Sabtu, 23 Agustus 2014

[Buah Hati Leisure Republika] Pelajaran dari THR Anak


Tulisan ini saya kirim ke rubrik Buah Hati Leisure Republika (terbit tiap Selasa) tanggal 8 Agustus 2014 dan dimuat tanggal 20 Agustus 2014. Sayang sekali Leisure Republika sudah TIDAK TERBIT lagi. 



Lebaran identik dengan tradisi bagi-bagi angpau kepada anak-anak. Ada yang memberikannya dalam amplop cantik, ada pula yang memberikannya secara terbuka berupa lembaran uang baru warna-warni. Biasanya, tiga minggu sebelum Lebaran, saya menukarkan uang baru kepada adik ipar yang kebetulan bekerja di bank. Keluarga kami menyebutkan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk anak. Ketika tiba saatnya berbagi, saya meminta anak-anak mengantre. Anak-anak berbaris sambil berseru riang. Mereka bercerita, menyanyi, atau berpuisi dadakan agar bisa menerima THR. Sesekali adik saya usil menjatuhkan amplop atau uang ke lantai. Gelak tawa tak dapat dihindari melihat aksi anak-anak berebut THR. Seru, ya? Dalam keluarga kami, tradisi bagi-bagi THR juga berarti bagi-bagi kebahagiaan dan keceriaan dengan anak-anak.   

Ada anak, biasanya balita, yang langsung menyerahkan THR-nya kepada orangtuanya. Mereka tampak tidak mau tahu nominal yang diperolehnya. Dua anak saya, Shafiyya (7 tahun) dan Sulthan (4 tahun) seperti itu. Saya menyimpankannya untuk mereka. Bagi saya, THR anak adalah hak anak. Anak memang kelihatan tidak merasa memiliki uang tersebut, tapi bisa jadi sewaktu-waktu mereka menanyakannya.
“Ummi, Ummi inget amplop aku yang dikasih Nenek? Sekarang ada di mana?” tanya Shafiyya.
“Wah, Shafiy lupa, ya. Kan, Ummi simpan di sini,” saya menunjuk dompet berwarna pink, miliknya.
Shafiyya tersenyum dan mengangguk senang. Mungkin hal ini kelihatan sepele, tapi sebenarnya sangat bermakna. Kepercayaan anak kepada orangtua akan bertambah. Secara tidak langsung, orangtua juga tengah mengajarkan pentingnya menjaga amanah kepada anak. Pernah sekali saya kepepet memakai THR Shafiyya. Saya meminta izin terlebih dahulu dan diperbolehkan. Melalui cara seperti itu, anak merasa dihargai. Kalau kita tidak menghargai kepemilikannya, jangan kaget kelak anak berlaku sama. Menyadari hal tersebut, begitu ada uang, THR Shafiyya segera saya ganti.
 


Saya juga menyadari kemungkinan anak-anak mengalami kegembiraan berlebihan karena tiba-tiba memiliki uang yang jauh lebih banyak dibandingkan keseharian mereka. Kalau tidak diarahkan, THR bisa habis dalam beberapa hari saja. Shafiyya dan Sulthan pernah mendapat THR satu juta rupiah. Wow, jumlah yang cukup fantastis, menurut saya. Saya pun menggunakan kesempatan tersebut untuk mengajarkan anak mengelola uangnya. Sekarang ini saya melakukan hal yang sama kepada Shafiyya dan Sulthan seperti yang saya lakukan kepada kakak mereka, Faruq (11 tahun). Ketika Faruq masih balita, saya menemani Faruq menabung THR-nya di tabungan sekolah TK. Dengan memiliki tabungan, anak belajar ‘menahan diri’ untuk memakai uangnya dari hal-hal yang tidak perlu. Sederhananya, lembaran uang warna-warni di depan mata memang lebih menggoda untuk dipakai daripada yang disimpan di tabungan yang rada sulit dijangkau. Sekarang Faruq sudah punya tabungan di bank dan punya ATM juga. Somehow, saya melihat ada binar bangga di mata Faruq karena dia memilik tabungan dan bisa mengelolanya. Bermodal THR, Faruq membeli sepeda dan perlengkapan sekolah. Sebagian tabungan disumbangkan untuk kaum yang membutuhkan, alhamdulillah. 
Bagi saya, THR anak bukan sekadar uang anak yang bisa habis dalam sekejap. Banyak sekali pelajaran yang bisa didapat dari THR anak, baik bagi orangtua maupun anak sendiri. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memetik pelajaran dari setiap kejadian. Aamiin. [] Haya Aliya Zaki

30 komentar:

Anonim mengatakan...

Selalu ada kesempatan utk ajari financial planning ya mak. keren! Pengin ah, nulis buat Republika

Santi Dewi mengatakan...

setuju mak, anak2 saya pun punya dompet tersendiri utk menyimpan THR sementaranya, sblm dimasukan ke dalam tabungan. Dan jika saya terpaksa harus meminjam uang anak2, saya pasti minta ijin terlebih dahulu.

Muhammad Lutfi Hakim mengatakan...

Sampai segede ini saya belum pernah mendapat THR hingga Rp1 juta :(

HM Zwan mengatakan...

Makasih mak sharingnya...buat bekal kl punya anak nanti :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ayo, kirim, Mak Nurul! :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Sepokat, eh, sepakat, Mak. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Hahaha ada temennya, kok. Aku juga belum pernah. *puk puk*

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Sama-sama. Sekadar berbagi. :)

Mira Sahid mengatakan...

Sekarang, anak-anakku sudah hapal uang, mak. Jadi setiap kali ada yang ngasih, selalu ditanyakan keberadaannya Khawatir dipakai Mamanya, kali tuh ya. Hihihi

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Hahaha takut dibeliin yang ungu-ungu sama mamanya, ya. :))

Binta Almamba mengatakan...

siip banget.. bener mbak.. bagusnya emang minta ijin make thr anak ya. gak boleh ngakalin anak hehehe..

Hani Sah Sukmawati mengatakan...

Maak.. tulisannya bisa untuk dijadikan pelajaran ke depan nih mak.. :)
Dan memotivasi bgt buat ikutan nulis di Republika, hehe

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Hehehe iya. Ada yang ngakalin ganti THR anak uang yang merah dengan uang ungu. Itu sama saja dengan mengajari anak berbohong, menurutku. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Sekadar berbagi, Mak. Ayo, kirim, kirim. :)

momtraveler mengatakan...

Wah tipsnya udah aku kerjain semua mak pas lebaran kmr. Skr THR nadia udh ditabungan..jauh dr tangan jahil mamaknya :p

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Mamak jangan jail-jail, Mak. Kirimin Tante Haya mi aceh kepiting dwong. :)) *ga nyambung*

Mugniar mengatakan...

Alhamdulillah .... semuanya keren, kontennya, nilai2nya, anak2nya, emaknya juga ^_^

Hm, tadinya saya bingung tulisan orangtua itu dipisah orang tua atau orangtua, ternyata digabung ya Mak ..... sip. Kalo berkunjung ke sini, saya sekalian memerhatikan EYD ^_^

Sukses terus ya Mak

E. Novia mengatakan...

jempol deh buat Cikgu :*

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Kalau saya, untuk membedakan "orangtua" >> ayah dan/atau ibu. Smentara, "orang tua" >> orang yang sudah tua. Makasih udah mampir, Mak. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Jempol juga untukmu, Mak Cantik. :*

myra anastasia mengatakan...

kalau di keluarga saya, tradisi THR itu ada. Tapi, di keluarga suami gak ada ^_^

Lidya - Mama Cal-Vin mengatakan...

teirma kasih tipsnya mak, pingin juga ikutna kirim tulisan

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Namanya tradisi, beda-beda ya, Mak. :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ayo, Mak. Suka nulis parenting juga, kan? :)

Mas Huda mengatakan...

kalo adek saya dihitung semua baru dikasih ke emak....

Defa Ramadhani mengatakan...

artikel yang bermanfaat,terimakasih sudah share mbak

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Dicatat dulu di buku akunting, ya. :))

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Terima kasih juga udah mampir, Mbak. :)

Anonim mengatakan...

Bener, THR bisa dimanfaatkan untuk keperluan anak sekaligus ngajarin ia nabung. Walaupun Naia baru 2 tahun, saya bilang THRnya dibeliin sepeda, sisanya dicelengin *lagi seneng2nya nyelengin dia, hehe*

TFS ya mak :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Sama-sama. :)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan