Jumat, 24 Maret 2017

Buku sebagai Jendela Dunia dan Inspirasi Kehidupan

“Books were my pass to personal freedom. I learned to read at age three, and soon discovered there was a whole world to conquer that went beyond our farm in Mississippi.” – Oprah Winfrey

Pada suatu masa, kisah hidup Oprah Winfrey begitu menarik perhatian saya (sampai sekarang pun masih). Saya pun membeli komik biografi Oprah (karya penulis Ahn Hyong mo) untuk saya dan anak-anak baca. Ya, siapa yang tidak kenal dengan perempuan asal Mississippi berusia 63 tahun ini? Popularitasnya meroket berkat acara Oprah Winfrey Show. Orang-orang menjulukinya ratu media. Oprah mengakui, dia terbebas dari masa kecilnya yang kelam berkat benda bernama BUKU. Kok bisa? Teman-teman sila baca lengkap kisah hidup Oprah Winfrey di internet, koran, majalah, atau buku. Insya Allah menginspirasi. :)

  Dan, kisah hidup Oprah menjadi pembuka yang manis di acara Kafe BCA V bertema Membaca dari Generasi ke Generasi yang berlokasi di gedung Menara BCA, Jl. Thamrin, Jakarta. Waaah ... asli saya terpesona melihat dekor di TKP. Di mana-mana ornamen buku bahkan sampai hanging mobile-nya pun buku! Panggungnya? Buku raksasa! Seru! :))







Btw, ada yang belum tahu Kafe BCA? Kafe BCA merupakan wadah berdiskusi yang menghadirkan para pakar dan praktisi untuk membahas tema tertentu. Tujuannya memberikan informasi dan ilmu kepada masyarakat demi kemajuan bersama. Kafe BCA tampil perdana pada tanggal 13 Januari 2016. Pada tanggal 15 Maret 2016 lalu sudah sampai ke acara diskusi yang kelima. Makanya diberi nama: Kafe BCA V.

Di forum Kafe BCA V saya rada takjub soalnya narsum acaranya sampai 5 orang. :)) Mereka adalah Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI), Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia), Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia), Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa), dan ... Andy F. Noya (Duta Baca + presenter acara Kick Andy). Narsum yang paling bikin penasaran pastinya Andy F. Noya dong. Siapa yang tak kepincut sama acara Kick Andy? So inspiring! Saya ulas semua diskusi berdasarkan nama-nama narsumnya, ya. Siapkan energi kalian untuk membaca tulisan panjang. Semoga enggak pada bosan dan pindah ke postingan lain haha.

1. Muh. Syarif Bando (Kepala Perpustakaan Nasional RI)
            Berdasarkan studi Most Littered Nation in the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada tahun 2016, Indonesia dinyatakan sebagai negara yang menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Hampir nomor buncit! :((

Menurut Pak Syarif, sebenarnya minat baca di Indonesia cukup baik. Hanya, buku yang mau dibaca itu SANGAT SEDIKIT. Sekitar 74% perpustakaan bertumpu di Pulau Jawa. Standar UNESCO, 1 orang membaca 2 buku. Faktanya, di berbagai daerah di Indonesia (terutama di pelosok), 1 buku diantre baca oleh 50 orang! Alamak!

Bagaimana dengan internet? Ada 130 juta penduduk Indonesia yang terkoneksi internet dan cuma 2,5% yang menggunakannya untuk browsing ilmu pengetahuan. Bukan apa-apa, kontennya itu kurang sekali. Jadi, Pak Syarif berharap, ke depannya jumlah penulis (terutama penulis buku) bertambah banyak dan jumlah literatur atau buku yang ditulis juga bertambah banyak. Alhamdulillah, tahun lalu dan tahun ini saya mendapat kepercayaan menulis 10 serial moslem fairy tale pictorial book. Semoga bisa sedikit membantu ya, Pak. Aamiin.   

2. Tjut Rifameutia Umar Ali (Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia)
            Kebiasaan membaca tidak muncul sekonyong-konyong. Anak senang membaca jika orangtua dan lingkungannya juga senang membaca. Ketika menunggu, anak melihat ibu membaca buku. Ketika di rumah, anak melihat ayah duduk santai membaca buku. Demikian seterusnya. Kebiasaan ini sebaiknya ditanamkan ketika anak berusia di bawah 6 tahun. Bacakan buku. Dongengkan mereka. Tunjukkan ekspresi kece saat membaca. Obrolkan buku yang telah mereka baca.

3. Lucia Ratih Kusumadewi (Dosen Sosiologi Universitas Indonesia)
            “Sebagian besar sistem komunikasi di institusi pendidikan kita masih satu arah. Guru ibarat sumber ilmu pengetahuan dan murid ibarat celengan yang selalu menerima,” papar Bu Lucia. Istilahnya, murid punya ilmu pengetahuan, tapi nantinya sulit untuk memproduksi ilmu pengetahuan. Yang lebih parah sih kalau murid jadi generasi penghapal. Baca buku cuma saat ujian dan setelah lulus apa yang dipelajari pun hilang. Hmmm, sounds familiar? :))

            Saran Bu Lucia, alangkah idealnya jika murid ramai-ramai diajak membaca buku. Setelah itu, berdiskusilah tentang apa yang mereka baca. Biarkan mereka menyampaikan pendapat dan mengajukan pertanyaan. Murid dibiasakan berpikir kritis dan kreatif. Setuju pakai banget, Bu Lucia! Mari kita tinggalkan sistem pendidikan zaman lawas di mana murid cuma bisa manggut-manggut elus janggut ngeliatin gurunya di depan kelas. :p

4. Dadang Sunendar (Kepala Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa)
            Info dari Pak Dadang, sesuai program Penumbuhan Budi Pekerti (PBP) dari Kemendikbud, setiap sekolah mewajibkan murid-muridnya membaca buku selama 15 menit setiap hari sebelum pelajaran dimulai. Boleh baca buku apa aja, tidak harus buku pelajaran kok. Siswa bebas memilih buku yang disukainya dan buku tersebut memperkaya pengetahuan. Apakah itu dongeng, cerita rakyat, sastra, dll. Kira-kira berat tidak melaksanakannya, ya?   

5. Andy F. Noya (Duta Baca dan presenter acara Kick Andy)
            Eng-eing-eng. Here we go. Kayaknya diskusi dari Bang Andy ini bakal paling panjang sendiri haha. Soalnya saya terkesan banget sama perjalanan hidup beliau. Adakah di antara Teman-teman yang bertanya-tanya kenapa Bang Andy selalu memberikan hadiah buku kepada audiens acara Kick Andy? Aksi bagi-bagi buku ini menjadi ciri khas acara Kick Andy. Audiens di rumah juga berkesempatan mendapat hadiah buku dengan cara ikutan kuis. Nasiiib, beberapa kali ikutan, saya belum pernah beruntung. :p




Ternyata oh ternyata ada cerita pilu di balik bagi-bagi buku tersebut. Kehidupan Bang Andy kecil di Kota Malang sangatlah sulit. Dia suka membaca buku, tapi tidak sanggup membeli. Senang sekali rasanya ketika bu guru rutin memberikan hadiah majalah Si Kuncung. At least Bang Andy punya bahan bacaan. Berkat gemar membaca, laki-laki kelahiran Surabaya ini jadi gemar menulis.

“Dengan hobi menulismu ini, suatu saat kamu akan menjadi hartawan,” kata salah seorang guru sekolah Bang Andy.

       Melihat anaknya sangat suka membaca, ibu Bang Andy tersentuh hatinya untuk menyisihkan uang dan membeli koran setiap hari. Padahal ibu Bang Andy hanya penjahit berpenghasilan pas-pasan. Makan sehari-hari aja sering sama nasi dan garam. Kedua orangtua Bang Andy telah berpisah dan 3 anak menjadi tanggungan ibu Bang Andy. Kalau dipikir-pikir, sepertinya mereka mustahil berlangganan koran. Tapi, ibu Bang Andy mampu melakukannya demi melihat anaknya semangat mencari ilmu. Setiap Bang Andy ulang tahun, ibu memberi hadiah buku. Dari buku, Bang Andy jadi tahu cara membuat macam-macam prakarya bagus. Dia yang selama ini diremehkan karena miskin, tiba-tiba panen pujian di sekolah. Saat bercerita pengorbanan ibu, mata Bang Andy berkaca-kaca. Tenggorokannya tercekat selama sekian detik.

Beberapa tahun kemudian, Bang Andy pindah ke Papua mengikut ayahnya. Dia pikir hidupnya bakal berubah. Ternyata podo wae sami mawon, Saudara-saudara. Ayahnya tukang reparasi mesin tik yang miskin. Soal buku, jangan bandingkan ketersediaan buku di Jawa dengan di Papua. Di Papua, buku luar biasa susah dicari. Kalaupun ada, harganya mahal ampun-ampunan.        

Setelah itu, Bang Andy diajak saudaranya pindah ke Jakarta. Dari sisi pengetahuan, dia menyadari banyak tertinggal dengan teman-teman sebayanya. Apa yang dilakukan Bang Andy? Well, dia menebusnya dengan ‘brutal’ membaca buku! Uang dari mana? Alhamdulillah, ada Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Di sana merdeka baca buku. Gratis! Jika punya uang, Bang Andy berburu buku-buku bekas di Kwitang.

Demikian akhirnya hingga Bang Andy berhasil menggapai cita-citanya menjadi wartawan di berbagai media kesohor dan lanjut menjadi presenter teve acara Kick Andy. Di tangan dingin Bang Andy, acara ini telah beberapa kali diganjar award bergengsi. Wah, ucapan guru Bang Andy dulu sudah terbukti. :) Saya pribadi mengukur kata “hartawan” bukan dari materi aja sih. Jangan bandingkan dengan Princess Syahrini yang ke mana-mana naik jet pribadi hihi. Tapi, berkat buku, Bang Andy bisa memeluk profesi yang dia idam-idamkan. Berkat buku, Bang Andy bisa menolong masyarakat di daerah terpencil yang butuh perluasan akses buku. Kalau Amerika punya Oprah WInfrey, Indonesia punya Andy F. Noya. Mereka menunjukkan bagaimana buku mampu mengangkat derajat hidup seseorang. Diskusi bersama Bang Andy diselingi gelak tawa dan rasa haru. Kelihatan memang kalau presenter andal itu, ya. Pandai betul membawa suasana.

“Anak-anak miskin yang tinggal di daerah terpencil akan terbuka wawasannya jika rajin membaca buku. Mereka jadi punya harapan. Mereka jadi punya keberanian untuk mengubah hidup asalkan mereka mau berusaha.” - Andy F. Noya

  Guess what, kita juga bisa ambil bagian seperti Bang Andy! BCA mengajak kita berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Pilih paket donasi yang tersedia. Dana yang terkumpul akan dikonversi menjadi buku. Buku-buku tersebut nantinya disalurkan ke berbagai daerah di Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, BCA mempersembahkan kaus kebaikan untuk kita yang berpartisipasi dalam gerakan berbagi Buku untuk Indonesia. Detailnya lihat di banner. 




Teman-teman ikutan, yuk! :) “Mari sebarkan buku ke seluruh penjuru negeri untuk masa depan Indonesia yang lebih baik,” tutup Pak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA. [] Haya Aliya Zaki

12 komentar:

  1. Ternyata di balik sosoknya yang WOW ada masa kecil yang memprihatinkan. Maka benar saja kalau ada yg bilang, yg akan jadi orang besar itu adalah anak kampung, karena dari kecil otak mereka sudah diperas untuk kreatif.

    BalasHapus
  2. minat bacanya cukup baik, tapi sebagian kurang dukungan dari orang tua juga mbak. Dari orang-orang terdekat aku gitu. Mereka merasa berat beli buku harga 50-100rb tapi untuk membeli yang lain ga keberatan

    BalasHapus
  3. Aku dulu suka baca buku sampe karya Pramoedya ananta toer aku punya semua skrg cm rajin baca buku anak2 plus di internet huhuhu...

    BalasHapus
  4. Buku paling setia. Alhamdulillah dua anak lelaki nurun niru emaknya, suka baca buku. Walau mereka tipe yang visual banget, masih suka bergambar. Masih ga mau baca sekelas novel.

    BalasHapus
  5. Di kita, baca buku masih terasa mahal dan aneh

    BalasHapus
  6. Weh keren banget BCA memfasilitasi hadirnya Andi F. Noya. Andy memang suka bagi bagi buku, aku pernah juga dapat buku dengan menjawabb kuis dari Andi dulu pas Laskar Pelangi

    BalasHapus
  7. Aku tau kisah tentang Andi F Noya waktu liat progamnya, bikin haru bgt. Aku msh nular2rin minat baca sama org2 terdekat

    BalasHapus
  8. Buku untuk Indonesia dari BCA semoga sukses. Donasi juga, baca kudu wajib

    BalasHapus
  9. Aku trenyuh baca kisah Bang Andi, mungkin sekarang masih banyak anak-anak yang masih bernasib sama dengan Bang Andi. Gerakan buku untuk Indonesia ini sangat bermanfaat untuk anak-anak Indonesia. Langsung meluncur ke web nya :D

    BalasHapus
  10. Membaca buku fisik memang tak tergantikan ritualnya, sensasinya, pengalamannya, oleh buku elektronik. *ciyum aroma buku*

    BalasHapus
  11. Wah saya baru tau kalo Bang Andy pernah hidup di Malang, jadi ikut merasa bangga dan makin ngefans.
    Makasih sharingnya Mbak, bisa buat boost semangat membaca saya yang turun drastis sejak ngeblog he3
    Tapi walaupun begitu saya dan istri komitmen mengenalkan buku sejak kecil kepada anak-anak kami dan Alhamdulillah berhasil.

    BalasHapus
  12. Termenung nih baca pengalaman Andy Noya. Trus teringat kondisi sekarang. Banyak anak (dan ortu) yang akses ke buku bacaan sangat banyak dan mudah tapi nggak dimanfaatkan. Etapi di pelosok-pelosok luar Jawa masih banyak yang begitu juga ya. Aku beberapa kali dapat cerita begitu dari temen2 yang aktif di kegiatan literasi.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan