian menuangkannya menjadi kata demi kata yang bisa dipahami pembaca. Daya ingat kuat dipelihara. Kemampuan motorik pun terasah. Penting banget ini untuk anak-anak.

Berbeda dengan mengetik keyboard di gadget atau laptop, semua gerakan monoton dan selalu sama apa pun huruf yang ditik. Dari sisi kesehatan lainnya, mengungkapkan perasaan dan pikiran melalui tulisan tangan, dianggap ampuh membantu menyembuhkan luka traumatis.

Fayanna Ailisha Davianny, peraih penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, turut berbagi di acara ini. Kalau saya punya sepuluh jempol, saya acungin deh semuanya untuk Fayanna. Lha, gimana enggak? Usia 13 tahun, doi rampung menulis 42 buku! Berkat menulis buku, Fayanna bisa jalan-jalan gratis ke Korea Selatan dan mengajak orangtuanya pula. Pasang #LuarBiasa!

Kesukaan Fayanna akan dunia menulis ternyata dimulai dari hal sederhana, yakni dibacakan buku oleh orangtuanya sejak dia berusia 1 tahun. Fayanna sering diajak orangtua main ke toko buku. Seterusnya, Fayanna jadi hobi membaca buku sendiri. Dia berlatih serius menulis cerita pada usia 8 tahun dan menuliskannya di buku tulis. Orangtua juga mengajari Fayanna cara memenej waktu antara menulis, sekolah, dan kegiatan lainnya.

 “Berangkat dari kepedulian kami terhadap pentingnya meningkatkan kompetensi anak, SiDU merintis gerakan Ayo Menulis Bersama SiDU! sejak April 2018 demi mengembalikan kebiasaan menulis pada anak baik di sekolah maupun di rumah,” tutur Pak Martin Jimi (Domestic Business Head – BU Consumer APP Sinar Mas).

Tahap pertama, gerakan ini melibatkan 20 ribu murid dari 100 sekolah dasar di Jabodetabek yang berlangsung hingga Mei 2018. Anak-anak diberikan buku Ayo Menulis Bersama SiDU! untuk berlatih menulis tangan. Teman-teman mau tahu siapa penulis naskah di buku Ayo Menulis Bersama SiDU!? Beliau tak lain dan tak bukan adalah teman saya, Mbak Renny Yaniar, penulis ratusan buku cerita anak. Ikut bangga!

Di dalam buku Ayo Menulis Bersama SiDU! ada aneka topik yang memancing minat anak untuk menulis dari topik mengenal diri sendiri, mengetahui asal mula kertas, dongeng, lembar mewarnai, sampai perhelatan Asian Games 2018, di mana APP Sinar Mas menjadi mitra resmi yang turut mendukung Indonesia sebagai tuan rumah.

Pertanyaan-pertanyaan di dalam buku membantu menstimulus anak untuk mengutarakan ide dan pendapatnya melalui tulisan tangan. Orangtua dan guru dilibatkan mendampingi secara intensif dengan modul yang berlangsung selama 21 hari. 

Btw, kenapa 21 hari, ya? SiDU menyusun modul buku Ayo Menulis Bersama SiDU! berdasarkan studi bahwa kebiasaan baru dapat dibentuk jika kita rutin melakukannya selama minimal 21 hari.

Karena itu, gerakan Ayo Menulis Bersama SiDU! patut kita apresiasi dan support! APP Sinar Mas melalui SiDU berharap program Ayo Menulis Bersama SiDU! dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Indonesia dan menjadi motor munculnya program-program sejenis. Semoga kebiasaan menulis, terutama menulis tangan, semakin meluas di Indonesia.

Sekadar info, buku Ayo Menulis Bersama SiDU! tidak dijual bebas. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku ini disalurkan GRATIS ke sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan SiDU. Teman-teman pengin sekolah anaknya bekerja sama dengan SiDU? Silakan mendaftar di web situs Ayo Menulis Bersama SiDU. Kita bukan hanya bisa memberikan kebaikan untuk anak kita, melainkan kebaikan untuk satu sekolah. [] Haya Aliya Zaki

Review Dissy Lipstick Matte Rifa

Siapa yang enggak gemas sama pasangan artis Ussy Sulistiawaty dan Andhika Pratama? Mereka kelihatan serasi dan kompak banget! Bukan cuma kompak di dunia hiburan, melainkan juga di dunia bisnis. Serunya, semakin banyak anak, kok wajah mereka semakin awet muda. :))

Bicara soal bisnis, berdasarkan info yang saya baca di wollipop.detik.com terbitan tahun 2016, Ussy dan Andhika merintis bisnis Dissy Cosmetics pada tahun 2014. Dissy merupakan singkatan dari nama Andhika dan Ussy. Waktu itu, artis yang melirik bisnis kosmetik masih bisa dihitung dengan jari. Ussy pencinta make up, jadi dia ingin berbisnis sesuai passion-nya.

Sekarang ceritanya saya mau me-review Dissy Lipstick Matte Rifa. Lipstik ini salah satu lipstick matte dari rangkaian produk baru Dissy Cosmetics yang resmi diumumkan di media sosial 1 Maret 2018 lalu bernama Dissy Reborn.

Kemasan

Kemasan kotak berwarna hitam dengan torehan huruf emas, sementara itu kemasan lipstiknya sendiri berwarna cokelat kemilau masih dengan torehan huruf emas. Pembatas tutup atas dan bawah juga berwarna emas. Guess what, ada tanda tangan Ussy jika tutup dibuka yay! Kemasan kelihatan mewah dan elegan. Bentuk lipstiknya mungil imut-imut manjah. Berat 2,5 gram.

Di kemasan kotak tercantum jelas nomor BPOM RI, nomor batch, dan tanggal kedaluwarsa. Adanya nomor POM membuktikan bahwa lipstik ini tidak mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh seperti formalin, merkuri, atau rhodamin B. AMAN.

Saya mencoba mengecek nomor POM Dissy Lipstick Matte Rifa di web situs pom.go.id. Pilih Daftar Produk – Cek Produk BPOM dan masukkan nomor POM yang tertera pada kemasan kotak. Hasilnya, nomor POM produk ini jelas ASLI, bukan palsu.

Selain memiliki nomor POM, seluruh lipstik Dissy Cosmetics telah memiliki sertifikat HALAL sejak diproduksi tahun 2014. Teman-teman yang muslimah, catet nih nilai plus dari Dissy Cosmetics. Produk halal bikin kita lebih tenang memakainya.

Swatch

            Dissy Lipstick Matte punya 9 koleksi warna yang menggoda, yakni Lily, Diana, Manda, Almira, Sarie, Rifa, Vilda, Sheeva, dan Vina. Namanya cantik-cantik, ya? Jadi ingat nama-nama putri kerajaan. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, warna yang saya punya adalah Rifa.

Dissy Lipstick Matte Rifa bakal masuk koleksi favorit! Kenapa? Warnanya nude soft pink. Warna kesukaan mayoritas kaum hawa syalalala. Saya paling suka lipstik nude dan … pastinya pink! Soalnya lipstik warna gelap bikin bibir saya yang tipis kelihatan tinggal segaris.

Tapi, tapiii, jangan salah, bukan pink sembarang pink, ya. Saya pernah mencoba lipstik warna shocking pink dan entah kenapa meski sudah dipulas berkali-kali, warnanya tidak bisa menyatu dengan bibir saya. Pernah lihat camilan jadul rambut nenek yang warna pink, kan? Kulit sawo matang saya ditempeli rambut nenek, seperti itulah bibir saya saat pakai lipstik warna pink yang salah. LOL.

Nah, kalau warna pink Rifa ini dijamin membuat bibir kita kelihatan natural, enggak norak sama sekali. Oke dipakai sehari-hari. Wajah jadi kelihatan cerah dan lembut-lembut gimana gitu. Uhuk. Bisa juga dipakai untuk ke pesta dipadukan dengan riasan mata yang bold. Please be noted, warna lipstik yang muncul di bibir saya (foto) bisa jadi berbeda ketika dipakai di bibir kalian.

Kesan

Bibir saya tergolong kering kerontang. Biasanya sebelum memulas lipstik, saya harus memulas pelembap bibir. Saya tes memakai Dissy Lipstick Matte Rifa dengan dan tanpa pelembap bibir.

Hasilnya, meski tanpa pelembap bibir, pulasan terasa halus, tanpa butir-butiran yang menggumpal di bibir. Surprisingly, Dissy Lipstick Matte tidak bikin bibir saya kering, lho, padahal katanya lipstick matte, ya? Rupanya, lipstik yang ini mengandung pelembap. Formulanya moist. Selain itu, Dissy Lipstick Matte juga dilengkapi antioksidan dan UV filter.

Lipstik bertahan sekitar 5 jam di bibir saya setelah dipakai makan dan minum berbuka puasa. Warnanya transfer, tapi tidak terlalu. Cocoklah, saya kurang suka lipstik yang super-awet, khawatir wudhu kurang sah karena make up menghalang air menyentuh kulit. Kalau warna lipstik hilang, tinggal touch up. Beres!

So, kalau bibir kalian kering dan pengin pakai lisptick matte, saya amat sangat merekomendasikan Dissy Lipstick Matte. Bibir tidak cracked. Penampilan jadi oke, beraktivitas pun lebih semangat! Saya tipe yang percaya, lipstik yang pas bisa bikin hati perempuan bahagia. 😉

Hanya, bentuk yang langsing sering membuat lipstick matte ringkih. Saya lebih berhati-hati memulaskannya di bibir dibandingkan saat memulas bibir dengan lipstik bentuk lain. Jangan sampai lipstick matte kita patah jiwa huhu. Bukan bermasalah di kualitasnya sih, tapi setahu saya lipstick matte memang seperti itu, kecuali lipstick matte cair.

Harga

Harga Dissy Lipstick Matte cukup mihil, yakni Rp90 ribuan. Hmmm, mungkin nunggu bulan muda kalau mau beli haha. Seandainya beli, insya Allah tidak kecewa. Produknya jaminan mutu. Satu lagi produk kosmetik lokal yang bisa dijadikan andalan. Terus, kalau kita jeli mencari penjual atau reseller, kadang kita bisa membeli lipstik berhadiah produk Dissy Cosmetics yang lain. Lumayaaan.

Beli di mana?

Teman-teman bisa membelinya di toko online seperti Tokopedia dan Bukalapak. Kalian juga bisa menghubungi WhatsApp dissy.id 0812 2012 389 setiap hari Senin–Jumat pukul 09.00–14.00 wib atau di reseller terdekat. Harga setiap reseller berbeda. Hopefully distribusi produk Dissy Cosmetics semakin merata ke depannya.

Teman-teman suka lipstik jenis apa? Kalian pernah pakai Dissy Lipstick Matte juga? Yuk, share pengalaman kalian di sini! 🙂 [] Haya Aliya Zaki

Disclaimer: produk dikirim oleh Dissy Cosmetics. Review ditulis berdasarkan pengalaman saya sendiri dan hasil mengolah info dari beberapa web situs tepercaya.