Kamis, 23 April 2015

Kenangan "Horor" 1999

            Selama pekan tes berlangsung, saya benar-benar kurang tidur. Otak seperti diperah. Tenaga terkuras.  Segenap daya dicurahkan demi tes ini. Bagi saya, tes yang diadakan universitas setahun sekali ini amat sangat berarti. Bagaimana tidak, banyak sekali mahasiswa yang mengikuti dan yang keluar menjadi pemenang nantinya berhak menyandang predikat paling bergengsi di kampus yakni Mahasiswa Berprestasi se-Universitas Sumatera Utara! Saya memerlukannya untuk mendapatkan beasiswa yang saya impi-impikan. Minimal tiga besarlah. *ngarep banget*

Setelah dinyatakan lolos melewati serangkaian tes lisan maupun tulisan, saya maju mengikuti tes selanjutnya. Tes selanjutnya lagi-lagi bukan sekadar menguji pengetahuan akademis dan wawasan, melainkan juga mental. Pasalnya, dosen penguji hanya memberi waktu 3 hari kepada peserta untuk mengerjakan karya tulis sejumlah 30 halaman! Bisa dibayangkan hiruk pikuknya kondisi saya waktu itu.

Saya bergerak cepat mencari informasi dari buku, majalah, koran, dan dunia maya. Karena karya tulis ini dipresentasikan, tentu saya mesti menyiapkan materi presentasi sekece mungkin. *Buk, Buk, sekece apa pun, waktu itu presentasinya masih pakai OHP (overhead projector) hihihi* Saya berinisiatif menggandeng ilustrator, yang tak lain dan tak bukan adalah Indra, teman saya sendiri. Indra salah satu ilustrator yang karya-karyanya rutin muncul di koran Analisa, Medan.

Tanpa ba-bi-bu saya tancap gas ke rumah Indra. Alamak … ternyata lokasi rumah Indra di tempat jin buang anak! Luar biasa jauhnya dari rumah saya dan kampus. Sendi-sendi tubuh saya rontok karena kecapekan. Belum lagi insiden rebutan memakai komputer dengan Abah. Maklum, di rumah kami waktu itu hanya ada satu komputer (yang ukurannya masih segede gaban). Gara-gara mengerjakan karya tulis ini, praktis jatah tidur saya cuma 2 jam selama 3 hari berturut-turut!

Alhamdulillah, semua jerih payah terbayar. Karya tulis saya meraih juara II! Yang juara I siapa lagi kalau bukan Budi, mahasiswa Fakultas Kedokteran a.k.a cowok hitam manis  kecengan saya, sedari pekan tes bermula. *pengumuman ora penting* Tak apa, saya ikhlaskan, Buuud … hohoho …. Hush, kembali ke fokus cerita. Tanya punya tanya, ternyata poin penilaian juri tidak tergantung  dari makalah, materi presentasi, dan kelancaran menjawab pertanyaan saja, tapi juga topik yang diangkat. Waktu itu saya memilih topik narkoba yang sedang puanaaasss diperbincangkan publik yakni ekstasi.

Tidak saya sangka, saya mampu melewati semua ini. Baru berasa, melewati tantangan ini sebenarnya juga sudah sebuah kemenangan. Bonusnya juara dan beasiswa hahaiii! Penuh debar saya menanti masa sebulan lagi. Yap, sebulan lagi pihak universitas mengadakan upacara seremonial penyerahan hadiah kepada para pemenang lomba. Saya mencatat dalam ingatan, sebulan lagi berarti tanggal 17 Juni 1999. Ya, ya, ya, oke, 17 Juni 1999. 

Hari demi hari berlalu hingga tiba pada tanggal 15 Juni 1999. Saya tak sabar bertemu lusa. Saya sudah menyiapkan baju terbaik dan merancang senyum terkiyut saat penyerahan hadiah nanti. Tanggal 15 Juni sore, Pak Nawi, pegawai dari kantor jurusan, menelepon.

“Haya, kenapa tadi pagi tidak datang upacara? Ini kan event penting. Pak D (inisial aja, yeee) kayaknya kecewa, Haya …,” demikian kata beliau.

Whaaattt …?! Mendengar kalimat Pak Nawi, saya kejungkel sekejungkel-kejungkelnya! Upacaranya hari iniiih? Ya, Tuhan! Apa yang sudah saya lakukaaan?

 Asli, rasanya shock berat! Rupanya upacaranya bukan tanggal 17, Teman-teman, melainkan tanggal 15! Hadeeeuuuh …. kenapa bisa kurang informasi begini? Paaak … maaf, Paaakkk … saya juga sama kecewanya kaleee … batal mejeng gitu lhooo .… *digampar bolak-balik* Enggak dink. Saya merasa betul-betul tidak enak karena saya, kan, mewakili fakultas saya, tapi malah tidak hadir upacara. 

Esoknya, saya menghadap Pak D, Ketua Jurusan sekaligus dosen pembimbing karya tulis saya untuk tes ini. Sambil pasang tampang memelas, saya terpaksa melakukan “bohong putih”. *maaf ya Paaakkk … hiks!* Saya mengutarakan alasan penyebab ketidakhadiran saya, yaitu s-a-k-i-t. Rona kecewa terpancar di wajah Pak D, namun alhamdulillah beliau menerima. Pfiuh!

Kalau ingat kenangan "horor" 1999 ini, rasanya saya seperti terkena serangan sesak napas kambuhan. Ingat berdarah-darahnya perjuangan menjalani tes, jumpalitan menyelesaikan karya tulis, pakai acara jatuh cintrong bertepuk sebelah tangan segala pula huhuhu … dan … salah mengingat tanggal upacara! LENGKAP-KAP-KAP! *brb ngambil masker oksigen* [] Haya Aliya Zaki





27 komentar:

momtraveler mengatakan...

Yaaahh...syang banget ya kak cuma2 gara2 salah hari rusak agenda ngeceng sebelanga :p

HM Zwan mengatakan...

kebayang nyeselnya g karuan ya mak,kurang teliti akhirnya g bisa mejeng deh hehe

ophi ziadah mengatakan...

Hahaha... garuk tembok di pojokan
eh tapi jadi lebih seru ceritanya gegara salah tanggal itu mak...

miafauzia mengatakan...

Mak, kirain horor itu di tempat jin buang anak. Hahahahha xD.
Duh sayang banget ya mak gagal narsis. Padahal hasil kerja keras. Huhuhu

Vhoy Syazwana mengatakan...

Waduuhh, sayang banget ya Maak (ikut ngerasain atmosfer kekecewaaannya ciieeaaahh :D)
Etapi beasiswanya tetep dapet kan ya meski ketinggalan seremoninya :D

Istiana Sutanti mengatakan...

Huaa.. Kebayang banget nyeselnya, uhuhu. :(

Pelajaran banget ya mak supaya lebih teliti lagi sejak itu

Uniek Kaswarganti mengatakan...

Koq bisa lupa gitu sih? *pandangan setajam silet *lantas digampar

Astari Nidia mengatakan...

Huuuu, aku jadi geregetan deh kaka. knapa bisa gitu. knapa kaka *hiks
mgkn laen kali ada kesempatan lagi yak ;)

Inda Chakim mengatakan...

Pdhal udh nyiapin baju segala ya mbak...

suria riza mengatakan...

padahal dulu belum faktor U ya mbak :p
Syukurlah pak D menerima...

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ho oh pas tuh peribahasanya, Mun. :p

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Hahahaha ga bisa mejeng bareng Budi. :))))

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Yang baca berasa seru, yang nulis berasa horor wkwkwk.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

"Tempat jin buang anak" itu kiasan untuk tempat yang jauuuh nun di sana. :) Iya, gagal narsis bareng cowok hitam manis. #eh

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Alhamdulillah, dapet. Namanya beasiswa Supersemar. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ho oh ho oh.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Bukan lupa, Sayaaang. Tapi, salah mengingat tanggal. :p

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Itu udah 16 tahun yang laluuu wkwkwkw. Sekarang mendingan ngejer-ngejer anak di rumah.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Iya, nasib, nasib.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Kayaknya faktor cinta bertepuk sebelah tangan itu. :)))

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

Waktu itu mbak Haya lag imikirin si calon dokter itu sih ya jadi sampai lupa tanggal :)

Goiq mengatakan...

dulu aku juga sering banget salah hari mbak. Mulai dari salah hari janjian, salah hari deadline tugas kampus dan salah hari ngumpulin deadline karya akhir kuliah. Untung waktu itu salah harinya lebih awal. Jadi ngga perlu mengulang satu semester

Syukur mengatakan...

Cinta ditolak , pikun bertindak mbak.haha

Putri Devina mengatakan...

sayang banget ga hadir di acara yang sangat penting.. lain kali tulis yang benar tanggalnya ya :)

Beby Rischka mengatakan...

Aaaaak.. Sungkem dulu ah sama Senior Kampus :*

indah nuria Savitri mengatakan...

Lupa tanggal judulnya maaaak heheee...yah, jadi pelajaran untuk ke depan hehee

pistasimamora mengatakan...

kalo aku langsung gegaruk tanah mba huhuhuhu

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan