Selasa, 16 Mei 2017

Lebih Terbuka dalam Keluarga Bersama SariWangi

“Sometimes the greatest adventure is simply a conversation.” – Amadeus Wolfe

“Ummi, aku pengin cerita,” kata Shafiyya (9 tahun) suatu hari.

“Cerita apa, Sayang?” tanya saya sambil menutup laptop. Wajah Shafiyya tampak serius. Matanya agak berair, seperti mau menangis. Saya mendadak waswas. Nah lho nah lho ada apa ini?

“Kata Ummi, aku harus jujur, kan? Janji Ummi enggak marah?” Shafiyya malah balik tanya. Ada nada khawatir di suaranya.

“Janji, insya Allah,” jawab saya yakin. Lalu saya meminta Shafiyya menunggu sebentar. Saya beranjak ke dapur menyiapkan teh manis dan camilan biskuit cokelat untuk menemani kami. Biar suasananya lebih nyaman dan enggak tegang-tegang amat gitu. Setelah itu, cerita Shafiyya pun mengalir. Cerita yang tidak mengenakkan bagi saya seorang ibu, namun saya sangat menghargai sikapnya yang berani bicara. Di atas itu semua, saya bersyukur dia lebih mempercayai saya untuk menjadi tempat menuangkan isi hatinya dibandingkan ke orang lain. :)



            Itu sekelumit peristiwa yang terjadi di keluarga saya, Teman-teman. Fakta membuktikan bahwa masyarakat Indonesia hobi banget bercerita. Lihat aja keriuhan medsos di sekitar kita. LOL. Sekitar 8 dari 10 masyarakat kita hobi bercerita. Semua hal diceritakan setiap hari. Ini hasil survei SariWangi dan psikolog keluarga Ratih Ibrahim terhadap 531 orang responden di lapangan.

“Sayang, seringnya frekuensi bicara tidak menjamin kita berani mengungkapkan isi hati kita yang sebenarnya. Ibaratnya yang diceritakan itu cuma kulit luar. Sekitar 2 dari 3 responden mengaku kurang terbuka karena ingin menghindari konflik. Padahal komunikasi yang dalam dapat mencegah terjadinya depresi, lho. Dan rumah adalah tempat utama kita saling berbagi cerita,” sambung Ratih tersenyum.

            Wah, semakin sore semakin menarik diskusi kami para blogger bersama SariWangi dan Mommies Daily di Kila Kila by Akasya, Senayan, Jakarta (9/5). Terus terang saya senang dengan kampanye Mari Bicara SariWangi sejak tahun 2008 ini. SariWangi bukan hanya menjual produk teh yang nikmat, melainkan juga mengajak kita menanamkan nilai-nilai positif berkomunikasi di dalam keluarga. Setelah Mari Bicara, kini SariWangi hadir dengan kampanye Berani Bicara. Bicara bukan sekadar making noise, melainkan bicara dari hati ke hati untuk menautkan banyak hati. Kebetulan, organisasi kesehatan dunia WHO mengangkat tema Depressions, Let’s Talk (Depresi? Yuk, Curhat!) sebagai tema kampanye kesehatan jiwa tahun ini. Klop!    




“Selama 40 tahun SariWangi telah menjadi bagian dari keluarga masyarakat Indonesia. Berdasarkan survei kami, setengah dari responden hanya mau mengungkapkan topik yang aman. Keterbukaan di dalam keluarga masih menjadi tantangan,” kata Johan Lie, Senior Brand Manager SariWangi.

            Selanjutnya kami diajak menonton video dinamika keluarga Mona Ratuliu, artis, kembaran beda bapak ibu, dan brand ambassador SariWangi. Kadang Mona dilema harus memilih mengejar mimpi berkarya atau mengasuh keluarga. Berat menceritakan hal ini kepada suami. Alhamdulillah, ternyata respons suami sangat baik. Berkat berani bicara, solusi pun ketemu. So sweet. Saya sampai meneteskan air mata terharu menonton videonya. Kalau Teman-teman tidak percaya, coba tonton aja sendiri. :)



            Sejak kecil Mona memang terbiasa untuk berani bicara, terutama di dalam keluarga. Sahabat bercerita terbaiknya adalah ibu. Setelah menikah, tantangan berkomunikasi lebih banyak baik ke suami maupun anak-anak. Kadang kita ingin menyimpan sesuatu supaya terhindar dari konflik. Padahal ini kurang baik. Semua pengalaman pernah dituangkan Mona di dalam buku ParenThink (Noura Books). Mona berharap para orangtua bisa menjadi teladan anak-anaknya.

“Momen minum teh saya jadikan sebagai waktu berbagi cerita di dalam keluarga, termasuk membicarakan topik-topik yang sulit sekalipun. Kampanye #BeraniBicara SariWangi memotivasi saya untuk berani bicara tentang isi hati sekalian mencari solusi,” kata Mona.



Seyogianya konflik merupakan bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita mampu menghadapi konflik, kita ‘naik kelas’. Cara kita menghadapi konflik ini justru yang mendewasakan kita sebenarnya. Seberapa jauh tingkat kematangan kita sebagai individu dilihat di sini. Tapi, kalau tak ada konflik, jangan diada-adain, ya. Itu namanya memancing huru-hara. *halah*

Terima kasih, SariWangi dan Mommies Daily atas undangannya! Semoga semakin banyak keluarga Indonesia yang berani bicara agar terwujud keluarga yang lebih harmonis lagi. Betapa penting menciptakan suasana yang tenang dan hangat di rumah. Kita para ibu berperan sebagai emotional supporter dalam keluarga. Percaya atau tidak, rasa lega setelah bercerita akan menambah level kebahagiaan. Jadi, Teman-teman sudah curhat apa hari ini? Jangan lupa siapin teh dan camilannya, yaaa. :) [] Haya Aliya Zaki

20 komentar:

  1. Enak ya kalau sama keluarga terbuka mbak, bisa sharing apapun juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Mudah-mudahan semua anggota keluarga merasa secure untuk membahas apa aja.

      Hapus
  2. keluargaku pecinta teh ini mba Hay, dan emang saat minum teh bawaannya santai dan jadi ngalir dan terbuka saat ngobrol :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya ada zat apa gitu di dalam teh yang bisa membantu kita relaks, Mbak Zata. :)

      Hapus
  3. Wah iya, keluargaku juga pencinta teh. Sampe yang bocah. Iya banget, ngeteh itu bikin rileks. Mau ngomong apa pun jadi gak kagok. Ke luar begitu saja. Dan pastinya emang berakhir plong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, jadi lantjar jaya gitu ya, Nia. :D

      Hapus
  4. Aku suka campaign-nya. Pas nonton di YouTube pun ikut terbawa perasaan saat Mona Ratuliu dibolehin kerja jauh.

    Kayaknya perlu dicontoh nih caranya. Lagipula saya lebih suka ngeteh daripada ngopi hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga terharu nonton videonya, Lia. Seneng ya lihatnya. :)

      Hapus
  5. Eaaa...mmg kembaran dgn Mona Ratuliu banget.. eaaa.
    Akupun suka dgn cara Sariwangi campaign.
    Mengingatkan pentingnya kedekatan dgn klga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss, Mbak. SariWangi bukan sekadar jualan produk ya. Pesan iklannya itu joss banget. *pura-pura gak baca komen Mona Ratuliu*

      Hapus
  6. Setuju segala sesuatu yang terjadi dalam keluarga harus dibicarakan harus terbuka :)dan tentunya pembicaraannya harus di moment tertentu kek santai sambil minum teh cocok mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul. Cari momen yang pas sambil ngeteh dan nyamil. Kalau lagi sama-sama capek, yang ada malah terjadi huru-hara. :))

      Hapus
  7. Aku jaman ngekos pakenya teh Sariwangi ini, harumnya beda dan rasanya juga lebih segar. Btw, lihat iklan Sariwangi yang anak gadis minta ijin nonton konser sama bapaknya, aku langsung ngebayangin itu anak perempuanku lagi minta ijin sama ku kelak 15-20 tahun lagi. Hahaha.

    Keren iklannya. Menanamkan pesan bahwa komunikasi dalam keluarga itu sangat penting sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee cieee gak berasa itu, Mas Eko. Tahu-tahu nanti anak-anak udah gede aja. Kayak sekedipan mata. :)

      Hapus
  8. Mba Haya, fiya mirip sekali sama mamaknya ya hihiii
    Rumah tuh emang tempat paling tepat utk cerita ya mba. Aku paling cerita sama suami sambil ngeteh nih, sariwangi yaaa.. harum :)
    Udah lama nggak diundang sama mommies daily >.<

    BalasHapus
  9. kalau aku dan anak2 suak ngobrol ngalaor ngidul ay di temapt tidur, sambil tiduran dan tempat tdrku jadi agk pernah rapih

    BalasHapus
  10. Anakku yg pertama suka bgt cerita.. Paling cerewet di keluarga :). Tp aku seneng krn dia terbuka gitu, pdhl papi maminya g bgitu srg bicara :p .. Cuma kita jrg sambil minum teh ngomongnya :D, ga begitu suka teh mba.. Jd biasanya teh ini kita beli cm utk tamu yg dtg :D

    BalasHapus
  11. Ngomong-ngomong soal kembaran, iya juga ya bayangin Mbak Haya versi kurus mirip-mirip sama Mona Ratuliu. Beneran deh.

    BalasHapus
  12. Di keluarga, kami biasa ngumpul dan ngeteh sore. Ga kayak di tivi2 itu sih, sederhana saja namanya juga di ndeso. Tapi aktivtas itu jadi semacam sesi terdekat kami, heu jadi kangen rumah

    BalasHapus
  13. Pengen nanti kalau anak-anak sudah mulai ngerti curhat, kepengennya saya yang jadi tempat curhat mereka.

    Di keluargaku pribadi, suka juga curhat-curhat dengan orang tua. Sambil makan, sambil leyeh-leyeh. Tapi kadang masih ada rasa malu juga kalau cerita hal tertentu. hehe

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan