Selasa, 02 Agustus 2016

[Nusantara Bertutur] Dame Tidak Mau Mengantre

Cerpen Dame Tidak Mau Mengantre dimuat di Nusantara Bertutur (NB), Kompas Klasika, 31 Juli 2015. Cara pengiriman naskah sila dibaca DI SINI. Panjang tulisan maksimal banget banget banget 400 kata ya karena kapling terbatas. Kita bisa menulis cerpen atau dongeng. Kalau menulis dongeng, ada nilai plusnya. Dongeng kita akan dibacakan oleh kakak-kakak pendongeng NB dan divideokan. Anak-anak se-Indonesia bisa menonton. Bunda Yessy Gusman dan Bunda Ratih Sanggarwati juga pernah membacakan dongeng NB. Asyik, kan? :)



Dame Tidak Mau Mengantre


Kriiing! Bel istirahat makan siang di sebuah sekolah dasar di Sidikalang, Sumatera Utara, berbunyi nyaring. Anak-anak langsung berhamburan ke kantin sekolah.

Seperti biasa, Dame beraksi. Dia menyalip kawan-kawan yang sedang antre menunggu jatah makan siang dari Namboru Lasma, ibu kantin. Tahu-tahu saja anak perempuan bertubuh bongsor itu sudah berdiri di baris paling depan.

“Alamak, jangan kayak gitulah, Dame!” protes Ika kesal.

“Hei, baris di belakanglah kau. Antre!” timpal Binsar tak kalah kesal.

Dame melihat ke belakang, kemudian meledek, “Antre itu bikin lama! Aku sudah lapar, Kawan!”  

“Woi, memangnya kami tak lapar?” sambar Maruli geram.

Suasana kantin sekolah pun mendadak riuh gara-gara ulah Dame yang selalu tak mau antre.

“Kita harus kasih Dame pelajaran,” keluh Ika sambil mengaduk-aduk sayur daun ubi tumbuk kesukaannya.

Boha do carana ate (bagaimana caranya)?” tanya Maruli.

Semua terdiam. Tiba-tiba, Binsar menjentikkan jari. “Nah, aku tahu!” serunya semangat.

Keesokan harinya, anak-anak antre menunggu jatah makan siang di kantin sekolah seperti biasa. Sudah mereka duga, tak lama Dame datang menyerobot antrean.

“Namboru, mana makan siangku, Namboru?” kejar Dame tak sabar. Soalnya dia melihat Namboru Lasma terus saja sibuk melayani kawan-kawan di belakangnya. Padahal, dia sudah berdiri di baris paling depan dari tadi.

Namboru Lasma tersenyum. “Kalau kau mau dapat jatah makan siangmu, kau harus antre seperti kawan-kawanmu yang lain,” jawabnya.

Dame berkacak pinggang marah. Bukannya antre, dia malah berbalik dan lari ke kelas.  

Keesokan harinya dan keesokan harinya terjadi lagi. Namboru Lasma selalu melewati giliran Dame walaupun Dame sudah berdiri di baris paling depan. Sesuai usul Binsar, Namboru Lasma tidak akan melayani kalau Dame tidak mau antre. Dame kembali ke kelas. Dia menangis karena perutnya lapar sekali.

Ika, Binsar, dan Maruli mendatangi Dame. Meski Dame sering berbuat ulah, mereka tetap kasihan.

“Tidak enak diperlakukan seperti ini. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan kalian,” kata Dame lirih.  

“Antre jangan dijadikan beban, Dame. Kata bapakku, kalau kita sabar antre, semua urusan bisa cepat selesai. Kita pasti senang, kan, melihat suasana yang tertib?” kata Binsar, seperti orang tua.

Dame tertunduk malu.

“Sudah, sudah. Mulai saat ini, kau mau tidak antre makan siang bersama kami?” potong Ika.

Dame langsung mendongak. “Ya maulah! Soalnya aku kapok kelaparan lagi! Tapi … tapi … kalian juga mau, kan, memaafkan aku?” tanyanya.

             “Tentu saja!” sahut Binsar spontan.

         “Asaaal … kau traktir kami makan siang mi gomak hari ini di kantin, ya?” canda Maruli.

         Dame mengerucutkan bibirnya, pura-pura merajuk. Kawan-kawannya tertawa. [] Haya Aliya Zaki

Hikmah Cerita

Mari budayakan mengantre. Dengan mengantre, kita belajar untuk mengatur waktu dengan baik dan belajar untuk menghargai hak orang lain.

16 komentar:

  1. Ah mba begitu produktif, semoga saya bisa berkarya seperti mba :)

    BalasHapus
  2. aahhh titip salam ke dame kak , hehe seru ceritanya

    BalasHapus
  3. Simple tapi bermakna. Ceritanya mengingatkan saya ketika di Siantar dulu. Mie Gomak... Lamak kali pun...

    BalasHapus
  4. Kisah yang inspiratif, waaah Dame akhirnya berujung damai :)

    BalasHapus
  5. Betul sekali kau, Kak. Perlulah orang baca ceritamu ini. Masih banyak kali pun orang yang susah mengantre. Orang dewasa pun! *pake logat Batak :)

    BalasHapus
  6. Bagus untuk pembentukan karakter

    BalasHapus
  7. Wuahhh...kerennnn...kirain udah ngga bisa kirim cernak anak ke kompas...salam kenal mba haya. Makasih infonya.

    BalasHapus
  8. Bikin dongeng simple dan sarat dengan pesan moral seperti ini yang saya masih belum bisa. Huhuhuhu semoga saya bisa nulis dongeng, one day.

    BalasHapus
  9. Hiks, anak saya suka sekali baca Bobo danterbit keinginan saya untuk bisa nulis cerpen anak di sana. Tapi sekian bulan berlalu belum juga bergerak nih. Hmmm... *jewer telinga sendiri*

    BalasHapus
  10. 400 kata yang padat, singkat dan sarat makna. Seninya ini yang perlu dipelajari.
    *duduk paling depan, jadi murid Ummi Haya*

    BalasHapus
  11. Kebiasaan mengantre memang harus dibiasakan sejak kecil, ya Mbak. Ceritanya singkat tapi padat dengan makna. kereen..

    BalasHapus
  12. Keren ceritanya, baca dialognya jadi kebawa logat "horas bah" nya :D Makasih infonya mbak Haya, ternyata masih bisa ya, kirim cernak ke Kompas Anak

    BalasHapus
  13. Sepertinya, saya harus menyediakan waktu khusus lagi untuk baca koran atau buku, bisr bisa banyak tahu cara menulis ^_^.

    BalasHapus
  14. mba Hayaaa keren banget!, bisa bertutur dengan gaya yang berbeda2 dan pas. Btw, aku jadi pengen belajar nulis buat anak-anak lagi deh.. Ajarin dooongg ;p

    BalasHapus
  15. Eh baca nama BINSAR jadi inget kawan aku lah, kemana kah dia sekarang ????

    BalasHapus
  16. Orang nggak bisa antre emang harus ditegor sih, kebiasaan, makan hak orang lain. Aku pernah diselak antrean sama anaknya teman blogger (udah gede), antre toilet. Jadi dia antre di depan pintu biliknya. Pas bilik depan dia kebuka, dia masuk duluan, nggak perhatiin ada yang sebelumnya antre lebih duluan. Sampe sekarang masih inget, hahaha...

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan