Windy Ghemary dan Gelisah Hati

Adakah yang mengikuti acara Indonesian Idol 2014 dengan sepenuh hati jiwa dan raga seperti saya? Seru banget nonton Nowela dkk berlaga di panggung spektakuler! Dan, pastinya kalian tidak lupa dengan Windy Ghemary, finalis berkulit putih, berparas cantik, dan bersuara merdu. Hayooo … siapa yang sama-sama menjagokan Windy dulu? 🙂

Terlepas dari prestasi Windy di Indonesian Idol, somehow, saya selalu merasa beruntung bisa menulis sosok anak muda bertalenta dan ‘patuh’ pada proses. Yang kepo sila cek label Profil, ya. Nah, kali ini saya dan teman-teman blogger berkesempatan mengobrol dengan Windy dalam acara launching single keduanya Gelisah Hati dari iSOUND Records di Coffee Bean and Tea Leaf, Gandaria Selatan, Jakarta (27/2). Sebenarnya, ini kali kedua pertemuan kami. Yang pertama saat launching single Masih Mencintamu. Setelah ketemu yang pertama kali itu, kami tetap kontak via medsos. Windy rajin membalas satu per satu komen di medsosnya. Humble pisan euy! Secara dia artis gitu lho. Berikut tanya jawab kami dengan Windy yang saya rangkum.

  1. Sejak kapan menyanyi?

            Windy menyanyi sejak umur 5 tahun. Jelang remaja, hampir setiap minggu dia mengikuti perlombaan menyanyi. Kerja kerasnya berbuah manis. Windy mampu membiayai kuliah dan hidupnya dari aktivitas menyanyi, terutama dari menyanyi di acara-acara wedding.

  1. Pengalaman ikut Indonesian Idol?

Ada yang berkata bahwa ajang audisi menyanyi merupakan jalan pintas meraih ketenaran dan kesuksesan. Ini tidak sepenuhnya benar. Seperti yang udah teman-teman baca di atas, Windy menekuni passion-nya sejak kecil. Weleh, saya aja umur segitu masih main alip-alipan sama tetangga sambil lap ingus. :)) Hanya, Windy mengakui, audisi Indonesian Idol membuka peluang lebih besar agar potensinya bisa berkembang dan dikenal banyak orang. Dua bulan setelah mengikuti audisi lapangan, Windy dipanggil untuk mengikuti audisi teve yey! Penampilannya mampu mencuri hati para juri dan audiens. Alhamdulillah, bisa lolos sampai 7 besar Indonesian Idol itu luar biasa! Secara peserta audisinya sampai ratusan ribu orang dari berbagai kota di Indonesia, Saudara-saudara.

3. Siapa yang paling berperan dalam karier Windy?

“Aku bersyukur memiliki Mama yang selalu support dan menemani aku ke mana-mana. Beliau ‘cambuk’ agar aku mau berusaha untuk terus maju. Aku bisa seperti ini karena Mama,” kata Windy.

Well, doa orangtua memang dahsyat. Berkat Mama, Windy menjadi sosok mandiri. Windy jadi tahu arti tanggung jawab dan belajar konsekuen atas semua keputusan yang dia ambil. “Pernah aku terlambat sekolah dan Mama enggak ngebolehin aku pinjam sepeda motor tetangga. Aku harus tetap naik angkutan umum. Aku terlambat memang karena kesalahanku dan aku wajib tanggung jawab,” lanjut perempuan kelahiran tahun 1993 ini. Saya juga ikut belajar, nih. Jadi orangtua harus ‘tega’ sesekali demi mendidik anak. Noted!

  1. Cerita dong tentang single keduaGelisah Hati!

Berbeda dengan single pertama yang mellow gary barlow, single Gelisah Hati bernuansa electro pop. Windy lebih suka karena lagu ini lebih mewakili dirinya yang masih muda belia. Aaakkk … meski Tante udah enggak muda lagi, Tante juga lebih suka lagu Gelisah Hati, Wiiin. Iramanya nge-beat jadi pengin ajojing. *dadah-dadah anak 90-an*

Mumpung ada Pak Doddy Sukaman, sang pencipta lagu, kami pun kecentilan nanya-nanya proses pembuatan lagu. “Genre lagu harus sesuai sama karakter vokal penyanyi. Bikin lirik pun bukan sembarangan. Tidak semua kalimat cocok dimasukkan ke lagu, perhatikan penggalan kata,” jelas Pak Doddy.

Sebentar lagi Gelisah hati ada di Spotify dan lagu RBT. Wah, siap-siap beli, ya! Lalu, Pak Doddy sharing tentang fenomena penyanyi sekarang yang lebih memilih bikin single daripada bikin album. Jujur, dua tahun lalu saya sempat sedih waktu toko langganan Disc Tarra tutup karena bangkrut! Pak Doddy balik bertanya, “Siapa sih yang masih doyan beli CD (bukan celana dalam, please)?” Benar, kayaknya jarang, deh. Apa boleh buat. Penyanyi juga harus mengikuti zaman. Hari gini dengan modal 3–7 ribu perak kita udah bisa menikmati single kesukaan di iTunes, Spotify, dst. Btw, kalau boleh berharap, saya pribadi ke depannya pengin ada re-make video klip Gelisah Hati yang lebih kekinian dan lebih cetar. Aamiin!

  1. Tip menjaga stamina?

            Eits, jangan salah. Jadi penyanyi itu butuh stamina tinggi, lho. Kebayang kalau baru menyanyi 1–2 lagu napas udah mau putus. Windy punya 3 tip jitu menjaga stamina, yakni makan teratur, tidur yang cukup, dan olahraga! Kedengarannya gampang, tapi asli sulit menjalaninya. Butuh komitmen, terutama soal olahraga. “Olahraga tidak harus ke gym. Di rumah cari video olahraga di Youtube. Pakai baju seadanya pun jadi. Toh enggak ada yang lihat ini,” papar Windy.

  1. Cara menghadapi haters?

            Soal menghadapi haters, saya salut sama artis Syahrini. Doi sante banget kayak di pante. Haters-nya jadi gregetan sendiri hihihi. Ternyata Windy pun sama. Dia males meladeni haters.

Kata Windy, “Ambil sisi positifnya aja. Kadang ucapan haters yang setajam silet itu bisa jadi ‘masukan’ supaya kita berkarya lebih baik lagi.” Keren!

Kalau mau diikuti, obrolan kami dengan Windy mungkin tak bakal habis. Kami bertanya dari soal pacar, target menikah, sampai perawatan kulit. :)) Semua pertanyaan dijawab Windy dengan ramah. Tapi, waktunya cuma satu jam piye. Buat Teman-teman, jangan lupa nonton, subscribe, dan like video Windy di Youtube. Monggo komen-komen di sana, insya Allah semua langsung dijawab oleh Windy sendiri. Sukses buat Gelisah Hati! 🙂 [] Haya Aliya Zaki

Buku sebagai Jendela Dunia dan Inspirasi Kehidupan

“Books were my pass to personal freedom. I learned to read at age three, and soon discovered there was a whole world to conquer that went beyond our farm in Mississippi.” – Oprah Winfrey

Pada suatu masa, kisah hidup Oprah Winfrey begitu menarik perhatian saya (sampai sekarang pun masih). Saya pun membeli komik biografi Oprah (karya penulis Ahn Hyong mo) untuk saya dan anak-anak baca. Ya, siapa yang tidak kenal dengan perempuan asal Mississippi berusia 63 tahun ini? Popularitasnya meroket berkat acara Oprah Winfrey Show. Orang-orang menjulukinya ratu media. Oprah mengakui, dia terbebas dari masa kecilnya yang kelam berkat benda bernama BUKU. Kok bisa? Teman-teman sila baca lengkap kisah hidup Oprah Winfrey di internet, koran, majalah, atau buku. Insya Allah menginspirasi. 🙂

  Dan, kisah hidup Oprah menjadi pembuka yang manis di acara Kafe BCA V bertema Membaca dari Generasi ke Generasi yang berlokasi di gedung Menara BCA, Jl. Thamrin, Jakarta. Waaah … asli saya terpesona melihat dekor di TKP. Di mana-mana ornamen buku bahkan sampai hanging mobile-nya pun buku! Panggungnya? Buku raksasa! Seru! :))

Btw, ada yang belum tahu Kafe BCA? Kafe BCA merupakan wadah berdiskusi yang menghadirkan para pakar dan praktisi untuk membahas tema tertentu. Tujuannya memberikan informasi dan ilmu kepada masyarakat demi kemajuan bersama. Kafe BCA tampil perdana pada tanggal 13 Januari 2016. Pada tanggal 15 Maret 2016 lalu sudah sampai ke acara diskusi yang kelima. Makanya diberi nama: Kafe BCA V.

Di forum Kafe BCA V saya rada takjub soalnya narsum acaranya sampai 5 orang. :)) Mereka adalah Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI), Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia), Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia), Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa), dan … Andy F. Noya (Duta Baca + presenter acara Kick Andy). Narsum yang paling bikin penasaran pastinya Andy F. Noya dong. Siapa yang tak kepincut sama acara Kick Andy? So inspiring! Saya ulas semua diskusi berdasarkan nama-nama narsumnya, ya. Siapkan energi kalian untuk membaca tulisan panjang. Semoga enggak pada bosan dan pindah ke postingan lain haha.

  1. Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI)

            Berdasarkan studi Most Literated Nation in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, Indonesia dinyatakan sebagai negara yang menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Hampir nomor buncit! :((

Menurut Pak Syarif, sebenarnya minat baca di Indonesia cukup baik. Hanya, buku yang mau dibaca itu SANGAT SEDIKIT. Sekitar 74% perpustakaan bertumpu di Pulau Jawa. Standar UNESCO, 1 orang membaca 2 buku. Faktanya, di berbagai daerah di Indonesia (terutama di pelosok), 1 buku diantre baca oleh 50 orang! Alamak!

Bagaimana dengan internet? Ada 130 juta penduduk Indonesia yang terkoneksi internet dan cuma 2,5% yang menggunakannya untuk browsing ilmu pengetahuan. Bukan apa-apa, kontennya itu kurang sekali. Jadi, Pak Syarif berharap, ke depannya jumlah penulis (terutama penulis buku) bertambah banyak dan jumlah literatur atau buku yang ditulis juga bertambah banyak. Alhamdulillah, tahun lalu dan tahun ini saya mendapat kepercayaan menulis 10 serial moslem fairy tale pictorial book. Semoga bisa sedikit membantu ya, Pak. Aamiin.

  1. Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)

            Kebiasaan membaca tidak muncul sekonyong-konyong. Anak senang membaca jika orangtua dan lingkungannya juga senang membaca. Ketika menunggu, anak melihat ibu membaca buku. Ketika di rumah, anak melihat ayah duduk santai membaca buku. Demikian seterusnya. Kebiasaan ini sebaiknya ditanamkan ketika anak berusia di bawah 6 tahun. Bacakan buku. Dongengkan mereka. Tunjukkan ekspresi kece saat membaca. Obrolkan buku yang telah mereka baca.

  1. Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia)

            “Sebagian besar sistem komunikasi di institusi pendidikan kita masih satu arah. Guru ibarat sumber ilmu pengetahuan dan murid ibarat celengan yang selalu menerima,” papar Bu Lucia. Istilahnya, murid punya ilmu pengetahuan, tapi nantinya sulit untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Yang lebih parah sih kalau murid jadi generasi penghapal. Baca buku cuma saat ujian dan setelah lulus apa yang dipelajari pun hilang. Hmmm, sounds familiar? :))

            Saran Bu Lucia, alangkah idealnya jika murid ramai-ramai diajak membaca buku. Setelah itu, berdiskusilah tentang apa yang mereka baca. Biarkan mereka menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Murid dibiasakan berpikir kritis dan kreatif. Setuju pakai banget, Bu Lucia! Mari kita tinggalkan sistem pendidikan zaman lawas di mana murid cuma bisa manggut-manggut elus janggut ngeliatin gurunya di depan kelas. :p

  1. Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa)

            Info dari Pak Dadang, sesuai program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) dari Kemendikbud, setiap sekolah mewajibkan murid-muridnya membaca buku selama 15 menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Boleh baca buku apa aja, tidak harus buku pelajaran kok. Siswa bebas memilih buku yang disukainya dan buku tersebut memperkaya pengetahuan. Apakah itu dongeng, cerita rakyat, sastra, dll. Kira-kira berat tidak melaksanakannya, ya?

  1. Andy F. Noya (Duta Baca dan presenter acaraKick Andy)

            Eng-eing-eng. Here we go. Kayaknya diskusi dari Bang Andy ini bakal paling panjang sendiri haha. Soalnya saya terkesan banget sama perjalanan hidup beliau. Adakah di antara Teman-teman yang bertanya-tanya kenapa Bang Andy selalu memberikan hadiah buku kepada audiens acara Kick Andy? Aksi bagi-bagi buku ini menjadi ciri khas acara Kick Andy. Audiens di rumah juga berkesempatan mendapat hadiah buku dengan cara ikutan kuis. Nasiiib, beberapa kali ikutan, saya belum pernah beruntung. :p

Ternyata oh ternyata ada cerita pilu di balik bagi-bagi buku tersebut. Kehidupan Bang Andy kecil di Kota Malang sangatlah sulit. Dia suka membaca buku, tapi tidak sanggup membeli. Senang sekali rasanya ketika bu guru rutin memberikan hadiah majalah Si Kuncung. At least Bang Andy punya bahan bacaan. Berkat gemar membaca, laki-laki kelahiran Surabaya ini jadi gemar menulis.

“Dengan hobi menulismu ini, suatu saat kamu akan menjadi hartawan,” kata salah seorang guru sekolah Bang Andy.

       Melihat anaknya sangat suka membaca, ibu Bang Andy tersentuh hatinya untuk menyisihkan uang dan membeli koran setiap hari. Padahal ibu Bang Andy hanya penjahit berpenghasilan pas-pasan. Makan sehari-hari aja sering sama nasi dan garam. Kedua orangtua Bang Andy telah berpisah dan 3 anak menjadi tanggungan ibu Bang Andy. Kalau dipikir-pikir, sepertinya mereka mustahil berlangganan koran. Tapi, ibu Bang Andy mampu melakukannya demi melihat anaknya semangat mencari ilmu. Setiap Bang Andy ulang tahun, ibu memberi hadiah buku. Dari buku, Bang Andy jadi tahu cara membuat macam-macam prakarya bagus. Dia yang selama ini diremehkan karena miskin, tiba-tiba panen pujian di sekolah. Saat bercerita pengorbanan ibu, mata Bang Andy berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat selama sekian detik.

Beberapa tahun kemudian, Bang Andy pindah ke Papua mengikut ayahnya. Dia pikir hidupnya bakal berubah. Ternyata podo wae sami mawon, Saudara-saudara. Ayahnya tukang reparasi mesin tik yang miskin. Soal buku, jangan bandingkan ketersediaan buku di Jawa dengan di Papua. Di Papua, buku luar biasa susah dicari. Kalaupun ada, harganya mahal ampun-ampunan.

Setelah itu, Bang Andy diajak saudaranya pindah ke Jakarta. Dari sisi pengetahuan, dia menyadari banyak tertinggal dengan teman-teman sebayanya. Apa yang dilakukan Bang Andy? Well, dia menebusnya dengan ‘brutal’ membaca buku! Uang dari mana? Alhamdulillah, ada Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Di sana merdeka baca buku. Gratis! Jika punya uang, Bang Andy berburu buku-buku bekas di Kwitang.

Demikian akhirnya hingga Bang Andy berhasil menggapai cita-citanya menjadi wartawan di berbagai media kesohor dan lanjut menjadi presenter teve acara Kick Andy. Di tangan dingin Bang Andy, acara ini telah beberapa kali diganjar award bergengsi. Wah, ucapan guru Bang Andy dulu sudah terbukti. 🙂 Saya pribadi mengukur kata “hartawan” bukan dari materi aja sih. Jangan bandingkan dengan Princess Syahrini yang ke mana-mana naik jet pribadi hihi. Tapi, berkat buku, Bang Andy bisa memeluk profesi yang dia idam-idamkan. Berkat buku, Bang Andy bisa menolong masyarakat di daerah terpencil yang butuh perluasan akses buku. Kalau Amerika punya Oprah WInfrey, Indonesia punya Andy F. Noya. Mereka menunjukkan bagaimana buku mampu mengangkat derajat hidup seseorang. Diskusi bersama Bang Andy diselingi gelak tawa dan rasa haru. Kelihatan memang kalau presenter andal itu, ya. Pandai betul membawa suasana.

“Anak-anak miskin yang tinggal di daerah terpencil akan terbuka wawasannya jika rajin membaca buku. Mereka jadi punya harapan. Mereka jadi punya keberanian untuk mengubah hidup asalkan mereka mau berusaha.” – Andy F. Noya

  Guess what, kita juga bisa ambil bagian seperti Bang Andy! BCA mengajak kita berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Pilih paket donasi yang tersedia. Dana yang terkumpul akan dikonversi menjadi buku. Buku-buku tersebut nantinya disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, BCA mempersembahkan kaus kebaikan untuk kita yang berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Detailnya lihat di banner.

Teman-teman ikutan, yuk! 🙂 “Mari sebarkan buku ke seluruh penjuru negeri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” tutup Pak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA. [] Haya Aliya Zaki