Jumat, 03 Oktober 2014

From Borneo to Bloomberg, From Zero to Hero Sosok Iwan Sunito


“Bangsa besar adalah mereka yang banyak membaca dan menulis buku.” – anonim

Iwan Sunito, sang raja properti di Australia, mungkin tidak pernah berpikir untuk menulis buku kalau tidak ditantang sahabatnya, Dino Patti Djalal. Kenapa? Dia bukan sarjana sastra, melainkan sarjana arsitektur yang biasa berhadapan dengan angka. Dia bukan penyair, sama sekali belum pernah menulis buku. Salut, Iwan mampu membuktikan tantangan sahabatnya. Buku From Borneo to Bloomberg ditulis Iwan dalam waktu 9 hari saja!



From Borneo to Bloomberg merupakan catatan ringkes perjalanan hidup seorang anak miskin kelahiran Surabaya yang besar di Pangkalan Bun, Kalimantan (Borneo). Kenapa saya katakan ringkes? Karena cerita perjalanan hidup Iwan hanya tertuang di hal 13 – 27 dari 270 hal. Sisanya, Iwan berbagi tentang 13 kunci sukses dan quotes bermakna dalam hidupnya. 

Omong-omong, ada yang sudah pernah ke Pangkalan Bun? Let me tell you, Pangkalan Bun tempat yang jauh dari ‘kenyamanan’. Tempat yang jauh dari peradaban modern. Kalau ke sana harus naik getek dan waspada ada buaya di sana-sini. Glek!

Usia remaja, Iwan dikirim ayahnya ke Australia. Banyak menghadapi perbedaan pemikiran di negeri orang, bahasa Inggris belepotan, Iwan tidak patah semangat melanjutkan studi.  Tahun 1994 - 1996 masa-masa penuh cabaran. Iwan mengambil risiko berhenti dari pekerjaannya sebagai arsitek demi membangun perusahaannya sendiri. Tahun 1996, Crown Group lahir (gabungan dari grup perusahaan Iwan, Paul Sathio, dan Anthony Sun). Luar biasa, Crown Group meraup keuntungan triliunan rupiah dalam waktu 18 tahun. Perusahaan ini mampu bertahan di tengah sengitnya persaingan bisnis properti di Australia.

Seru, From Borneo to Bloomberg menyajikan foto-foto. Orang bilang, a picture speaks louder than words. Menelaah foto-foto klasik milik Iwan, saya serasa mendengarkan Iwan bercerita, mengikuti perjalananan Iwan dari waktu ke waktu.



Saya merasa bersyukur setiap mengetahui orang-orang sukses mengabadikan kisah mereka dalam bentuk buku. Perjuangan mereka untuk bangkit tidak menjadi 'dongeng' belaka. Semua tercatat, tidak akan hilang, meski waktu terus bergulir.

          Setuju dengan pendapat jurnalis senior, Hendromasto, di acara kupas buku From Borneo to Bloomberg di Comma Co-Working Space, One Walter Place, Jakarta (26/9). Buku ini bukan buku motivasi yang menjual mimpi. Teman-teman pernah membaca buku Kiat Menjadi Pengusaha Sukses, padahal si penulis buku sendiri kebalikan dari kategori pengusaha sukses? Atau, Kiat Berhasil di Bisnis, padahal si penulis buku sendiri kurang jelas bisnisnya berhasil atau tidak. Buku Iwan berbeda. Beliau tidak sekadar bicara. Siapa sangka Iwan yang dulunya nakal dan pernah tidak naik kelas, kini menjadi salah satu pengusaha yang diperhitungkan di Australia? Semua sudah terbukti. Rahasianya ada di dalam 13 kunci sukses yang Iwan anut. “Saya percaya, semua orang memiliki ‘mukjizat’. Generasi muda sekarang bukan tidak mampu membangun bisnis. Mereka hanya belum tahu caranya. Melalui buku ini, saya berbagi,” kata Iwan di salah satu wawancara televisi. Niat yang mulia. Iwan menjadi role model bahwa semua orang bisa bangkit asal punya tekad, kemauan, dan attitude.



Dukungan utama datang dari keluarga, terutama Liana Sunito, sang istri. Keluarga yang tulus mendoakan dan mengingatkan Iwan agar selalu berada di jalan yang lurus. Demikian pula Iwan. Dia begitu mencintai keluarga. Walau sibuk luar biasa, Iwan masih mengantar anaknya ke sekolah setiap hari.  Selain apik soal keluarga, Iwan juga aktif di kegiatan sosial. Sisi lain yang membuat saya tambah kagum.

        From Borneo to Bloomberg patut dibaca oleh generasi muda, khususnya. Bukan autobiografi berlebihan (memuja-muja diri sendiri). Isinya ringan dan tidak menggurui, mungkin ibarat teaser untuk autobiografi Iwan yang lebih lengkap nantinya. Buku ini asyik dibawa ke mana-mana karena mungil (11 x 15 cm). Cocok jadi teman duduk di busway atau di ruang tunggu.



From Borneo to Bloomberg memang berbahasa Inggris, tapi jangan khawatir. Bahasa Inggrisnya mudah dicerna. Teman-teman tidak bakal berkerut kening atau bolak-balik buka kamus. Berita baik, akhir tahun ini, buku versi bahasa Indonesianya akan terbit. Insya Allah mampu menjangkau lebih banyak kalangan. Aamiin.  Silakan beli di toko buku Gramedia di seluruh Indonesia harga Rp100 ribu atau di Gramedia online book store harga Rp85 ribu (diskon 15%).

Berikut beberapa quotes di buku From Borneo to Bloomberg yang saya suka. Cocok diterapkan di lingkup pekerjaan saya sebagai blogger dan kehidupan sehari-hari. [] Haya Aliya Zaki







21 komentar:

HM Zwan mengatakan...

pangkalan bun,sering denger dan pernah kirim penasan souvenir kesana tp belum pernah kesana hehe...acaraya asik,quotenya bagus2 ya mak dan tentunya inspiratif sekai nih pak iwan ^^

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Iya, bangga melihat orang Indonesia yang membawa nama harum di negeri orang.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Btw, mau juga dong dikirimin suvenir. :v

Lina W. Sasmita mengatakan...

Wah keren bukunya. Makasih rekomendasinya Mak Haya. Kudu beli ini.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Yuk, bukunya inspiratif. Cucok untuk penyemangat, terutama quotes-nya. :)

Ninik Setyarini mengatakan...

bangga banget ..... terutama karena pak Iwan orang Indonesia...
makasih sharingnya Mbak :)

Anonim mengatakan...

skrg pangkalan bun udah mendingan .. ada bandaranya

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Kita jadi optimistis kalo baca cerita kayak gini, ya. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Iya, sekarang ada bandaranya. :)

Ika Koentjoro mengatakan...

Pengen beli bukunya. Suka sama kisah sukses pengusaha. ^^

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ayo, dibeli, Ika. Udah ada di tobuk Gramedia. :)

Yandhi Ramadhana mengatakan...

quotenya keren..
gw suka yang pertama tuh, asli bener banget

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Iyes, itu quote terfavorit eike juga. Makanya eike taruh di urutan pertama hag hag hag.

Indah Juli mengatakan...

Aku penasaran lho sama perjalanan hidup Pak Iwan ini, udah lama tahu beliau waktu semasa jadi reporter.
Jadi pengen punya bukunya :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Wah, dah lama berarti ya, Kak. Awak malah baru tahu sekarang ini qeqeqe. Kalo kisah perjalanan hidup Pak Iwan di buku ini ga terlalu banyak, sih. Katanya bakal dibuat yang lebih dalam lagi di buku lain. Yang di sini mini autobiografi aja.

Muhammad Lutfi Hakim mengatakan...

Ditunggu versi Indonesianya. Semoga suatu saat nanti saya bisa membacanya.

Haya Nufus mengatakan...

Nulis buku hanya 9 hari itu rasanya amazeng banget ya mbak... kisah-kisah inspiratif memang harusnya banyak ditulis untuk 'memancing' anak bangsa lainnya termasuk saya :D

Quotenya emang nendang banget! :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Yang versi bahasa Inggris ini gampang dimengerti, kok. Kosakatanya umum semua.

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Betul, untuk menginspirasi pembaca terutama generasi muda. :D

Sumarti Saelan mengatakan...

Wow...aku tau Pangkalan Bun cikgu, dulu pernah punya 'eheman' dari sana :))))

Tapi itu ga ada yg Bahasa IND ta? Kerenn

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Hah? Apa itu 'eheman'? Wkwkwk hayo lhooo. Yang versi bahasa Indonesia terbit akhir tahun ini katanya. Tapi, yang ini bahasa Inggrisnya gampil banget, Mak. Don't worry. ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan