Jumat, 10 Agustus 2018

Jangan Anggap Enteng Obesitas pada Anak


Siapa sih yang enggak gemes melihat anak yang pipinya gembil dan badannya gempal? Kalau berjalan, lemak di tubuh mereka sampai bergetar-getar. Pasti rasanya pengin kita cubit-cubut melulu! Dalam hati mungkin kita berdoa, suatu saat pengin punya anak gendut. Tapiii, tapiii,  tunggu dulu! Apakah anak-anak yang kondisinya seperti ini baik dari sisi kesehatan? Jika dibiarkan tetap gendut, anak bisa mengalami obesitas.
Fyi, obesitas (obes) pada anak merupakan suatu hal yang serius. Bertahun-tahun silam sekitar 2% anak-anak mengalami obes. Sekarang? Jumlahnya naik menjadi 16,5%. Anak obes rentan penyakit, padahal anak adalah aset besar bangsa kita untuk 15–20 tahun yang akan datang. Apa jadinya kalau negeri kita punya generasi penerus yang sakit-sakitan?

Maka dari itu, dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional, RS Royal Progress Jakarta Utara berinisiatif mengadakan talkshow bertema Obesitas pada Anak di Up In Smoke Restaurant, Kuningan, Jakarta (3/8).

Pak Adithia Budhi
Pak Adithia Budhi, Marketing and Sales Director RS Royal Progress

Obesitas-pada-anak
Suasana talkshow Obesitas pada Anak

cek-tensi-gula-darah
Saya dkk blogger cek tensi dan gula darah sebelum acara

Alhamdulillah normal! :))

 

RS Royal Progress Jakarta Utara

            Oke, sebelum membahas tentang anak obes, saya akan mengulas secara singkat profil RS Royal Progress. Rumah sakit yang berlokasi di daerah Sunter, Jakarta Utara, ini sudah berdiri sejak tahun 1990, lho. RS Royal Progress punya klinik untuk perempuan, klinik kecantikan, klinik untuk anak, klinik untuk anak-anak berkebutuhan khusus, klinik hemodialisa, klinik untuk cedera olahraga (Royal Sports Medicine), klinik mata, klinik untuk mengecek gangguan tidur (Royal Sleep Institute), dll. Teman-teman yang sering insomnia bisa check up di sini hehe. Sejak tahun lalu, RS Royal Progress merupakan official medical partner timnas PSSI dan atlet-atlet basket. 

Obesitas pada anak

Obesitas pada anak adalah suatu keadaan di mana terjadi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan anak jauh di atas normal. Ciri-ciri anak obes sbb: pipi tembam, dagu rangkap, perut buncit, kaki pendek berbentuk X, dan lemak di tubuh tampak berlipat-lipat. Penyebabnya, energi yang masuk lebih besar daripada energi yang keluar. Pola makan tidak seimbang dengan aktivitas fisik. You know, zaman sekarang anak-anak lebih tertarik duduk main games soccer di gadget dibandingkan main bola beneran di lapangan.
Menurut Ibu dr. Lucie Permana Sari, SP.A., kondisi obes juga disebabkan oleh faktor genetik. Biasanya orangtua yang obes akan punya anak-anak yang obes juga. Ya iyalaaah kalau orangtua setiap hari makan junk food, otomatis anak-anaknya meniru taiye. Mission impossible anak-anak hobi makan sayur dan buah kalau orangtuanya setiap hari makan junk food.  
Anak obes berisiko terkena sesak napas, terjadi penumpukan lemak di hati dan pembuluh darah, pubertas dini, tapak kaki rata, pertumbuhan tulang tidak optimal, dan masalah interaksi sosial. Duh, kasihan, ya.

            Btw, saya benar-benar baru tahu, anak obes rentan patah tulang (fraktur) atau geser tulang karena tulang tidak sanggup menyangga beban tubuh. Hati-hati, soalnya kata Ibu Dr. dr. I. Rika Haryono, Sp.Ko., pernah kejadian waktu anak obes lari-lari, kemudian tersandung, kakinya patah. 
Pencegahan dan pengobatan obesitas pada anak
            Kita sebagai orangtua punya peran besar untuk mencegah dan mengobati anak obes. Ganti camilan gorengan dengan sayur dan buah. Hindari perilaku makan sambil menonton teve, main komputer, dan gadget.
Lakukan aktivitas fisik minimal satu jam lima kali dalam seminggu. Latihan fisik juga jangan langsung yang berat-berat ya, Teman-teman. Anak obes mudah cedera. Jalan kaki, berenang, main sepeda, itu boleh. Intinya lebih ke bermain, bukan olahraga. Seiring berjalannya waktu, level latihan fisik bisa dinaikkan sedikit-sedikit. 

Baca juga: Hari Obesitas Sedunia: Cegah dan Kendalikan Obesitas pada Anak
 Masalah interaksi sosial pada anak yang obesitas
            Tadi saya sudah menyebutkan bahwa anak obes berisiko memiliki masalah dalam interaksi sosial mereka. Maksudnya gimana, nih? Jadi, anak-anak yang obes ini sering di-bully oleh teman-temannya. Obes bukan cuma mempengaruhi fisik, melainkan juga psikis mereka. Mereka merasa berbeda. Mereka tidak percaya diri dan merasa tidak berharga. Sedih, gugup, cemas, marah, stres, akan dialami, terutama pada anak perempuan. Pola belajar pun terganggu. Orangtua, lingkungan sekolah, dan masyarakat berperan membentuk gangguan sosial emosi anak obes. 

narasumber-acara-obesitas-pada-anak
Narsum acara

demo-masak
Demo masak

demo-masak
Hmmm ... sedaaappp!

Ibu Nadia Rachman, M. Psi, Psikolog memberi saran kepada orangtua, khususnya, untuk mendekatkan diri dan menyelami perasaan anak. Puji anak ketika melakukan hal-hal positif, even itu hal kecil seperti membereskan tempat tidur atau menaruh sepatu di tempatnya. Ajak anak untuk mengikuti aktivitas dan lomba yang mereka suka. Ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak, selain kita juga terus berusaha untuk mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih sehat. Akur? Informasi lebih lanjut soal anak obes dan medical check up bisa ke RS Royal Progress, ya.       
Beda dengan talkshow kesehatan lainnya, di talkshow kali ini saya dkk blogger diajak untuk mengikuti demo masak bersama Chef Ferdy. Kami belajar membuat menu vegan yang sehat untuk anak. Seru dan enak pastinya. Saya aja doyan, apalagi anak-anak haha. Nah, teman-teman punya pengalaman atau cerita seputar anak obes? Apa yang kalian lakukan untuk mencegah atau mengobati? Yuk, share di sini! [] Haya Aliya Zaki

 Foto-foto milik Dear Blogger Net

6 komentar:

  1. Wah anak saya kira2 masuk obesitas ga yah, hiks sudah sedih deh. Harus dari sekarang nih memperhatikan ini, makasih banyak mbak Haya informasinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, sama-sama. Boleh cek ke ahli gizi apakah masuk ke gemuk, obesitas 1, atau obesitas 2.

      Hapus
  2. Gemuk belum tentu obesitas, tapi obesitas sudah pasti gemukkk. Yekann

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa tapi kalau gemuk terus, takutnya lama-lama juga bisa naik level jadi obesitas yekaaan. 😁

      Hapus
  3. Mbak Haya masih bisa senyam senyum nih sebelum cek tensi. Aku mah setreeees hahahaha.

    BalasHapus
  4. Dulu aku seneng banget liat Wawa gembil. Sekarang agak agak gimanaaa gichu, gak ngurangin makannya sih soalnya masih masa pertumbuhan, cuma perlu diperbanyak lagi aja aktvitas fisiknya ya

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan