Rabu, 16 Mei 2018

Dahsyatnya Manfaat Menulis Tangan


Permisiii … numpang lewat … mau tanya, kapan terakhir kali kalian menulis?
Maksud saya, menulis di atas kertas, bukan mengetik di gadget atau laptop.
Berdasarkan info yang saya kutip dari situs hellosehat.com, satu dari tiga orang ternyata sama sekali tidak pernah menulis di atas kertas selama lebih dari enam bulan! Ini hasil survei yang dilakukan oleh Docmail, sebuah perusahaan pengiriman surat dan percetakan di Inggris, terhadap dua ribu responden pada tahun 2014.  
Kebayang ya itu survei tahun 2014, lho. Sekarang mesti tambah banyak orang yang jarang menulis, Teman-teman. Pasalnya, teknologi yang canggih semakin hari membuat kita semakin pengin say goodbye for good sama kegiatan menulis. Tinggal pencet tombol ini itu kerjaan beres. Hari gini teknologi begitu diagung-agungkan.
Nah, orang dewasa aja males menulis, apalagi generasi milenial? Sejak kecil generasi milenial udah kenal sama yang namanya gadget. Jujur, saya sering adu urat leher setiap kali mengajak si bungsu (7 tahun) untuk menulis tegak bersambung di buku tulis hiks. Kalau saya pribadi sempat mencoba rutin mengisi daily plan di aplikasi Evernote, tapi dasarnya saya generasi jadoel, akhirnya balik lagi ke buku agenda. Sensasi menulis di atas kertas berbeda dengan mengetik di gadget atau laptop. Saya bisa memberi stabilo warna-warni, bikin gambar ala ala, menempel tiket atau foto, aaah … seru!
 Makanya, waktu diundang ke acara Membangun Generasi Cerdas Indonesia Melalui Kebiasaan Menulis di Morrisey Hotel, Jakarta (8/5) oleh SiDU, saya senang banget! Siapa sih yang enggak kenal SiDU?
SiDU atau Sinar Dunia adalah merek buku tulis unggulan Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas yang udah hits sejak zaman old. Rupanya, oh, rupanya sekarang SiDU punya wadah baru untuk meningkatkan kompetensi generasi milenial melalui gerakan nasional Ayo Menulis Bersama SiDU!.   

Ayo Menulis Bersama SiDU!

Terus, apa hubungannya kompetensi generasi milenial dengan menulis?
Menurut Kak Nurman Siagian (Pakar Edukasi Anak dari Wahana Visi Indonesia), kompetensi anak Indonesia sedang mencapai tahap kritis. Hasil survei tiga tahunan dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang dikeluarkan oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 60 dari 72 negara dari sisi kemampuan membaca, matematika, dan science. Wah, wah, asli ini bikin kaget! Indonesia kalah dibandingkan Malaysia dan Kamboja yang masuk 40 besar.
Fakta berikutnya, Pak Muhadjir Effendy (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI) menyampaikan kegalauan beliau saat melakukan uji publik RUU Perbukuan tahun 2017 di Universitas Muhammadiyah Malang. Kesulitan anak-anak SMA, bahkan mahasiswa, untuk menulis sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu masih cukup tinggi. Hmmm, kebanyakan ngetik status di medsos apa ini, ya. Mana statusnya pada alay dan disingkat-singkat pula.
Fakta berikutnya lagi, berdasarkan hasil studi dari Kemendikbud tahun 2014, skor kompetensi rata-rata guru di Indonesia 44,5 sementara yang ideal adalah 70. Pengamatan Kak Nurman dan tim Wahana Visi Indonesia, guru-guru masih kesusahan menulis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mereka sendiri. Biasanya pada main copy paste aja. Hanya 25% dari 125 guru yang mampu menulis dan mengajarkan apa yang mereka tuliskan itu di dalam kelas. Kondisi guru yang seperti ini jelas berpengaruh pada kondisi siswa.         
Di acara juga hadir Ibu Melly Kiong (Praktisi Mindful Parenting dan penulis buku). Saya fans berat buku-buku beliau terutama yang berjudul Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik?. Ibu Melly menjelaskan bahwa sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, beliau memiliki lebih sedikit waktu dalam mendidik anak. Lalu, apa kuncinya agar bisa optimal? Jawabannya: menulis!
Ibu Melly punya support system, yakni mbak ART yang sebelumnya udah diajarkan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak-anak di rumah. Istilah Ibu Melly: menjalin kemitraan dengan mbak ART. Selain itu, setiap hari Ibu Melly tidak pernah alpa menulis pesan untuk anak-anak di mocil (memo kecil).
“Pagi hari, ketika saya mulai meraut pensil, anak-anak duduk tekun memperhatikan. Dari situ saja kami bisa menjalin ikatan emosional. Tanpa sadar, anak-anak belajar menyenangi kegiatan menulis. Saat mereka beranjak besar, kami bergantian menulis pesan. Melalui tulisan sederhana anak-anak, saya dapat melihat talenta terpendam mereka atau bahkan masalah yang sedang mereka hadapi di sekolah. Sekarang mereka sudah remaja, mocil masih kami simpan sebagai kenang-kenangan,” kata Ibu Melly dengan wajah terharu. So sweet banget mendengar cerita Ibu Melly. Kami-kami jadi ikutan terharu. Fyi, Ibu Melly masih menyimpan semua gigi susu anaknya di dalam selipan buku tulis!
Ibu Melly yang juga penggagas Komunitas Menata Keluarga (eMKa) ini mencoba menularkan aktivitas menulis yang bermanfaat melalui program SAGITA (Saling Berbagi Cerita) kepada ibu-ibu member komunitasnya. Member diminta memperhatikan aksi baik anak setiap hari dan menuliskannya menjadi cerita. Wih, kece, ya?   
Menulis tangan merupakan keterampilan dasar yang mendukung berbagai aktivitas. Dengan menulis tangan, kita belajar mengkonstruksi isi pikiran, mengolahnya, kemudian menuangkannya menjadi kata demi kata yang bisa dipahami pembaca. Daya ingat kuat dipelihara. Kemampuan motorik pun terasah. Penting banget ini untuk anak-anak.

Berbeda dengan mengetik keyboard di gadget atau laptop, semua gerakan monoton dan selalu sama apa pun huruf yang ditik. Dari sisi kesehatan lainnya, mengungkapkan perasaan dan pikiran melalui tulisan tangan, dianggap ampuh membantu menyembuhkan luka traumatis.
Fayanna Ailisha Davianny, peraih penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, turut berbagi di acara ini. Kalau saya punya sepuluh jempol, saya acungin deh semuanya untuk Fayanna. Lha, gimana enggak? Usia 13 tahun, doi rampung menulis 42 buku! Berkat menulis buku, Fayanna bisa jalan-jalan gratis ke Korea Selatan dan mengajak orangtuanya pula. Pasang #LuarBiasa!
Kesukaan Fayanna akan dunia menulis ternyata dimulai dari hal sederhana, yakni dibacakan buku oleh orangtuanya sejak dia berusia 1 tahun. Fayanna sering diajak orangtua main ke toko buku. Seterusnya, Fayanna jadi hobi membaca buku sendiri. Dia berlatih serius menulis cerita pada usia 8 tahun dan menuliskannya di buku tulis. Orangtua juga mengajari Fayanna cara memenej waktu antara menulis, sekolah, dan kegiatan lainnya.         
 “Berangkat dari kepedulian kami terhadap pentingnya meningkatkan kompetensi anak, SiDU merintis gerakan Ayo Menulis Bersama SiDU! sejak April 2018 demi mengembalikan kebiasaan menulis pada anak baik di sekolah maupun di rumah,” tutur Pak Martin Jimi (Domestic Business Head - BU Consumer APP Sinar Mas).


Ibu Melly Kiong, praktisi Mindful Parenting dan penulis buku

Pak Martin Jimi, Domestic Business Head - BU Consumer APP Sinar Mas

Fayanna Ailisha Davianny, remaja penulis 42 buku

SiDU mengunjungi SDN Pesanggrahan 03 Jakarta Selatan
 
Tahap pertama, gerakan ini melibatkan 20 ribu murid dari 100 sekolah dasar di Jabodetabek yang berlangsung hingga Mei 2018. Anak-anak diberikan buku Ayo Menulis Bersama SiDU! untuk berlatih menulis tangan. Teman-teman mau tahu siapa penulis naskah di buku Ayo Menulis Bersama SiDU!? Beliau tak lain dan tak bukan adalah teman saya, Mbak Renny Yaniar, penulis ratusan buku cerita anak. Ikut bangga!
Di dalam buku Ayo Menulis Bersama SiDU! ada aneka topik yang memancing minat anak untuk menulis dari topik mengenal diri sendiri, mengetahui asal mula kertas, dongeng, lembar mewarnai, sampai perhelatan Asian Games 2018, di mana APP Sinar Mas menjadi mitra resmi yang turut mendukung Indonesia sebagai tuan rumah.
Pertanyaan-pertanyaan di dalam buku membantu menstimulus anak untuk mengutarakan ide dan pendapatnya melalui tulisan tangan. Orangtua dan guru dilibatkan mendampingi secara intensif dengan modul yang berlangsung selama 21 hari. 
Btw, kenapa 21 hari, ya? SiDU menyusun modul buku Ayo Menulis Bersama SiDU! berdasarkan studi bahwa kebiasaan baru dapat dibentuk jika kita rutin melakukannya selama minimal 21 hari.
Karena itu, gerakan Ayo Menulis Bersama SiDU! patut kita apresiasi dan support! APP Sinar Mas melalui SiDU berharap program Ayo Menulis Bersama SiDU! dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Indonesia dan menjadi motor munculnya program-program sejenis. Semoga kebiasaan menulis, terutama menulis tangan, semakin meluas di Indonesia.
Sekadar info, buku Ayo Menulis Bersama SiDU! tidak dijual bebas. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, buku ini disalurkan GRATIS ke sekolah-sekolah yang bekerja sama dengan SiDU. Teman-teman pengin sekolah anaknya bekerja sama dengan SiDU? Silakan mendaftar di web situs Ayo Menulis Bersama SiDU. Kita bukan hanya bisa memberikan kebaikan untuk anak kita, melainkan kebaikan untuk satu sekolah. [] Haya Aliya Zaki

5 komentar:

  1. Informasi yg bagus nih, Mbak. Mau juga ah daftarin sekolahku. Soal kompetensi guru yg baru di angka 44,5 itu memang benar adanya, Mbak. Apalagi untuk tahun ini akan dipasang target di atas 70.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, aku baru tahu soal kompetensi guru ini, Mbak. Silakan mendaftar di web situs SiDU. Mudah-mudahan bisa bekerja sama ya.

      Hapus
  2. wah baru tau data guru yg biasa copas nulis RPP bahkan soal kompetensi juga kok jauh y mba dari idealnya.

    Aku jadi pengen beli bukunya bu Melly menarik banget 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk dibeli buku Bu Melly. Isinya practical banget. Gak ada teori-teori njelimet. :D

      Hapus
  3. Kalo anaknya Homeschooling gimana Kak?, pengen punya bukunya

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan