Make Up dan Gaun Pernikahan untuk Muslimah

Di postingan Katering dan Resepsi Pernikahan, saya udah cerita panjang kali lebar kali tinggi tentang tip-tip memilih katering pernikahan ala saya. Nah, di postingan ini lain lagi. Kalau baca judulnya, please jangan langsung berpikir bahwa saya adalah pakar make up pengantin dan gaun pengantin muslimah haha! Justru karena pernah melakukan “kesalahan”, saya jadi merasa yaaa … bolehlah yaaa … kasih saran dikit untuk Teman-teman muslimah yang akan menikah. :p

       September 2002, waktu menikah semakin dekat, sebagai pegawai baik hati nan budiman saya masih aja berkutat dengan seabrek pekerjaan di Jakarta. Padahal, pernikahan dan resepsinya diadakan di Medan. Alhasil saya menyerahkan sebagian besar urusan make up pengantin dan gaun pengantin kepada Mama. Kami berkomunikasi intens via telepon. Yang dimaksud “telepon” di sini tentu bukan ponsel canggih seperti sekarang. Bisa SMS, WhatsApp, Line, kirim foto, atau pamer video. Zaman tahun 2002, telepon koin yang berjaya. Dan, telepon koin di rumah ibu koslah yang amat sangat berjasa dalam kehidupan saya. *uhuk* “Tiiit …! Tiiit …! Tiiit …!” Kenyang, deh, setiap sekian menit dengerin telepon koin protes minta diisi.

Khusus untuk kebaya nikah, saya bilang ke Mama, saya pengin mengurus sendiri di Jakarta. Saya kenal butik cakep yang bisa mewujudkan keinginan saya. Biasanya, kan, kebaya nikah warnanya putih. Betul? Berhubung saya fans garis keras warna pink, jadilah saya bikin kebaya nikah warna pink! :)) Pink tetap kelihatan sakral, kok. Yang utama itu niatnya. *cari pembenaran*

Bahan kebaya saya cari di Pasar Mayestik. Kebaya pink ditaburi payet mutiara dan batu-batu supaya tampak lebih istimewa. Dasar otak irit, saya mikirnya nanti baju nikah ini juga bisa dipakai buat ke kondangan atau acara pesta. Jadi, enggak mejeng manis aja di lemari setelah dipakai buat nikahan. Padahal, apa yang terjadi sekarang? Boro-boro dipakai, muat aja enggak! Wkwkwk.

Jujur, dulu saya merasa kesulitan mencari gaun pengantin muslimah. Beda sama sekarang. Butik gaun pengantin muslimah dengan segala model, termasuk yang syar’i, mudah ditemukan di mana-mana. Seandainya bisa memperbaiki masa lalu, saya ingin kebaya nikah yang lebih syar’i. Hijabnya dipanjangkan sampai ke dada atau bagian dada diberi selendang cantik, misalnya. Saya paling suka melihat kebaya nikah muslimah yang warnanya lembut, tapi ceria. Dan, yang paling penting, syar’i.

Untuk make up pengantin dan gaun pengantin, Mama mempercayakannya kepada seorang bidan pengantin di Medan (selanjutnya saya sebut Bu Bidan aja, ya). Rencananya, saya menikah di masjid memakai kebaya pink, lanjut acara adat di rumah pakai baju Melayu, dan malamnya resepsi pakai gamis ala ala Arabian. Rambut saya ditutupi kain seperti jaring berwarna keperakan dan hiasan sunting Melayu. Pelengkapnya mahkota (head piece) serupa Cleopatra full permata.

            Tak disangka tak diduga, dua hari sebelum hari H, dunia persilatan gempar. Apa sebab? Ternyata gaun pengantin saya untuk resepsi dari Bu Bidan, jomplang bahan dan modelnya dengan baju resepsi suami. Duh, padahal tinggal dua hari lagi! Cari bahan dan jahit di mana? Ubek-ubek lemari, untung ketemu gamis hijau yang dibeli Abah di Mekkah. Gamis hijau ini lebih cocok bila disandingkan dengan baju resepsi suami. Belajar dari pengalaman saya, sebaiknya Teman-teman memastikan gaun pengantin ke vendor bridal tidak mepet waktu.

 Alhamdulillah, acara nikah, adat, dan resepsi berlangsung mulus. Jadi ratu sehari sibuk salam sana sini dan saya masih merasa fit sampai tengah malam! Hebring euy. Mungkin karena hati terbawa senang. Untuk make up pengantin, saya rikues yang tidak menor. Make up resepsi malam hari lebih kuat, tapi tetap tidak menor. Di atas semua itu, bahan-bahan make up-nya yang halal, dong. Kalau halal, hati jadi tenteram. Sepertinya semua berjalan sesuai rencana, hingga di pengujung acara, Tante memandangi wajah saya.

              “Lya? Ini sejak kapan bulu matamu copot setengah?” tanya Tante.

            Sontak saya kaget. “Masa, sih, Tante?” Saya langsung meraba bulu mata palsu saya yang … memang benar, sudah copot setengah, Saudara-saudara! Huaaa!

“Lha, memang dari tadi kamu enggak merasa toh?” tanya Tante lagi.

 Kyaaa. Sepertinya saya cuma terlatih untuk merasa segala macam makanan, bukan untuk merasa bulu mata palsu! Saya pun menggeleng manyun. “Padahal tadi udah foto-foto buat album …,” kata saya dengan suara tertahan. Tante langsung heboh panggil Mama dan Bu Bidan. Tapi, apa mau dikata. Seksi dokumentasi udah pulang semua. Kalau begini, saya cuma bisa ngedumel sendiri. Ih, siapa suruh jadi anak polos banget. Sejak zaman purba, saya memang paling males sama yang namanya dandan. Urusan dandan, pengetahuan saya nol, bahkan minus. Bulu mata palsu copot setengah aja saya sampai enggak sadar! Ini Bu Bidan juga kenapa ikut-ikutan enggak sadar, yak? Ampon. Menyedihkan, foto-foto di album pernikahan saya terpampang jelas bulu mata palsu yang copot setengah.

 Tragedi Gaun Pengantin Jomplang dan Tragedi Bulu Mata yang saya alami mudah-mudahan tidak kejadian sama Teman-teman yang urusan pernikahannya diserahkan kepada Bridestory. Ada vendor khusus untuk pengantin muslimah juga, lho. Pengin lihat-lihat, klik aja “Save Vendor”. Bujetnya bukan cuma bujet premium. Harga bisa langsung dilihat di “View Pricelist” tanpa perlu menelepon atau ketemu vendor yang bersangkutan. So, sekarang enggak perlu bingung mencari make up dan gaun pengantin muslimah. Selamat merencanakan pernikahan islami yang diidam-idamkan! ^^ [] Haya Aliya Zaki