Rabu, 08 Juli 2020

[Cerpen] Empon-Empon di Pekarangan Rumah Emon

(Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2020)


Liburan tahun lalu merupakan liburan paling berkesan bagi Emon. Emon belajar menanam toga (tanaman obat keluarga) atau empon-empon dari Eyang Putri yang tinggal di Sukoharjo. Empon-empon adalah tanaman herbal berkhasiat obat seperti kunyit, jahe, dan temulawak. Pemandangan empon-empon yang tumbuh subur di pekarangan Eyang Putri terbawa sampai ke dalam mimpi Emon.
Emon memang suka mencicipi jamu yang dijual ibu-ibu jamu ghendong di kota. Dia meniru kebiasaan Mama dan Papa. Jamu dipercaya mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Tidak heran, Mama dan Papa tampak selalu bugar. Demikian pula Eyang Putri.
Pulang dari rumah Eyang Putri, Emon membantu Mama dan Papa menggarap pekarangan di belakang rumah. Selain empon-empon, mereka juga mencoba menanam kangkung, sawi, cabai, dan lain-lain. Ukuran pekarangan tidak terlalu luas, jadi mereka memanfaatkan wadah bekas seperti ember, kaleng, atau botol air mineral.
Hampir setiap hari ada pemandangan Emon menyeka keringat di pekarangan. Asyiknya kegiatan mencampur pupuk, menanam bibit, menyiram, dan tentu saja … memanen! Pekarangan yang tadinya kosong melompong, kini semarak oleh bermacam-macam tanaman. Sesekali terdengar Emon menyapa tanaman-tanamannya, “Selamat sore. Kalian sedang apa? Pasti pada haus, kan? Aku siram air, ya.” Menurut Eyang Putri, sebaiknya tanaman diperlakukan seperti manusia. Kalau bisa sambil berzikir. Manusia dan tanaman sama-sama makhluk ciptaan Tuhan.   
Berbeda dengan tahun lalu, liburan kali ini mengharuskan Emon di rumah saja karena pandemi Covid-19. Tidak mengapa, Emon memilih mengurus pekarangannya. Ketika pandemi melanda, empon-empon ramai diburu orang. Kadang Emon berbagi empon-empon gratis kepada tetangga dan teman-temannya di SD Harapan Ibu. Selain untuk bahan minuman jamu, empon-empon juga digunakan sebagai bumbu masakan.
“Kira-kira panennya kapan ya, Mon?” tanya Dimas melalui video call.
“Sekitar beberapa bulan. Hati-hati saat membongkar tanahnya nanti,” jawab Emon.
“Kalau wadahnya pakai ban bekas apa bisa, Mon?” tanya Sri pula. Dia lebih tertarik menanam sayuran daripada empon-empon.
“Bisa, dong. Yang penting wadahnya bisa menampung tanah dan air,” jawab Emon lagi. Emon senang. Teman-temannya jadi tertarik belajar menanam di pekarangan seperti dirinya.
“Pasti seru kalau di sekolah kita ada pelajaran bercocok tanam. Aku bakal jadi peserta nomor satu!” kata Dimas. 
“Sekarang aku tahu bagaimana sulitnya pekerjaan pak tani. Aku tidak mau membuang-buang makanan lagi,” kata Sri. “Terima kasih sudah mengajariku, Mon. Aku pengin traktir kamu, Dimas, dan teman-teman makan-makan di rumahku.”         
Emon bersorak dalam hati. Dia langsung membayangkan melahap ayam bakar Magetan buatan mama Sri yang terkenal lezat. Tapi, sejenak kemudian dia manyun kembali. ”Yeee … Sri, kita kan belum boleh kumpul-kumpul. Korona inget korona!” protes Emon keki.
Dimas dan Sri spontan tertawa. Mama yang sedang duduk di samping Emon ikut tertawa.
“Ada apa ini rame-rame?” tanya Papa tiba-tiba dari dapur. Beliau membawa dua gelas jamu kunyit asam dingin untuk Emon dan Mama. Kelihatannya segar sekali.
Emon dan Mama saling lirik. “Ada, deeeh,” jawab mereka serempak, lalu menyeruput jamu kunyit asam dengan nikmat. [] Haya Aliya Zaki

Cara mengirim cerpen anak atau dongeng ke koran Kedaulatan Rakyat
1.  Tulis cerpen anak atau dongeng maksimal 500 kata.
2. Kirim naskah rubrik CERNAK ke alamat redaksi KR Jl. P. Mangkubumi, Gowongan, Jetis no. 40–46 Yogyakarta 55232. Tidak perlu mengirim soft copy via e-mail.
3.  Lampirkan scan KTP.
4. Sertakan biodata dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.
5. Dongeng di atas saya kirim 16 Juni 2020 dan dimuat 3 Juli 2020 (masa tunggu 2 minggu).
6. Rubrik CERNAK terbit setiap hari Jumat (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di epaper.krjogja.com.  



Selanjutnya ...

Kamis, 25 Juni 2020

[Resensi Buku] Menumbuhkan Kepedulian Anak terhadap Bumi


(Kedaulatan Rakyat, 23 Juni 2020)

Judul: Tanya-Jawab Seru: Merawat Bumi
Penulis: Camilla de la Bedoyere
Ilustrator: Richard Watson
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, 2020
Tebal: 32 halaman
ISBN: 978-623-216-884-8





Apa yang pernah anak-anak tanyakan kepada orangtua tentang hal sekitar? Kenapa bumi semakin panas? Ke mana perginya semua kotoran di toilet? Bisakah kita hidup tanpa sampah? Pertanyaan-pertanyaan unik dan menggelitik ini mungkin membuat kening orangtua berkernyit. Padahal, sesungguhnya, bentuk rasa keingintahuan anak berperan penting dalam perkembangan intelektualnya. Orangtua jangan membatasi, apalagi sampai memadamkan rasa ingin tahu anak. Salah satu alternatif bagus adalah mencari jawabannya sama-sama melalui buku.

Buku Tanya-Jawab Seru: Merawat Bumi membantu menjelaskan segala sesuatu tentang Bumi. Penjelasan diawali dari yang paling sederhana, seperti apa itu udara, kenapa laut menjadi kotor, hingga mengapa kita memerlukan hutan. Ada juga penjelasan tentang aksi sederhana merawat Bumi yang bisa dilakukan anak-anak.

Aneka fakta mencengangkan di dalam buku bakal membuat anak penasaran. Contoh, sapi-sapi mengeluarkan gas rumah kaca ketika mereka kentut dan serdawa (hal. 8), setiap tahun orang Jepang menghabiskan 90 ribu ton sumpit kayu (hal. 14), perjalanan satu buah pisang untuk bisa tiba di atas meja makan kita ternyata bisa sampai ribuan kilometer (hal.18), dan masih banyak lagi. Aneka fakta disampaikan secara padat dan mengasyikkan. Ilustrasi cantiknya membuat anak tidak bosan mengulang-ulang membaca.       

Memuaskan rasa ingin tahu anak tentang hal sekitar akan memberikan manfaat jangka panjang. Anak jadi lebih peduli terhadap Bumi dan sesama makhluk hidup. Selama ini ketidakpedulian manusialah yang menyebabkan kerusakan Bumi. Ada sekitar 7,7 miliar manusia yang hidup di Bumi. Kita semua punya tugas untuk menjaga dan melestarikannya. [] Haya Aliya Zaki, penulis dan pemerhati cerita anak 


Cara mengirim resensi ke koran Kedaulatan Rakyat
1. Buku yang diresensi harus baru (tahun 2020).

2. Jenis bukunya boleh apa saja, termasuk buku cerita anak.

3. Tulis resensi maksimal 250 kata. Kalau lebih dari 250 kata, resensi akan dipotong redaktur. Kalimat berwarna merah di atas adalah kalimat saya yang dipotong redaktur.

4. Kirim resensi ke rubrik PUSTAKA dengan email resensikrm@yahoo.com dan redaksi@krjogja.com.

5.  Lampirkan naskah resensi, scan cover buku, scan halaman keterangan buku (setelah cover), scan KTP, dan foto diri. Ingat, harus komplet lampirannya, ya. 

6. Sertakan biodata, pendidikan terakhir, dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.

7. Resensi di atas saya kirim 11 Mei 2020 dan dimuat 23 Juni 2020 (masa tunggu 1,5 bulan).

8. Resensi terbit setiap hari Selasa (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di epaper.krjogja.com.  

Selanjutnya ...

Minggu, 31 Mei 2020

Cegah Penularan Virus Korona Pada Lansia


Teman-teman mungkin sudah pada tahu kalau lansia lebih rentan terinfeksi virus korona. Tambahan pula jika lansia tersebut memiliki penyakit kronis seperti jantung, kanker, hipertensi, dsb. Mereka lebih rentan lagi dan lagi terinfeksi virus korona karena fungsi organ-organ tubuh yang menurun dan sistem imun yang rendah. Meski begitu, saya punya beberapa tip agar virus korona tidak menulari lansia saat pandemi Covid-19. Yuk, simak tipnya!

1. Jaga kebersihan

            Lansia harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama sekitar 20 detik. Kalau tidak ada sabun, boleh pakai hand sanitizer. Oleskan hand cream atau krim pelembap jika tangan terasa kering. Benda-benda yang kerap dipegang seperti ponsel, gagang pintu, pegangan tangga, dll harus dibersihkan pakai disinfektan secara berkala. 

2. Di rumah saja

Sebaiknya lansia di rumah saja untuk sementara waktu. Ketika bepergian, kemungkinan terpapar virus sangat tinggi, apalagi jika lansia bepergian dengan transportasi umum. Ruang publik yang ramai seperti mal, restoran, stasiun, dll, dapat membahayakan kondisi kesehatan lansia. 

3. Pakai masker

            Kalau dulu masker hanya dipakai oleh orang sakit, sekarang WHO mewajibkan semua pakai masker jika bepergian, sekalipun cuma ke minimarket dekat rumah. Pakai masker kain saja, tidak perlu masker N92 atau masker bedah (hijau) demi menjaga ketersediaan masker tersebut untuk tenaga medis. Masker kain kekinian dengan beraneka motif dan warna malah jadi trend fashion yang oke, lo. Teman-teman bisa memberikan hadiah masker kain motif batik, misalnya, untuk ayah, ibu, kakek, atau nenek. Mereka akan senang.       

4. Hindari kumpul-kumpul

Saat kumpul-kumpul di mana lansia banyak bersentuhan dengan orang-orang entah itu berjabat tangan atau berpelukan dan menyentuh macam-macam permukaan benda, potensi penularan virus menjadi lebih besar. 

5. Jangan menerima kedatangan anak cucu

Lansia jangan menerima kedatangan anak cucu dulu. Anak muda yang sudah terinfeksi virus, namun tanpa gejala karena daya tahan tubuh yang bagus, ini terutama yang harus diwaspadai. Secara tidak sadar, mereka bisa menularkan virus. 
Memang berat bagi lansia untuk tidak berinteraksi dengan keluarga besar. Hal ini akan mempengaruhi kesehatan mental dan pikiran mereka. Pastikan agar lansia tidak merasa terkucil dan tetap bahagia. Anak cucu dapat melakukan silaturahmi virtual dengan video call, skype, zoom meeting, dll. 

Lebaran tahun lalu bersama Abah, sekarang silahturami virtual saja

6. Cek protokol kesehatan perawat home care

Perawat home care bertugas melayani kebutuhan harian lansia, seperti menyuapi makan, memberikan obat-obatan, memandikan, dll. Maka, penting untuk mengecek protokol kesehatan perawat lansia saat pandemi. Sebaiknya lansia memakai jasa perawat yang menginap (bukan part time) sehingga risiko perawat keluar masuk zona merah lebih kecil.  

7. Tangguhkan pemeriksaan rutin ke dokter

Lansia sering terkena masalah kesehatan, karena itu mereka kudu rutin periksa ke dokter. Akan tetapi, saat pandemi, hendaknya lansia mengunjungi dokter saat kondisi sangat mendesak saja. Hari gini tenaga medis di rumah sakit memiliki frekuensi tinggi berinteraksi dengan pasien mana pun, termasuk pasien Covid-19. Seandainya terpaksa ke dokter, lansia dan pendampingnya (perawat home care atau anggota keluarga) harus memakai masker dan membawa perlengkapan yang diperlukan seperti hand sanitizer, disinfektan, tisu, serta obat-obatan. 
Di atas itu semua, perhatikan asupan makanan bergizi seimbang, vitamin, dan mineral. Jangan sampai lansia bergadang atau tidur larut malam. Ajak mereka melakukan olahraga ringan di rumah. Bantu mereka mengembangkan hobi yang disuka seperti merajut, melukis, berkebun, dsb. Jika teman-teman ragu dan ingin berkonsultasi dengan dokter, silakan mencoba aplikasi Halodoc. Mudah-mudahan bisa membantu. []

Selanjutnya ...

Kamis, 21 Mei 2020

[Dongeng] Persahabatan Lutung dengan Manyar



(Kedaulatan Rakyat, 15 Mei 2020)
Yak apa kabare, Manyar? Jadi kita dolan sore ini?” tanya Lutung begitu sampai di sarang Manyar yang unik dan indah seperti anyaman mangkuk. Lutung tampak bersemangat.
Manyar menaruh buku bacaannya. Keningnya mengernyit. “Yak opo seh? Bukannya janjiannya besok sore? Hari ini aku mau meneruskan membaca buku favoritku,” jawab Manyar.
Aaah … iya! Lutung salah. Dia lupa! Hanya, entah kenapa, alasan Manyar soal membaca buku membuat Lutung kesal!
“Lutung, kapan kamu mau belajar membaca?” tanya Manyar. “Kamu tidak harus membaca buku-buku tebal seperti aku. Kamu bisa membaca buku bergambar atau buku lainnya yang kamu suka.”
Pertanyaan Manyar membuat Lutung tambah kesal. Tanpa berkata apa-apa, dia meninggalkan sarang burung manyar tempua itu. Lutung melompat lincah dari satu pohon ke pohon yang lain. Sepertinya dia balik ke pohon asam jawa atau pohon pilang untuk makan-makan lagi.  Kon wes ngerti kan kalau aku tidak suka duduk diam membaca! Aku sukanya dolanan seperti ini!” teriak Lutung sayup-sayup.
Lutung dan Manyar tinggal di sebuah hutan di Jawa Timur. Mereka bersahabat meski memiliki hobi berbeda. Lutung senang bertualang di hutan, sedangkan Manyar senang membaca buku. Manyar memahami itu. Akan tetapi, dia cuma ingin Lutung belajar membaca. Seandainya saja Lutung tahu kalau manfaat membaca banyak sekali.    
Malamnya, Manyar mendengar ribut-ribut. Lutung ditangkap oleh sekelompok manusia! Dia dikurung di dalam kandang yang sempit. Kasihan Lutung. Manyar ingin menolongnya!
Manyar berpikir keras. Akhirnya, dia mendapatkan ide dari buku yang pernah dibacanya. Besok Manyar akan meminta teman-temannya sesama burung manyar tempua untuk berkumpul. Dia juga akan memberitahukan rencananya ini kepada teman-teman sesama lutung.
            Keesokan sore, Manyar dan teman-temannya berkumpul di dahan pohon di dekat tenda manusia. Manyar memberi kode. Dia dan teman-temannya berkicau merdu sekali. Sekelompok manusia yang menangkap Lutung, terpesona. Mereka berlomba menangkap Manyar dan teman-temannya juga.
Begitu kawanan burung manyar tempua beraksi, teman-teman sesama lutung pun bergegas membebaskan Lutung. Ada yang mencuri kunci kandang dan ada yang membantu melepaskan ikatan di tubuh Lutung. Mereka berhasil! Lutung dan teman-temannya kabur meninggalkan halaman tenda, lalu disusul Manyar dan teman-temannya.
            Usut punya usut, Lutung ditangkap saat dia kejeblos ke dalam lobang besar di sekitar tenda. Awalnya Lutung cuma ingin tahu apa yang dilakukan oleh sekelompok manusia itu. Di sekitar situ sudah ada plang kayu bertuliskan “Hati-Hati Lobang!” ditancapkan, tapi Lutung kan tidak bisa membaca.  
            “Manyar, aku mau belajar membaca,” kata Lutung malu-malu.
            Manyar tersenyum. “Sungguh? Dengan senang hati aku akan mengajarimu, Lutung. Setelah belajar, kita dolan bareng-bareng, ya?”
Lutung langsung melompat-lompat kesenangan. [] Haya Aliya Zaki 

Cara mengirim cerpen anak atau dongeng ke koran Kedaulatan Rakyat
1.  Tulis cerpen anak atau dongeng maksimal 500 kata.
2. Kirim naskah rubrik CERNAK ke alamat redaksi KR Jl. P. Mangkubumi, Gowongan, Jetis no. 40–46 Yogyakarta 55232. Tidak perlu mengirim soft copy via e-mail.
3.  Lampirkan scan KTP.
4. Sertakan biodata dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.
5. Dongeng di atas saya kirim 5 Mei 2020 dan dimuat 15 Mei 2020 (masa tunggu 10 hari).
6. Rubrik CERNAK terbit setiap hari Jumat (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di epaper.krjogja.com.  

Selanjutnya ...

Kamis, 14 Mei 2020

Indahnya Silaturahmi di Tengah Pandemi


Siapa pun tahu, Ramadhan tahun ini “istimewa”. Pandemi Covid-19 melanda dunia dan dampaknya demikian luar biasa. Biasanya, saat Ramadhan, kita silaturahmi setiap hari, apakah tarawih berjamaah, tadarus di masjid, atau buka puasa bersama. Kini, semua rutinitas itu tiada, termasuk mudik Lebaran. Rasa sesak memenuhi rongga dada kala menonton video YouTube “Ramai Sepi Bersama” hasil kolaborasi empat musisi; Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita, dan Sal Priadi. Video yang diinisiasi IM3 Ooredoo ini mewakili perasaan saya, bahkan mungkin banyak umat muslim di Indonesia.  



        Ramadhan selalu jadi momen yang paling saya tunggu, terutama beberapa tahun belakangan. Anak-anak sudah beranjak besar sehingga saya bisa leluasa tarawih di masjid. Kalau dulu, saya dan suami selang seling tarawih di rumah dan di masjid karena kami harus bergantian menjaga anak-anak yang masih kecil. Kami tidak bisa selalu membawa anak kecil ke masjid karena kadang kondisi anak kecil kan tidak terduga. Sedih, tahun ini balik tarawih di rumah saja, bahkan full sampai sebulan ya Allah. 
Setiap Ramadhan, pagi-pagi saya selalu ikut tadarusan ibu-ibu pengajian di masjid. Saya lebih senang mengaji tartil, membaca Alquran dengan pelan dan tenang. Jadi, demi mengkhatamkan 30 juz, enaknya memang tadarusan di masjid. Lebih senangnya lagi, ada Bu Hj. Nasir, guru mengaji kami, yang mambantu membimbing seandainya kami salah membaca huruf, tajwid, dan lain-lain. Maklum, pagi hari mata rawan terserang kantuk. Setelah sahur, ibu-ibu tidak balik ke kasur he-he.   
Lanjut ke kebiasaan berikutnya. Bukber blogger saat Ramadhan merupakan kesempatan berpapasan sekaligus menambah wawasan. Saya dan teman-teman blogger bercanda kalau bukbernya blogger itu keren karena sering “disponsori” brand ha-ha! Ya, saat Ramadhan, sesekali kami diundang brand untuk meliput acara dengan narsum dari berbagai bidang profesi. Bahkan, saya pernah ikut bukber yang berbuah laptop canggih dari brand. Pasalnya, tulisan saya dari acara bukber itu diperlombakan dan memenangi juara satu. Silaturahminya dapat, wawasannya dapat, hadiahnya pula dapat. Masyaallah. Tahun ini, bukber blogger terpaksa absen dulu hiks.            
Soal tradisi mudik Lebaran, saya punya cerita lebih heits lagi. Halah. Setiap tahun kami mudik ke tempat orangtua saya di Medan atau ke keluarga besar suami di Yogya. Tahun lalu, giliran kami mudik ke Medan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga nekat mudik ke Medan pakai mobil pribadi dan sopirnya hanya satu, yakni suami saya! Benar-benar pengalaman SUPEEERRR, melebihi pengalaman kami traveling ke berbagai negara di Eropa. Sungguh!
Sebenarnya, kami cukup sering mudik road trip pakai mobil pribadi, tapi paling banter sampai Yogya doang. Sekarang Tangerang–Yogya 12 jam kelar. Lha ini, Tangerang–Medan! Bukan perkara mudah merencanakan road trip Tangerang–Medan-Tangerang sejauh 4000 km atau total 6 hari 6 malam, membawa anak-anak, dan itu tadi sopirnya cuma satu. Kalau istilah orang Medan: ngeri-ngeri sedap. Selain kudu lihai menyetir, stamina suami harus prima. Niat silaturahmi kepada orangtua tidak terbendung, apa daya harga tiket pesawat lagi gila-gilaan banget. Seingat saya, waktu itu ancar-ancar harga tiket pesawat kami mencapai Rp40 juta sekali jalan. Catet, sekali jalan, yo. Harga tiket pesawat naik berkali-kali lipat dibandingkan dengan harga biasa di musim Lebaran. Bolak-balik bisa Rp100 juta. Alamak.
Saat berangkat, suami memilih melewati jalur Sumatera lintas timur. Pulangnya, jalur Sumatera lintas barat. Beberapa kali bapak mertua menelepon karena khawatir. Tante di Medan pun sama khawatirnya. Jangan sampai kami ketemu “bajing loncat”. “Bajing loncat” adalah perampok bengis yang kerap mencegat di jalan. Mereka mengincar barang-barang bawaan truk atau mobil.        
Jelang malam di perjalanan, saya kerap berdebar, teringat suami lelah atau mengantuk. Kadang jurang yang terbentang di kanan kiri jalan, bikin hati diserang takut. Belum lagi kalau jalan gelap tidak berlampu. Alhasil saya komat-kamit melulu baca doa. Istirahat? Belum tentu ada penginapan yang kosong atau layak saat malam tiba. Kami pernah menginap di dalam mobil karena tidak dapat penginapan! Perjuangan mudik tahun lalu rasanya tidak sia-sia bila mengingat akhirnya kami bisa silaturahim ke orangtua. Tambahan pula ternyata tahun ini kami tidak bisa mudik sama sekali gara-gara pandemi.  

Kenang-kenangan mudik ke Medan tahun lalu

Pandemi Covid-19 membuat saya banyak menabung syukur. Saya diberi waktu bermuhasabah bahwa silaturahmi itu indah. Betapa berharganya makna keluarga dan handai tolan. Alhamdulillah, meski pandemi, #SilaturahmiSetiapHari tetap terjaga. Berkat paket Freedom Kuota Harian IM3 Ooredoo, jarak bukan lagi kendala. Hanya dengan 1 GB, saya bisa tadarusan bersama ibu-ibu via grup media sosial. Niat one day one juz insya Allah terlaksana. Hanya dengan 1 GB, saya bisa bukber online teman-teman blogger. Mungkin bakal seru kalau ceritanya nanti ditulis di blog ha-ha! Hanya dengan 1 GB, saya bisa video call dengan orangtua dan keluarga besar. Kok ya jadi ngikik-ngikik geli melihat rambut bapak-bapak yang mulai berkibar.  

Tahun ini silaturahmi virtual saja, ya

Pandemi tidak menghalangi IM3 Ooredoo menciptakan karya kolaborasi bareng empat musisi; Baskara Putra (Hindia), Kunto Aji, Yura Yunita, dan Sal Priadi. Unik, syuting dilakukan dari rumah masing-masing. Lahirnya lagu “Ramai Sepi Bersama” jadi penyemangat sekaligus pengingat bahwa apa pun yang terjadi, tidak ada yang lebih penting daripada silaturahmi. Duh, saya sudah beberapa kali menonton videonya, tapi mata tetap berkaca-kaca. Liriknya bikin hati sendu. Salut dengan IM3 Ooredoo yang menginisiasi kolaborasi empat musisi hebat ini. Kami-kami berasa tidak sendiri menghadapi pandemi.            
Ramadhan tahun ini memang pelik. Kita sedang ditempa habis-habisan untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan lagi. Insya Allah kita bisa. Semoga pandemi lekas berlalu. “Apa pun yang terjadi, tidak apa ....” [] Haya Aliya Zaki

Selanjutnya ...

Jumat, 24 April 2020

[Resensi Buku] Pentingnya Belajar Cara Menghadapi Bencana


(Kedaulatan Rakyat, 14 April 2020)


Judul: Jangan Panik! vol.3 Anak Siaga dan Tanggap Bencana
Penulis: Watiek Ideo dan Fitri Kurniawan
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: I, 2020
Tebal: 80 halaman
ISBN: 978-623-216-859-6





Sepertinya sudah tidak terhitung bencana yang singgah di bumi Indonesia. Awal 2020 beberapa daerah mengalami (lagi) banjir, tanah longsor, dan gempa. Faktor geografis menyebabkan Indonesia rawan bencana. Indonesia berada di antara tiga lempeng tektonik dunia, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Selain itu, Indonesia terletak di Sabuk Alpine (Alpine Belt) dan dikelilingi Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). 

Sayang, kondisi Indonesia yang rawan bencana belum diikuti aksi siaga dan tanggap bencana. Pendidikan seputar hal ini masih minim, terutama untuk anak-anak. Mungkin kita bisa belajar dari Jepang. Sebagai contoh, Jepang rutin mengadakan simulasi gempa di sekolah-sekolah. Saat simulasi gempa, anak-anak akan merasakan sensasi gempa dan latihan menyelamatkan diri.

Buku juga menjadi sarana penting bagi pendidikan. Bersyukur sekali ketika mengetahui buku Jangan Panik! Vol.3 Anak Siaga dan Tanggap Bencana hadir untuk anak-anak. Di dalamnya ada sepuluh cerita anak tentang berbagai bencana yang akrab terjadi di Indonesia. Rumah Reno bercerita tentang Reno yang malah ingin main air ketika banjir. Suatu Malam di Rumah Kakek bercerita tentang Kakek yang masih menjaga keberadaan pohon untuk mencegah tanah longsor. Bersih-Bersih Rumah bercerita tentang Tio dan Rena yang mengalami gempa ketika sedang membereskan buku-buku di perpustakaan rumah. Cerita yang paling menarik menurut saya adalah Tas Penyelamat. Apa saja isi tas penyelamat? Berapa banyak dari kita yang berinisiatif menyiapkannya sebelum bencana datang? Kelihatannya sepele, tapi ternyata sangat penting! Setiap cerita diakhiri dengan penjelasan tanda-tanda bencana serta hal-hal yang harus dilakukan sebelum dan ketika bencana datang.  
      
Di buku ini, pendidikan siaga dan tanggap bencana disampaikan melalui kalimat sederhana dan dalam dua bahasa (bahasa Indonesia dan Inggris). Semua halaman dihiasi ilustrasi penuh warna yang atraktif. Bukan cuma anak, orangtua juga perlu membaca buku ini supaya bisa duduk bareng membahasnya dengan anak. Mari belajar siaga dan tanggap bencana demi keselamatan bersama. Sikap yang paling pokok, jangan panik berlebihan dan pahami sinyal bahaya. [] Haya Aliya Zaki, penulis dan pemerhati cerita anak


Cara mengirim resensi ke koran Kedaulatan Rakyat
1. Buku yang diresensi harus baru (tahun 2020).

2. Jenis bukunya boleh apa saja, termasuk buku cerita anak.

3. Tulis resensi maksimal 250 kata. Kalau lebih dari 250 kata, resensi akan dipotong redaktur. Kalimat berwarna merah di atas adalah kalimat saya yang dipotong redaktur.

4. Kirim resensi ke rubrik PUSTAKA dengan email resensikrm@yahoo.com dan redaksi@krjogja.com

5.  Lampirkan naskah resensi, scan cover buku, scan halaman keterangan buku (setelah cover), scan KTP, dan foto diri. Ingat, harus komplet lampirannya, ya. 

6. Sertakan biodata, pendidikan terakhir, dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.

7. Resensi di atas saya kirim 13 Maret 2020 dan dimuat 14 April 2020 (masa tunggu sebulan).

8. Resensi terbit setiap hari Selasa, Jumat, atau Sabtu (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di epaper.krjogja.com.  
Selanjutnya ...

Selasa, 07 April 2020

5 Alasan Kamu Harus Punya Gamis


Tidak terasa sebentar lagi Ramadhan, terus Lebaran, deh. Masya Allah ... tidak sabar! Saat-saat Ramadhan dan Lebaran, baju favorit sejuta umat, eh, sejuta emak tentulah gamis. Betul? Tapiii, tapiii, hari gini beli gamis mau dipakai ke mana? Dunia sedang heboh oleh pandemi Covid-19. Kita wajib #DiRumahAja, tidak boleh ke mana-mana, demi memperkecil risiko tertular atau menularkan virus korona bandel itu. Paling banter jalan-jalan mentok ke dapur, sumur, kasur. Halah.
Sebenarnya, bagi saya, gamis bukan cuma cocok dipakai ke pengajian atau hari raya. Gamis jadi salah satu baju andalan ke ... kondangan! Setelah menikah dan punya tiga anak, badan kok melarnya enggak sopan amat, ya. Pengin pakai kebaya modern, dress anggun, baju ini itu, tapi semua sempit! Alhamdulillah gamis jadi penolong. Berikut 5 alasan kalian harus punya gamis. 

Narsis di kondangan

1. Banyak ukuran

            Senangnya sama gamis karena punya banyak ukuran dari XS sampai XXXL, bahkan ada yang lebih jumbo lagi. Kita jadi punya pilihan. Tidak perlu terlalu serius mengecek ukuran bodi sebelum membeli. Tidak bakal sakit hati gara-gara urusan lingkar dada atau lingkar keti. Meski begitu, Teman-teman yang bertubuh mungil jangan sampai membeli gamis kebesaran. Nanti malah kelihatan tenggelam.   

2.  Bahan beraneka  

            Rata-rata bahan gamis itu tebal, tapi tidak panas. Ada bahan katun, sifon, sutra, jersey, wolfis, dan lain-lain. Saya suka gamis bahan katun dan wolfis. Bahan katun ringan dan menyerap keringat. Saya memakainya ke acara kumpul keluarga atau jalan-jalan santai. Kalau bahan wolfis itu bahan untuk gamis Arab yang syar’i. Bentuknya jatuh dan bagus di badan. Saya selalu memakainya ke kondangan.     

3. Motif beragam

            Zaman sekarang gamis segala motif ada, dari yang polos, polkadot, bunga-bunga, you name it dah. Favorit saya tetap gamis hitam polos dengan hiasan payet, manik-manik, atau benang emas serta perak di ujung lengan dan di ujung bawah gamis. Tidak usah pusing tujuh keliling obrak-abrik lemari baju sebelum berangkat. Gamis hitam netral dipakai ke pengajian, kondangan, atau acara-acara lain yang semi formal.   

4. Praktis

            Model gamis macam-macam ada yang simpel seperti artis Dian Ayu Lestari atau berlapis seperti ustazah Peggy Melati Sukma. Hanya, teteup modelnya ora neko-neko. Kalau mau dipakai, tinggal dimasukkan melalui leher dan blos kejeblos ... beres! Gamis premium yang sudah ada hiasan payet, manik-manik, atau benang emas serta perak, tidak membutuhkan mix and match perhiasan lagi. Begitu saja sudah kelihatan mewah.    

5. Nyaman

Gamis itu longgar dan nyaman dipakai. Berbeda dengan baju atau celana ketat. Meski terasa keren karena mengikuti tren, memakai baju atau celana ketat bisa berakibat buruk pada kesehatan, seperti membuat sakit perut, memunculkan ruam di kulit, dan menyebabkan gatal-gatal pada area kewanitaan. Kalau terjadi hal seperti ini, segera konsultasi ke dokter.

  Teman-teman yang pengin beli gamis, tidak perlu datang desak-desakkan ke toko baju. Nanti pulangnya malah diintilin korona. Hiiiy! Jadi? Pesan online saja dan tunggu paket berisi gamis kesayangan tiba di rumah!
Nah, berhubung lagi pandemi Covid-19, menerima kiriman paket pun ada protokolnya. Sebelum sampai ke kita, paket telah dijamah (((DIJAMAH))) oleh banyak orang. Perlu diketahui, virus korona bisa bertahan di permukaan kardus, kaca, stainless steel, dalam waktu beberapa jam bahkan beberapa hari. Meski menurut pakar penyebaran virus korona melalui paket rendah sekali, tidak ada salahnya kita berjaga-jaga. Sekalian saya sampaikan di sini protokol menerima paket. Duh, kurang baik apa cobaaa.
            Pertama, seandainya memungkinkan, lakukan pembayaran secara online supaya Teman-teman tidak perlu kontak fisik dengan kurir saat membayar. Kedua, mintalah kurir menaruh paket di depan pintu atau jaga jarak minimal 1–2 meter saat menerima paket. Ketiga, bersihkan bungkus paket dengan disinfektan, tunggu sekitar 5 menit, lalu lap kering. Keempat, buang semua bon dan struk ke tong sampah. Kelima, cuci tangan. Ingat, jangan menyentuh bagian wajah sebelum cuci tangan, ya!     
            Semoga kita semua selalu dianugerahi kesehatan dan keselamatan. Aamiin. Yuk, doa yang kenceng supaya pandemi Covid-19 segera berlalu, terus kita jalan-jalan gamisan bareng! Sementara ini, gamisan di rumah saja dan bikin foto keluarga yang cakep hi-hi. Kalau pandemi Covid-19 usai, kalian mau pakai gamis ke mana, nih? Share, dong! [] Haya Aliya Zaki
Selanjutnya ...

Iklan