Minggu, 26 November 2017

Boleh Kenalkan Gadget Sedini Mungkin Pada Anak, Asal ….

         Teman-teman, siapa yang belum kenal Giant? Bukan, ini bukan Giant teman Nobi Nobita di serial kartun Doraemon. Ini Giant yang supermarket itu, lho. Giant yang merupakan salah satu unit bisnis dari PT Hero Supermarket Tbk (HERO Group). Hayooo mungkin hampir semua udah pernah belanja di sini, ya?

Fyi, HERO Group pelopor retail modern di Indonesia sejak tahun 1971. Hingga kini tercatat 57 gerai Giant Ekstra dan 108 gerai Giant Ekspres di seluruh Indonesia. Jadi ingat masa-masa kejayaan saya waktu masih kerja jadi manajer apotek di Guardian. (((MASA KEJAYAAN))) Guardian juga unit bisnis dari HERO Group.   


Pagi-pagi udah menclok di Giant CBD Bintaro, Tangerang

Dalam rangka memperingati Hari Anak Internasional, Giant mengadakan puncak acara GIANT Faunatic Drawing Competition berupa diskusi parenting tentang gadget bersama Bu Elizabeth Santosa (22/11) di Giant CBD Bintaro, Tangerang. Alhamdulillah, lokasinya cuma selemparan batu dari rumah saya. Bu Lizzy, demikian panggilan akrab narsum, psikolog pendidikan anak dan penulis buku Raising Children in Digital Era. Sehari-harinya Bu Lizzy juga Komisioner Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Dijamin banyak wawasan yang bisa kita gali mengingat beliau di KPAI divisi pengaduan.

G-A-D-G-E-T.

Gadget bisa dikatakan jadi “momok” untuk kita para orangtua. Gimana enggak? Hampir semua anak, terutama yang tinggal di ibu kota, demen abis main gadget. Dipikir-pikir, net-generation ini, kok, beda sama kita dulu. Gara-gara gadget, mereka cenderung anti-sosial dan maunya serba-instan. Tapi, kalau kata Bu Lizzy, semua generasi sama aja. Net-generation punya karakteristik sendiri. Kita mungkin dilihat sebagai generasi yang buruk juga oleh orangtua kita. Saya langsung ingat waktu remaja pernah ditinggal Abah kondangan gara-gara saya enggak nurut pakai baju pilihan beliau wekekek. Masalahnya hanyalah generasi terdahulu selalu sulit memahami generasi setelahnya. Oke, semakin menarik diskusi kita. Seperti biasa, isi diskusi saya tulis langsung dalam bentuk tanya jawab supaya lebih mudah dipahami.

1. Kapan kita boleh mengenalkan gadget kepada anak?
Jawabannya, sedini mungkin. Ya, sedini mungkin. Ingat, ini era digital, Teman-teman. Jangan sampai gadget jadi “produk aneh” di mata anak. Kalau untuk punya medsos, anak berusia minimal 13 tahun.

2. Apa aja karakteristik dari net-generation?
            Seperti yang saya singgung di atas, net-generation punya karakteristik sendiri. Anak-anak kita senang yang cepat dan serba-praktis. Mereka haus pengakuan, terutama di medsos. Banyak maunya, pengin ini itu. Menurut Bu Lizzy, ini wajar aja karena lingkungan yang membentuk mereka seperti itu. Kalau zaman dulu kita enggak banyak mau bisa jadi karena kita memang enggak punya banyak pilihan hehe. Dan, pastinya, net-generation senang sama teknologi.


Bu Elizabeth Sentosa (Lizzy), psikolog pendidikan anak

Jika kita ingin anak-anak mencintai proses, tidak terlalu haus pengakuan, dan kritis (alih-alih banyak mau), kitalah yang harus menjadi role model pertama buat mereka. Praktikkan secara konsisten nilai-nilai yang pengin kita tanamkan dari rumah. Salurkan kesukaan mereka akan teknologi pada jalur yang benar. Contoh, anak-anak zaman sekarang mudah belajar bahasa Inggris, tidak perlu kursus, cukup menonton gratis video-video di YouTube.  

3. Apakah teknologi buruk?
            Tidak. Teknologi tidak buruk sama sekali. Justru teknologi bisa memudahkan urusan kita. Udah bukan rahasia lagi, Google sangat membantu kita. Pengin ajak anak traveling?  Pengin bikin bekal sehat untuk anak? Pengin bikin aneka craft lucu? Tinggal googling untuk cari tahu. Manfaatkan!   

4. Gimana seharusnya kita memberi batasan pemakaian gadget kepada anak?
            Kuncinya: KESEIMBANGAN. Anak-anak tidak akan ketagihan main gadget asal ada kontrol waktu. Tunjukkan kepada mereka bahwa di luar sana juga ada hal-hal yang sama atau bahkan melebihi indahnya gadget. Sesekali ajak mereka main permainan jadoel seperti Othello, Monopoli, dll. Buat peraturan bahwa mereka boleh main gadget jika tanggung jawab mereka udah selesai. Tidak boleh main gadget jika kamar masih berantakan atau peer belum dikerjakan, misalnya.     

Gimana dengan main games? Apakah boleh? Jawabannya, boleh! Sama seperti film, games punya kode rating, antara lain E = everyone (semua umur), C = Child (anak kecil), dan T = teen (remaja). Berikan izin main sesuai dengan kategori usia mereka. Dampingi. Sekali lagi, perhatikan kontrol waktu. 

5. Kenapa anak-anak bisa jadi korban pelecehan seksual di dunia maya?
Jarang sekali anak-anak mengalami musibah karena murni kecelakaan. Hampir semua karena faktor KELALAIAN orangtua. Contoh, hampir tidak ada penjahat yang sekonyong-konyong menculik. Iya, toh? Biasanya mereka udah sekian waktu mengintai. Ketika anak jarang disupervisi, kurang diperhatikan orangtua, dst, di situlah penjahat merasa punya kesempatan dan melancarkan aksinya. 

Baru-baru ini Bu Lizzy mendapat pengaduan dari orangtua yang anaknya dicabuli. Ternyata, masalah ini udah terjadi berbulan-bulan. Saran Bu Lizzy, simak indikasi sekecil apa pun, apakah itu perubahan tingkah laku anak, perubahan fisik, dll.

6. Rutin periksa gadget anak
            Ini penting, tapi gimana mau meriksa kalau gadget anak pakai PIN? Gadget anak pakai PIN mungkin karena mencontoh orangtuanya. Biar adil, gadget kita juga tidak boleh pakai PIN, dong.

            Saya sebagai orangtua yang punya anak remaja laki-laki dan (agak-agak) ganteng (ehk), punya kerepotan lain huehue. Anak saya sering mendapat kiriman chat Line dari adik kelas atau teman sekelasnya yang sekadar menyapa (bolak-balik), pengin curhat, ngajak jalan-jalan, dll. Lha, saya yang membaca jadi kesal!

            “Biarkan anak Ibu menanggapi chat teman-temannya dengan sopan dan usah memberikan perhatian lebih jika memang anak Ibu tidak suka. Ibu tidak boleh membalas langsung chat itu karena akan menjatuhkan wibawa anak Ibu dan membuatnya malu di hadapan teman-temannya. Inilah risiko punya anak remaja di era digital,” saran Bu Lizzy bijak.  Hmmm, baiklah, saya akan berusaha walaupun rasanya geregetan luar biasa huaaa. 

7. Anak kadung ketagihan gadget, solusinya?
            Mungkin kalian pernah merasakan anak berubah tantrum waktu dilarang main gadget? Ini lumrah! Kita yang biasanya masuk kantor pukul 09.00 wib, tahu-tahu diubah jadi pukul 07.00 wib, pasti marah. Ya ini sama contoh kasusnya. Ada perjuangan untuk mengubah suatu kebiasaan. Awal-awal memang sulit ampun-ampunan. Kabar baiknya, anak bisa beradaptasi. Orangtua konsisten, insyaallah anak berubah. Berikan konsekuensi jika anak melanggar. Bu Lizzy lebih suka memakai istilah “konsekuensi” daripada “hukuman” karena “dihukum” kesannya negatif.  


            Dari tadi kita cerita soal gadget, saya yakin Teman-teman pengin tahu seperti apa sih peraturan yang diterapkan Bu Lizzy soal gadget di rumahnya? Betul? Nah, mungkin kalian pada kaget kalau mendengar jawaban ibu cantik ini. Di rumah, Senin–Jumat anak-anak Bu Lizzy puasa main gadget. Mereka main gadget saat weekend aja itu pun sekitar 2 jam. Weekedays anak-anak sibuk sama kegiatan sekolah dan ekskul. Weekend mereka olahraga, bikin DIY (Do It Yourself), dan jalan atau makan di luar.

Bagi Bu Lizzy, anak sampai ketagihan gadget itu karena orangtuanya MANJA alias malas! JEDEEERRR!!! Please be noted, jangan jadi ibuk-ibuk manja. Ajak anak-anak berkegiatan lain untuk mensubstitusi kegiatan mereka bersama gadget. Kreatiflah, jangan cuma bisa melarang, tapi tidak memberikan solusi.

Alhamdulillah, senang banget-nget-nget bisa kenalan dan mendapat ilmu baru dari Bu Lizzy. Beliau orangnya bersemangat sekali. Penjelasannya lugas, tepat sasaran, dan apa adanya. Sharing beliau berbeda dengan diskusi gadget lain yang pernah saya hadiri sebelumnya. Saya berasa “ditampar” bolak-balik euy.   

Kembali ke event GIANT Faunatic Drawing Competition. Peminat kompetisinya bejibun. Dalam waktu 11 hari ada 313 peserta dari 48 sekolah di Jabodetabek. Sebanyak 10 pemenang dengan gambar terbaik mendapatkan hadiah total Rp30 juta rupiah pada hari itu. “Penilaian utama berdasarkan orisinalitas. Saya berusaha memposisikan diri sebagai anak-anak karena imajinasi anak-anak tidak terbatas. Selanjutnya tentu komposisi dan warna,” jelas Bu Hani Shintawati, juri eksternal kompetisi.

Pak Tony Mampuk, GM Corporate Affairs Giant


Pemenang GIANT Faunatic Drawing Competition

Program Indonesia Bebas Sampah 2020 yang diusung pemerintah menjadi inspirasi kompetisi menggambar ini. Giant mengajak para pelanggannya bergaya hidup ramah lingkungan, salah satunya dengan meminimalisir penggunaan kantong belanja plastik. Gambar karya para pemenang pastinya menjadi desain menarik dari reusable bag yang diproduksi Giant nanti. Wah, saya mau beli, ah. Hitung-hitung belanja sambil beramal karena keuntungan penjualan reusable bag akan disumbangkan kepada kaum tidak mampu. Mudah-mudahan jadi kebanggaan tersendiri buat para pemenang melihat karya mereka bermanfaat untuk orang banyak.      

Kenapa dipilih tema fauna? Well, why not? Kata Pak Tony Tampuk, GM Corporate Affairs Giant, tema ini mampu merangsang imajinasi unik anak-anak. Giant baru pertama kali mengadakan kompetisi menggambar. Bakal ada tema-tema lain yang lebih seru di kompetisi berikutnya. Tungguin aja, ya! Jangan lupa terus belanja di Giant. :) [] Haya Aliya Zaki


14 komentar:

  1. Mbak Haya kostumnya pas banget buat model iklan Giant 😊😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha aku memang sengaja menyesuaikan, Lia. :D

      Hapus
  2. ilmu banget nih mba, sekarang anakku masih bayi teknologi sudah canggih seperti ini gimana kalau dia remaja nanti. izin share yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan, Mbak. Semoga bermanfaat, ya. Salam buat dedek bayi hehe.

      Hapus
  3. Kok aku jleb ya mbaaaa... sering melarang solusinya manaaa?! Duh, daku jadi maluuu. Paling sering main ayam2an 😹Makasih yaa sharingnya omaaaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apa itu main ayam-ayaman hihihi. Ibuk-ibuk zaman now kudu kreatif ya, CI. :D

      Hapus
  4. makasih sharingnya ya, harus diawasi dg baik ya. kalau anak2ku saat ada gadget sdh besar jd bisa diajak diskusi dulu dan mereka jadi tahu apa yg boleh apa yg gak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih peer buat kita, Mbak. Makasih udah mampir.

      Hapus
  5. mba Hayaaaa kangennn..

    btw, aku setuju bgt mba Hay, aku pun mlakukan hal yg sama ke anak2, tetep ngasih mreka gadget krn ini memang jaman digital, tp ada bbrp aturan yang harus sama2 kami penuhi agar pemakaian gadget jd lbh bijaksana.

    makasih artikelnya ya mbaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Zataaa ... aku puuun. Kita udah jarang satu event, ya. :))

      Betul. Boleh main gadget asal taat aturan ya, Mbak.

      Hapus
  6. JEDEERRRR! Jangan jadi ibu2 manja! Duuuh, ini nampol banget niiihhh
    thanks for reminding ya mbaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. JEDEEERRRR!!! Kilat menyambar-nyambar hahaha. Makasih udah mampir, Nuruuul.

      Hapus
  7. thanks infonya mbak.. Noted!! Siapa tau tahun depan sudah jadi bapak, aamiin..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Kalau udah jadi orangtua nanti apalagi, never stop learning ya, Bara.

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan