Jumat, 07 April 2017

Digital Financial Literacy for Children, Edukasi Keuangan Digital untuk Anak

           Hari gini apa sih yang enggak berbau digital? Beli baju bisa via onlineshop. Pesan tiket tinggal tap tap aplikasi layanan booking tiket. Baca koran cukup klik alamat web situs koran kesayangan. Nah, konon pula anak-anak. Anak-anak zaman sekarang ‘ahli’ banget soal gadget. Mungkin hampir setiap hari mereka terpapar gadget. Betul?

“Derasnya arus informasi melalui internet sangat sulit dibendung. Anak-anak memakai gadget untuk bermain games dan menonton video. Kami berusaha memanfaatkan tren pemakaian gadget untuk tujuan positif dengan memasukkan modul edukasi keuangan yang aman, interaktif, dan menyenangkan bagi anak-anak. Edukasi keuangan dimulai dari yang paling mendasar seperti mengajarkan perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan,” jelas Ibu Elvera N. Makki, Country Head Corporate Affairs Citi Indonesia.     

Elvera N. Makki

Citi Indonesia melalui payung kegiatan kemasyarakatannya, CitiPeka (Citi Peduli dan Berkarya), memperkenalkan program Digital Financial Literacy for Children kepada siswa SD kelas 3, 4, dan 5 di Indonesia. Ada sekitar 2.244 siswa SD dari 7 sekolah dilibatkan. Saya dan teman-teman blogger diundang menghadiri acara yang diadakan di SDN Tanjung Duren Utara 06, Jakarta Barat (4/4). Acara ini merupakan inisiatif Citi Indonesia (Citibank) bekerja sama dengan tim yang selama ini fokus dengan financial literacy, yakni Prestasi Junior Indonesia (PJI).  

Rob Gardiner, Management Advisor PJI, berkata, “Semoga siswa bisa menjadi duta keuangan cilik bagi keluarga. Nantinya info yang mereka dapat di kelas didiskusikan kepada ayah, ibu, dan saudara-saudara. Modern but simple learning about earning, spending, and donating. Jadi siswa bukan hanya belajar tentang menabung dan jual beli, melainkan juga belajar cara membantu sesama.”

Kiat mendidik anak di era digital
            Pada hari tersebut, pihak Citi Indonesia menghadirkan Ibu Rosdiana Setyaningrum, Psikolog Anak, untuk berbagi kiat mendidik anak di era digital. Aduuuh ... jadi minder sama Ibu Rosdiana. Anaknya udah SMA, tapi bodinya langsing singset kayak gadis muda belia remaja huhuhu. Apa kabar bodi saya yang terus mengembang mirip kue bolu ini? *abaikan*

Rosdiana Setyaningrum

            Menurut Ibu Rosdiana, anak-anak zaman sekarang disebut generasi digital native. Mereka amat sangat terhubung dengan internet. Saking terhubungnya, polah dan hobi anak-anak di Indonesia dengan anak-anak di luar negeri hampir sama. Pernah memperhatikan enggak, Teman-teman? Contoh, anak-anak kita di rumah main slime dan squishy, anak-anak di luar negeri juga pada rame main slime dan squishy. Kalau anak-anak zaman dulu di Medan mainnya apa, di Surabaya mainnya apa, di luar negeri mainnya apa. Beda lokasi beda pula permainannya.   

            Anak-anak hobi main games? Monggo aja. Hanya, jangan sampai ketagihan. Sebagian pasien Ibu Rosdiana adalah anak-anak yang kecanduan games. Ada yang sampai mencuri kartu kredit orangtuanya segala buat membeli senjatalah, kendaraanlah, apalah untuk keperluan main games itu. Serem euy. Anak sulung saya kebetulan hobi main games. Saya pribadi mengarahkannya dengan ikutan kursus coding dan kursus membuat games. Sekarang dia sudah bisa membuat beberapa games sederhana. Siapa tahu nanti potensinya lebih tergali lagi dan lagi. Berikut hal utama yang harus diperhatikan jika orangtua ingin anak mengenal dunia digital.

1. Gadget bukan untuk anak usia di bawah 1 tahun
2. Lama pemakaian gadget untuk anak di bawah 5 tahun itu maksimal 1 jam dan di atas 5 tahun itu maksimal 2 jam (orangtua kudu tegas euy)
3. Pilih konten yang edukatif (no violence, no sex, no horror)
4. Konten tidak menyilaukan mata
5. Pasang lock atau pengaman
6. Gunakan prinsip 15:1 supaya mata tidak lelah (15 menit melihat layar dan 1 menit melihat jauh, dst).

Ki-ka: Rob Gardiner, Rosdiana Setyaningrum, Elvera N. Makki, Nurhayati (Kepsek) 

Foto bersama guru dan orangtua

            Pemakaian gadget pada anak pastinya punya dampak positif dan dampak negatif. Dampak positif: pengetahuan anak semakin luas, kosakata bertambah, dan daya imajinasi berkembang. Dampak negatif: fokus pendek, komunikasi cuma satu arah, dan kemungkinan anak menjadi agresif. Selain gadget, pikirkan hal lain untuk menarik minat anak, misal berikan buku yang mereka suka, ajak bermain outdoor, olahraga bareng, dll.   

Digital Financial Literacy for Children
            Jadi, sebenarnya bagaimana praktik Digital Financial Literacy for Children itu? Nah, setelah talk show, kami diberi kesempatan untuk melongok aktivitas siswa SDN Tanjung Duren Utara 06 di kelas. Masing-masing memegang tablet yang sudah dilengkapi software khusus dari kakak-kakak tim PJI. Tablet digunakan untuk belajar interaktif secara berkelompok.

            Seperti yang disebutkan Ibu Elvera di atas, siswa belajar mulai dari hal-hal yang paling mendasar seperti perbedaan antara kebutuhan dengan keinginan, macam-macam metode pembayaran (tunai, kredit, debit), cara mengurus pajak, dan pengetahuan kewirausahaan. Hmmm, mendadak ingat tokoh Ismail bin Mail di serial Upin Ipin. Kecil-kecil jiwa wirausahanya luar biasa hahaha.

Apa aja konten Digital Financial Literacy for Children? Well, ada 3 modul edukasi keuangan dengan tema Keluarga Kami, Daerah Kami, dan Kota Kami. Semua modul sejalan dengan kurikulum pendidikan nasional Indonesia, termasuk konten perbankan. Saya perhatikan sih kontennya mudah dipahami, colourful, dan lucu! Siswa berasa nonton video animasi gitu. Tidak membosankan sama sekali.

See, gadget dan teknologi punya sisi positif, manfaatkan! Saat penyelenggaraan program, kakak-kakak Citi Indonesia yang tergabung di dalam Citi Volunteers aktif membantu para siswa menyelesaikan aktivitas yang memakai tablet tersebut. Waaah, ada siswa yang berkerut kening dan ada pula yang ketawa senang. Seru! :))




Yuk, menabung! :)

            Dengan pendanaan dari Citi Foundation, program yang dimulai Agustus 2016–Juli 2017 ini siap lanjut ke berbagai kota besar lain di Indonesia seperti Tangerang, Bandung, dan Surabaya. Insya Allah semakin banyak siswa yang merasakan manfaatnya. Mudah-mudahan ke depan ada program digital financial literacy buat para ortu, yaaa. Memangnya anak-anak doang yang pengin? Kita yang ibuk-ibuk kan juga pengin atuh. :)) [] Haya Aliya Zaki 

18 komentar:

  1. Wa,programnya bagus ya mbk.Aku nunggu program yg buat orangtua

    BalasHapus
  2. wahhh program yang sangat bermanfaat mbak .. bisa ngajari anak anak untuk gemar menabung

    BalasHapus
  3. Keren programnya ya kak. Emang gadget itu tergantung pemakainya kalo dibuat kegiatan n program bermutu kek gini ya jd bermanfaat juga :)

    BalasHapus
  4. Ehm, warna kuteknya cantik nian. Hihihi.

    Aplikasi bisa juga buat ngajarin anak nggak boros2 ya, Mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya ada program untuk mengajak anak menabung, Mbak. :)

      Hapus
  5. Ini yang aku cari, Mbak :) Piye caranya ngajarin financial literacy dengan cara yang asoy geboy.
    Kalo Citi mampir ke Sby, akoh mau banget ikutaaaan :)
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  6. Aplikasi yang bersifat edukatif memang harus diperbanyak, daripada gadget digunakan anak hanya untuk games saja. Beruntung City Indonesia mampu memberikan aplikasi bermanfaat. Makasih sharingnya mba..

    BalasHapus
  7. Programnya bagus bangeet!
    Kok aku juga jadi pengen yaa.. hehehe

    BalasHapus
  8. Waaahh anaknya Mbak uda diikutin kursus codingggg?! 😁😁😁

    Anak2 skrg emang beda dgn jaman kita dulu ya, skrg semuanya mereka uda melek teknologi, makanya gampang kl ngajarin mereka dgn menggunakan teknologi jg ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Timo. Anak zaman sekarang malah lebih gape bergadget ria daripada orangtuanya hehehe.

      Hapus
  9. aku juga lagi concern soal hal ini mba, makanya aku pun mulai mengedukasi anak2 terutama yang udah menjelang abege soal financial literacy ini..

    makasih ya infonya, lengkappp..

    BalasHapus
  10. Keren programnya. Di zaman serba menggiurkan kayak sekarang, jangankan anak-anak, orang dewasa aja udah susah untuk bisa nabung. Barang-barang bagus sangat menggoda untuk dibeli. Apalagi pas pegang gadget, iklan wara-wiri terus. Semoga aplikasi edukatif kayak gini bisa bermanfaat, ya. Gak cuma buat anak-anak, orang tuanya juga kudu belajar di aplikasi ini. :D

    BalasHapus
  11. Keren ya programnya, sejak kecil anak2 harus dididik menabung emang, soalnya kalau udah besar suka lupa ekkeke

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selain diajarkan menabung, juga diajarkan ttg donating, bagaimana cara membantu sesama. :)

      Hapus
  12. Itu yang gambar paling bawah, celengan ya Mbak. Aaaakk..lucu. Jadi inget celengan anak-anak di rumah. Dibongkar tiap tahun buat beli kambing kurban. Haha....Anak-anak emang bagus mulai dikenalkan ttg keuangan ya Mbak. Biar gede mere tahu cara bijak mengelolanya. TFS Mbak Haya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak celengan. Bagus itu Mbak isi celengan buat beli hewan qurban. Gak berasa tahu-tahu penuh ya.

      Hapus
  13. Wah Salfa senang tuh kalau diajak nabung. Lucu juga tuh celengannya. Makin semangat pasti si Salfa masukin recehan yang dia (nemu) di rumah

    BalasHapus
  14. sayangnya masih banyak prang tua yang kalah cepat menguasai gadget...

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan