Rabu, 31 Januari 2018

Darurat Kondisi Kesehatan Papua, Cerita Pilu dari Negeri Paling Timur di Indonesia

Teman-teman, apa yang terbayang di benak kalian jika ada yang menyebutkan kata “Papua”? Mungkin Raja Ampat yang super-indah, ya? Well, di balik keindahan alam dan keunikan tradisinya, ada cerita pilu dari negeri paling timur di Indonesia ini.

Belakangan beredar kabar bahwa puluhan anak di Kabupaten Asmat meninggal karena wabah campak dan gizi buruk. Hingga kini ratusan anak butuh pertolongan. Sebenarnya gimana kondisi di Papua?




Dua hari yang lalu saya dan rekan-rekan media mendapat undangan dari Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Gedung Depan Kominfo RI, Jl. Medan Merdeka Barat no. 9, Jakarta Pusat untuk mendengarkan langsung pernjelasan tentang tantangan kesehatan Papua dari narsum terkait. Kali ini narsumnya cukup banyak; Bu Nila Moeloek (Menteri Kesehatan RI), Pak Idrus Marham (Menteri Sosial RI), Pak Yanuar Nugroho (Deputi II Kepala Staf Kepresidenan/KSP), Pak Mayjen Sabrar Fadhilah (Kapuspen TNI), dan Bu Diah Indrajati (PLT Direktur Jenderal Pembangunan Bina Daerah). 

Menyimak dari berbagai kasus kesehatan di Indonesia, Ibu Nila menegaskan supaya masyarakat melakukan tindakan preventif dan promotif terhadap kesehatan, bukan sekadar mengobati yang telah sakit. Ya seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Saya jadi teringat salah satu peraturan pemerintah Jepang, yakni memberikan sanksi kepada penduduk yang obesitas. Penduduk Jepang wajib menjaga kesehatan. Tujuannya untuk mengurangi jumlah pasien dengan penyakit komplikasi akibat obesitas. Intinya, pencegahan lebih baik.

Kembali ke laptop. Tim kesehatan memastikan sudah memeriksa 12.398 anak-anak di Papua sejak September 2017 – 25 Januari 2018. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Mereka berperut buncit. Cacingan udah pasti. Napas tersengal-sengal karena mengidap TBC. Belum lagi yang terkena wabah malaria, campak, dll. Pengobatan cacingan sendiri tidak mudah. Pada pasien cacingan parah, jika pasien diberi obat cacing, cacing pasti keluar dari berbagai lubang tubuh seperti anus, mulut, dan hidung. Yang dikhawatirkan jika cacing sampai masuk ke paru-paru.

Di sisi lain, para orangtua sukar sekali menjawab pertanyaan tim medis. Mereka belum paham bahasa Indonesia sepenuhnya. Berikut kondisi Papua (khususnya Kabupaten Asmat) yang dipaparkan oleh para narsum.

1. kondisi tempat tinggal
            Dijelaskan bahwa kondisi geografis di sana merupakan daerah dataran rendah pesisir pantai. Satu kampung terdiri atas 3–5 rumah aja. Masyarakat membangun rumah di atas rawa-rawa di mana air bisa pasang dan surut. Kebayang pemandangan apa yang kita lihat kalau air rawa sedang surut. Kotoran di mana-mana. Pastinya ini rawan penyakit. Bukan cuma rumah. Kantor dan rumah sakit juga dibangun di atas rawa. Sungguh tidak layak.

Kata Pak Idrus, sumber air satu-satunya hanya air hujan. Mana mungkin melakukan operasi (di rumah sakit) jika air sedikit dan belum tentu memenuhi syarat air bersih? Tata ruang kota secara keseluruhan perlu diperbaiki. Ini penanganan jangka panjang.     



Narsum acara

2. transportasi amat sangat terbatas
Tim yang turun ke Papua menempuh medan yang cukup sulit untuk sampai ke tujuan. Tidak ada akses darat yang menghubungkan satu distrik ke distrik lain. Total sekitar 23 distrik yang terpencar menjadi 224 kampung. BBM tipis. Di Jakarta harga BBM Rp6000 per liter, sementara di Papua BBM Rp20.000-30.000 per liter. Listrik tidak ada. Daerahnya seperti terisolasi.  

“Mohon maaf, bandara udaranya aja lebih mirip warteg. Hanya ada bangku sekadarnya untuk menunggu. Turun dari pesawat, kami menyambung naik speed boat dan sepeda motor listrik. Gimana dengan mereka yang tidak punya biaya untuk menyewa transportasi ini? Jalan utamanya memang terbuat dari beton, tapi jalan masuk ke perumahan warga itu sempit dan masih dari kayu. Begitulah kondisi di sana,” cerita Bu Nila.


Tim Kemenkes RI naik sepeda motor dan speed boat


3. fasilitas dan SDM kesehatan minim sekali
            Di Asmat terdapat 13 puskesmas dan pada tahun 2017 mereka mendapatkan anggaran untuk membangun 3 puskesmas lagi. Dana diberikan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah.

            Pada tanggal 16 Januari 2018, Kemenkes RI mengirimkan 39 orang tim Flying Health Care (FHC) gelombang I yang terdiri atas 11 orang dokter spesialis, 4 orang dokter umum, 3 orang perawat, 2 orang ahli anestesi, dan 19 orang ahli gizi, kesehatan lingkungan, dan surveilens. Lanjut 26 Januari 2018, Kemenkes RI mengirimkan 36 orang tim FHC gelombang II. Mereka bertugas selama 10 hari. Kemenkes RI tengah mempersiapkan 9 gelombang FHC untuk 3 bulan. Tim terus berganti untuk menjaga stamina tenaga kesehatan.

Sementara itu, 1,2 ton obat dikirim melalui Bandara Soekarno Hatta (Tangerang) menuju Agats (Kabupaten Asmat) lalu didistribusikan ke Distrik Sawa Erma, Kolof Brasa, dan Pulau Tiga dengan menggunakan speed boat. Pengiriman dilakukan bersamaan dengan keberangkatan 39 orang tenaga kesehatan tadi.    

Selain tenaga kesehatan, pemerintah pula mengirimkan TNI, Polri, KSP, dll. Semua tim bekerja sesuai bidangnya terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Transportasi melalui sungai lebar dan melewati hutan yang cukup menakutkan. Sebagian tim menetap permanen di sana karena penanganan ini sifatnya berkesinambungan.
Btw, sebelum ini tenaga medis di Papua kebanyakan perempuan, lho. Laki-lakinya pada ke mana, nih? :( Kondisi kesehatan Papua merupakan tanggung jawab kita bersama. “Jakarta memiliki 14 Fakultas Kedokteran. Setiap tahun 10 ribu orang dokter dinyatakan lulus. Mereka ditunggu di Papua,” kata Bu Nila.

Terkait dengan tindakan pereventif promotif tadi, Bu Nila menyarankan untuk memperbanyak pembangunan poliklinik. Harapannya, masyarakat bisa rutin kontrol dan mendapatkan penyuluhan-penyuluhan kesehatan di poliklinik. 
  
4. kehidupan masyarakat Papua yang berpindah-pindah

Masyarakat Papua adalah masyarakat peramu. Mereka hidup berpindah-pindah tergantung hewan buruan dan ketersediaan bahan-bahan makanan.

Ini mempengaruhi penanganan kesehatan. Baru satu minggu istirahat dan diobati, mereka sudah pengin pindah lagi. Nanti mereka berhadapan dengan masalah pangan lagi. Penyakit lama kambuh lagi. Selain penanganan kesehatan, perlu pendekatan khusus terhadap masyarakat Papua. Salah satu solusinya mungkin mereka disediakan lahan dan diajari cara bercocok tanam atau diajari cara beternak ikan, dll. Selama tersedia bahan makanan, mereka tidak akan pindah. 

5. pemerintahan di Papua
         Sesuai UU, Papua diberi wewenang penuh untuk menyelenggarakan pemerintahannya sendiri. Apa kabar pemerintahan internal Papua?

         Kemendagri RI mengaku siap melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan otonomi khusus ini, terutama soal pemanfaatan dana yang seyogianya untuk pendidikan dan kesehatan masyarakat Papua.

Menurut Pak Yanuar, perlu pendampingan terhadap aparat daerah dan masyarakat minimal 5 tahun. Kalau kata salah satu teman media, ada masalah leadership di tingkat kabupaten dan provinsi. Hmmm … dilema juga, ya. Kita disergap kekhawatiran seandainya pemerintah pusat campur tangan lebih dalam, nanti muncul pula semacam gerakan Papua merdeka. :(    

Penanganan kesehatan di Papua harus terpadu dan menyeluruh. Sekali lagi, masalah ini adalah masalah kita semua. Mereka manusia juga sama seperti kita. Saya berharap kelak koneksi internet di sana terpasang baik sehingga kita bisa cepat menerima berita, berkomunikasi, dan bertindak. Tempo hari kabarnya 1 foto aja butuh waktu 10 menit untuk terkirim. Gimana kalau kirim 10 foto, dst? Teman-teman terutama dari media dan medis silakan menyumbang bantuan sesuai keahlian kalian. Jangan sampai kondisi luar biasa ini cuma menjadi data statistik. Semoga kondisi Papua segera membaik. Semoga. [] Haya Aliya Zaki


PS. Sebagian foto diambil dari akun Twitter @KemenkesRI dan @FMB9

6 komentar:

  1. Ya Allah aku bacanya sampe berkaca-kaca, beberapa kali lihat berita menganai status gizi buruk di sana. Hingga pemerintah mengirimkan banyak bala bantuan, ternyata kondisi di sana memang tidak mendukung untuk sehat ya. Selain aksesnya yang sudah, sanitasi buruk, air nya pun mengandlaakna air hujan.

    Butuh penanganan yang serius ini ya, semoga makin banyak yang peduli dengan kebradaan suku asmat dan banyak bala bantuan dari tenaga medis dan orang yang berkompetensi untuk menangani kasus yang tergolong complicated ini. Berdoa yang terbaik untuk masyarakaty di Suku Asmat.

    BalasHapus
  2. Ya Allah betapa malu aku selalu mengeluh, ternyata masih ada yang harusny mengeluh tetapi tetap menjalani kehidupan ini sebagaimana matahari menyinari bumi yang mereka pijak.
    Ah, Tuhan Maha Baik. Menegurku dengan ini...

    BalasHapus
  3. Mau nangis bayangin kondisi orang2 di sana trutama anak2nya mba.. :( . Semoga dengan pembangunan infrastruktur di sana, bisa lebih luas jangkauannya, sehingga lebih gampang utk akses transportasi. Bbrp temenku yg dokter pernah bilang, banyak di antara mereka yg enggan ke papua, ya karena mikir susahnya menuju sana :( .padahal orang2 itu membutuhkan banyak tenaga ahli...

    Cuma bisa berdoa, semoga papua bisa lebih baik dan anak2nya terlepas dr masalah2 kesehatan

    BalasHapus
  4. semoga saudara-saudara kita di Papua kehidupannya semakin baik ya kak.

    BalasHapus
  5. Sedihnyaaa..... :(
    Apalagi kalo lihat d sekitar banyak yang membuang-buang makanan. :'(

    BalasHapus
  6. Dulu cuma sering dapat cerita dari Orang tua dan adek, tentang kehidupan warga di sana. Nggak nyangka ternyata masih berlangsung sampai sekarang, padahal sudah belasan tahun lalu.

    Makanya begitu sekolah anak-anak menggalang dana untuk teman-teman di Papua, kami sebagai orang tua murid senang sekali, walau tidak seberapa, seengaknya bisa membantu meringankan beban mereka.

    Semoga ke depan, kehidupan mereka lebih baik dan bisa sama dengan yang di pulau Jawa.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan