Jalan-Jalan ke Singapura: 9 Tip Berobat ke Singapura

Jalan-Jalan ke Singapura: Halo, Singapura!

Jalan-Jalan ke Singapura: Medical Checkup di Paragon Medical

Jalan-Jalan ke Singapura: Hydrafacial di Paragon Medical

Pukul sembilan pagi, Rabu, 28 Januari 2015, saya, teman-teman #HappyBloggers, dan tim Reader’s Digest Indonesia (RDI) berkunjung di Gleneagles Hospital. Gleneagles Hospital terletak di daerah perumahan dan kawasan belanja-belanji yang apik. Guess what, ini rumah sakit enggak ada bau-bau rumah sakitnya sama sekali. Kinclong, terang-benderang, dan cantik! Di sini, kenyamanan pasien memang nomor satu.

Rencananya saya mau tes Colposcopy dengan Dr. Chia Yin NinGynaecology and Oncology Specialists. Apa itu tes Colposcopy, nanti saya tulis di dua postingan berikutnya, ya. Natalia dan Dessy melakukan tes yang berbeda. Namun, sebelum ketemu masing-masing dokter, kami diajak jalan-jalan keliling rumah sakit. Tim Gleneagles Hospital menyambut hangat. Salah satu penjelasan Lynndy LeeManager Marketing Communications Parkway Hospitals, yang saya ingat adalah ruangan untuk pasien kanker dibangun tidak jauh dari tempat parkir. Kenapa? Hampir semua orang tahu bahwa pengobatan kanker memiliki efek samping antara lain, rambut rontok dan kulit gosong. Pasien cenderung malu ketemu orang-orang. Pihak rumah sakit memudahkan dengan membuat jarak yang dekat ini. Wah, sampai sebegitunya faktor psikologis pasien diperhatikan, ya. Salut!

Gleneagles Hospital memiliki 270 tempat tidur pasien untuk berobat dan bedah Oncology (kanker), Cardiology (jantung), General Surgery (bedah umum), Gastroenterology (pencernaan), Orthopaedic Surgery and Sports Medicine (bedah tulang dan kedokteran olahraga), Obstetrics and Gynaecology (kebidanan dan kandungan). Lebih dari 300 dokter bertugas dengan 30 spesialisasi dan sub-spesialisasi. Jadi, satu pasien ditangani oleh satu dokter, bahkan lebih. Sebagai pasien, kita enggak perlu khawatir dinomorduakan atau di-PHP cieee cieee. Dokter-dokter saling berkoordinasi demi kesembuhan pasien. Pelayanan 24 jam mulai dari konsultasi sampai tindakan bedah. Setiap hari staf customer service mengunjungi pasien untuk menanyakan kebutuhan pasien apakah itu rikues makanan nyam nyam atau pengurusan surat-surat penting. Bukan cuma pasien yang di-handle, tapi kebutuhan keluarga pasien juga! Catet!

Sekitar 70% pasien Gleneagles Hospital adalah orang Indonesia. Jangan khawatir soal bahasa. Pihak rumah sakit menyediakan penerjemah medis untuk 19 bahasa seperti bahasa Indonesia, Bangali, Mandarin, Rusia, Vietnam, Arab, dan lain-lain.

Sekarang, yuk, cuci mata lihat-lihat kamar pasien di Gleneagles Hospital yang mirip kamar hotel. Kadang-kadang ada yang suka melesetin “hospitel” (bukan “hospital”) untuk menyebut rumah sakit di Singapura. “Hospitel” maksudnya rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan ala hotel. Gicu.

Tahun 2015 ini Gleneagles Hospital fokus pada Kesehatan Wanita. Kita semua tahu bahwa wanita mengalami kondisi psikis, mental, dan spiritual yang berbeda sesuai dengan tingkatan usia. Betul? Wanita HARUS BERJUANG UNTUK SEHAT saat melewati semua fase itu. Saya yang seorang istri dan ibu penginnya sehat terus supaya bisa mengurus rumah tangga dan keluarga. Kalau saya sakit, anak-anak yang berasa sedih banget. Ini surat yang pernah ditulis Shafiyya (7 tahun) waktu saya sakit.

  Gleneagles Hospital komit 100% mendampingi para pasien wanita segala usia mulai dari pencegahan penyakit sampai pengobatan. Saran para dokter, nih, sebaiknya lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, kayak papsmear, mammografi, tulang, jantung dll. Jangan tunggu sampai penyakit parah. Seperti yang sudah saya tulis di postingan Hydrafacial di Singapura, deteksi dini akan memberikan hasil pengobatan yang lebih efektif.

Berikut beberapa tip berobat ke Singapura dari saya:

  1. Cari info melalui internet, majalah, koran tentang pelayanan, peralatan medis, jadwal pengobatan, transportasi, dan biaya rumah sakit di Singapura. Cari info juga ke teman atau kerabat yang pernah berobat di sana. Oiya, rumah sakit di Singapura punya 12 kantor perwakilan di Indonesia, yakni diJakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Solo, Medan, Palembang, Bali, Balikpapan, Makassar, dan Samarinda. Pasien monggo konsultasi terlebih dahulu di kantor terdekat. Apakah pasien butuh dijemput begitu sampai di sana? Sampaikan saja, pihak rumah sakit bisa melakukannya. Gleneagles Hospital punyameet and greet services untuk pasien-pasien mancanegara mulai dari bandara sampai ke hotel dan rumah sakit.
  1. Cari info hotel atau apartemen untuk tempat menginap keluarga. Sebaiknya yang paling dekat dengan rumah sakit.
  1. Siapkan paspor dan kartu identitas. Pengalaman saya berobat di Singapura, saya selalu diminta untuk menunjukkan paspor. Nomor paspor menjadi nomor identitas pasien. Data pasiendigitallyconnected dengan semua rumah sakit. Jangan khawatir, data pasien terjaga privasinya.
  1. Siapkan tiket pesawat keberangkatan dan kepulangan. Ini, sih, pastilah, ya. Kan, kita bukan Gatotkaca yang sekali wuuusss wuuusss udah menclok aja di mana-mana. *menclok?!*
  1. Siapkan dokumen terkait seperti hasil periksa lab, foto rontgen, dan surat riwayat kesehatan dari rumah sakit sebelumnya. Seandainya diperlukan, bawa obat-obat yang sedang dikonsumsi pasien, termasuk peralatan untuk di perjalanan seperti oksigenportabledan kursi roda traveling.
  1. Komunikasi dengan maskapai penerbangan jika pasien membutuhkan penanganan sewaktu-waktu di pesawat.
  1. Siapkan uang Singapura secukupnya. Bawa kartu kredit untuk kepentingan darurat.
  1. Ajak pendamping yang sehat lahir dan batin. Sebaiknya pendamping memiliki pengetahuan tentang kondisi fisik, pengobatan, dan diet pasien selama ini. Pendamping bisa membantu menjelaskan kepada dokter di Singapura. Hendaknya pendampingsupportmental dan spiritual pasien melewati hari-hari perawatan. Kondisi psikis yang baik memengaruhi progres kesembuhan, lho.
  1. Last but not least, jangan lupa cari info tempat wisata di Singapura.Fyi, 2013 lalu Singapura termasuk salah satu dari 10 World’s Best Hospitals for Medical Tourits by Medical Travel Quality Alliance. Berobat sambil jalan-jalan, kenapa enggak? Jalan-jalan bermanfaat bagi sebagian pasien. Pendamping pun sekalian refreshing. Yuk yak yuuuk.

Nah, di postingan berikutnya saya akan cerita tentang acara jalan-jalan ke Singapore Sports Hub. Saya dan teman-teman blogger mendapat kesempatan main ke stadion canggih dan kece! Stadion ini bukan cuma dipakai untuk pertandingan olahraga, melainkan juga konser arteees kesohor. Tungguin, ya, ya, yaaa! ^^ [bersambungHaya Aliya Zaki

Catatan: foto-foto kamar pasien Gleneagles Hospital diambil dari http://www.gleneagles.com.sg/facilities-services/general-facilities/rooms (fotografer: James Fabian)

– Gleneagles Hospitals

www.parkwayhospitals.com/plan-your-visit/patient-assistance-centres

Central Patient Assistance Centre (CPAC)

Telp: (65) 67355000

E-mail: [email protected]

– ParkwayHealth Patient Assistance Centre (perwakilan Jakarta)

Suite 908 Tamara Centre

Jl. Jenderal Sudirman kav. 24 Jakarta

Telp: (62)811942720, (62)(21)5207773

Fax: (62)(21)5207774

E-mail: [email protected]

[Resensi Kompas Anak] Ketika Rio Bertemu Monster Sampah —> rubrik sudah tutup

Resensi ini dimuat di koran Kompas Anak rubrik Resensi (terbit setiap hari Minggu). Dikirim 1 Maret 2015 dimuat 22 Maret 2015. Kaget juga karena lumayan cepat dimuat. Dugaan saya, Kompas Anak senang dengan buku-buku bertema save earth. Ini dugaan saya, lhooo. 

Yang senang baca buku anak, silakan menulis resensi maksimal 200 kata dan kirim ke [email protected] cc [email protected] dengan subjek e-mail: [Resensi Kompas Anak] + [Judul Buku]. Lampirkan naskah resensi dan scan cover depan buku. Jangan lupa tulis alamat lengkap, nomor telepon, dan nomor rekening di badan e-mail, ya. Honor Rp200 ribu saya terima 2 hari setelah tulisan dimuat. Yuk, kirim, yuk. Dimuat enggak dimuat urusan belakangan. Yang penting baca buku dan happy! :))

Judul: Mainan Monster Sampah

Penulis: Veronica W

Ilustrator: Stella Ernes

Tebal: 32 halaman

Penerbit: Kanisius

Rio punya kebiasaan buruk. Dia sering membuang bungkus makanan ke celah-celah sofa dan kolong tempat tidur. Sampai suatu ketika, Rio kedatangan tamu istimewa di kamarnya, yakni Monster Sampah!

Meski tampang Monster Sampah tidak mengerikan, Rio takut sekali. Dia berusaha membuka pintu kamar, tapi gagal. Pintu benar-benar terkunci! Di luar dugaan, Monster Sampah menyapa Rio ramah. Dia memungut satu per satu sampah di kamar Rio. Sekejap kemudian, sampah-sampah diubah menjadi sesuatu yang sangat menarik! Pengin tahu apa? Akankah Monster Sampah menghukum Rio karena Rio sering buang sampah sembarangan?

Buku Mainan Monster Sampah dapat meningkatkan kecintaan kita pada lingkungan. Tahu enggak, kita pun bisa berperan serta menyelamatkan Bumi! Selain pernah bertemu Monster Sampah, Rio juga pernah bertemu monster-monster lainnya, seperti Monster Buku Biru, Monster Air, Monster Hitam, Monster Gigi, dan lain-lain. Mereka semua baik-baik dan menyenangkan! [] Haya Aliya Zaki, Tangerang

Mejeng di Tabloid Nova di Hari Blogger Nasional 2014

Pagi-pagi tanggal 22 Oktober 2014, saya di-SMS Mas Henry Ismono dari tabloid NovaSelamat pagi, Ibu Haya. Saya Henry dari tabloid Nova. Saya ingin memwawancara Ibu via telepon tentang blog.

Wah, tabloid Nova? Benarkah? Betul-betul surprais! Waktu masih remaja kinyis-kinyis, saya sering membaca tabloid Nova, terutama cerpen-cerpennya yang kental dengan muatan lokal. Setelah menikah, apalagi. Artikel-artikelnya cucok sama kehidupan saya sehari-hari sebagai ibuk-ibuk. Beberapa resep keluarga saya juga pernah dimuat di tabloid Nova.

Tiga jam kemudian, Mas Henry menelepon. Saya sengaja meminta waktu wawancara setelah menjemput Sulthan dari sekolah. Hal pertama yang saya tanyakan kepada Mas Henry adalah: dari mana Nova tahu tentang saya? *kepo blas*

“Kami googling dan nemu blog Ibu Haya. Sepertinya blog Ibu cocok untuk jadi profil di tabloid kami,” jawab Mas Henry.

Masya Allah. Selama ini saya suka berbagi tip dan tulisan reportase. Target pembaca blog saya memang wanita. Sekitar 90% pembaca blog saya adalah wanita dan semuanya terkoneksi internet dari rumah. Saya paham, sebagian ibuk-ibuk memiliki langkah terbatas. Ketika saya bisa hadir ke sebuah acara, kenapa saya tidak berbagi wawasan yang saya dapat melalui blog?

Wawancara via telepon dengan Mas Henry sangat cair. Di luar wawancara, Mas Henry sempat mengungkapkan keinginannya untuk ngeblog. “Ngeblog untuk refreshing dari deadline, Bu!” kata Mas Henry tertawa. Selesai wawancara, Mas Henry meminta saya mengirim beberapa foto melalui e-mail. Salah satu foto yang dipilih adalah foto milik Ayah Dian Kelana. Terima kasih ya, Ayah! ^^

Seperti yang pernah saya tulis di status Facebook saya, saya yakin banyak blog ibuk-ibuk lain yang lebih layak. Hanya, kali ini blog sederhana saya yang ketiban “mujur” diintip oleh media cetak sebesar Nova. Saya bersyukur. Tampil dan diprofilkan oleh media bukan sekadar jadi ajang nyeleb, mejeng demi mencari eksistensi diri sendiri. Bukan, bukan sekadar itu. Saya berharap, sharing saya di media dibaca oleh masyarakat luas dan bisa bermanfaat. Syukur-syukur menginspirasi. Yang sebelumnya enggak kepikiran melirik blog sebagai wadah berekspresi, berbagi wawasan, dan meraih materi alias fuluuus, sekarang jadi melirik. Yaaa siapa tahu, yaaa. Mudah-mudahan bukan mimpi yang ketinggian. :p  Aamiin.

Senin, 27 Oktober 2014, Mas Henry kembali SMS saya. Beliau memberi tahu bahwa profil saya tayang bertepatan dengan Hari Blogger Nasional. Wah, saya baru sadar. *jedotin pala ke tembok* Sebuah kehormatan, sekali lagi.

Akhir Februari 2015 lalu, Nova berulang tahun yang ke-27. Postingan ini saya persembahkan sebagai hadiah ulang tahun. Selamat ulang tahun, Nova! Tetap menjadi sahabat wanita inspirasi keluarga! Saya senang dan bangga menjadi keluarga tabloid Nova! ^^ [] Haya Aliya Zaki

Jalan-Jalan ke Singapura: Melihat Stadion dan Museum Olahraga di Singapore Sports Hub

Jalan-Jalan ke Singapura: Halo, Singapura! bisa dibaca DI SINI
Jalan-Jalan ke Singapura: Medical Checkup di Paragon Medical bisa dibaca DI SINI
Jalan-Jalan ke Singapura: Hydrafacial di Paragon Medical bisa dibaca DI SINI
Jalan-Jalan ke Singapura: 9 Tip Berobat ke Singapura bisa dibaca DI SINI
Salah satu tempat yang akan saya, teman-teman #HappyBloggers, dan tim Reader’s Digest Indonesia (RDI) kunjungi adalah Singapore Sports Hub. Beberapa hari sebelumnya saya sudah googling tempat ini, tapi masih belum dapet clue yang oke. Ya weslah, nanti lihat sendiri aja kayak apa tempatnya.

            “So, is everyone  fit to walk?” tanya Agnes semangat.

            “Yeeesss!” jawab kami serempak.

Agnes, gaet Singapore Sports Hub, bakal mengajak kami keliling-keliling Singapore Sports Hub selama lebih dari satu jam! Wohooo … dijamin langsung kebakar dah tuh yaaa semua kolesterol nasi padang Hjh. Maimunah Restaurant, makan siang kami barusan. Plus, cuaca siang ini lumayan hot. Bulan Januari di saat Jakarta hampir setiap hari diguyur hujan, cuaca di Singapura justru cerah ceria merah merona. *heh?!*

Singapore Sports Hub adalah kompleks olahraga yang terletak di Kallang, Singapura. Sungai Kallang, sungai terpanjang di Singapura, terbentang di sekitar Singapore Sports Hub. Sungai ini sering digunakan untuk macam-macam pertandingan olahraga air. Singapore Sports Hub launching sekitar bulan Juni 2014. Pertandingan sepak bola antara tim Singapura dan Juventus memeriahkan acara launching. *inget Juventus langsung inget mantan (Zinedine Zidane)* *eaaa* *dikepruk gayung bocor* Luasnya? Amboooiii … 35 hektar! Jujur, luas persisnya ini saya cek di Google bwahaha! Waktu kami tanya Agnes, Agnes enggak jawab pakai angka. “If you can imagine, four big airplanes can park side by side inside here!” begitu kata Agnes. Wow ….

Kabar gembira untuk kita semua, Singapore Sports Hub terbuka untuk umum, lho! Senangnya warga Singapura punya fasilitas olahraga yang komplet dan bersih kayak gini. Tempatnya interaktif banget. Masyarakat umum bisa pesan fasilitas dan tempat untuk ajang kompetisi olahraga antarkomunitas, antargrup, dst. Menurut Agnes, hare geneee warga Singapura sedang “tergila-gila” sama olahraga bersepeda. Mereka bisa bersepeda sepuasnya di seluruh arena Singapore Sports Hub. Setiap hari! Asyiknya!

Bukan sekadar menyediakan fasilitas olahraga kelas dunia, di Singapore Sports Hub juga ada pusat belanja Kallang Wave Mall. Setelah olahraga, mau jalan-jalan, makan-makan, atau nonton? Hayuk! Ada Singapore Sports Museum, Sports Hub Library, OCBC Aquatic Centre, Water Sports Centre, dll. No wonder keren, pembuatannya udah sejak 2011. Persiapannya matang pastinya. Pengin ke sini? Gampang, Kakaaa. Singapore Sports Hub accessible untuk semua angkutan umum, terutama MRT dan bus.

            Kami diajak Agnes masuk ke National Stadium. Aciiik … aciiik …. Stadion gede dan adem ini berbahan steel recycleEco friendly building. Dengan bangga Agnes menjelaskan bahwa warna kursi penonton yang berkapasitas 55 ribu orang adalah merah putih, warna bendera negara Singapura. Pattern-nya sengaja dibikin digital untuk “menipu” mata. Meski penonton sepi, tetap aja kelihatannya rame. Ada empat pertandingan yang biasa dimainkan di National Stadium, yakni sepak bola, rugby, cricket, dan atletik. Oiya, kursi bermesin hidrolik. Kursi penonton yang baris depan bisa dimajukan mendekat ke arah lapangan (moveable seats). Aiiih … makin jelas aja ngelihat muka pemain sepak bola yang kece-kece ntu, yeee. Selain untuk olahraga, National Stadium juga bisa untuk konser arteees! Desember 2014 lalu, artis beken asal Taiwan, Jay Chou, manggung di sini! Alamak kebayang hebohnya!

Tadi saya sebut-sebut kalau National Stadium ini adeeem. Kok, bisa? Pan udara Singapura gerah? Pengin tahu sistem pendingin udaranya? Nah, sistem pendingin udaranya unik dan inovatif, Teman-teman. Udara dingin mengalir masing-masing dari bawah kursi penonton. Penjelasan ilmiahnya saya kurang paham, tapi kesimpulannya: canggih. Satu lagi, rumput lapangan sebagian asli sebagian sintetis. Mesin putih yang ada di atas rumput berfungsi untuk memberi cahaya agar rumput-rumput tetap hidup. Pasalnya, kalau kena cahaya matahari langsung, rumput bisa rusak. Jangan khawatir, rumput enggak bakal lepas waktu ditendang oleh pemain sepak bola, misalnya. Bagian bawah rumput ada kait khusus. Dijamin rumput enggak beterbangan selama pertandingan. Butuh dana sekitar 12 triliun rupiah lebih untuk membangun gedung ini. Baidewei, di sini tak boleh pakai selfie stick alias tongsislah, yaaa. Tongsis dideteksi *halah bahasane* dapat mengganggu kenyamanan penonton yang lain hihihi.

Dari National Stadium, kami diajak melihat lapangan basket indoor. Kapasitas penontonnya ribuan. Kursinya hidrolik juga. Kalau ada pertandingan, kursi otomatis digerakkan keluar untuk tempat duduk penonton. Begitu pertandingan selesai, kursi “disimpan” lagi. Hemat tempat, ya?

Sekarang mareee ke Singapore Sports MuseumYeay! Museum ini adalah museum olahraga pertama di Singapura. Museum dibangun dan didedikasikan untuk para atlet yang telah berjasa mengharumkan nama negara. Buka setiap hari pukul 10.00 – 20.00. Khusus weekend buka pukul 10.00 – 21.00. Cocok banget ngajak keluarga main ke sini, apalagi anak-anak. Anak-anak makin cinta sama olahraga dan menghargai para pahlawan olahraga. 

Bukan nama atlet, foto, dan medalinya aja yang dipajang. Mulai dari kaus, cangcut (maaf), sampai perlengkapan olahraga lainnya saat bertanding juga dipajang. Segala peralatan olahraga dari yang jadul sampai modern ada. Enggak nyangka, saya nemu properti Michael Jackson di sini. Eike fans beratnyaaah huaaa …. Ternyata, waktu saya masih remaja muda belia (sekitar 1993) Michael Jackson pernah konser di stadion lama di Singapura.

Di postingan selanjutnya saya akan cerita tentang pemeriksaan Colposcopy di Gleanegles Hospital. Apa dan bagaimana Colposcopy, serta manfaatnya untuk ibuk-ibuk, silakan baca di postingan saya nanti. Tungguin, ya! ^^ [bersambungHaya Aliya Zaki