Rabu, 12 April 2017

Islah Cinta, Konflik Cinta Diva dan Indahnya Menelusuri Jejak Islam di India

Judul: Islah Cinta
Penulis: Dini Fitria 
Tebal: 307 hal
Penerbit: Falcon Publishing
Cetakan: I, 2017

Pada suatu masa mertua saya berkata, “Jarang orang memiliki keahlian menulis dan public speaking sekaligus. Biasanya kalau pandai menulis ya menulis aja. Kalau pandai public speaking ya public speaking aja. Kalau ada yang ahli di keduanya, itu langka.”

Saya lihat sepertinya begitu. Lingkungan saya rata-rata penulis. Sebagian besar lebih senang menuangkan kata demi kata ke atas lembaran kosong dibandingkan berbicara di depan umum. Dilalah dua minggu lalu di meja saya tergeletak kiriman novel Islah Cinta dari Falcon Publishing. Sebelumnya saya meresensi novel Surat Kecil untuk Tuhan NEW karya Agnes Davonar dari penerbit yang sama. Jadi penasaran, siapakah penulis novel Islah Cinta? Ternyata oh ternyata beliau adalah Mbak Dini Fitria! Mbak Dini Fitria ini penulis buku dan presenter (bahkan produser juga) acara Jazirah Islam, program spesial Ramadhan di Trans7 periode 2010-2015. Teman-teman yang belum pernah menonton acara Jazirah Islam bisa cek di Youtube. Hmmm … penulis dan public speaker, dua keahlian langka yang disebut-sebut mertua saya. Kereeen. Begitu dapat me time ala ibuk-ibuk, saya bergegas melahap buku tersebut.    

Dini Fitria (credit: akun G+ Dini Fitria)

Btw, sepertinya saya ketulah sama omongan saya sendiri tentang India. Kapan itu saya ngobrol sama suami yang curhat kapok bussiness trip ke India. Demikian waktu membaca postingan terbaru travel blogger Adis (@takdos) yang juga kapok travelling ke India. Alasan suami dan Adis lebih kurang sama. Di India bunyi klakson memekakkan telinga kedengaran di mana-mana, hewan-hewan berkeliaran jemawa di jalanan, orang-orang pada hobi tarik urat leher (dan pipis sembarangan, OMG!), tubuh pengemis bergelimpangan di lorong-lorong, sulitnya menemukan makanan bersih, dll. Somehow, saya merasa sangat beruntung jika membandingkan kondisi antara Jakarta dan India. Alamak, tahu-tahu sekarang saya membaca buku Islah Cinta yang ber-setting India. :))))





Kabar baiknya, setelah membaca buku Islah Cinta, penilaian miring saya terhadap negara India dan seisinya lumayan berkurang hohoho. Apa hal? Let’s see. Islah Cinta berkisah tentang Diva, presenter acara Oase Ramadhan di teve, yang mendapat tugas meliput di India. India, negara berpenduduk terbesar kedua di dunia ini ternyata menyimpan cerita kejayaan Islam yang tak kalah gemilang daripada peradaban Islam di Eropa. (hal. 21)

Konflik awal aja udah bikin gregetan. Gaet (pemandu) Diva dan Mas Jay (rekan kerja Diva) selama di India adalah Andrean, mantan kekasih Diva! Kebayang tak kalau kalian terpaksa ketemuan lagi sama mantan yang telah menikah (dan kalian belum!). Dulu Diva berpisah dari Andrean karena hubungan mereka tidak direstui ibu Andrean. Awkward banget pastinya, Diva harus bareng Andrean setiap hari selama sebulanan di India. Sementara itu, sosok cowok bernama Maher hampir berhasil merekatkan satu per satu serpihan hati Diva yang hancur karena keputusan sepihak Andrean.  

Misi utama Diva ke India adalah untuk syiar kepada khalayak bahwa Islam agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, agama yang dipenuhi cinta dan berasal dari yang Maha Cinta. Islah cinta. Damainya cinta. Berbagi kisah tentang jejak Islam dan perjuangan kaum muslim minoritas di India. Teman-teman mungkin tahu, sekarang ini pemberitaan media sering simpang siur. Buat Diva, media harus menjadi propaganda yang baik, bukan kompor meleduk sana sini yang bikin orang kejeduk. 
  
Tugas Diva di India bukannya tanpa tantangan (selain tantangan melawan godaan dari mantan yang telah menikah tentunya). Seperti yang udah saya sebutkan di atas, budaya India dan Indonesia sangat berbeda. Saat perjalanan, kekacauan demi kekacauan terjadi. Tidak mudah bagi Diva untuk masuk dan meliput tempat-tempat tertentu. Semakin banyak dia mencari tahu semakin banyak pula pertanyaan tentang sejarah masa silam Islam yang muncul. Selain dari penjelasan aneka narasumber, jawaban-jawaban lahir dari perenungan batin Diva sendiri.         

Teman-teman especially traveller writer wajib beli buku Islah Cinta, nih. Cantik sekali cara Mbak Dini Fitria mendeskripsikan semua tempat dan peristiwa. Detail, informatif, dan menarik untuk dibaca. Saya seolah ikut merasakan panasnya cuaca di area makam Salim Chisti, riuhnya transaksi jual beli di Pushkar, indahnya setiap lekuk bangunan Hawa Mahal, syahdunya pertemuan Diva dan Maher di Taman Lodhi, dst. More than that, Mbak Dini Fitria pandai nian bermain diksi. Coba perhatikan.   

Semburat sinar mentari pagi musim semi telah tersibak di balik gumpalan awan Kota Agra. (hal. 107)
Cinta adalah udara yang terus berembus meski kau tak pernah memilikinya. (hal. 150)
“Kamu bisa melupakan aku, jangan menodai kerapian benang takdir yang sudah tersulam, Ndre.”  (hal. 265)

Senang mendapat wawasan jejak Islam di India dari perempuan muda keturunan Minang yang memang sudah melanglang buana ke berbagai belahan negara di dunia ini. Saya jadi tahu istilah-istilah bahasa India seperti ‘qawwali’, ‘dulpatta’, ‘sadhu’, ‘paan’, dll. Ada kisah cinta Raja Shah Jahan yang membangun Taj Mahal sampai kisah Raja Akbar yang membiarkan Jodha (istrinya) tetap beragama Hindu. Saya juga mendapat pengetahuan seputar dunia profesi presenter teve, dari persiapan hingga eksekusi liputan.





Satu-satunya hal yang agak mengganggu saya adalah kenapa waktu di India, Diva dkk baru mikirin urusan sim card ponsel? Saya aja yang cuma ke Singapura, jauh-jauh hari udah tanya sana-sini tentang urusan sim card supaya bisa tetap terkoneksi internet selama di Singapura. Apa karena kerjaan saya hari-hari ngeblog dan ngemedsos, ya? Enggak tahu juga, deh.

Oiya, mau tahu quote favorit saya dari buku Islah Cinta?

Rantai kemiskinan di India tidak akan pernah putus dan akan semakin memburuk jika semua orang hanya memberi mereka (anak-anak pengemis) uang tanpa peduli dengan masa depan mereka yang sebenarnya, yaitu pendidikan. (hal. 122)

Laiknya manusia, hidup pun tak sempurna. Tetapi, ternyata kesempurnaan hidup itu akan terasa saat kita bisa menemukan Tuhan pada cinta manusia. Betapa bahagianya jika hati kita senantiasa merasa dekat dengan Sang Pencipta kala kita bisa mencintai, menghargai, dan membantu sesama tanpa terhalangi oleh perbedaan apa pun. (hal. 298)

Lalu, laluuu, siapa yang berhasil memenangi hati Diva? Apakah Andrean (mantan terindah), Maher (cowok Suriah yang handsome), atau … Mas Jay (rekan kerja yang diam-diam menyayangi Diva)? Kalau saya jadi Diva sih saya bakal memilih Maher. Pilihan telak hahaha! Etapi, enggak tahu kalau Diva, yaaa. Baca aja sendiri ceritanya hahay!

Jelang 1,5 bulan menuju Ramadhan, rasanya cocok sekali jika Teman-teman membaca buku Islah Cinta. Kangen Ramadhan euy. Dhaniyawad (terima kasih – bahasa India), Mbak Dini Fitria, telah menulis buku ini. Sekali lagi, buku ini membawa pesan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, agama yang dipenuhi cinta dan berasal dari yang Maha Cinta. Jika dalam praktiknya ada yang salah, berarti yang salah adalah manusianya bukan ajarannya. Bagaimana indahnya jejak Islam di Negeri Hindustan dan perjuangan muslim minoritas di sana. Semoga Mbak Dini Fitria selalu dianugerahi kesehatan sehingga dapat terus menulis ragam kisah yang memiliki muatan dakwah, edukasi, dan humanis, tanpa harus menggurui. Aamiin yaa Rabb. [] Haya Aliya Zaki

PS. Foto-foto India diambil dari Pixabay

9 komentar:

  1. Kerennnnn hanya satu kata baca review ini "Keren!"
    Dan brb cari buku Islah Cinta

    BalasHapus
  2. baiklah makasih reviewnya mba dimasukin list dlu hehehe :p

    BalasHapus
  3. Alamak, aku suka kali kalau novel kaya diksi.
    Langsung berandai-andailah aku.

    Pemanasan menuju Ramadhan...

    Eh, meski belum baca, aku juga pilih 'Maher' laaa...
    Cowok Amerika Selatan, memang menggetarkan.
    Aarrrgghhh....


    BalasHapus
  4. Makasih reviewnya mbak. Wah, novel setting India, saya suka nih.

    BalasHapus
  5. mba Hayaaaa..., aku suka pake banget sama novel2nya mba Dini. Sebenernya karena baca yang ini jadi baca yang lain juga hehehe.

    BalasHapus
  6. Serem ya kalau orang nya suka pipis sembarangan, selalu ribut dan rame hehe..Penasaran deh sama novelnya dini fitria

    BalasHapus
  7. Wah reviewnya keren, jadi bikin penasaran :D

    BalasHapus
  8. Baca novel ini memang jadi bikin kepengin ke Indiaaa

    BalasHapus
  9. India negara ribet... tapi menarik... eh ikutan tegang waktu Diva dan temen-temennya dikejar-kejar polisi bersorban di Taj mahal

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan