Jumat, 13 November 2020

Aksi Ikan untuk Anak #IUAK adalah Aksi Kepahlawanan Bunda

 

Dulu, kata “pahlawan” bermakna seseorang yang berjuang membela Tanah Air dan gugur di medan perang. Kini, makna kata “pahlawan” bergeser menjadi seseorang yang berjasa mengabdikan diri memajukan masyarakat sekitar dan layak diteladani.

Dalam rangka menyambut Hari Pahlawan, tanggal 9 November lalu, FoodBank of Indonesia (FOI) meluncurkan aksi Ikan untuk Anak #IUAK di SD Negeri Johar Baru 10 Pagi, Jakarta Pusat. Acara dilaksanakan offline di Jakarta Pusat sekaligus online via Zoom Webinar. Fyi, FOI organisasi nirlaba yang berdiri pada 21 Mei 2015 di bawah Yayasan Lumbung Pangan Indonesia.


 

Aksi Ikan untuk Anak #IUAK

Kata Pak Hendro Utomo (Founder FOI), aksi #IUAK merupakan bagian dari rangkaian kampanye Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia. Boleh dikata, bunda adalah pahlawan pangan bagi keluarga. Sejak bayi lahir ke dunia, bunda-bunda secara alamiah memberikan ASI. Ketika anak sudah agak besar, bunda memasakkan makanan, menghidangkannya di atas meja, menyuapi, dst. Aksi 1000 Bunda beranggotakan bunda-bunda dari seluruh Indonesia yang bergerak membagi-bagikan makanan kepada anak-anak terutama balita dan usia dini.

Seperti yang sudah saya tulis di postingan FOI sebelumnya, pola pengasuhan anak sehari-hari sangat berpengaruh pada konsumsi gizi anak. Berdasarkan riset FOI, masih banyak anak Indonesia yang berangkat ke sekolah dengan perut lapar. Tambahan pula dengan adanya kondisi pandemi Covid-19. Jumlah kelaparan anak-anak di Indonesia kian meningkat. FOI bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Pertanian UGM dan BeeJay Bakau Resort berusaha memberikan solusi dengan meluncurkan aksi #IUAK.      

 “Kami tergerak untuk membantu karena ini pekerjaan kemanusiaan dan tidak bisa ditunda. Kalau terlambat, kami khawatir efek stunting pada anak menjadi irreversible,” demikian kata Pak Juda Mangitung dari BeeJay Bakau Resort (BBR). BBR berkecimpung di bisnis pengolahan ikan untuk keperluan ekspor selama 20 tahun. Jangan sampai kebutuhan ikan di luar negeri terpenuhi, tapi di negeri sendiri malah terabaikan. Nah lo. Jadi, tanpa berpikir dua kali, BBR menyambut baik program yang ditawarkan oleh FOI.      

Ikan sebagai pangan lokal pilihan

Selama ini kita sering mengimpor pangan dari luar negeri. Padahal, negeri kita punya buaaanyak sekali pangan lokal. Nilai gizinya juga tidak kalah dibandingkan pangan impor. Sudah saatnya kita kembali ke pangan lokal.

Lalu, kenapa ikan?

Kenapa tidak? Kita perlu menanamkan budaya makan sehat kepada anak-anak. Makanan sehat itu makanan yang bergizi, aman, dan halal. Salah satunya adalah ikan. Protein ikan berlimpah. Cara mendapatkannya cukup mudah karena Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya ikan.

Perlu diperhatikan, ikan merupakan pangan yang gampang rusak. Belilah ikan yang segar. Setelah dibeli, sebaiknya ikan langsung diolah. Kalau dibiarkan terlalu lama, ikan bisa terkontaminasi bakteri. Biasanya ikan yang menyebabkan alergi adalah ikan yang kualitasnya sudah tidak baik. Sebelum diolah, cuci ikan di bawah air keran yang mengalir. Sekali lagi, air keran yang mengalir, ya.  

Di acara, ada demo masak bersama chef dan bunda-bunda. Mungkin selama ini teman-teman bingung, bagaimana mengolah ikan supaya disukai anak-anak? Kan bosan kalau digoreng lagi, digoreng lagi. Ternyata, banyak cara kreatif mengolah ikan. Kita bisa membuat variasi olahan ikan menjadi bakso, naget, sop, steik, pepes, dan masih banyak lagi. Btw, bunda-bunda di acara tetap patuh pada protokol kesehatan. Meski asyik masak-masak, mereka tetap pakai masker dan jaga jarak. Salut!     

Ada yang bertanya, manakah yang lebih bagus, ikan air tawar atau ikan air laut? Menurut Ibu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, ikan air tawar dan ikan air laut sama-sama bergizi. Hanya, ikan air laut memiliki kelebihan, yakni ada kandungan Omega 3 yang bermanfaat untuk perkembangan otak dan mata.

Selain di Jakarta, aksi #IUAK juga akan diadakan di Yogyakarta pada tanggal 16 November 2020 dan Surabaya pada tanggal 23 November 2020. Acara dilanjutkan dengan roadshow keliling ke enam kota lainnya di Indonesia. Aksi #IUAK berlangsung hingga 22 Desember 2020. Selain berbagi paket ikan, FOI memberikan edukasi pentingnya makan ikan dan cara kreatif mengolah ikan. 




Seru, ih, peresmian acara #IUAK di Jakarta Pusat dilakukan oleh bapak-bapak narsum dengan cara bareng-bareng memukul panci ha-ha. Kapan lagi yekan. Hingga kini sudah dibagi lebih dari 50 ribu paket ikan ke seluruh Indonesia. Semoga ke depannya lebih banyak pihak yang terlibat di kampanye-kampanye semacam ini, ya.

Terima kasih kepada FOI dan seluruh bunda di Indonesia. Bunda adalah pahlawan pangan bagi anak-anak. Sesuai dengan ajaran Alquran surat An-Nisa ayat 9, “Dan janganlah kita meninggalkan generasi yang lemah.” Kiranya tidak ada lagi anak-anak Indonesia yang kelaparan nantinya. Aamiin. [] Haya Aliya Zaki


 

 

 

 

 

 

Selanjutnya ...

Sabtu, 07 November 2020

7 Alasan Kalian Harus Baca Berita di IDN App

 

Pada 2003, saya membaca sebuah novel futuristik karya teman. Setting novel berupa dimensi masa depan yang serbacanggih. Robot mengambil alih tugas manusia. Lalu lintas udara padat oleh helikopter mini. Demi efisiensi waktu, orang-orang cukup menelan beberapa butir kapsul sebagai pengganti makanan. Hanya, di novel dituliskan kalau orang-orang masih membaca koran cetak.

Hm, saya pikir, alat baca berita kita di masa depan pastilah ikut berubah. Mungkin kita akan membaca berita via tablet, who knows. Sekitar lima tahun lalu, apa yang saya pikirkan terbukti. Terdesak teknologi, satu per satu media cetak mengalami senja kala. Media daring mulai menjamur menggantikan media cetak. Kini kita tidak lagi asing melihat orang-orang wira-wiri sambil baca berita dari laptop, tablet, bahkan ponsel. Kehadiran teknologi yang masif sulit ditolak. Tambahan pula ketika pandemi melanda. Kita semakin bergantung pada teknologi.

Media daring berbeda dengan media cetak, terutama dari sisi kecepatan waktu dalam menyampaikan informasi. Sayangnya, faktor ini sering dijadikan pembenaran dalam menakhlikkan artikel asal-asalan. Judul clickbait di mana-mana, bahasa gaul bertebaran, narsum tidak jelas, dll. Ampun.

IDN Media

            Tentu tidak semua media daring bisa disamaratakan. Aplikasi baca berita IDN Times (IDN App) jadi media daring pilihan saya dari sekian banyak yang ada. Konten di IDN App memang ditujukan untuk Millenials (25–40 tahun) dan Gen Z (usia 5–24 tahun) di Indonesia. Meski begitu, kualitasnya tetap terjaga.           

 

Millenials dan Gen Z baca berita di IDN App

IDN App

            IDN Times merupakan bagian dari IDN Media. Dikutip dari laman web situs IDN Times, IDN Media didirikan pada tanggal 8 Juni 2014 oleh dua anak muda kece bernama Winston Utomo dan William Utomo. Visi IDN Media adalah menjadi corong suara yang efektif dari Millenials dan Gen Z dan memberikan impak yang positif kepada masyarakat. IDN Media mengoperasikan empat media digital, sbb: IDN Times, Popbela.com, Popmama.com, dan Yummy; agensi digital kreatif: IDN Creative; agensi acara: IDN Event; dan agensi marketing kreator: IDN Creator Network.

IDN Media menganut delapan nilai, yakni kesetaraan gender, persatuan  berbagai ras dan etnis, persatuan dalam agama yang berbeda, persatuan dalam pandangan dunia yang berbeda, anti-pelecehan seksual, anti-perundungan, anti-stereotip, dan redefinisi kecantikan. Delapan nilai inilah yang diperjuangkan IDN Media setiap hari. Keren! 
      

            Terus, kenapa saya memilih baca berita di IDN App? Yuk, simak jawabannya!

7 kelebihan artikel di IDN App

1. Aktual dan beragam

Siapa pemenang pemilu AS? Benarkah Indonesia mengalami resesi? Apa kabar vaksin Merah Putih? Kita bisa membaca semua berita terbaru di IDN App. Beragam kategori ada di sana. Tinggal pilih. News, Business, Sport, Tech, Hype, Life, Health, Automotive, Science, Travel. Komplet! Ada kategori Fiction buat kalian pencinta cerpen, novel, dan puisi. IDN App juga punya kategori Regional, semacam paguyuban wartawan dari berbagai daerah, seperti Yogya, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dll. Ini bagus sekali. Kita jadi tahu lebih dalam perkembangan daerah-daerah di Indonesia. Semoga ke depannya semakin banyak daerah yang dikupas.

2. Edukatif

Saya pernah membaca artikel media daring yang memberikan list web situs film-film bajakan. Ini berarti media daring tersebut berani terang-terangan mengajak pembaca menonton film ilegal?!    

Hati-hati, tingkat kepercayaan masyarakat kepada media cukup tinggi. Seyogianya media bertanggung jawab atas setiap informasi yang disampaikan. Karena selain menambah wawasan, informasi juga dapat mempengaruhi perangai masyarakat. Setuju? Semoga media daring tersebut bisa diberi sanksi dan ditertibkan.         

Saya suka baca berita di IDN App karena beritanya edukatif dan berbobot. Bahasanya ringan, tapi tidak murahan. Artikel primadona saya adalah artikel kisah inspiratif, artikel anak & wanita, dan artikel kesehatan. Berikut contohnya. Mudah-mudahan lebih banyak aplikasi baca berita kita yang seperti IDN App ini, ya.

- Kisah Nur Rohim, Guru Honorer yang Berjuang untuk Pendidikan Merauke

- Perempuan dan Anak Rentan Saat Terjadi Bencana, KPPPA Bikin Pedoman

-  5 Alasan Kamu Berjemur di Pagi Hari, Bikin Bahagia

Artikel yang saya suka di IDN App

3. Sesuai kaidah bahasa Indonesia

Tidak dimungkiri, sebagian besar pembaca media daring adalah generasi belia. Wajar jika media daring saling berlomba merebut perhatian mereka. Yang tidak wajar itu jika menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Bahasa gaul (kadang alay) bablas dipakai. Riskan jika pembaca berasal dari luar Jakarta. Mereka bisa saja tersendat-sendat membaca karena tidak paham bahasa gaul ibu kota. Ini kejadian ketika saya remaja dan masih menetap di Kota Medan. Saya sering tidak paham bahasa gaul di dalam artikel beberapa majalah remaja ibu kota. Hiks. Selain bahasa gaul yang berlebihan, bahasa amburadul juga jadi favorit media daring. Berikut contoh judul berita media daring yang bikin sakit kepala.

- Via Vallen Beli Mobil Alphard yang Diduga Dibakar Orang Secara Cash!

- Neymar dan Pacar Berondong Ibunya Dulu Akur Sekarang Tusuk Dubur

- Goreng Tempe & Tahu, Nia Ramadhani Lompat Mundur Karena Parno Minyak Meletus-Letus

Kalau artikel di IDN App, termasuk artikel taat kaidah bahasa Indonesia. Sesekali menggunakan bahasa gaul dan bahasa Inggris, tapi masih dalam koridor aman. Berikut contohnya.   

- 10 Potret Kompak Indra Bekti dan Jirayut Jadi Backstage Host POPA

- 10 Pesona Juli JKT48 yang Bikin Penggemar Klepek-Klepek!

- Meski Jadul, 9 Game Ini Masih Seru Dimainkan di Zaman Now, Lho

4. Bukan asal catut konten narsum

Dulu media harus menyambangi dan mewawancara narsum secara langsung untuk mendapatkan informasi yang akurat. Sekarang? Media daring sudah merasa cukup dengan mencatut caption medsos selebritas beserta komentar-komentar netizen. Setelah itu, ta-daaa ... jadilah sebuah berita, kadang tanpa paragraf pembuka dan paragraf penutup pula. Berita yang seharusnya berbasis fakta menjelma menjadi artikel “bisik-bisik tetangga” alias artikel gosip belaka.

Kalau di IDN App, ada kategori Hype yang mengulas segala polah selebritas. IDN App sering mengeposkan foto-foto kebersamaan selebritas dan keluarga, yang diambil dari medsos selebritas tersebut. Contohnya, berita Anak Alam Banget, 10 Momen Asyik Gisel dan Gempi Nikmati Liburan. Sekadar saran, sebaiknya konten ditambahkan hasil wawancara (via telepon, mungkin) Gisel tentang tip-tip berlibur di alam bareng anak, misalnya.

5. No clickbait clickbait club

Apakah kalian pernah mengalami, begitu selesai membaca sebuah berita, rasanya pengin gigit meja? Soalnya, judul dan isi, kok, enggak nyambung! Itu tandanya kalian terjebak artikel clickbait!

Clickbait (umpan klik) maksudnya adalah pembuat konten (entah itu artikel, video, atau yang lain) yang memanfaatkan judul untuk mendapatkan klik dari audiens. Judul harus menarik dan lain daripada yang lain. Sebenarnya tidak apa-apa, sih, kalau isi sesuai dengan judul. Hanya, yang sering terjadi, alih-alih membuat judul yang menarik, kebanyakan media daring malah membuat judul yang nyeleneh. Isi juga tidak sesuai dengan judul. Jadi, jangan heran kalau setelah melahap konten, audiens misuh-misuh komentar, “Kembalikan kuotaku!” atau “Kembalikan waktu lima menit aku membaca berita ini!”

Lebih parah lagi kalau audiens langsung share konten tanpa menelaahnya sama sekali. Hebohnya bakal berkali-kali lipat. Berasa  ada tawuran di dunia maya. Menurut hemat saya, sebaiknya kita tidak “memberi panggung” pada berita-berita semacam ini. Tidak usah diklik, tidak usah dibaca, apalagi share. Berikut contoh berita-berita clickbait media daring yang bikin kesal tujuh turunan lima tanjakan tiga belokan.

- Judul: Sniper Mati Ditembak Orang Gila, Pasukan Elit Raider TNI Tiba di Papua

Isi: cerita tentang TNI yang sedang melakukan patroli batas negara, lalu loncat ke cerita sniper Amerika, lalu loncat lagi ke cerita Presiden Turki yang ingin membangkitkan kekuatan Islam.  

- Judul: Jawaban Giring Ditanya Modal Nyapres 2024: Saya Pengalaman Memimpin Band

Isi: di dalam artikel Giring bercerita bahwa dia belajar dari pemimpin lain dan dari membaca buku-buku otobiografi, bukan mengandalkan pengalamannya sebagai pemimpin band seperti yang tertera di judul.   

- Judul: Seorang Ayah Tega Lempar 3 Anaknya ke Kereta Api yang Tengah Melintas

Isi: kejadian di Kairo, tapi foto yang dicantumkan foto kereta api Indonesia.

Baru saya kasih tiga contoh, tapi teman-teman sudah mangkel berat, kan? Syukurlah, berita di IDN App bukan berita clickbait yang aneh-aneh. Isi selalu sesuai dengan judul. Betapa beruntung mereka yang memiliki keahlian menulis. Hasil ukiran pena bisa menjadi amal jariah di akhirat kelak. Kenapa tidak sekalian kita kejar bonus ini? Kejar cuan dunia sah-sah saja, tapi jangan sampai menistakan diri jadi bulan-bulanan kemarahan pembaca. Ngeri, ah.          

Artikel IDN App keren-keren

6. Tanpa tombol klik halaman

Kalian pasti kesal dengan artikel yang memuat banyak sekali tombol klik halaman. Perasaan kita baru membaca dua paragraf, tahu-tahu disuruh klik halaman selanjutnya, begitu seterusnya sampai hati dan jari ini lelaaahhh. Saya bahkan pernah menemukan sepuluh tombol klik halaman pada sebuah artikel di media daring! Bayangkan, sepuluh! Sungguh menguji keimanan dan kesabaran, Saudara-saudara.    

Iya, iya, saya paham kenapa media daring begitu “mendewakan” klik halaman. Sebagian penghasilan media daring memang dari iklan. Traffic yang riuh bakal membuat perusahaan tergiur memasang iklan. Akan tetapi, artikel di IDN App tampil beda. Tidak ada satu pun artikel di sana yang memuat tombol klik halaman. Alhamdulillah, kita bisa membaca berita dengan tenang dari awal sampai akhir.

7. Tidak diskriminasi gender

 Media kerap menjadikan perempuan sebagai objek. Saat lagi gaduh-gaduhnya kasus penipuan First Travel, media habis-habisan “menguliti” Annisa Hasibuan. Namun, tidak demikian halnya kepada sang suami, Andika Surachman. Contoh lain, di berita pemerkosaan, korban perempuan sering disalahkan media, dikritik dari cara berpakaian sampai faktor keluar malam. Contoh lain lagi, di berita duka seorang perempuan yang wafat karena kecelakaan, masih saja media memberi embel-embel judul “Perempuan Cantik”.

Seperti yang sudah saya tulis di atas, IDN Media menganut nilai yang menentang pemberitaan-pemberitaan seperti itu. Sebaliknya, IDN Media sangat mendukung pemberdayaan perempuan. Kalian bisa mencari artikelnya #AkuPerempuan di IDN App. Berikut contohnya.     

- Nicky Oliviane, Srikandi Penyapu Ranjau Paku

- Pentingnya Partisipasi Perempuan dalam Sepak Bola

- Kisah Menarik Yacko, Rapper Perempuan yang Merangkap Akademisi

Saya suka! Saya pengin IDN App memperbanyak artikel tentang pemberdayaan perempuan, apalagi di kategori artikel hanya ada Men, tidak ada Women. Hanya, sepertinya artikel seputar perempuan terhimpun di Popbela.com dan Popmama.com. Tolong koreksi kalau saya salah.   

Nilai plus IDN App

Teman-teman sudah pada tahu, kan, kelebihan artikel IDN Times? Dijamin raga dan pikiran tetap sehat. Lebih oke lagi kalau kalian membacanya via IDN App. Ini dia tiga alasan utamanya.

1. Akses cepat

Ini, sih, bukan rahasia umum lagi. Akses via aplikasi seluler biasanya memang lebih cepat, tidak seperti akses web situs yang harus melewati proses loading terlebih dahulu. Akses IDN App termasuk lancar jaya. Selama saya pakai, belum pernah ngadat atau eror. Mungkin yang perlu diperbaiki adalah kemudahan login. Saya harus login 3-5 kali sebelum bisa benar-benar masuk ke akun pribadi.   

2. Fitur atraktif

Tampilan antarmuka IDN App memanjakan mata. Artikel dengan thumbnail dari aneka kategori hadir minimalis, bersih, dan rapi di Home. Fitur-fiturnya atraktif. Si sulung paling suka fitur Tanya Jawab karena dia bisa langsung berinteraksi dan berkenalan dengan user IDN Times yang lain. Seru!     

Guess what, IDN App sudah punya fitur mode gelap atau dark mode. Fitur mode gelap adalah fitur di mana teks berwarna putih, sementara latar belakang berwarna hitam. Saya perhatikan, belum semua aplikasi baca berita memilikinya. Fitur ini sangat disukai Gen Z, termasuk si sulung. Selain menghemat daya ponsel, kesehatan mata terlindungi ketika kita menggunakan ponsel dalam jangka waktu lama dan di malam hari. 

 

Fitur mode gelap IDN App
 

3. Minim iklan

Kalian sering terganggu iklan saat membaca berita? Nah, baca berita via IDN App, minim iklan! Tidak ada iklan yang heboh gentayangan atau muncul tiba-tiba menutupi artikel. Saya hanya melihat satu iklan muncul ketika membuka aplikasi. Itu saja.   

IDN App bisa diinstal di App Store dan Google Play Store. Oiya, selain wartawan, kita juga bisa menulis di IDN Times via IDN App. Kalau lagi senggang, buka IDN App di ponsel, pilih Tulis Artikel, dan cicil ngedraf. IDN Times mewadahi karya-karya tulis Millenials dan Gen Z di IDN Times Community. Semua artikel melalui proses kurasi yang ketat sebelum tayang. Kaidah bahasa Indonesia dan orisinalitas karya tulis sangat dicermati.

Psssttt ... tulisan yang tayang ada honornya, lo. Besar honor tergantung pada views pembaca. Sekian views diganjar sekian poin. Poin akan dikonversikan ke rupiah. Berarti semakin banyak views, semakin besar pula honor kalian. Mantap, kan? Saya berencana menulis di IDN Times. Beberapa hari yang lalu sudah bikin akun. Ayo, kalian juga, dong! Kita ramaikan jagat maya dengan konten positif. Baca berita di IDN App dan coba menulis di sana, ya! [] Haya Aliya Zaki


Selanjutnya ...

Jumat, 30 Oktober 2020

Peran Media dalam Memerangi Kelaparan pada Balita

Dua hari yang lalu kita merayakan Hari Sumpah Pemuda, kan. Hayo, ada yang masih ingat tak apa aja isi Sumpah Pemuda? :) Saya merayakannya dengan berbincang-bincang bersama teman-teman dari Foodbank of Indonesia (FOI) dan media di dunia maya. Topik yang diangkat sbb: Catatan di Hari Sumpah Pemuda: Media Bisa Akhiri Kelaparan Balita. Hm, benarkah media bisa akhiri kelaparan balita? Bagaimana caranya, ya?

“Meski sudah merdeka, momen Hari Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa perjuangan belum berakhir. Salah satu cita-cita pendahulu kita adalah semua WNI mendapatkan akses pangan yang baik. Faktanya, masih banyak warga yang kelaparan, termasuk anak-anak. Berdasarkan survei FOI pada 284 PAUD di 13 wilayah, sekitar 57% anak-anak dari pagi sampai siang beraktivitas dengan perut kosong,” demikian kata sambutan dari Pak Hendro Utomo, Founder FOI. FOI organisasi nirlaba yang berdiri pada tanggal 21 Mei 2015 di bawah Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. 

 




    

Indonesia dan kelaparan pada balita

Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia dan jadi bagian dari HAM. Data dari Indeks Kelaparan Global 2019, Indonesia menghadapi masalah kelaparan yang serius, lo. Kelaparan terbagi dua, yakni kelaparan karena kemiskinan dan kelaparan yang tersembunyi a.k.a hidden hunger. Saya baru tahu istilah hidden hunger ini. Hidden hunger maksudnya fenomena kekurangan vitamin dan mineral yang dapat berujung pada stunting (balita gagal tumbuh). Ironis, kasus kelaparan balita malah banyak terjadi di wilayah penghasil pangan seperti Cianjur, Brebes, Subang, dll.        

Fyi, jangan pikir kasus kelaparan ini ada di wilayah pelosok Indonesia doang. Di kota-kota juga! Rata-rata orangtua tidak masak di rumah. Anak-anak berangkat ke sekolah hanya berbekal uang jajan. Well, sudah bisa ditebaklah ya jajanan kesenangan anak-anak apa, biasanya makanan bercitarasa tajam; makanan manis, asam, asin, warna-warni, dan nilai gizinya rendah. Tambahan pula kondisi pandemi Covid-19 seperti ini. Kasus kelaparan jelas meningkat.

Pak Hendro khawatir kita bakal kehilangan satu generasi. Negara kita tidak akan bisa bersaing dengan negara lain jika pemuda-pemudanya pada lemas dan lemot. Masa depan hanya digenggam oleh bangsa yang cerdas dan kreatif!
      

Hak anak atas pangan

Ibu Lenny N. Rosalin, Deputi Menteri Bidang Tumbuh Kembang Anak KPPPA, memaparkan bahwa dari 267 juta penduduk Indonesia, sekitar 79,5 juta itu usia anak (di bawah 18 tahun). Usia balitanya ada 8% dari 79,5 juta jiwa tadi dan hanya 85% usia balita diasuh oleh orangtua kandung. Sisanya diasuh oleh orangtua pengganti (anggota keluarga lain, panti, pengungsian, dll). Orangtua pengasuh menjadi faktor penentu kualitas balita yang diasuh.   

  Ibu Lenny memberi beberapa contoh kasus hak anak atas pangan yang terzalimi. Misalnya, pemberian ASI, hanya 2 dari 3 anak di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif. Ibu-ibu belum paham bahwa menyusui bisa membantu tumbuh kembang anak. Lalu, rokok. Rokok jadi komoditi kedua tertinggi setelah makanan pokok beras. Bayangkan! Hari gini kok masih banyak orangtua yang lebih memilih ngudud daripada memenuhi gizi anak. Sungguh ter-la-luh. Seandainya uang rokok dibelikan telur dan susu, gizi anak bisa terpenuhi.      

Ada lima track yang dipakai untuk mengatasi balita kekurangan gizi. Satu yang menarik bagi saya adalah track anak menolong anak. Anak-anak usia pra-remaja dan remaja dilatih menjadi Pelopor dan Pelapor, di mana mereka belajar mencerna dan melaporkan kasus anak di sekitar. Jika mereka melihat ada anak yang kekurangan gizi, sakit, mendapat KDRT, dst, mereka akan membantu melaporkannya ke lembaga terkait. Keren, ya. Saya pernah menulis artikel tentang anak-anak Pelopor dan Pelapor di blog ini. Silakan teman-teman search.    

Pangan lokal sebagai pangan pilihan

            Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, mengajak kita semua kembali ke pangan lokal. Pangan lokal bukan alternatif, melainkan pilihan. Banyak pangan lokal yang bernilai gizi baik dan harganya tidak pula mahal.    

            Hal yang sama diungkapkan oleh Ibu Nur Kholis Bunda PAUD, relawan FOI. Beliau bercerita banyak tentang aktivitasnya mengenalkan pangan lokal di lingkungan PAUD. Hal ini semacam tantangan karena anak-anak sudah terbiasa dengan makanan instan. “Olah pangan lokal jadi makanan yang menggiurkan, minimal anak-anak mencicipi saja dulu,” kata Ibu Nur. Contoh, bunga telang. Bunga telang bisa diolah antara lain jadi teh tarik bunga telang, puding lapis bunga telang, dan nasi biru bunga telang. Yummy! Tuh, Bunda PAUD sudah berusaha menjalankan tugas, eksekusi selanjutnya sangat tergantung kepada orangtua.     

            Shahnaz Haque, seorang ibu dan figur publik, menegaskan bahwa ibu punya peran penting soal suplai pangan karena biasanya ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak. Ciptakan memori di kepala anak akan makanan sehat. Kelak anak melakukan hal yang sama kepada keturunannya. Misal, anak yang punya memori selalu disuguhkan sayur buah, kelak akan berlaku sama kepada keturunannya, sebaliknya anak yang punya memori selalu disuguhkan gorengan, kelak demikian pula. Setuju banget, Shahnaz! Tidak mungkin anak ujug-ujug doyan sayur buah atau gorengan kalau bukan karena habit yang ditanamkan oleh orangtua. Cinta dibentuk oleh pengalaman dan proses yang berulang.         

Peran media akhiri kelaparan balita

Sering bahasa akademisi topik pangan dan gizi sulit dipahami. Media bisa membantu membangun narasi sedemikian rupa, menuliskannya dengan bahasa yang mudah masuk di pemikiran awam. Selain lebih gencar mengangkat isu kelaparan pada balita Indonesia, Ibu Nur ingin media lebih banyak melahirkan tulisan tentang ide bagaimana mengolah pangan lokal yang kekinian, cara memanfaatkan pekarangan, usaha ternak mandiri, dll. Edukasi dari media diharap mampu mengubah perilaku para orangtua soal pemenuhan hak anak atas pangan.      

“Tugas media tidak sekadar membuat tulisan, tapi juga harus memberikan solusi kepada publik.” Andreas Maryanto, wartawan senior Kompas

            Insyaallah FOI komit membantu masyarakat mencari solusi untuk menangani masalah pangan. FOI bergerak dalam redistribusi makanan berlebih sebagai upaya mencegah kemubaziran pangan dan membuka akses pangan bagi kelompok rentan, salah satunya balita. Selama lima tahun terakhir, FOI konsisten membantu melalui program-program pendampingan masyarakat berbasis pangan, seperti Sayap dari Ibu (SADARI), Mentari Bangsaku, dan Pos Pangan. Kini FOI sedang menggalakkan kampanye Aksi 1000 Bunda untuk Indonesia Seri Ikan untuk Anak bersama Beejay Seafood di mana akan diberikan ikan kepada 20 ribu anak di 7 provinsi di Indonesia sebagai aksi nyata kembali ke pangan lokal.  

 




Yuk, teman-teman media kita bergandengan tangan terlibat dalam isu kelaparan balita demi mewujudkan Indonesia Merdeka 100% dari rasa lapar. Semoga anak-anak Indonesia tetap dapat mengakses pangan bergizi di tengah kesulitan ekonomi yang melanda negeri. [] Haya Aliya Zaki

 

Selanjutnya ...

Jumat, 23 Oktober 2020

5 Ide Seru Berbagi di Saat Pandemi

 

Oktober 2020 jadi penanda genap 8 bulan kita survive dari pandemi Covid-19, Teman-teman. Peluk diri sorangan dulu ah, ... masya Allah. Bukan hal yang mudah untuk melaluinya mengingat chaos yang mengemuka, terutama dari sisi kesehatan dan ekonomi.

Meski dunia sedang sesak diimpit pandemi, semangat berbagi pantang surut ke belakang. Mungkin kalian pernah mendengar kalimat, “Berbagi tidak bikin rugi.” Ya, ini kalimat klise memang, tapi benar adanya. Beruntung kita, berbagi justru mengganda perasaan bahagia. Kok bisa?

Ternyata, eh, ternyata, berdasarkan penelitian, sikap berbagi memicu produksi hormon endorfin di otak. Kita akan merasakan sesuatu yang disebut helper’s high. Efeknya menyenangkan dan menenangkan. Stephen Post, profesor kedokteran preventif di Universitas Stony Brook, bahkan menuliskan di dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People, bahwa berbagi dapat meningkatkan kesehatan orang-orang berpenyakit kronis, termasuk HIV/AIDS dan sklerosis ganda (Greatmind.id, 2018).

 

Pandemi mengubah cara kita berbagi       

Btw, sejak pandemi, kalian selalu cuci tangan dan pakai masker, kan? Kalian juga jadi lebih hemat dan hati-hati dalam mengontrol keuangan, kan? Perlu dicatat, bukan cuma healthy and money habits yang berubah karena pandemi, cara kita berbagi pun demikian.

Sebelum pandemi, mungkin kita kerap menyambangi anak yatim dan kaum dhuafa ke panti-panti atau mengundang mereka datang ke rumah untuk memberi santunan. Sekarang mission impossible, ya. Kerumunan merupakan sumber utama penyebaran virus korona. Kalau nekat rame-rame, kita bakal didenda dan siap-siap tidur di balik sempitnya jeruji besi.   

Kangen kumpul sama anak-anak yatim ini (foto sebelum pandemi)

Tapi, tidak perlu khawatir. Berbagi ada banyak cara dan bisa dilakukan dengan banyak cara. Saya sering memanfaatkan dunia maya. Teknologi era baru terbukti ampuh merobohkan tembok penghalang manusia dalam berkomunikasi. Berkat teknologi, bantuan kemanusiaan tersebar lebih luas dan tiba dalam waktu yang lebih cepat pula. Berikut 5 ide semangat berbagi di era baru, terutama di saat pandemi.      

 

1. Berbagi hiburan

            Selama pandemi, pemerintah mewajibkan sebagian perusahaan melakoni work from home (WFH). Siapa bilang WFH = leyeh-leyeh a.k.a malas-malasan di rumah? Faktanya, tanpa kita sadari, WFH malah membuat jam kerja kita semakin panjang. Batas jam kerja dengan jam bersama keluarga menjadi samar-samar. Badan kelewat lelah. Level stres meningkat. Ini belum termasuk problem orangtua yang harus full mendampingi anak-anak belajar di rumah.  

            Pepatah bilang, ketawa adalah obat. Saya pribadi senang mencari “obat” yang murah meriah di media sosial. Media sosial riuh menyajikan konten humor. Rata-rata kreatornya dari kalangan muda. Humor receh? Itu yang kerap bikin jatuh hati! Kalau kalian hobi bikin teman cekikikan, silakan dijajal. Hanya, hati-hati, hindari konten yang menyinggung SARA atau provokatif.

 

2. Berbagi ilmu

Rata-rata generasi Z kalau ditanya cita-citanya apa, mereka pada menjawab ... jadi YouTuber! Kesannya YouTuber itu populer dan bergelimang fulus. Miris melihat akhirnya begitu berjebah konten prank tidak jelas di dunia maya demi fulus.

Sebaliknya, teman saya yang seorang guru Fisika, kian giat berbagi ilmu melalui YouTube sejak pandemi melanda. Waktu luang setelah mengajar daring digunakan untuk membuat dan mengunggah video teori-teori Fisika dasar serta soal-soal latihan. Dia sadar, saat pandemi, langkah para siswa untuk belajar (di sekolah maupun bimbel) amatlah terbatas karena larangan keluar rumah dari pemerintah. Kiranya berbagi ilmu Fisika di YouTube bisa sedikit membantu. Terpujilah mereka yang gemar berbagi ilmu. Yang begini ini nih bikin demen. Selain fahala, eh, pahala, kadang berkah fulus pula ngintili. Dua-duanya sama-sama beraroma harum.     

 

 

3. Berbagi dan bekerja sama

Kalau kalian punya media sosial, jangan dianggurin, apalagi kalau jumlah followers dan engagement-nya lumayan. Kenapa tidak coba berbagi dengan cara support bisnis UMKM lokal, terutama yang baru merintis? Soalnya banyak bisnis UMKM lokal yang luluh lantak karena pandemi.

Kadang saya menggunakan blog dan Instagram sebagai ajang promosi cuma-cuma. Saya pernah mengajak beberapa pengusaha UMKM lokal untuk bekerja sama. Sebagian produk dikirimkan gratis, sebagian lagi saya beli sendiri. Kami berdiskusi soal produknya, bagaimana fotonya, pemilihan caption-nya, dst. Kerja sama yang mengasyikkan dan insyaallah berfaedah bagi kedua belah pihak.       

 

4. Berbagi makanan

Saat pandemi, bisnis kuliner semakin marak. Orang-orang dari berbagai profesi banting setir jadi penjual makanan. Belakangan beredar info di media sosial, maskapai penerbangan membuka restoran dan menjual gorengan. Brand makanan global turun ke jalan menawarkan makanan berdampingan dengan pedagang kaki lima. Semua berjuang menyambung hidup dengan caranya masing-masing.   

            Beberapa teman saya menjual paket makanan sekaligus menerima jasa menyalurkannya langsung kepada kaum tidak mampu. Sebelum pandemi, teman-teman katering acap mencetak brosur dan mengirimkannya dari rumah ke rumah. Kini mereka mengandalkan brodkes melalui media sosial dan grup WhatsApp.

Kita bisa memilih berbagi dengan cara ini. Ibarat kata peribahasa, sekali merangkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Kita membantu menglariskan usaha teman, kita membantu kaum tidak mampu, dan sesungguhnya kita membantu diri kita sendiri karena menerima balik energi bahagia, seperti yang sudah saya sebutkan di atas itu tadi.        

 

5. Berbagi bersama LAZ UCare Indonesia

Last but not least, kita bisa berbagi donasi melalui LAZ UCare Indonesia. Dikutip dari laman web situs mereka, LAZ UCare Indonesia merupakan lembaga amil zakat yang berdiri pada tanggal 3 Oktober 2017 di Kota Bekasi. Barakallah, berarti Oktober 2020 LAZ UCare Indonesia genap berusia 3 tahun yay. Lembaga ini berkhidmat mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan dana sosial lainnya, termasuk dana CSR.  

 

Web situs LAZ UCare Indonesia

LAZ UCare Indonesia memiliki beberapa program, yakni Cinta Berdaya (wirausaha), Cinta Yatim (mengasihi yatim), Cinta Sehat (kesehatan), Cinta Ilmu (pendidikan), dan Cinta Insani (peduli lingkungan sekitar).

Sejumlah prestasi telah diraih, salah satunya Lembaga Amil Zakat Terbaik Tingkat Kota/Kabupaten dari BAZNAS Provinsi Jawa Barat (2019). Kelebihan LAZ UCare Indonesia dibandingkan lembaga amil zakat lainnya adalah mereka aktif menjadi penghubung antara pendonor dan penerima manfaat di wilayah Kota Bekasi demi meningkatkan kemakmuran, khususnya bagi kaum tidak mampu.

Cara berdonasi di LAZ UCare Indonesia cukup mudah. Kita masuk ke web situs LAZ UCare Indonesia dan pilih button di sebelah kanan apakah Zakat, Infaq, Shodaqoh, atau Donasi. Kalau mau pilih semuanya juga boleh he-he-he.   

Saya pilih Shodaqoh

Isi nominal donasi

Isi data-data kalian

Nah, tinggal transfer dan konfimasi via WhatsApp, deh

Kalau yang ini via Instagram (klik link di bio)

Pilih mau donasi ke mana 


Ke depannya saya berharap LAZ UCare Indonesia hadir dalam bentuk aplikasi khusus. Tampilan antarmuka menarik. Deretan fitur baik. Akses info terbaru lebih cepat, tidak seperti web situs yang harus melalui proses loading terlebih dahulu. Pastinya berdonasi pun bakal lebih mudah, ya. Teman-teman punya ide seru lain berbagi di era baru, terutama di saat pandemi? Kalian sudah tahu LAZ UCare Indonesia juga? Share di sini, yuk! [] Haya Aliya Zaki

 

“Tulisan ini diikutsertakan dalam  

lomba blog LAZ UCare Indonesia 2020”

 


Selanjutnya ...

Iklan