Selasa, 05 Juli 2016

Waspadai dan Kenali Vaksin Palsu

Akhir-akhir ini kita, terutama kaum ibuk-ibuk, kaget kejet-kejet mendengar berita beredarnya vaksin palsu. Apa kabar anak kita yang sudah divaksin selama ini? Anak kita dikasih vaksin asli atau palsu, ya? Badan POM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) ke mana ajaaa? Saya yakin itu pertanyaan yang berseliweran di kepala Teman-teman.

Nah, daripada terus-menerus panik memantau berita yang belum tentu benar, mending kita tanya ke pihaknya langsung. Alhamdulillah, seminggu yang lalu saya mendapat undangan dari teman saya, mbak arteees kece mantan presenter Jejak Petualang Putri Ayudya, untuk menghadiri talkshow seputar vaksin palsu di aula C Badan POM, Jakarta. Narasumbernya Drs. Arustiyono, Apt., MPH (Direktorat Pengawasan Distribusi Produk Terapetik dan PKRT) dan Riati Anggriani, SH., MARS., M.Hum (Kepala Biro Hukum & Humas Badan POM).

Pak Arus, Bu Riati, dan Mbak Dya Loretta (moderator)

Sebelum kita mulai membahas vaksin palsu, sebenernya apa, sih, yang dimaksud dengan imunisasi dan vaksin itu? Mungkin saya rangkum aja semua dalam bentuk Q&A supaya lebih mudah dipahami. 

Apakah imunisasi?
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Apakah vaksin?
Vaksin adalah antigen berupa mikroorganisme yang sudah mati, masih hidup atau dilemahkan, masih utuh atau bagiannya, yang telah diolah, berupa toksin mikroorganisme yang telah diolah menjadi toksoid, protein rekombinan yang bila diberikan kepada seseorang akan menimbulkan kekebalan spesifik secara aktif terhadap penyakit tertentu.

Macam-macam imunisasi?
- Imunisasi dasar
BCG, DPT-HB (Diphteria-Pertusis-Tetanus-Hepatitis B) atau DPT-HB-Hib (Diphteria-Pertusis-Tetanus-Hepatitis B-Hemophilus Influenza tipe B), Hepatitis B, Polio, dan Campak.
- Imunisasi lanjutan
Imunisasi lanjutan diberikan kepada anak usia bawah 3 tahun terdiri atasDPT-HB atau DPT-HB-Hib dan Campak. Ana usia SD terdiri atas DT, Campak, dan Td. Wanita usia subur c berupa Tetanus Toxoid (TT).
- Imunisasi khusus
Imunisasi Meningitis, imunisasi Meningokokus, imunisasi demam kuning, dan imunisasi Anti-Rabies (VAR).
- Imunisai pilihan
Imunisasi Haemophillus influenza tipe b (Hib), Pneumokokus, Rotavirus, Influenza, Varisela, Measles Mumps Rubella (HPV), dan Japanese Encephalitis.

Berdasarkan keterangan Pak Arus, vaksin palsu tercatat ada di 9 provinsi dengan 37 titik di berbagai klinik, RS, apotek, dan praktik bidan. Vaksin-vaksin ini didapat melalui jalur ilegal pastinya. Vaksin di Puskesmas, Posyandu, dan RS pemerintah insya Allah DIJAMIN ASLI karena selalu didapat melalui jalur legal (resmi). Jadi, ibuk-ibuk jangan malu binti gengsi kalau anak-anaknya divaksin di Puskesmas atau Posyandu. 

Saya dan Mbak Diah Ayu Pasha (penggerak komunitas SahabatIbu_ID)  

Vaksin apa yang dipalsukan?
- Vaksin untuk imunisasi dasar di beberapa (beberapa lho yaaa, tidak semua) klinik atau rumah sakit swasta.
- Vaksin untuk imunisasi opsional yang harganya mahal.

Pabrik apa yang memproduksi vaksin palsu?
Vaksin palsu TIDAK diproduksi di pabrik. Satu-satunya pabrik yang memproduksi vaksin di Indonesia adalah pabrik BIOFARMA yang berstandar internasional (WHO). Vaksin palsu diproduksi di rumah-rumah dan agak sulit dilacak keberadaannya.

Apa gejala anak yang mendapatkan vaksin palsu?
Vaksin palsu diisi dengan Gentamycin (antibiotik) dan atau diencerkan dengan air keran. Produk yang seharusnya steril, ini ditangani dengan cara sembarangan. Anak yang alergi Gentamycin bisa memberikan reaksi bentol-bentol di kulit, demam, bahkan kalau alergi berat bisa menyebabkan shock dan anafilaksis (kematian). Segera bawa ke RS. Jika perlu, nanti anak divaksin ulang. Tidak ada istilahnya overdosis vaksin. Minta saran ke tenaga kesehatan, ya.

Apa yang bisa kita lakukan?
1. Jangan segan bertanya kepada petugas kesehatan
Pertanyaan yang bisa diajukan kepada petugas kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll): apakah vaksin yang diberikan kepada kita vaksin asli? Apakah kita boleh melihat kemasan dan bentuk sediaan vaksin tersebut? Bawel dikit enggak apa-apa, deh. Namanya juga buat kebaikan anak. Iya, kaaan? Iya, kaaan? *kibas rambot*

2. Perhatikan kemasan
Untuk mengetahui vaksin asli atau palsu, produk harus melalui uji laboratorium. Namun, secara kasatmata kita mungkin bisa membedakan. Apakah tulisan di kemasan seperti luntur? Apakah bentuk kemasan kasar? Apakah nomor batch jelas? Apakah tanda kedaluwarsa tercantum dan bisa dibaca?

3. Catat nomor batch vaksin
Jika terjadi sesuatu di kemudian hari, kita bisa menelusuri melalui nomor batch tersebut.

Vaksin palsu disebut-sebut memakai wadah dari vaksin asli yang sudah kedaluwarsa atau sudah habis dipakai. Saya bertanya-tanya kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana klinik, RS, dan apotek memperlakukan limbah medis mereka? Setahu saya, wadah produk obat yang sudah kedaluwarsa atau sudah habis dipakai, HARUS dirusak. Entah itu dihancurkan atau dibakar botolnya. Saya pribadi memperlakukan wadah obat di rumah saya seperti itu. Misal, obat batuk yang sudah kedaluwarsa atau sudah habis dipakai, sebelum dibuang, saya rusak terlebih dahulu wadahnya. Jangan beri kesempatan kepada oknum tertentu untuk membuat obat palsu dari wadah yang kita buang.

Pada tahun 2015 BPOM menyerahkan 7.600 kasus distributor, toko obat, dan apotek yang melakukan pelanggaran ke dinas kesehatan. Sesuai UU, selama ini Badan POM (dalam hal ini diwakili oleh Balai POM masing-masing daerah) cuma punya “satu tangan”, yakni sebatas survei, inspeksi, menyegel, dan rekomendasi ke dinas kesehatan setempat. Badan POM butuh “satu tangan” lagi untuk melakukan tindakan yang lebih jauh, yakni mencabut izin distributor, toko obat, dan apotek, dan sarana lain yang melakukan pelanggaran. Koordinasi langsung dengan pihak kepolisian. Ibaratnya kita cuma punya satu tangan untuk memaku plang bertuliskan “DITUTUP” di depan pintu rumah kita, apa bisa? Pastinya kita butuh dua tangan; tangan kanan memegang palu dan tangan kiri memegang plang. Demikian juga Badan POM. Semoga ke depannya harapan saya ini (dan mungkin juga harapan Teman-teman semua) bisa terwujud. Alangkah eloknya jika UU direvisi dan Badan POM dikasih “satu tangan” lagi oleh pemerintah.  



Last but not least. Wajar jika kita marah, geram, kecewa karena kejadian beredarnya vaksin palsu. :) Hanya, sebaiknya, tidak berlarut-larut (bahkan sampai mengambil keputusan ekstrem untuk stop vaksin sama sekali). Inhale exhale. Inhale exhale. Inhale exhale. Sekarang ini Badan POM sudah menyegel vaksin-vaksin yang TERINDIKASI PALSU. Ke depannya kita juga harus lebih waspada. Bekali diri kita dengan pengetahuan dan wawasan. Hubungi Badan POM jika ada hal yang mencurigakan. Semoga postingan ini bermanfaat. Yuuuk, jadi konsumen cerdas! :) [] Haya Aliya Zaki

21 komentar:

  1. Duh beneran panik banget ya kmaren2 itu mba Haya, apalagi aku punya 3 anak yg jg udah bbrp kali divaksin.. Untung waktu itu ikut hadir di acara BPOM yah, lumayan tenang dan smangat ikut mencegah peredaran vaksin palsu tsb jadinya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya jadi tambah wawasan ya Mbak Zata. :)

      Hapus
  2. Yaps, jadi konsumen cerdas, semoga anak2 penerus bangsa cerdas dan bebas dari vaksin palsu

    BalasHapus
  3. Waaah infonya padat banget mb

    BalasHapus
  4. Balasan
    1. Makasih, Sari. Sengaja aku bikin Q&A gini supaya lebih mudah dipahami. :D

      Hapus
  5. vaksin untuk anak saya Insya Asli kan ya, sempat deg-degan juga bagaimana kalau dapat vaksin palsu.... tapi imunisasi pertama kan di rumah sakit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah Mbak semoga ya. Untuk ke depannya kita bisa melakukan tindakan preventif seperti di atas. :)

      Hapus
  6. waahh harus hati-hati juga nih dalam memilih vaksin apalagi utk si kecil, btw isi artikelnya bagus banget dan sangat bermanfaat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau bermanfaat. Makasih sudah mampir, Pak. :)

      Hapus
  7. Saya nanti mesti lebih waspada nih. Sebagai produk puskesmas, insyaa Allah saya enggak malu berobat ke puskesmas.. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hasyeeek ngapain juga malu ya, Ris. ^_^

      Hapus
  8. Aduh...duhh... anak2ku dulu seringan Vaksin di RS Swasta. Soale jadwal posyandu pasti pagi, dan aku harus ngantor. Bismillah slamet aja deh. TFS Mbak Haya. Selamat lebaran dan liburan, mohon maaf lahir dan batin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah, Mbak, semoga baik-baik aja. Selamat Lebaran juga. Mohon maaf lahir batin.

      Hapus
  9. kehadiran vaksin palsu memang bikin pabik termasuk saya tapi alhamdulillah anak-anak sehat walaupun ada kemungkinan dulu mereka memakain vaksin palsu...jadi hati2 untuk kedepannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga baik-baik aja ya Mbak. Iya nih kita jadi lebih hati-hati. Moga gak ada lagi kasus kayak gini.

      Hapus
  10. Mengikuti diskusi kemarin paling tidak tenang, karena puskesmas aman ya. aku vaksin Naeema di puskesmas kemarin hehehe. Sebagai konsumen kita harus lebih waspada ya Mba Hay....

    BalasHapus
  11. Ngeri bacanya. Setuju dengan penghancuran limbah kemasan obat dimulai dari rumah karena aku juga gitu, Mi.
    Sisa obat antibiotik cair ato sirup apapun kubuang bila lewat tanggal ato lama ga kepake. Lalu botol kacanya kugetok pake palu. Pyaar! Beres. Gila aja kalo sampe botol bekas obat dipungut pemulung lalu ditampung ke penadah. Hiiyy!!
    Eh,bukan cuma botol lho. Kotak sterofoam bekas buryam juga aku hancurin sebelum dilempar ke tong sampah. Tusuk gigi bekas pake juga aku patahin. Kabarnya, ada pemulung yang ngumpulin tusuk gigi bekas untuk dijual. Huwaaa...

    BalasHapus
  12. sungguh mengerikan,semoga orang yang memelsukan vaksin tsb segera mendapatkan hidayah dari Allah..amin

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan