Jumat, 06 Januari 2017

My Sister's Keeper: Dilema Cinta Ibu



“If you have a sister and she dies, do you stop saying you have one? Or are you always a sister, even when the other half of the equation is gone?” – My Sister’s Keeper
 “Jika kamu berjuang untuk Kate, lalu siapa yang berjuang untuk Anna?” tanya sang pengacara dengan pandangan tajam.
Sara terdiam, seolah berusaha mengumpulkan kekuatan. Beberapa detik kemudian, dia membalas garang, “Kamu tidak tahu posisiku sebagai ibu! Anna itu anak yang sehat, sementara Kate sakit. Jika Kate tidak ditolong, dia akan mati! Jika aku tidak berusaha, aku akan mengubur anakku sendiri!” (kurang lebih begitu dialognya) 
 Adegan di atas adalah adegan persidangan Sara Fitzgerald (Cameron Diaz), ibu 3 anak remaja, di film drama keluarga My Sister’s Keeper (Penjaga Kakakku). Fyi, film ini diadaptasi dari novel karya Jodi Picoult dengan judul yang sama. Ceritanya, Sara dituntut oleh Anna Fitzgerald (Abigail Breslin), anak bungsunya yang berusia 13 tahun. Iyes, Sara dituntut oleh anak kandungnya sendiri.

Sara dan pengacara Anna, Mr. Campbell

What?! Anak durhaka! Malin Kundyaaang … dyaaang … dyaaang … dyaaang!
Pasti itu respons spontan Teman-teman. Wait, baca dulu cerita saya selanjutnya, mungkin … mungkiiin kalian akan berubah pikiran.
Kemarin secara tidak sengaja saya membuka channel HBO Hits dan ternyata film My Sister’s Keeper sedang tayang. Film yang rilis tahun 2009 di Amerika. Sudah lama pengin baca bukunya, belum kesampaian. Sudah lama pengin nonton filmnya, lagi-lagi belum kesampaian. Eh, kali ini saya beruntung bisa menikmati filmnya tanpa direncanakan. :)
Sara Fitzgerald dan Brian Fitzgerald (Jason Patric) dianugerahi sepasang anak laki-laki bernama Jesse Fitzgerald (Evan Ellingson) dan anak perempuan bernama Kate Fitzgerald (Sofia Vasilliev). Kebahagiaan mereka lengkap. Namun, kebahagiaan itu tidak lama. Pada usia 4 tahun, Kate divonis mengidap leukemia akut (kanker darah). Menurut dokter, kelak Kate bakal kesulitan mendapatkan donor, kecuali Sara dan Brian melakukan satu cara. Apakah gerangan?
Sara dan Brian disarankan melakukan program bayi tabung. Dokter akan membantu semacam rekayasa genetika untuk “menciptakan” janin yang gen-nya nanti cocok untuk Kate. Istilahnya: design baby. Sara dan Brian setuju.
Lalu, lahirlah anak ketiga yang diberi nama Anna. Sara memutuskan berhenti bekerja sebagai pengacara karena ingin fokus merawat Kate. So here’s the drama. Sejak bayi, Anna sudah menyumbangkan tali pusarnya untuk Kate. Selanjutnya, tak terhitung berapa kali Anna mengalami operasi dan transfusi demi kelangsungan hidup Kate. Ya, Anna melakukan semua kemauan ibunya, dari mendonorkan darah, mendonorkan granulosit, sampai mendonorkan sumsum tulang belakangnya demi sang kakak. Poor little Anna. Bisa kebayang enggak sih anak yang sehat kondisinya jadi sama seperti anak yang sakit? Dari bayi hingga remaja kerjaannya bolak-balik masuk RS aja. Anna TIDAK MEMILIKI wewenang atas tubuhnya sendiri.    

Anna, Kate, dan Jesse

 Tahun demi tahun berlalu. Sara semakin “berambisi” supaya Kate sembuh. Dia melupakan hak anak-anaknya yang lain, Anna dan Jesse. Lho, emang Jesse kenapa? Jesse mengidap disleksia. Sekolahnya berantakan. Jesse luput dari perhatian orangtuanya yang sibuk mengurus Kate. Puncaknya ketika Kate berusia 16 tahun. Sara meminta Anna mendonorkan ginjalnya untuk Kate karena ginjal Kate telah rusak. Kate menolak menerima. Dia merasa CUKUP sudah. Enough is enough!
Kate tidak ingin adiknya berkorban lagi, meskipun adiknya mau. Kate tidak mampu membayangkan Anna bakal kehilangan masa depannya sebagai cheerleader dan pesepak bola. Tapi, Sara ngotot terus. Sara sangat takut Kate meninggal. :((
Sara rela membotaki kepalanya supaya Kate tidak merasa sendirian (Kate botak karena terapi kanker)

Apa akal? Bermodalkan 700 dolar hasil dari menjual liontin, Kate menyuruh Anna menyewa pengacara Campbell Alexander (Alex Baldwin). Anna menuntut kebebasan mengiyakan atau menolak permintaan ibunya untuk melakukan macam-macam operasi, transfusi, donor, dll itu. Anna menuntut kewenangan atas tubuhnya sendiri. Ekstrem ya menuntut ibu sendiri? Terpaksa dilakukan karena keinginan Sara tidak pernah bisa dibantah. Kenyataannya, Anna jauh dari kejam kok. Justru dia luar biasa menyayangi Sara dan Kate. Anna melakukan  ini karena dikompori Kate yang kasihan kepadanya. Btw, kenapa Kate dan Anna memilih Mr. Campbell untuk menjadi pengacara? Mr. Campbell mengidap epilepsi. Jadi, Mr. Campbell tahu seperti apa rasanya tidak memiliki wewenang terhadap tubuhnya sendiri (saat penyakitnya kambuh).
Malam usai sidang, Kate duduk berdua di dalam kamar di RS bersama ibunya. Dia menceritakan betapa bahagianya dia selama ini. Meski sakit, keluarga selalu ada untuknya. Kate memohon Sara mengikhlaskan dia pergi dengan damai. Sara urung menjawab. Hanya isakan panjang yang terdengar. Keeesokan pagi, Kate tidak terbangun. Dia benar-benar telah pergi.   
Setelah Kate meninggal, kehidupan keluarga Fitzgerald terus berlanjut. Sara kembali bekerja sebagai pengacara. Brian pensiun dini karena ingin menjadi konsultan buat remaja bermasalah. Anna berprestasi di sekolah. Soal sidang? Anna memenanginya. :) Jesse mendapatkan beasiswa sekolah seni di New York. Yey! Jesse melanjutkan sekolahnya lagi! Setahun sekali mereka sekeluarga mengunjungi Montana, tempat favorit almarhumah Kate.  
The story behind My Sister's Keeper novel
Pada usia 5 tahun, Jake (anak Jodi Picoult), terserang choleateatoma, yakni tumor jinak di telinga kiri. Tumor jinak, tapi sewaktu-waktu bisa menyerang otak dan membunuh Jake. Jake harus menjalani 13 macam operasi! 
Film kelar, ada kali setengah jam saya sesenggukan. :(( Dilema betul posisi Sara sebagai ibu. Saya teringat pedihnya perasaan kala merawat anak yang semingguan sakit di RS. Sementara, anak-anak saya yang lain, yang kondisinya sehat, juga tetap harus diperhatikan. Itu “cuma” semingguan. Gimana dengan Sara yang sampai belasan tahun. :( Saya pula teringat satu per satu keluarga di Medan. Jika dikatakan bahwa harta yang paling berharga adalah keluarga, bagi saya itu benar adanya.
Saya tidak akan membahas soal akting Cameron Diaz dkk. Cukup dua kata: keren gilak! Soal hikmah, banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah My Sister’s Keeper. Sekuat apa pun usaha manusia, kalau Allah menakdirkan lain, kita harus ikhlas. Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Dalam keadaan sulit, sebuah keluarga hendaknya tetap bersatu. Keluarga yang saya maksud di sini bukan hanya keluarga sedarah. Orang-orang yang paling dekat dan paling mengerti kita, bisa jadi saudara kita juga. Seandainya sekarang kalian merasa belum memiliki keluarga, berjanjilah suatu saat kalian akan menjadi pasangan yang baik, orangtua yang baik, dst. Ini sebenarnya sekalian nasihat untuk diri saya sendiri. :) Well, have a blessed Friday, Teman-teman! Jadilah “penjaga” bagi orang-orang tersayang. [] Haya Aliya Zaki
Foto-foto milik Curmudgeon Films

16 komentar:

  1. keren nih film ini, saya sampe sedih nontonnya mbak

    BalasHapus
  2. wah belum peranh baca bukunya dan belum eprnah lht filmnya, makasih sharingnya

    BalasHapus
  3. pernah ada kisah nyata yang mirip seperti ini juga lho
    sempat ramai di berita karena soal etis tidaknya punya anak lagi supaya bisa menolong anak pertama yang sakit kronis,

    aku coba googling, dan akhirnya nemu nama Anissa dan Marissa Ayala, penyakitnya sama leukemia
    tapi kisah ini happy ending


    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku dah googling nih Kak. Yang Ayala selamat ya. Ternyata ada di kisah nyata.

      Hapus
  4. Saya baru tau.... iya pasti dilema bgt ya Ibunya dg kondisi spt itu. Tp anak punya hak. Makasih sharenya Mbak Haya. Nanti nyari ah

    BalasHapus
  5. Konflik keluarga yg dilematis memang kerap menguras air mata.
    Duh, aku harus banyak bersyukur nih memiliki keluarga utuh dan sehat.

    Semoga keluarga kita semua selalu sehat dlm lindungan Allah ya, Mi.
    TFS! Jadi pengin nonton film ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Akting Cameron Diaz itu dapet banget, Miss. Padahal dia belum jadi ibu tahun 2009.

      Hapus
  6. Aku sukaaaaaaaa banget film ini. Udah nonton entah berapa kali.
    Sedih. Dilema. Di satu sisi iya sih ibu mana yang ikhlas merelakan anaknya. Tapi di sisi lain, kadang kita sebagai ibu suka lupa mendengarkan kemauan anak.
    Film ini bagus buat jadi pelajaran buat semua orangtua agar ga lupa mendengarkan keinginan anak-anak kita.

    BalasHapus
  7. Aku pertama kali nonton lewat vcd, mba. Beberapa tahun yang lalu nontonnya. Sukses bikin mata sembab kebanyakan nangis. Beberapa bulan lalu ga sengaja nonton di tv cable, dan tetep nangis bombay. Sedih banget filmnya. Tapi aku suka dengan pesan moralnya. Good movie!

    BalasHapus
  8. sebelum keluar filmnya saya udah baca bukunya pas ada filmnya nonton lagi karena penasaran dengan versi filmnya, tetap bikin termehek-mehek walaupun udah tau ceritanya. Buku Jodi Picoult yang pertama saya baca, setelah itu suka buku-buku Jodi picoult temanya selalu keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya ending di bukunya tragis, ya? Aku belum baca bukunya, Mbak.

      Hapus
  9. aku udah pernah nonton ini dan suka!

    BalasHapus
  10. aku belum nonton film ini, jadi pengen nyari ah.. thanks reviewnya mba Hayyy..

    BalasHapus
  11. Cobaan nya terus menerus yaaa, leukimia desleksia ... beratttt tapi salut

    BalasHapus
  12. Bisa bayangin mewek-meweknya seperti apa. Pasti dilema banget ya jadi Sara, yang di satu sisi pengen lihat Kate sehat tapi di sisi lain harus mengorbankan Anna. Yang menarik, Anna itu ada karena "dirancang" untuk menyokong Kate. Luar biasa banget pelajaran yang diberikan oleh anak-anak dalam film ini. Jadi pengen nonton, terutama penasaran mau lihat Cameron Diaz botak :D

    BalasHapus
  13. Wah kalo terjadi pada keluarga kita, tentu sulit banget buat ambil keputusan operasi. tp overall kerenn

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan