Selasa, 14 Maret 2017

Yuk, Persiapkan Kesehatan Kehamilan untuk Investasi Generasi Nanti

“All that I am or hope to be, I owe to my angel mother.” – Abraham Lincoln

Senangnya jadi bidadari mereka :))

            Jelang hari pernikahan, apa yang biasanya kita pikirkan? Pastinya urusan tetek bengek mulai gedung, katering, sampai undangan. Saya paling fokus di ‘ritual’ perawatan tubuh seperti lulur, spa, pijat, manikur, pedikur haha. Sedapnyeee. Orang bilang menikah itu ibarat jadi ratu dan raja sehari. Penginnya semua serba-istimewa taiye.

            Tapiii, tapiii, mungkin banyak yang lupa bahwa calon manten juga harus mempersiapkan kesehatan. Jadi ingat, ketika saya akan menikah, seorang teman menyarankan saya untuk medical check up minimal medical check up umum, USG, dan TORCH. Paling ideal 6 bulan sebelum hari-H. Saya malah menanggapinya dengan tertawa. Soalnya saya merasa tidak sedang sakit apa-apa, sih. :(  

Mungkin Teman-teman bertanya, kenapa calon manten baik perempuan maupun laki-laki sebaiknya melakukan medical check up? Apakah itu berarti kita tidak menerima pasangan apa adanya? Lalu, jika pasangan terbukti mengidap sebuah penyakit, kita wajib berpisah? Bukaaan, maksudnya bukan begitu, Teman-teman.

            Dengan melakukan medical check up pranikah, kita dapat mengetahui persis kualitas kesehatan kita dan calon pasangan. Hal ini penting karena terkait dengan rencana persiapan kehamilan dan kualitas kesehatan keturunan kita nantinya. Jika ada problem, insya Allah bisa diantisipasi sejak dini.

Medical check up pranikah
            Berikut beberapa medical check up pranikah yang pernah saya baca di majalah Femina.

1. Medical check up umum
            Medical check up umum meliputi cek darah, urin, gula, tensi, hepatitis, dll. Contoh, jika kadar gula darah kita tinggi, dokter akan memberikan saran-saran tertentu. Jadi, ketika hamil nanti, kita bisa lebih berhati-hati. Bayi dan janin mudah-mudahan tetap sehat.     

2. Tes rhesus darah
            Waktu si sulung lahir, dokter mengajak saya dan suami berdiskusi. Rupanya si sulung lahir dengan rhesus darah negatif. Ini tidak lazim. Orang Asia rhesus darahnya positif. Berbeda dengan orang Eropa yang rhesus darahnya negatif. Di sini saya baru ngeh urgennya hal ihwal rhesus darah bagi kita yang ingin hamil. Persilangan rhesus kedua darah dapat menyebabkan keguguran. :((

3. USG
            Melalui USG kita bisa tahu apakah ada kista atau tumor di dalam tubuh. Jika ada, mestinya penyakit ini diobati dulu, terutama bagi kita yang ingin hamil.

4. TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes)
            Berhubung tes TORCH ini mahal, biasanya yang diutamakan adalah tes tokso aja. Selain melakukan tes, kita bisa tanya-tanya soal virus tokso dan penyebabnya kepada dokter. Teman-teman pencinta hewan yang ingin hamil tidak perlu parno berlebihan kalau sudah mendapatkan info yang benar. Tes ini khusus untuk perempuan.     

5. Periksa kesuburan
            Periksa kesuburan meliputi tes kualitas + kuantitas sperma (laki-laki) dan tes kemampuan berovulasi (perempuan). Gaya hidup, psikologis, dan keadaan rahim memengaruhi hasil tes. 

Tentang 1000 hari pertama kehidupan
Nah, sebagian dari kita menyangka bahwa kesehatan anak dijaga ketika anak sudah dilahirkan. Ini pendapat yang keliru. Kesehatan anak kudu dijaga sejak masih dalam kandungan! Yang paling utama itu pada 1000 hari pertama kehidupan. Simak UU no. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Defenisi anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Kualitas seorang anak terutama dibangun dari 1000 hari pertama kehidupannya, yakni 9 bulan 10 hari dalam kandungan (270 hari) dan 2 tahun (730 hari). Pada masa janin sampai anak berusia 2 tahun terjadi proses tumbuh kembang yang cepat nian, yang tidak terjadi pada kelompok usia lain. Contohnya, pertumbuhan otak. Sekitar 80% pertumbuhan otak anak terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan.

Sekarang percaya kan kalau 1000 hari pertama kehidupan menjadi penentu masa depan bangsa? Satu lagi, anak bukan mini-nya orang dewasa. Jangan sampai dosis obat anak diambil dari dosis orang dewasa, terus diparo 2, 3, 4, dst. Salah besar. Inilah sebabnya ada dokter spesialis anak. Mereka dibutuhkan bukan hanya saat anak sakit, melainkan untuk memantau kesehatan dan tumbuh kembang anak. Dan, anak jelas bukan miniatur orang dewasa!

Mitos dan fakta seputar kehamilan
Pada masa kehamilan, pastinya asupan nutrisi menjadi faktor krusial, dong. Demi 1000 hari pertama kehidupan tadi. Penginnya kita sebagai bumil boleh makan ini itu dan dalam jumlah banyak pula. :)) Sementara, di sekitar kita bertebar opini seputar kehamilan. Misal, bumil tidak boleh minum es nanti anaknya besar, bumil tidak boleh makan sambal nanti anaknya botak, bumil tidak boleh makan ketan nanti anaknya lengket susah keluar, dst, dst, dst. Wadaaaw. Ini mana yang mitos mana yang fakta, ya? Kepada para bumil baru, I feel you. Percayalah, saya pernah berada dalam posisi kalian. Pikiran bingung justru hadir karena banjir info dari keluarga maupun media. >.< 

Jadi, cocok banget kalau Obsat dan Mayapada Hospital mengadakan talk show Mitos dan Fakta Seputar Kehamilan dan Anak. Mayapada Hospital merupakan salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia yang berlokasi di Jakarta Selatan dan Tangerang. Sejak tahun 2008, Mayapada Hospital memberikan layanan paripurna kepada pasien dengan berbagai kebutuhan. Fyi, kalian bisa melakukan medical check up pranikah (premarital medical check up) di Mayapada Hospital. Demikian pula jika ingin konsultasi kehamilan dan tumbuh kembang anak. Dokternya patient-oriented. Fasilitasnya komplet.  

          Acara yang berlokasi di Beranda Kitchen, Jakarta Selatan (23/2) ini menghadirkan narsum-narsum kece, yakni dr. Yuslam Edi Fidianto, Sp.OG (dokter dari Mayapada Hospital), Kinaryosih (artis), Rahne Putri (blogger), dan Kartika Susanti (komunitas @TurnBackHoax). Saya tetap antusias ikutan walaupun udah hamil berulang kali. (((HAMIL BERULANG KALI))) Soalnya pengin share infonya ke para bumil (dan bapak-bapaknya jugaaa) supaya mereka jauh-jauh dari galau akibat mitos dan fakta kehamilan.


Ki-ka: Mbak Tika, Rahne, dr. Yuslam, Kinar, dan moderator

Kinaryosih (Kinar) yang sedang hamil 7 bulan share tentang mitos kehamilan yang dia percayai. Hamil kedua ini Kinar selalu minum air kacang hijau supaya rambut bayinya nanti hitam legam. Namun, menurut dr. Yuslam, warna rambut anak bukan tergantung dari makanan yang dikonsumsi ibu, melainkan faktor genetik. Air kacang hijau silakan terus dikonsumsi karena mengandung karbohidrat dan vitamin yang bermanfaat untuk ibu dan janin.

Kalau kejadian Rahne sih mirip seperti saya. Begitu hamil, keluarga langsung kasih segambreng saran. Kadang kurang sreg, tapi diiyakan aja demi menghormati hihihi. Seandainya Teman-teman ragu apakah info tersebut mitos atau fakta, bertanyalah ke dokter. Ini udah keputusan yang paling tepat. Berikut saran dr. Yuslam untuk bumil yang sempat saya catat.

1. Setop stres!
            Sebenarnya tidak ada kebiasaan yang berubah banget setelah kita hamil. Jangan terlalu memikirkan pantangan. Makan es enggak boleh. Makan sambal enggak boleh. Makan ketan enggak boleh. Apa-apa enggak boleh. Enggak begitu-begitu amat kaleee. Mungkin yang lumayan perlu diperhatikan itu kenaikan berat badan. Rata-rata berat badan bumil naik 9-14 kg waktu hamil. 

2. Hindari makanan kurang matang
            Bumil wajib ‘puasa’ sate, ya. Soalnya daging sate bukan daging matang. Bagian yang gosong malah bersifat karsinogenik (memicu kanker). Saya baru tahu, bumil lebih bagus makan daging kambing daripada makan daging sapi. Soalnya daging kambing lebih rendah kolesterol dan lebih banyak nutrisi. Kata dr. Yuslam, ini udah ada penelitiannya. Tapi, teteuuup, daging kambingnya harus matang.       
  
3. Waspadai demam dan diare
            Jangan anggap remeh demam dan diare karena dapat menyebabkan bumil dehidrasi. Minum banyak air putih dan segera berobat.

4. Minum kopi boleh, asal ….
  Boleh-boleh aja bumil minum kopi, maksimum 350 mg per hari. Itu pun dengan syarat bumil tidak mengidap hipertensi.

Beberapa menit kemudian, topik bergeser ke masalah berita hoax. Nah, sebenarnya menangani mitos ini much better daripada menangani berita hoax! Berita hoax yang beredar di dunia maya dan aplikasi pesan bukan berita tentang politik aja, lho. Ada juga berita hoax kesehatan. Saya pernah baca artikel di Facebook, katanya kalau tiba-tiba kita terkena serangan jantung, kita harus batuk keras-keras. Setelah saya konfirmasi ke dokter spesialis penyakit jantung, ternyata berita ini salah besar! Orang yang terkena serangan jantung dilarang bergerak, termasuk batuk. Berita kesehatan hoax bisa berakibat fatal. Nyawa taruhannya!

Thank God ada Mbak Kartika Susanti (Tika) dari komunitas Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia.  Mereka merilis layanan pelaporan berita palsu bernama Turn Back Hoax. Kita bisa melaporkan konten internet yang diduga hoax ke turnbackhoax.id dan disatukan dalam basis data. Nanti masyarakat bisa memilah-milah mana berita yang benar dan mana berita yang hoax. Kebetulan saya udah main-main ke sini dan nemu banyak banget berita yang viral dan ternyata oh ternyata hoax, Saudara-saudara. 

Kami antusias mengikuti acara

“Internet memiliki banyak kegunaan. Sayang sekali jika kita berhenti menggunakan internet hanya gara-gara menghindari berita hoax. Kami ingin merangkul masyarakat, terutama komunitas-komunitas, untuk bergerak menangkis berita hoax. Kita tidak bisa berharap kepada pemerintah aja. Gerakan masif akan lebih berdaya,” jelas Mbak Tika.  
   
Untuk mengecek apakah sebuah berita kesehatan itu hoax atau tidak, kita bisa bertanya kepada dokter. Namun, apakah kita bertemu dengan dokter setiap saat? Adakah tip-tip untuk mengecek berita kesehatan yang hoax? Jawabannya: ada, yakni 6P.

6 P tip untuk mengecek berita hoax
1. Perhatikan hati
            Waspada pada berita yang memuat kalimat “Berita ini jangan putus di Anda! Nanti keselamatan Anda terancam!” dan sejenisnya. Waspada pada berita yang memunculkan segala rupa emosi negatif di kita.       

2. Putus rantai
            Cara yang paling ampuh ya jangan ikut menyebarkan berita hoax. Sekalipun jika kita menyebarkan untuk sekadar bertanya kebenaran berita tersebut. Sadar atau tidak, sikap kita turut membantu penyebaran berita hoax.

3. Periksa sumber
            Apakah berita tersebut berasal dari sumber yang dapat dipercaya? Situs webnya abal-abal atau bukan? Jangan pasrah dan menelan berita tersebut mentah-mentah.

4. Periksa redaksional
            Situs webnya tampak kredibel. Kalimat-kalimat di postingannya rapi dan sesuai tata bahasa. Tapi, coba periksa, apakah ada jajaran redaksionalnya? Apakah ada nama-nama yang tercantum sebagai penanggung jawab?

5. Pakai akal sehat
            Beberapa waktu lalu tersebar berita larangan mengonsumsi obat parasetamol bertuliskan ‘P500’ karena berarti obat itu palsu. Hadeeeh, ‘P’ itu kan singkatan dari ‘parasetamol’ dan ‘500 mg’ itu dosisnya. Mari gunakan akal sehat!  

6. Perhatikan informasi
Perhatikan informasi sekalipun informasi tersebut berasal dari orang yang selama ini kita percaya. Hari gini sebagian orang merasa menjadi pahlawan karena telah menyebarkan sebuah berita. Hari gini sebagian orang terjebak dalam slogan Sharing is Caring. Mudahnya copy paste atau klik tombol ‘share’. Tidak ada filter sama sekali. Menurut Mbak Tika, yang paling apik itu ya filter dari diri sendiri.

“Of all the things I’ll ever do in my lifetime, mothering my children will always be my greatest accomplishment.” – anonymous

My babies

Segitu aja share dari saya, Teman-teman. Sepertinya berat ya mempersiapkan kesehatan kita dan kesehatan anak, terutama buat kaum ibu. Namun, percayalah, setelah dijalani, ternyata tidak seseram yang kita bayangkan, kok. Kebahagiaan memiliki buah hati menghapus sempurna semua lelah dan letih. Yuk, persiapkan kesehatan kehamilan untuk investasi masa depan generasi nanti. :) [] Haya Aliya Zaki


18 komentar:

  1. uton lucuuuuuuuu. cute banget. Sudah berhasil di 1000 hari pertama kehidupannya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau soal nutrisi Uthon malah kelebihan, Tante. : ))))

      Hapus
  2. Saya dulu pas sebelum nikah sempat tes TORCH, tapi benar, emang mihil. Hihihi, jadi saya ambil Toksonya aja. Terus pas hamil kedua enggak sempat tes Tokso lagi soalnya gak keburu, tahu-tahu hamil sudah 4 bulan. Hiks, sedih juga karena melewatkan trimester pertama. Tapi Alhamdulillah sekarang anaknya sehat dan menjelang 2 tahun ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dulu sebelum nikah aku malah gak medical check up apa-apa, Mita. Mita udah selangkah lebih maju. Moga anak-anak kita selalu sehat, ya. Aamiin. :)

      Hapus
  3. Wuih, komplit banget bahasannya. Sayang saya sudah nikah, tapi info ini bakal bermanfaat banget saat anak gadis kecil saya nanti sudah masanya membangun rumah tangga.

    Btw, dulu istri cuma cek kesehatan di Puskesmas. Itupun karena diwajibkan sama petugas KUA yang mengurusi persiapan pernikahan kami. Jadi cek standar aja, nggak tahu apa aja yang diperiksa. Yang jelas, mustinya ada cek kesehatan lebih komplit ya bagi calon pengantin. Dan kalau bisa sih biayanya ditekan entah gimana caranya (mau minta subsidi pemetintah kok malu tapi hihihihi).

    Eh, ngomong-ngomong sate langgananku dagingnya sudah dalam kondisi matang, Kak. Jadi pas dibakar itu sudah matang dimasak pake bumbu. Bakarnya cuma formalitas aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, itu pusekesmasnya keren juga yah. Saya baru tahu kalau puskesmas udah menyarankan medical check up pranikah. Beruntung Mas Eko dan istri. :)

      Iyaaa, saya juga kalau bikin sate sendiri, dagingnya udah matang. Soalnya buat dikonsumsi anak-anak juga. :)

      Hapus
  4. duhhh jaman aku mau nikah dulu belum terlalu aware dng cek kesehatan pra nikah :(. Makasih info lengkapnya mba Haya, jadi masukan penting buat para pasangan yang sedang berencana menikah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Zata. Bisa kita terapkan nanti ke anak-anak kita. :)

      Hapus
  5. Setuju, mbak.
    Itulah kenapa penting mempersiapkan kehamilan dengan baik, bahkan yang pernah aku baca, faktor risiko seorang anak dalam kehidupan sangat dipengaruhi oleh nutrisi calon ayah ibunya.

    Iya, setuju sama Mas Eko, jadi sebaiknya memmang pra medical check up, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak. Berpengaruh sangat terutama pada 1000 hari pertama kehidupan. Makasih udah singgah, Kakak. :)

      Hapus
  6. Duh si kecil bikin gemess, pasti dulu mommy minum air rebusan kacang ijo hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha dulu umminya pemakan segala, Mbak Titi. :))))

      Hapus
  7. Mba hay, lucu semuaa.. klo ktmu Mau foto sama uthon jg ah hahaa
    Yg masalah rhesus aku br tau mba. .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa kapan-kapan kalau ketemu Uthon ya. :)) Aku juga baru ngeh soal rhesus ini waktu lahiran Faruq. Rhesus darahnya negatif.

      Hapus
  8. Ini masih jarang nih Mbak dilakukan calon manten. Xixixi. Fokus di persiapan gedung, undangan, dll. Sadarnya dan degdegannya pas hamil...duh, apalagi baca-baca masalah penyakit gen ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betuuul biasanya kita fokus di persiapan gedung, katering dll kan. Penyakit genetik juga perlu diketahui siapa tahu bisa diantisipasi sejak dini. :)

      Hapus
  9. Dulu pas pranikah mau cek ini itu dianggap aneh, alhasil gak jadi. Di kampung minim info beginian Mbak dan dianggap tabu, kl udah suntik dr puskesmas dianggap udah aja. Thank you udah mencerahkan, setidaknya untuk menyiapkan kehamilan biar gak termakan mitos dan "katanya" :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa. Dulu pas temenku nyaranin medical chexk up pranikah, aku garuk-garuk kepala. Tapi Mas Eko puskesmasnya keren tuh. Udah nyaranin medical check up pranikah segala.

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan