Rabu, 27 Februari 2013

Menikmati Pagi di Masjid Raya Bani Umar

Tulisan ini dimuat di harian Pikiran Rakyat (rubrik Pariwisata).  Terbit tiap Sabtu dan Minggu. Alhamdulillah, saya kirim Kamis, Sabtu sudah dimuat. :))  Panjang naskah sekitar 2 halaman A4 1,5 spasi. Lampirkan foto 3 buah. Dikirim ke hiburan@pikiran-rakyat.com. Jangan lupa mencantumkan biodata singkat dan nomor rekening. Honornya lumayan banget, lho. :D




      Rencana wisata religi ke Masjid Raya Bani Umar berawal dari kekaguman saya saat melihat foto sebuah masjid yang dipajang teman di jejaring sosial. Masjid megah bernuansa oranye dan merah mencolok tersebut memiliki halaman luas yang ditumbuhi pohon kurma. Dialah Masjid Raya Bani Umar. Lokasinya di kompleks perumahan Graha Bintaro Jaya, persisnya di Jalan Graha Bintaro Raya Kav GK 4 no. 2-4, Kelurahan Parigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Masih satu kota dengan kota tempat tinggal saya.


     Jumat pagi, jadilah saya menyusuri jalan menuju kompleks perumahan Graha Bintaro Jaya. Sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan oleh pohon-pohon rindang yang berbaris di pinggir jalan. Rumah-rumah baru model minimalis, tak kalah menarik perhatian. Wah, meski berada di kota yang sama, ternyata, saya belum pernah melalui jalan ini sebelumnya. 

  Tak lama, saya sampai. Begitu memasuki area masjid, saya langsung disambut jajaran pohon kurma. Masya Allah, baru kali ini saya melihat langsung pohon kurma! Pohon-pohon kurma berdiri di atas hamparan rumput yang seolah berbentuk shaf shalat. Sayang, menurut pengurus masjid, pohon-pohon kurma ini tidak berbuah. Kadang-kadang, ada pula yang mati. Mungkin karena iklim di sini kurang cocok. Di Masjid Raya Bani Umar, jika ada pohon kurma yang mati, pohon kurma baru akan segera didatangkan untuk menggantikan. Jadi, halaman masjid tetap semarak oleh kehadiran jajaran pohon kurma.


 Masjid Raya Bani Umar dibangun di atas tanah seluas 1,2 hektare pada tahun 2007 oleh Hajjah Karlinah Umar Wirahadikusumah, demi memenuhi amanah suaminya, almarhum Umar Wirahadikusumah (wakil presiden Indonesia tahun 1983-1988). Sebelum wafat, suaminya berpesan untuk dibikinkan sebuah masjid yang nantinya mampu menebar maslahat bagi banyak umat. Masjid diresmikan tanggal 10 Oktober 2008 oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Peresmian bertepatan dengan hari lahir Umar Wirahadikusumah.  


Penampilan Masjid Raya Bani Umar lain daripada yang lain karena tidak memiliki kubah, melainkan hanya menara setinggi 59 meter. Menara ini disebut-sebut sebagai menara tertinggi di Tangerang. Sebagian besar ormanen di dalam masjid berwarna tembaga. Memandangnya, saya teringat pada desain indah Masjid At-Tin di kawasan Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Tak heran, rupanya, arsitek yang mendesain adalah Fauzan Noe’man, arsitek yang juga mendesain Masjid At-Tin.  



Bangunan masjid yang terdiri dari tiga lantai ini mampu menampung sekitar 1600 jamaah. Lantai satu memuat ruang serbaguna. Ruang serbaguna sering dipakai untuk acara pernikahan. Bagi pengunjung yang ingin menambah ilmu melalui bacaan, bisa datang ke toko buku yang ada di lantai ini. Buku-buku islami, psikologi, dan lain-lain, tertata rapi di rak.


Sepengamatan saya, Masjid Raya Bani Umar memiliki ventilasi pada hampir setiap tembok di luar ruangan shalat. Uniknya, desain ventilasi seragam dengan desain lampu taman, pintu, dan ornamen-ornamen lain di dalam masjid. Berkat ventilasi ini, sirkulasi udara masjid, terpelihara baik. Siang hari, lampu tidak perlu dinyalakan lampu karena cahaya matahari bebas masuk melalui ventilasi ini.


Di dalam ruang shalat utama, saya tertegun memandang tiga kaligrafi, yakni dua kalimat syahadat, Allah Subhanahu Wata’ala, dan Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam berukuran raksasa di hadapan saya. Kaligrafi-kaligrafi itu terpahat begitu cantik di dinding marmer. Oiya, salah satu yang saya suka pada masjid ini adalah serambi luas di lantai duanya. Jika waktu shalat belum tiba, tak ada salahnya bersantai sambil melihat pemandangan seluruh masjid dari serambi ini.


Naik ke lantai tiga (ruang shalat tambahan), saya menemukan sesuatu yang unik. Apakah gerangan?


Lampu! Ya, lampu yang menggantung di langit-langit berbentuk lampion masjid ini, unik sekali. Eits, jangan salah. Ini bukan sembarang lampu lampion. Di bagian bawahnya, kita bisa membaca Asmaul Husna. Masing-masing lampu lampion bertuliskan satu Asmaul Husna. Sepertinya, lampu-lampu lampion ini pun terbuat dari tembaga. 


       Di area masjid berdiri klinik dokter umum dan dokter gigi. Klinik buka dari Senin sampai Sabtu, pukul 09.00 pagi sampai 02.00 siang. Manfaat keberadaan klinik sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar. Tarif berobat cukup murah. Khusus untuk kaum dhuafa, tidak perlu membayar. Tinggal mengurus kartu dhuafa ke pihak Yayasan Bakti Djajakusumah (yayasan keluarga Umar Wirahadikusumah, yang memprakarsai pembangunan masjid). Setiap kali berobat, kartu harus dibawa. Sekali-sekala diadakan kegiatan amal seperti operasi katarak gratis. Pasiennya tentu kaum dhuafa. Fasilitas klinik yang lain adalah mobil jenazah yang beroperasi 24 jam. Masjid yang konon pembangunannya menghabiskan dana dua miliar ini, sangat nyaman dan bersih. Pastinya jamaah betah berlama-lama berada di sini. 


     Hari semakin siang. Jamaah shalat Jumat mulai berdatangan. Mata saya berembun tatkala berpapasan dengan rombongan anak-anak berkebutuhan khusus, yang berlari-lari menuju masjid. Mereka begitu ceria dan bersemangat. Takbir bergema di hati saya. Ah, mereka yang memiliki keterbatasan saja, senang mengunjungi rumah Allah, mengapa saya tidak? Kali lain, saya akan mengajak buah hati saya mengunjungi Masjid Raya Bani Umar, untuk bersama-sama mengagumi desain bangunannya yang menawan dan yang paling utama, bersujud mengagungkan nama-Nya. [] Haya Aliya Zaki

22 komentar:

Ragil Kuning mengatakan...

Keren, Mak :)
Diam-diam aku sering ngintip blog ini :D

hana sugiharti mengatakan...

haduhhh cara penyampaian mu mak yang aku suka.. TOP deh

Anonim mengatakan...

wiiih kerennya mak haya,, tulisannya aq suka mak,, semangat truz mak :-)

yeye mengatakan...

Tulisan nya bagus mba :)

Smoga bs mengirimkan tulisan2 lain lg yah mba :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Aih, jangan diintip. Dipelototin juga enggak apa-apa xixixi. Makasih dah mampir, ya. :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Maaakkk dirimu ini paling bisa, deh, bikin aku berbunga-bunga. :)) Makasih, Maaak. :D

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Yuk, coba kirim, yuk. Makasih dah mampir. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Ayo, ikutan kirim juga, yuk. Makasih dah mampir. :)

Lisa Tjut Ali mengatakan...

mantap mbak tulisannya. selamat ya. btw untuk kolom pariwisatanya khusus dalam negeri atau boleh juga luar negeri.makasih

Istiadzah Rohyati mengatakan...

enak dibaca, mak, tulisanmu :)
padahal idenya simple sekali, tapi belum tentu orang lain (termasuk saya) bisa bikin seenak dirimu :)
*mudah2an tulisan saya juga bisa ikutan nampang di media*

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Boleh dalam negeri, boleh luar negeri. 2 halaman aja. ayo kirim. :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Maaak kalo ngomongin "enak", aku jadi kebayang kue bolu wakakaka. Makasih ya, Mak. Ayo, semangat! ^_^

ei mengatakan...


Saya pengen bisa nulis dari jaman masih sd.
Tapi ga pinter2 nulisnya. Cuman bisa nulis diary doang yg akhirnya coba dipindah ke blog :)
Aalam kenal ya mbak :)

Haya Aliya Zaki mengatakan...

Salam kenal juga. Saya malah belum rutin nulis di blog. :D Yang penting tetap menulis, semangat!

rita asmaraningsih mengatakan...

Mbak, utk tulisan tsb kira2 brp karakter agar bs dimuat?

Haya Aliya Zaki mengatakan...

2 halaman ukuran A4 spasi 1,5 ya, Mak. Kira-kira 3000 karakter.

Anonim mengatakan...

Lha, kok aku milu berembun.. :(

momtraveler mengatakan...

Wah keren bgt Mbak tulisanya, suka bgt bacanya.. Pantesan aja PR lgs jatuh cinta :) kira2 kl aku yg ngirim tertarik ga ya?? :-P

yuniarinukti mengatakan...

Saya selalu menyukai tulisan Mak Haya. Ringan dan gak bertele-tele. Penyampaiannya pun pas. Maaak ijinkan saya menjadi muridmuuu :D

catatan kecilku mengatakan...

Wah Mak.. keren banget tulisannya. Pengen banget suatu saat bisa seperti Mak Haya yang tulisan2nya dimuat di media cetak spt itu.

Oya, terimakasih juga telah sharing informasi soal pengiriman artikel ke PR ini mbak.

Astin Astanti mengatakan...

aku ke sini atas rekomendasi suamiku, nyaman ada ACnya..heheee

Wiwit Widayati mengatakan...

Masjid Raya Bani Umar ... memang nyaman banget, saya tulis juga diblog hehehe waktu itu nggak sengaja ada undangan nikah teman.

Tulisannya keren banget mak

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan