Grace Melia Kristanto, Dedikasi Sang Kartini untuk Rumah Ramah Rubella

“Dulu TORCH Ibu bagaimana?” tanya dokter sepesialis anak kepada Gracie.
Deg! Jujur, Gracie baru mendengar kata “TORCH” detik itu juga.

Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran Grace Melia Kristanto (Gracie) bahwa dia akan melahirkan anak yang terinfeksi virus rubella. Aubrey Naiym Kayacinta (Ubii), demikian nama sang buah hati. Dari hasil cek darah (skrining TORCH), Ubii diidentifikasi positif terinfeksi virus rubella saat masih dalam kandungan. Ubii mengalami kebocoran jantung (PDA dan ASD), mikrosefali (ukuran kepala kecil), encephalitis (pengapuran otak), TB paru-paru, retardasi psikomotorik, gangguan berat badan, dan gangguan pendengaran yang cukup parah.

Apa itu TORCH?

Haus informasi, perempuan kelahiran Semarang, 29 Desember 1989 ini giat mencari jawaban melalui internet dan macam-macam seminar. Ternyata, TORCH adalah virus Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, dan Herpes. TORCH tidak berbahaya jika diderita orang dewasa yang tidak sedang hamil. Sebaliknya, TORCH menjadi sangat berbahaya jika diderita ibu yang sedang hamil karena dapat menginfeksi janin. Sewaktu hamil, Gracie memang mengalami demam tinggi dan beberapa keluhan lain yang dia tidak tahu penyebabnya. Semua dokter yang dikunjungi mengatakan bahwa Gracie hanya masuk angin biasa.

Gracie menyayangkan sikap pemerintah yang kurang concern dengan TORCH. Penelitian terakhir tentang TORCH dilakukan tahun 1999. Waktu itu masih didapat 7 kasus. Sudah lama sekali! Bagaimana sekarang? Sudah bertambah berapa kasus? Berdasarkan pengalaman Gracie, cuma sedikit masyarakat yang tahu tentang TORCH dan bagaimana dampaknya. Bagaimana mereka bisa menghindari TORCH kalau mereka sendiri tidak punya pengetahuan tentang penyakit ini? pikir Gracie.

Saya pertama kali kenal Gracie di sebuah komunitas blogger. Perempuan muda, ceria, dan energik ini aktif share link postingan seputar RRR dan TORCH. Saya selalu jadi silent reader tulisan-tulisan di blog Gracie’s Thoughts, miliknya. “Dulu sikap saya tidak ceria seperti yang dilihat orang-orang sekarang. Setelah melahirkan Ubii, saya benar-benar terpukul. Rasanya seperti mimpi buruk. Berbagai penolakan muncul dari dalam diri,” ujarnya, mengenang. Akan tetapi, semua sudah berlalu. Gracie bisa bangkit dan bahkan berbuat untuk orang banyak. Dia tidak ingin ibu-ibu lain mengalami hal yang sama seperti dirinya.

Maka, tanggal 2 Oktober 2013, Gracie mantap mendirikan komunitas Rumah Ramah Rubella (RRR). Tujuan RRR berdiri adalah untuk mengedukasi masyarakat tentang TORCH, mulai dari pemahaman, pencegahan, dan dampaknya bagi janin. Meski selama ini komunitas RRR lebih banyak bergerak melalui dunia maya (grup Facebook), bukan berarti komunitas RRR tidak berdaya. Hingga kini, RRR memiliki 5 pengurus yang tersebar di Jabodetabek dan Yogyakarta. Informasi setiap silaturahmi diberi hashtag #SharingisCaring. Seminar offline perdana diselenggarakan RRR di RSA UGM tanggal 29 Maret lalu. Gracie melibatkan member Kumpulan Emak Blogger dengan harapan materi seminar bisa disampaikan lebih luas melalui blog. Tidak muluk-muluk, Gracie ingin daerah lain juga ikut bergerak. Kalau kamu berminat menjadi volunteer, silakan hubungi Facebook dan Twitter Gracie, ya.

Pengalaman getir dan mimpi-mimpi perempuan berwajah oriental ini, seolah terangkum dalam artikel berjudul Edukasi TORCH untuk Masyarakat Indonesia di blog. Usia boleh muda, namun kematangan berpikir dan bersikap, terutama naluri seorang ibu, menjadikan Gracie sebagai sosok yang berdiri paling depan untuk dunia kesehatan yang lebih baik bagi ibu dan anak terkait TORCH.

Saya merasakan semangat Kartini yang luar biasa di dada Gracie. Kalau dulu Kartini berjuang melalui surat dan mengajar kaum perempuan, sekarang Gracie berjuang melalui cara yang sama, hanya medianya yang berbeda, yakni media digital. Gracie salah satu penerus cita-cita Kartini yang wafat hampir 110 tahun lalu. Pantaslah jika dia terpilih sebagai salah satu finalis Kartini Next Generation 2014, sebuah event yang diselenggarakan oleh Menkominfo.

Oiya, dalam waktu dekat, Gracie akan meluncurkan buku Letters to Aubrey (Stiletto Book) karyanya. Sebagian royalti penjualan buku disumbangkan untuk RRR. Sebelumnya, dia sudah menerbitkan antologi Mereka Bicara Fakta (Forum Peduli Kesehatan Rakyat). Isinya tetap seputar kegiatan RRR. Gracie juga berencana membuat website khusus RRR dan TORCH. Semoga ada donatur dan pihak lain yang bersedia membantu.

Di setiap akhir postingan blog Gracie, saya sering menemukan kalimat I share because I care. How about you?. Ya, kita memang tidak bisa melulu berharap orang lain berbuat. Kita bisa melakukan perbaikan dimulai dari diri sendiri karena kita peduli. Bagaimana dengan kamu? [] – Haya Aliya Zaki

Semua foto di artikel ini milik Gracie

Kepincut Ayam Panggang Kenny Rogers Roasters

Weekend biasanya jadi momen saya dan keluarga hunting makanan yang enyak-enyak. Kebetulan, kami belum pernah makan di resto Kenny Rogers Roasters. Cobain, ah. Pertama kali baca nama resto ini, saya mengernyit. Apa ada hubungannya antara Kenny Rogers Roasters dengan penyanyi legendaris Kenny Rogers? Huaaa … langsung kebayang wajah Kenny Rogers yang handsome dan pipinya yang brewokan putih ntuuuh. Btw, lagu Kenny Rogers kesukaan saya, judulnya Through the YearsSo sweet!

Ternyata, benar. Kenny Rogers Roasters didirikan oleh musisi peraih ratusan penghargaan, Kenny Rogers, pada tahun 1991. Makin penasaran, dong. Apalagi ada embel-embel “Deliciously Healthy” di bawah nama resto.

Asli, sekali icip-icip, seterusnya bakal ketagihan! Sekarang Kenny Rogers Roasters jadi salah satu resto favorit keluarga. Hmmm … sebenarnya apa, sih, yang bikin ayam panggang Kenny Rogers Roasters istimewa?

Saya cerita pengalaman saya beberapa minggu lalu saja, ya. Saya pesan paket menu Kenny’s Quarter Lite Meal, salah satu menu andalan Kenny Rogers Roasters. Paket menu terdiri atas ayam panggang, nasi aromatik, dan homemade muffin. Semua ayam di sini segar, diolah dengan dengan rempah-rempah dan bumbu alami. Ayamnya dipanggang, lho, ya, bukan digoreng. Prosesnya 30 jam hingga lemak terpisah dari daging. Hmmm … aromanya … numero uno! Karena lemak sudah dipisah, kita benar-benar menikmati lezat plus lembutnya daging ayam (tanpa lemak). Catet!

Yang paling khas dari penampakan ayam panggang Kenny Roagers Roasters adalah warna kulit ayam yang kecokelatan dengan taburan lada hitam ditumbuk kasar. Sumpah, menyelerakan ke mana-mana! Rasanya tambah istimewa karena ayam berlumuran brown sauce kental gurih dan jamur. Saya menanyakan komposisi brown sauce kepada pelayan, namun mereka tidak tahu. Katanya brown sauce ini asli impor dari Malaysia. Saat ini Kenny Rogers Roasters memang dimiliki perusahaan Malaysia bernama Berjaya Roasters (M) Sdn. Bhd. Tahun 2012 lalu, cabang resto di Amerika resmi ditutup. Otomatis sekarang hanya beroperasi di Asia. Harga? Jangan khawatir, cukup ramah di kantong, kok. Hanya dengan mengeluarkan Rp49 ribu untuk paket menu Kenny’s Quarter Lite Meal, perut sudah kenyaaang.

So, berarti benar slogan Deliciously Healthy tadi. Pengunjung resto bisa makan enak, tanpa dihinggapi perasaan bersalah. Jujur, sering saya menyesal setelah makan ayam goreng di resto lain karena ikut melahap lemaknya yang numplek-blek. Enak, sih, enak. Tapi …. hiks.

Soulmate paling cocok makan ayam panggang Kenny Rogers Roasters adalah minuman cokelat. Jiaaah, kata siape? Biariiin soale saya chocolate addict hihihi. Saya pilih minuman Chocolate Extreme Ice Blends. Sesuai namanya, cokelatnya benar-benar blended. Cuma, kalau melihat foto di daftar menu, warna minumannya kenapa kurang cokelat, ya? Di daftar menu, warna minuman cokelat tua, sementara aslinya, cokelat muda. Ah, never mind. Hiasan topping minuman berupa whipped cream dan lelehan cokelat. Butiran es terasa sedikit kresek-kresek di lidah. Sluuurrrp! Nikmaaat! Terus …? Yaaa … bingung mau jelasin apa lagi. Pokoknya cokelat mau diapain saja, saya nepsong dah. Cokelat dibedakin juga saya mau wakakaka.

Hanya, kadang weekend suami kudu kerja, seperti weekend kali ini. Kalau tidak ada suami, saya dan anak-anak malas banget keluar rumah. Hmmm … penginnya tetap bisa makan enyak, tanpa keluar rumah. Cari-cari info, eh, ada Foodpanda. Tinggal pesan ayam panggang Kenny Rogers Roasters ke Foodpanda, nanti diantar ke rumah. Masih banyak lagi resto yang bekerja sama dengan Foodpanda selain Kenny Rogers Roasters, seperti Burger King, Ayam Tulang Lunak Hayam Wuruk, Pancious Pancake House, Chopstix, dan lain-lain. Sementara ini layanan cuma di daerah Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Bali, dan Medan. Kamu yang tinggal di luar wilayah itu jangan nangis bombay dulu, yaaa. Mudah-mudahan layanan Foodpanda segera hadir di kota kamu. Selain bisa pesan melalui situs, kita juga bisa pesan melalui aplikasi smartphone. Kurang gampang apa, coba?

And then what? Ceritanya jadi, nih weekend ini saya menikmati ayam panggang Kenny Rogers Roasters di rumah? Wah, indahnya dunia …. Apalagi, sambil memandangi hujan dan mendengarkan lagu Through the years … you have never let me down … you turned my life around ….  So romantic! Cepat pulang, Suamikuuu …! Uhuk! [] Haya Aliya Zaki