Jumat, 23 Oktober 2020

5 Ide Seru Berbagi di Saat Pandemi

 

Oktober 2020 jadi penanda genap 8 bulan kita survive dari pandemi Covid-19, Teman-teman. Peluk diri sorangan dulu ah, ... masya Allah. Bukan hal yang mudah untuk melaluinya mengingat chaos yang mengemuka, terutama dari sisi kesehatan dan ekonomi.

Meski dunia sedang sesak diimpit pandemi, semangat berbagi pantang surut ke belakang. Mungkin kalian pernah mendengar kalimat, “Berbagi tidak bikin rugi.” Ya, ini kalimat klise memang, tapi benar adanya. Beruntung kita, berbagi justru mengganda perasaan bahagia. Kok bisa?

Ternyata, eh, ternyata, berdasarkan penelitian, sikap berbagi memicu produksi hormon endorfin di otak. Kita akan merasakan sesuatu yang disebut helper’s high. Efeknya menyenangkan dan menenangkan. Stephen Post, profesor kedokteran preventif di Universitas Stony Brook, bahkan menuliskan di dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People, bahwa berbagi dapat meningkatkan kesehatan orang-orang berpenyakit kronis, termasuk HIV/AIDS dan sklerosis ganda (Greatmind.id, 2018).

 

Pandemi mengubah cara kita berbagi       

Btw, sejak pandemi, kalian selalu cuci tangan dan pakai masker, kan? Kalian juga jadi lebih hemat dan hati-hati dalam mengontrol keuangan, kan? Perlu dicatat, bukan cuma healthy and money habits yang berubah karena pandemi, cara kita berbagi pun demikian.

Sebelum pandemi, mungkin kita kerap menyambangi anak yatim dan kaum dhuafa ke panti-panti atau mengundang mereka datang ke rumah untuk memberi santunan. Sekarang mission impossible, ya. Kerumunan merupakan sumber utama penyebaran virus korona. Kalau nekat rame-rame, kita bakal didenda dan siap-siap tidur di balik sempitnya jeruji besi.   

Kangen kumpul sama anak-anak yatim ini (foto sebelum pandemi)

Tapi, tidak perlu khawatir. Berbagi ada banyak cara dan bisa dilakukan dengan banyak cara. Saya sering memanfaatkan dunia maya. Teknologi era baru terbukti ampuh merobohkan tembok penghalang manusia dalam berkomunikasi. Berkat teknologi, bantuan kemanusiaan tersebar lebih luas dan tiba dalam waktu yang lebih cepat pula. Berikut 5 ide semangat berbagi di era baru, terutama di saat pandemi.      

 

1. Berbagi hiburan

            Selama pandemi, pemerintah mewajibkan sebagian perusahaan melakoni work from home (WFH). Siapa bilang WFH = leyeh-leyeh a.k.a malas-malasan di rumah? Faktanya, tanpa kita sadari, WFH malah membuat jam kerja kita semakin panjang. Batas jam kerja dengan jam bersama keluarga menjadi samar-samar. Badan kelewat lelah. Level stres meningkat. Ini belum termasuk problem orangtua yang harus full mendampingi anak-anak belajar di rumah.  

            Pepatah bilang, ketawa adalah obat. Saya pribadi senang mencari “obat” yang murah meriah di media sosial. Media sosial riuh menyajikan konten humor. Rata-rata kreatornya dari kalangan muda. Humor receh? Itu yang kerap bikin jatuh hati! Kalau kalian hobi bikin teman cekikikan, silakan dijajal. Hanya, hati-hati, hindari konten yang menyinggung SARA atau provokatif.

 

2. Berbagi ilmu

Rata-rata generasi Z kalau ditanya cita-citanya apa, mereka pada menjawab ... jadi YouTuber! Kesannya YouTuber itu populer dan bergelimang fulus. Miris melihat akhirnya begitu berjebah konten prank tidak jelas di dunia maya demi fulus.

Sebaliknya, teman saya yang seorang guru Fisika, kian giat berbagi ilmu melalui YouTube sejak pandemi melanda. Waktu luang setelah mengajar daring digunakan untuk membuat dan mengunggah video teori-teori Fisika dasar serta soal-soal latihan. Dia sadar, saat pandemi, langkah para siswa untuk belajar (di sekolah maupun bimbel) amatlah terbatas karena larangan keluar rumah dari pemerintah. Kiranya berbagi ilmu Fisika di YouTube bisa sedikit membantu. Terpujilah mereka yang gemar berbagi ilmu. Yang begini ini nih bikin demen. Selain fahala, eh, pahala, kadang berkah fulus pula ngintili. Dua-duanya sama-sama beraroma harum.     

 

 

3. Berbagi dan bekerja sama

Kalau kalian punya media sosial, jangan dianggurin, apalagi kalau jumlah followers dan engagement-nya lumayan. Kenapa tidak coba berbagi dengan cara support bisnis UMKM lokal, terutama yang baru merintis? Soalnya banyak bisnis UMKM lokal yang luluh lantak karena pandemi.

Kadang saya menggunakan blog dan Instagram sebagai ajang promosi cuma-cuma. Saya pernah mengajak beberapa pengusaha UMKM lokal untuk bekerja sama. Sebagian produk dikirimkan gratis, sebagian lagi saya beli sendiri. Kami berdiskusi soal produknya, bagaimana fotonya, pemilihan caption-nya, dst. Kerja sama yang mengasyikkan dan insyaallah berfaedah bagi kedua belah pihak.       

 

4. Berbagi makanan

Saat pandemi, bisnis kuliner semakin marak. Orang-orang dari berbagai profesi banting setir jadi penjual makanan. Belakangan beredar info di media sosial, maskapai penerbangan membuka restoran dan menjual gorengan. Brand makanan global turun ke jalan menawarkan makanan berdampingan dengan pedagang kaki lima. Semua berjuang menyambung hidup dengan caranya masing-masing.   

            Beberapa teman saya menjual paket makanan sekaligus menerima jasa menyalurkannya langsung kepada kaum tidak mampu. Sebelum pandemi, teman-teman katering acap mencetak brosur dan mengirimkannya dari rumah ke rumah. Kini mereka mengandalkan brodkes melalui media sosial dan grup WhatsApp.

Kita bisa memilih berbagi dengan cara ini. Ibarat kata peribahasa, sekali merangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Kita membantu menglariskan usaha teman, kita membantu kaum tidak mampu, dan sesungguhnya kita membantu diri kita sendiri karena menerima balik energi bahagia, seperti yang sudah saya sebutkan di atas itu tadi.        

 

5. Berbagi bersama LAZ UCare Indonesia

Last but not least, kita bisa berbagi donasi melalui LAZ UCare Indonesia. Dikutip dari laman web situs mereka, LAZ UCare Indonesia merupakan lembaga amil zakat yang berdiri pada tanggal 3 Oktober 2017 di Kota Bekasi. Barakallah, berarti Oktober 2020 LAZ UCare Indonesia genap berusia 3 tahun yay. Lembaga ini berkhidmat mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial lainnya, termasuk dana CSR.  

 

Web situs LAZ UCare Indonesia

LAZ UCare Indonesia memiliki beberapa program, yakni Cinta Berdaya (wirausaha), Cinta Yatim (mengasihi yatim), Cinta Sehat (kesehatan), Cinta Ilmu (pendidikan), dan Cinta Insani (peduli lingkungan sekitar).

Sejumlah prestasi telah diraih, salah satunya Lembaga Amil Zakat Terbaik Tingkat Kota/Kabupaten dari BAZNAS Provinsi Jawa Barat (2019). Kelebihan LAZ UCare Indonesia dibandingkan lembaga amil zakat lainnya adalah mereka aktif menjadi penghubung antara pendonor dan penerima manfaat di wilayah Kota Bekasi demi meningkatkan kemakmuran, khususnya bagi kaum tidak mampu.

Cara berdonasi di LAZ UCare Indonesia cukup mudah. Kita masuk ke web situs LAZ UCare Indonesia dan pilih button di sebelah kanan apakah Zakat, Infaq, Shodaqoh, atau Donasi. Kalau mau pilih semuanya juga boleh he-he-he.   

Saya pilih Shodaqoh

Isi nominal donasi

Isi data-data kalian

Nah, tinggal transfer dan konfimasi via WhatsApp, deh

Kalau yang ini via Instagram (klik link di bio)

Pilih mau donasi ke mana 


Ke depannya saya berharap LAZ UCare Indonesia hadir dalam bentuk aplikasi khusus. Tampilan antarmuka menarik. Deretan fitur baik. Akses info terbaru lebih cepat, tidak seperti web situs yang harus melalui proses loading terlebih dahulu. Pastinya berdonasi pun bakal lebih mudah, ya. Teman-teman punya ide seru lain berbagi di era baru, terutama di saat pandemi? Kalian sudah tahu LAZ UCare Indonesia juga? Share di sini, yuk! [] Haya Aliya Zaki

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam  

lomba blog LAZ UCare Indonesia 2020”

 


Selanjutnya ...

Senin, 05 Oktober 2020

Melirik Potensi Ekspor Udang Vaname

Kata “EKSPOR” sudah tidak asing lagi di telinga saya. Ketika saya remaja, Abah banting setir resign dari pegawai menjadi eksportir. Keputusan ini tentulah bukan keputusan nekat yang muncul dalam satu malam. Sebelumnya Abah bekerja sekian tahun di sebuah perusahaan ekspor impor di Medan. Di situ beliau menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Selain hendak mengembangkan kapasitas diri, Abah berhasrat mengeskplorasi hasil bumi Indonesia untuk dijadikan komoditas ekspor. Salut, Abah masih setia dengan passion-nya meski kini sudah berusia 70 tahun lebih.          

  Ekspor, sumber devisa negara

            Kenapa sih kita kudu menambah nilai ekspor? Berkat ekspor, devisa negara meningkat. Devisa adalah barang yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam lingkup internasional. Devisa bisa berupa valuta asing, emas, atau surat berharga. Semakin menjulang nilai ekspor, semakin menjulang pula pendapatan devisa sebuah negara. Kebalikan dengan ekspor, impor justru menghabiskan devisa.

Berkat ekspor, hasil bumi kita akan terus diperbaharui. Ya iyalah, kalau hasil bumi teronggok begitu saja tidak ada yang membeli dan menggunakan, bagaimana kita bisa menjaga ketersinambungannya? Berkat ekspor, kita memberdayakan SDM. Pastinya kita butuh SDM untuk menanam, mengolah, memasarkan, dst. Perekonomian bakal berputar cantik.     

 

Komoditas ekspor Indonesia

Saya masih ingat betul sekitar 23 tahun lalu Abah memulai bisnis ini. Hampir setiap malam beliau mengetik surat pakai mesin tik listrik andalannya, menawarkan sampel barang kepada para importir di Timur Tengah. Beliau memilih spesialisasi eksportir komoditas briket arang untuk kawasan Timur Tengah. Fyi, internet belum booming seperti sekarang. Waktu itu Abah berusaha mendapatkan alamat para importir dari kantor-kantor kedutaan.

Berbicara tentang komoditas ekspor Indonesia, pembagiannya ada 2 macam, yakni migas dan nonmigas.

1. migas

            Minyak bumi dan gas alam (migas) meliputi minyak tanah, elpiji, bensin, dan solar. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), per Mei 2020 nilai ekspor migas Indonesia menurun 42,64% dibandingkan tahun lalu (Bisnis.com, 2020). Pertumbuhan konsumsi migas ternyata, oh, ternyata tidak berbanding lurus dengan pertumbuhan cadangan migas itu sendiri. Hm, butuh langkah konkret nih dari pemerintah dan masyarakat untuk mencegah terjadinya krisis migas dalam negeri. Kalau bisa, nilai ekspor migas kita kembali naik.

2. nonmigas

            Komoditas nonmigas adalah komoditas selain minyak bumi dan gas alam, seperti hasil pertanian, perkebunan, perikanan, industri, dan tambang nonmigas. Komoditas nonmigas merupakan komoditas jagoan ekspor Indonesia. Saat pandemi Covid-19, ekspor hasil pertanian melesat. Komoditasnya antara lain, tanaman obat keluarga (TOGA), rempah-rempah, dan buah-buahan (Gatra.com, 2020). Keren, ya?       

 

Hasil perikanan

            Kita bisa menambah nilai ekspor Indonesia, salah satunya dengan memanfaatkan hasil perikanan. Sekitar 2/3 bagian wilayah Indonesia adalah lautan. Jelas sekali laut menjadi sumber makanan bagi makhluk hidup.  

Hasil perikanan yang menjadi primadona di pasar internasional antara lain ikan, udang, dan kerang. Soal udang, tidak dimungkiri, potensi ekspornya menggiurkan banget. Indonesia merupakan eksportir udang terbesar di dunia, setelah India, Ekuador, dan Vietnam. Ekspor udang Indonesia terbagi atas udang segar dan udang beku. Tahun ini suami mengikuti jejak Abah menjadi eksportir (selama ini dia berkecimpung di bidang impor bahan baku kimia). Berhubung suami berniat ekspor udang vaname beku, di sini saya akan membahas udang vaname saja.

Mungkin ada teman-teman yang belum pernah mendengar tentang udang vaname? Biasanya yang populer itu udang galah dan udang windu, ya? Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah udang varietas unggul yang berukuran besar dan dapat hidup di lingkungan bersuhu rendah. Kulitnya tipis keras berwarna putih kekuningan. Udang vaname mengandung gizi yang bagus seperti vitamin A serta E, dan mineral natrium, kalsium, serta fosfor. Udang ini juga mengandung asam lemak omega 3 yang sangat bermanfaat untuk kesehatan. Perkara rasa jangan dikata. Udang vaname yang dibawa pulang suami, langsung saya masak pakai bumbu saos padang. Segeeerrr.          

Bagaimana cara meningkatkan potensi ekspor udang vaname? Fyi, udang tidak diambil dari laut. Suami menemui pengusaha tambak dan penduduk di daerah Cidaun, Cianjur Selatan, untuk melihat tambak udang vaname. Ya, pengusaha tambak bekerja sama dengan penduduk untuk membudidayakan udang dengan cara membuat tambak-tambak di sekitar daerah pesisir pantai di sana. Meski udang vaname memiliki ketahanan tubuh yang baik terhadap penyakit (sehingga bisa dibudidayakan di tambak), petambak tetap harus memilih air laut yang bersih dan belum tercemar. Kenapa? Karena benih udang akan dimasukkan ke tambak yang dialiri air laut. Udang vaname yang diekspor harus memenuhi persyaratan antara lain tidak boleh rusak, kotor, dan berparasit. Udang diberi pakan berkualitas dan setiap 3 bulan sekali dipanen. Hasil panen bisa mencapai 50-60 ton. Wow, luar biasa! Doakan ekspor perdana suami lancar. Aamiin.    









Hal-hal yang harus diperhatikan seputar ekspor

            Kalian yang berminat menjadi eksportir, Abah punya pesan apa saja hal-hal yang harus diperhatikan seputar ekspor. Jika poin-poin ini ditaati, bukan tidak mungkin ekspor berjalan lancar dan nilai ekspor pun bertambah. Yuk, simak!

1. mutu barang

            Barang-barang ekspor dari Indonesia bersifat umum dan memiliki banyak kompetitor baik dari dalam maupun luar negeri. Kita mau ekspor udang, Vietnam punya udang. Kita mau ekspor karet, Malaysia punya karet. Kita mau ekspor maple, Singapura punya maple. So, kualitas merupakan faktor utama yang harus diperhatikan. 

Langkah pertama, survei barang-barang bermutu. Lalu, kirimkan sampel barang dengan mutu terbaik kepada importir target. Seandainya sudah sepakat, next kita harus mengirimkan barang dengan mutu yang sama. Soal mutu, sebaiknya tidak main-main. Jenis barang, ukuran, warna, dll semua wajib dicermati. Jika diminta mengirimkan barang grade A, jangan kita kirim yang grade B. Jika diminta panjang barang 5 cm, jangan kita kirim yang panjang 7 cm. Sekali kita menyalahi kesepakatan, rasanya sulit untuk membangun kepercayaan itu lagi. Hati-hati!

2. harga dan kemasan

            Berikan harga yang bersaing. Say no to harga yang terlampau mahal atau terlampau murah. Harga bersaing bukan berarti harga yang terlampau murah, lo. Harga equal dengan mutu barang. Kalau harga terlampau murah, nanti yang ada kita malah buntung, bukan untung. Kita bisa mendapatkan informasi harga penawaran dari berbagai situs ekspor impor di internet.

Berikutnya, kemasan dibuat dengan sebaik-baiknya. Jangan bocor, lembap, atau menimbulkan bau. Jenis kemasan tergantung pada barang yang akan dikirim. Pengemasan udang beku, misalnya, ada tiga jenis, yakni kemasan plastik polypropilen (kemasan primer), inner carton (kemasan skunder), dan master carton (kemasan tersier).  

3. pengiriman

Please be noted, pengiriman kudu tepat waktu dari pelabuhan muat hingga ke pelabuhan bongkar. Janji 1 minggu ya, 1 minggu. Janji 2 minggu ya, 2 minggu. Kontainer pengiriman barang ke luar negeri disesuaikan dengan barang yang akan dikirim. Contoh, kalau hendak mengirim udang, kita kudu memakai kontainer yang memiliki freezer. 

            Kegiatan ekspor berperan penting dalam mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia. Setuju? Dipikir-pikir, ekspor bukanlah pekerjaan yang mustahil digarap kalau kita benar-benar niat. Buka mata buka telinga. Eksplor wilayah-wilayah laten dan coba jalin kerja sama dengan pengusaha dan penduduk setempat. Apakah teman-teman tertarik dan siap memulai? Kalian punya pengalaman ekspor juga? Share, yuk! [] Haya Aliya Zaki

 

Foto merupakan dokumentasi pribadi

 

Daftar Bacaan

Anjani, Maulani R. 2019. “Teknik Pengemasan Udang Windu Beku di PT Holi Mina Jaya, Rembang, Jawa Tengah”. Repository.unair.ac.id, 18 November 2019. Diakses tanggal 26 September 2020.

http://repository.unair.ac.id/89788/

 

Megumi, Sarah R. 2019. “Udang Vaname, Primadona Budidaya Perikanan”. Greeners.co, 16 Maret 2019. Diakses tanggal 26 September 2020. 

https://www.greeners.co/flora-fauna/udang-vaname-primadona-budidaya-perikanan/

 

SKK Migas. 2017. “Enam Fakta Migas yang Wajib Kamu Tahu”. Liputan6.com, 27 Maret 2017. Diakses tanggal 26 September 2020.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/2899680/enam-fakta-migas-indonesia-yang-wajib-kamu-tahu

 

Selanjutnya ...

Jumat, 25 September 2020

5 Keuntungan Menggunakan Rice Cooker

 

Rice cooker adalah salah satu peralatan elektronik rumah tangga yang penting untuk memasak nasi. Nasi merupakan makanan pokok di Indonesia dan keberadaan rice cooker untuk memasak nasi pastinya familiar di kalangan ibu rumah tangga.

Sebagian orang masih ada yang memasak nasi dengan peralatan jadul. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, rice cooker semakin terkenal dan mulai menggeser aktivitas memasak nasi dengan dengan cara tradisional.

 

Rice cooker

 

Sekarang yang menjadi pertanyaan, apa keuntungan menggunakan rice cooker dibandingkan memasak nasi dengan peralatan jadul? Yuuuk, simak terus artikel ini, ya.

1.  memasak nasi lebih cepat

Saat memasak nasi dengan cara tradisional, teman-teman harus mengeluarkan waktu dan tenaga lebih. Setelah dicuci, beras dimasukkan ke panci berisi air mendidih, lalu aduk-aduk lama hingga nasi matang.  

Berbeda jika kita memasak nasi dengan rice cooker. Kita hanya perlu mencuci beras, memasukkan beras ke rice cooker, lalu tekan tombol “cook”. Tunggu nasi matang. Intinya, memasak nasi dengan rice cooker itu cepat dan menghemat tenaga.

2. nasi lebih tahan lama

Ternyata nasi lebih tahan lama jika dimasak dengan rice cooker karena rice cooker punya fitur penghangat yang praktis. Kalau menggunakan peralatan jadul, kita tidak bisa memasak dan menghangatkan nasi secara bersamaan. Nasi yang dimasak harus dipindahkan terlebih dahulu ke dalam termos nasi supaya tetap hangat dan tidak basi.

3. mampu mengolah berbagai variasi makanan

Sudah pada tahu kan kalau rice cooker zaman now semakin canggih? Dengan bermodalkan rice cooker saja, kita bisa memasak berbagai variasi makanan yang kita suka, dari mi instan, telur goreng, sayuran, sampai aneka kue!

Salah satu resep nasi andalan yang bisa dimasak dengan rice cooker adalah nasi uduk dan nasi kuning. Cemplung saja bahan-bahan ke dalam rice cooker dan tunggu hingga nasi matang. Mudah, kan?

Rice cooker juga bisa memanggang makanan, contoh roti. Memanggang roti di rice cooker caranya cukup sederhana. Oleskan mentega pada roti dan taruh di dalam rice cooker. Biarkan roti berubah kecokelatan, lalu balik untuk mematangkan permukaan lainnya. Setelah semuanya rata kecokelatan, roti panggang siap dihidangkan. Oiya, gunakan pencapit khusus supaya kalian terhindar dari hawa panas dan lelehan mentega saat memanggang roti.

4. bisa memasak air dan menghangatkan lauk

Khusus untuk teman-teman pencinta kopi dan teh, silakan membuatnya kapan pun dan di mana pun selama kalian memiliki rice cooker. Selain untuk menyeduh kopi dan teh, air panasnya juga bisa dipakai untuk membuat oatmeal.

Rice cooker sebagai penghangat lauk? Masukkan lauk yang sudah dimasak ke rice cooker untuk menjaga lauk tetap hangat.

5. oke dibawa traveling

Bagi kalian yang hobi traveling terutama traveling ke mancanegara dan tetap pengin makan nasi, kalian bisa lo membawa rice cooker mini. Biasanya rice cooker mini dilengkapi tempat penyimpanan kabel di bagian bawahnya. Jadi kita tidak direpotkan oleh urusan perkabelan, semua rapi dan aman. Siapkan saja beras secukupnya dari rumah. Sebagian jamaah haji dan umroh juga membawa rice cooker mini untuk memenuhi kebutuhan perut mereka.     

Catatan

Rice cooker memang punya banyak kelebihan, antara lain mampu memasak nasi lebih cepat, menjaga nasi tetap tahan lama, bahkan bisa mengolah berbagai variasi makanan. Namun, rice cooker juga punya kekurangan. Perawatannya dianggap cukup rumit. Selain itu, rice cooker dengan bahan teflon diklaim mengandung zat kimia berbahaya. Bila terkelupas, teflon akan memicu munculnya berbagai macam penyakit seperti kanker, kerusakan organ hati dan ginjal, penyakit tiroid, dan lain-lain. Usahakan memilih rice cooker yang bahannya aman dan jaga teflon rice cooker tetap mulus dan tidak tergores.

Demikian keuntungan menggunakan rice cooker. Semoga teman-teman menemukan rice cooker yang cocok dan sesuai kebutuhan, ya. []

 

Selanjutnya ...

Selasa, 25 Agustus 2020

[Dongeng] Ketika Nara Bersedih

 

(Kedaulatan Rakyat, 21 Agustus 2020)
 

Nara, seekor laba-laba berwarna hitam dan kuning, bersahabat karib dengan Danum, yang juga seekor laba-laba. Mereka tinggal di sebuah hutan di Kalimantan Barat. Sayang, Nara dan Danum harus berpisah. Danum pergi mengikut orangtuanya pindah ke daerah lain.

Seminggu setelah Danum pergi, Nara mengeluh sakit kepala. Hanyi dan Mamut mengantar Nara ke dokter. Hanyi dan Mamut adalah teman-teman Nara. Hanyi seekor bajing berbulu ekor lebat, sementara Mamut seekor katak kepala pipih. Kata dokter, Nara sakit kepala karena terlalu sedih. Hanyi dan Mamut pun merasa kasihan.   

“Nara harus punya kegiatan supaya bisa melupakan kesedihannya,” kata Hanyi.

Mamut berpikir sejenak. “Hm, bagaimana kalau menjahit? Nara kan pandai menjahit?” tanyanya.

Hanyi setuju dengan Mamut. Mereka mendatangi rumah Nara dan menyampaikan maksud mereka.

Nara melakukan saran Hanyi dan Mamut. Dia sibuk menjahit, menjahit, dan menjahit. Benang yang keluar dari tubuhnya seolah tidak pernah habis. Dia juga menjahit baju untuk Hanyi dan Mamut. Hanyi dan Mamut senang. Mereka senang bukan cuma karena dikasih hadiah oleh Nara, melainkan karena Nara sudah kembali ceria.

Akan tetapi, sebulan kemudian, Hanyi dan Mamut mendengar kabar Nara sakit kepala lagi. Kali ini ditambah bersin dan batuk. Hanyi dan Mamut bingung. Apakah Nara masih sedih teringat kepergian Danum?

Hanyi dan Mamut mendatangi rumah Nara. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat rumah Nara yang berdebu tebal! Isi rumah juga berantakan. Sepertinya karena sangat sibuk menjahit, Nara jadi tidak sempat membersihkan rumah. Rumah yang kotorlah yang menyebabkan Nara sakit!

“Ayo, kita bantu Nara membersihkan rumahnya!” kata Hanyi.

Mamut mengangguk. Dia yang terbiasa hidup di sungai yang bersih, langsung merasa tidak betah melihat kondisi rumah Nara.

Hanyi sigap menyapu debu dengan ekor lebatnya. Mamut cekatan mengambil air sungai untuk mencuci baju, taplak, dan seprai. Nara ingin membantu, tapi mereka menyuruh Nara istirahat saja supaya cepat sembuh. Seharian Hanyi dan Mamut bekerja membersihkan rumah Nara. Kini rumah Nara telah bersih dan rapi.

Beberapa hari berikutnya, Nara gantian mendatangi Hanyi dan Mamut. Dia telah sembuh. “Terima kasih, Hanyi, Mamut. Selama ini aku selalu bermain dengan Danum, padahal ada kalian yang juga teman-temanku. Kalian baik sekali. Aku akan tetap menjahit, tapi tentu tidak lupa menjaga kebersihan rumah,” kata Nara panjang lebar.

Hanyi dan Mamut tersenyum.

“Oiya, nanti malam kalian datang ke rumahku, ya? Aku memasak sup yang sangat enak. Kalian pasti suka!” lanjut Nara.

Hanyi dan Mamut mengangguk. Mereka jadi tidak sabar menunggu nanti malam! [] Haya Aliya Zaki

 

Cara mengirim cerpen anak atau dongeng ke koran Kedaulatan Rakyat

1.  Tulis cerpen anak atau dongeng maksimal 500 kata.

2. Kirim naskah rubrik CERNAK ke alamat redaksi KR Jl. P. Mangkubumi, Gowongan, Jetis no. 40–46 Yogyakarta 55232. Tidak perlu mengirim soft copy via e-mail.

3.  Lampirkan scan KTP.

4. Sertakan biodata dan nomor rekening bank di naskah dan badan email.

5. Dongeng di atas saya kirim 25 Mei 2020 dan dimuat 21 Agustus 2020 (masa tunggu 3 bulan).
6. Rubrik CERNAK terbit setiap hari Jumat (seminggu sekali). Silakan pantau melalui e-paper gratis daftar di kr.co.id/epaper.  

 

 

Selanjutnya ...

Iklan