Selasa, 29 November 2016

Hari Obesitas Sedunia: Cegah dan Kendalikan Obesitas Pada Anak


Pernah merasa gemas melihat anak-anak yang badannya ‘ndut dan pipinya gembil? Pastinya, yaaa. Pengin cubit-cubit terus kalau tak takut dipelototi dari ujung rambut ke ujung kaki oleh papa dan mama si anak haha. Dalam hati mungkin Teman-teman sambil berdoa, suatu saat pengin punya anak yang lucu-lucu seperti itu juga. Iya? :)
Anak-anak yang ‘ndut dan pipinya gembil ini memang tampak lucu, tapiiii …, tapiii …, hati-hati! Dari sisi kesehatan, kondisi demikian sebenarnya kurang baik. Berdasarkan data, 2 dari 5 anak Indonesia kelebihan berat badan dan 1 dari 10 anak Indonesia obesitas (obes). Bagi anak obes, angka hidup di atas usia 50 tahun akan berkurang. Astagfirullah ini “cambuk” buat saya karena sekarang si bungsu sedang kelebihan berat badan. Betul-betul harus waspada. :( Oiya, kali ada yang bertanya-tanya, kenapa sih dari tadi saya membahas tentang anak obes melulu?
Begini, tepat tanggal 11 Oktober lalu kita memperingati Hari Obesitas Sedunia. Sesuai info yang saya dapat dari talkshow yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI (31/10), tahun ini Hari Obesitas Sedunia punya concern khusus, yakni Calling for Urgent Government Action to End Childhood Obesity. 
Obes merupakan penimbunan lemak berlebihan akibat tidak seimbangnya energi masuk dengan energi keluar. Nah, udah kebayang, ya? Banyak masuk, tapi sedikit keluar. Anak-anak obes menyimpan lemak berlebih di dalam pembuluh darah, otak, hati, dll. Ketika beranjak dewasa, tubuh mereka rawan mengidap penyakit tidak menular (PTM) antara lain stroke, penyakit jantung, dan diabetes. Fyi, defisit JKN mencapai 7 triliun untuk pasien-pasien PTM. 

Risiko penyakit karena obes

Ciri-ciri anak obes sbb: pipi bulat, dagu rangkap, leher pendek, perut buncit, ketika berjalan lipatan paha dalam bergesek, pada anak laki-laki dada jadi membesar, dan penis kelihatan kecil karena area di sekitarnya tertimbun lemak. 
Faktor penyebab anak obes sbb: genetik, konsumsi obat-obatan tertentu, mager (males gerak), dan kebiasaan makan makanan yang tinggi lemak tinggi gula rendah serat. Siapa yang doyan makan makanan bersantaaan? Itu juga tuh kalau kebanyakan bahaya banget buat tubuh.    
Menurut narsum Dr. Lily S. Sulistyowati, MM. (Direktur Pengendalian PTM Kemenkes RI), sebaiknya jatah konsumsi minyak sayur < 5 sdm, gula < 4 sdm, dan garam < 1 sdt per hari untuk masing-masing orang. Catet ya: PER HARI. 

Para narsum acara talkshow Hari Obesitas Sedunia

Pendekatan pada anak obes berbeda dengan orang dewasa obes. Orang dewasa mungkin tidak begitu sulit diajak mengatur pola makan sekian porsi sekian kalori untuk sekian waktu. Anak-anak? Psikologis mereka mudah terganggu. Kata narsum Dr. (Candidate) Rita Ramayulis, DCN., M.Kes., kalau kita strict melarang anak-anak makan ini itu, mereka bisa stres dan nangis guling-guling, lho. Jadi, apa yang harus kita lakukan?
1. Ajak anak olahraga
Hal utama adalah mencari cara agar lemak yang tertimbun di tubuh anak obes bisa diubah menjadi energi. Yuk yak yuk bantu mereka olahraga! Anak tidak akan bergerak kalau ortunya asyik duduk nyamil nonton teve sepanjang hari bukan? :p Saran dari narsum dr. Michael Triangto, SpKo., olahraganya tidak boleh lebih dari 1 jam. Kecapekan pun tak baik. Minimal 15 menit okelah. Lakukan 3–5 kali seminggu. Sesuaikan dengan kemampuan tubuh. Olahraganya jangan berat-berat seperti olahraga atlet itu. Olahraga sambil main pasti seru! Ajak anak lari, melompat, melempar, naik sepeda beriringan, main sepak bola, dst. Setelah selesai olahraga, kesempatan bagi kita menyodorkan jus buah dan atau sayur TANPA GULA kepada mereka. Syedaph!       
2. Siasati pola makan
            Anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan. Tidak ada makanan “jahat” atau makanan “dewa” yang gimana-gimana. Hanya, perhatikan porsinya. Jika anak pengin tambah ayam goreng, beri syarat supaya mereka menghabiskan sayur bayamnya terlebih dahulu. Jika anak pengin tambah kentang goreng, beri syarat supaya mereka menghabiskan buah jeruknya terlebih dahulu. Biasanya anak-anak jadi kenyang oleh sayur+buah tersebut dan ogah nambah makanan berlemak lagi. Demikian caranya. Ketika mengajak anak-anak wikenan makan di luar, Teman-teman jangan lupa bawa bekal sayur+buah dari rumah.    
            Bu Rita memberikan ide lain supaya anak gemar makan sayur+buah. Siapa tokoh yang disukai anak? Power Rangers, misalnya. Bikin acara ulang tahun bertema Power Rangers Suka Sayur dan Buah. Anak kita dan teman-temannya wajib makan sayur+buah terlebih dahulu sebelum makan makanan yang lain. Hm, boleh dicoba ya idenya? :)
3. Ubah kebiasaan
Berikut beberapa kebiasaan yang harus dilakukan, yakni tidak makan sambil nonton teve, sarapan sehat, batasi anak makan makanan junk food, hindari minum minuman bersoda+manis. Rutin timbang berat badan. Jika melenceng sedikit dari berat badan ideal, lakukan sesuatu. Dibiarkan terlalu lama, upaya untuk mengembalikan anak ke berat badan ideal menjadi lebih sulit.    

Dulu tipi 'ndut penontonnya slim, sekarang? :p

Info udah ada, tinggal push kemauan nih, terutama kita para ortu. Jangan sampai anak obes terlambat ditangani. Dokter Michael bercerita tentang pasiennya yang berumur 9 tahun dengan berat badan 90 kg. Sekian tahun si ibu memanjakan anaknya dengan makanan berlemak dan tidak pernah olahraga. Sekitar 6 tahun berlalu, si ibu datang lagi menemui dr. Michael. Mau tahu berat badan anaknya sekarang? Hampir 130 kg, Teman-teman! Dan, yang paling menyedihkan, anak itu sudah mengidap penyakit diabetes. Ya Allah ... usia 15 tahun kena diabetes karena gaya hidup yang tidak sehat. :((
Postingan ini jadi reminder benar buat saya. Saya sedang berusaha menangani si bungsu yang kelebihan berat badan. Semoga bermanfaat juga buat Teman-teman semua. Silakan di-share jika merasa ada pembaca lain yang butuh. Monggo komen-komen usaha apa aja yang telah kalian lakukan dalam menangani anak obes. Mungkin kita bisa saling bantu. Thank you! :) [] Haya Aliya Zaki

9 komentar:

  1. iya ya mba, sekarang ini saya perhatikan lebih banyak anak2 yg gemuk, mungkin karena skrg ini bnyk makanan junk food

    BalasHapus
  2. Haya, ini narsumnya krknya sama nih sama yg di acaea Cegah, Obati dsn Lawan Diabetes, ya. Tuu..ada prof. Ganteng n humble, hehehe...

    BalasHapus
  3. Kayaknya hal terberat bagi ortu kalau anaknya ngamuk-ngamuk nggak mau dengan menu yang ada, akhirnya dituruti, tanpa terasa, tanpa sadar si anak membengkak. Keluarga saya ada yang anaknya obes mbak, awalnya susah makan dan akhirnya dibiarkan terus makan.

    BalasHapus
  4. Kebetulan anak2ku defisit berat badan Mba hiks... jadi ga bisa sharing soal usaha handle anak obes. Klo soal handle ibunya aja yg obes gimana hihiiii... udah lumayan berkurang nih lemak2ku :))

    BalasHapus
  5. Saya juga harus banyak belajar dan disiplin lagi.. semua bermula dari makanan yaaa mba

    BalasHapus
  6. Cucu keponakan saya tiba-tiba menjadi moleg. Konon, 5 butir telur bisa dihabiskan dalam sekali duduk. Mungkin ini sebagai balasan ibu kepada anaknya karena tiap hari dtinggalkan untuk bekerja.

    Terima kasih tipsnya yang bermanfaat.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  7. Akk alde mulai montok ni kak haya, kudu banyakin olahraga dan gerak karena makannya luwarbiyasak..

    BalasHapus
  8. ajak anak olahrga merupakan hal yg penting juga ya mbak untuk mencegah obesitas

    BalasHapus
  9. Nggak tau deh, dari dulu kok nggak pernah histeris "aaaa....lucunyaaaa" kalo lihat anak kecil gemuk bulet dan chubby surabi. Ngebayangin...berat ngegendongnya :D Ternyata emang berisiko juga ya.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Iklan