Kamis, 07 Desember 2017

Kenapa Harus Holding BUMN?

Pemerintah kita tidak henti membuat gebrakan sepertinya, ya. Kali ini yang disorot adalah keputusan pemerintah melalui Kementerian BUMN dalam menerapkan holding BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Paling gres, pada tanggal 29 November lalu, Inalum resmi ditunjuk sebagai induk usaha BUMN tambang. Inalum membawahi PT Aneka Tambang Tbk, PT Bukit Asam Tbk, dan PT Timah Tbk. Inalum pula memegang saham minoritas Freeport yang sebelumnya ada di pemerintah langsung.

Kabarnya setelah holding BUMN tambang, pemerintah akan menerapkan holding BUMN di 5 sektor lain, yakni minyak dan gas bumi, infrastruktur, perbankan dan jasa keuangan, pangan, dan perumahan. Hmmm, dengar info sana-sini, ada yang pro, ada yang kontra, dan ada pula yang belum mudeng holding BUMN itu apa hehe.
.
Kami, blogger dan media, kembali diundang oleh Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) untuk mendengarkan penjelasan seputar holding BUMN langsung dari ahlinya di Gedung Depan Kominfo RI, Jl. Medan Merdeka Barat no. 9, Jakarta Pusat (5/12). Fyi, FMB9 merupakan forum diskusi yang diinisiasi Kemkominfo yang rutin diadakan untuk membahas isu-isu panas di media cetak, online, dan sosial. Saya buat dalam bentuk tanya jawab supaya mudah dipahami.

Mikir cara mengolah hasil pertemuan di FMB9 untuk ditulis di blog haha

Para narsum

Apa itu holding BUMN?
Holding BUMN adalah pembentukan induk usaha. BUMN dari berbagai sektor tidak lagi jalan sendiri-sendiri, tapi bersinergi. Perusahaan yang dulunya BUMN, kini menjadi anak perusahaan. Anak perusahaan holding BUMN tetap diperlakukan sama dengan BUMN untuk hal-hal yang sifatnya strategis.

Menurut Mbak Wianda Pusponegoro, Staf Khusus Menteri BUMN, dalam menerapkan holding BUMN, pemerintah tetap dipandu oleh Trisakti dan Nawacita (kalau belum tahu Trisakti dan Nawacita, sila googling). Btw, Mbak Wianda ini mantan presenter salah satu televisi swasta. Teman-teman mungkin udah familiar sama wajah Mbak Wianda, ya. Sekarang beliau aktif di kementerian.
      
Apa perlunya sih holding BUMN?
Holding BUMN bertujuan untuk menjadikan BUMN kuat, besar, dan lincah. Kinerja BUMN ditingkatkan untuk menarik investasi. BUMN bisa mendapatkan modal secara mandiri, tidak perlu bersandar melulu pada pemerintah (APBN).

Holding BUMN bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan juga menjadi agen pembangunan nasional. Caranya, dengan bersinergi antara beberapa BUMN tadi. BUMN itu milik rakyat dan tujuan akhirnya tentu untuk memberi pelayanan optimal kepada masyarakat dalam jangka waktu lama.



Mbak Wianda memberi contoh sederhana dari holding BUMN tambang. Mari kita lihat sisi SDM. SDM yang berkualitas dari masing-masing perusahaan akan dirotasi secara merata. Jadi nanti ada saling tukar pengetahuan skill, wawasan, dst di sana. Harapannya, kualitas SDM akan meningkat.  

Inalum dan Antam bersinergi membangun pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan Barat. Pembangunan SGA merupakan program hilirisasi tambang untuk mengurangi ketergantungan impor alumina dan menaikkan nilai tambah bauksit. Sinergi seperti ini membantu menghemat banyak biaya, lho. Pengerjaan pun jadi lebih mudah. Ke depan bakal lebih banyak lagi sinergi yang dilakukan.

Pastinya kita enggak mau dong cuma jadi pemain di negara sendiri. Banyak BUMN besar di Singapura, Malaysia, dll yang udah punya market di seluruh dunia. Kita pengin bangetlah bisa mengarah ke sana.



Ternyata holding BUMN udah dijalankan sejak dulu
Holding BUMN semen sebenarnya udah berjalan sejak tahun 1994. Holding Semen Indonesia merupakan holding BUMN pertama di Indonesia. “Holding Semen Indonesia terdiri atas Semen Padang, Semen Gresik, dan Semen Tonasa. Ketiganya BUMN yang hebat. Berdasarkan pengalaman, holdingisasi tidak menimbulkan kerugian, sebaliknya malah memberikan benefit yang lebih besar pada negara,” kata Pak Agung Wiharto, Corporate Secretary PT Semen Indonesia.    

Meski sama-sama milik pemerintah, Pak Agung mengakui terjadi “perang” antar perusahaan semen. Kenapa? Wong beda manajemen, beda RKAP, dan beda target. Daya saing menjadi lemah. Performa mereka terombang-ambing, sementara perusahaan swasta tambah maju.

Inilah yang menjadi latar belakang holding BUMN Semen Indonesia. Setelah bersinergi, mereka menjadi kuat. Mereka tidak perlu membangun pabrik baru, tapi kapasitas produksi tetap meningkat. Efisiensi terjadi di berbagai sisi seperti logistik, distribusi, dll. Tahun 2004 hasil terlihat secara signifikan. Kalau kata Pak Agung, kunci utamanya komunikasi, saling percaya, dan tidak mengedepankan ego + sentimen lokal. Holding BUMN bisa berhasil. Pak Agung dkk telah membuktikannya. Catet! 
    

Gimana kontrol negara?        
Negara tetap memiliki kontrol terhadap anak perusahaan holding BUMN. Sama aja seperti sebelum anak perusahaan menjadi anggota holding. Kontrolnya itu baik secara langsung melalui saham dwi warna maupun tidak langsung melalui PT Inalum (dalam hal ini holding BUMN tambang). Jangan khawatir, hilangnya nama “Persero” tidak memberikan konsekuensi hilang juga kontrol negara.

“Tidak benar jika kontrol negara kian berkurang.  Soalnya, yang menjadi ‘cangkang’ holding ini adalah BUMN yang 100% dimiliki oleh negara. Sekarang ada 1 induk BUMN yang turut mengawasi BUMN-BUMN lain melakukan ekspansi secara terukur,” jelas Wianda Pusponegoro, Staf Khusus Menteri BUMN

Sekali lagi, holding BUMN bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat. Waktu untuk sukses memang tidak sebentar, namun bukan berarti mustahil diupayakan. Setelah ini holding BUMN sektor mana yang menyusul? Apakah sektor minyak dan gas bumi? Apakah sektor keuangan dan jasa perbankan? Apakah sektor perumahan? Kita belum tahu.

Oiya, kementerian BUMN dan BUMN membuka peluang sebesar-besarnya untuk bekerja sama dengan pihak swasta. Yang penting win-win dari segi modal, ilmu, teknologi, dll. Jangan kejadian seperti proyek tol Becakayu yang mangkrak sampai 17 tahun. Dampak negatifnya banyak. Biaya terus bertambah. Masyarakat juga dirugikan karena lalu lintas macet tak berkesudahan. Capek deh. Izin proyek tol Becakayu dipegang oleh salah satu perusahaan swasta dan sekarang terpaksa diambil alih oleh BUMN untuk diselesaikan. 

Kalimat pamungkas dari Mbak Wianda, jelang Natal dan Tahun Baru, BUMN harus lebih bersinergi. Misal, gimana PELNI memberikan fasilitas angkut penumpang, gimana Pertamina menjamin ketersediaan BBM, gimana Bulog menjamin pangannya, dst. Bersinergi.  

Pertemuan di FMB9 kali ini menyimpan kesan tersendiri untuk saya. Saya kagum sama Mbak Wianda. Materinya lengkap. Penyampaiannya lugas dan cukup mudah dimengerti. Semoga semakin banyak perempuan di negeri kita yang cakap dan duduk di pemerintahan (kementerian, lembaga, atau parlemen) seperti Mbak Wianda. Teman-teman jangan mau kalah. Yuk, berkarya sesuai dengan kapasitas dan bidang kita masing-masing. [] Haya Aliya Zaki

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan