Jumat, 08 Juli 2016

Apa Perbedaan Gejala Infeksi Virus Dengue dan Zika?

Pernah mengalami merawat dua anak sakit demam berdarah dengue (DBD) di RS, membuat saya menerima dengan baik undangan dari Blogger Perempuan Network untuk menghadiri acara puncak Asean Dengue Day (ADD) di Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat (16/6). Acara yang dibuka oleh perwakilan Menteri Kesehatan Republik Indonesia ini dimulai pukul 13.30 wib. Hadir beberapa narsum kompeten, yakni Dr. H. Mohamad Subuh, MPPM (Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P)), Hj. Airin Rachmi Diany, S.H., M.H. (wali kota Tangerang Selatan yang cantik!), dan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K) (Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI)). Buat saya, jangan sampai kejadian lagi anggota keluarga kami kena DBD. Cukup sekali, benar-benar cukup! :(


Narsum

Baidewei, ternyata, Tangerang Selatan menjadi role model dalam upaya pencegahan penyakit DBD. Tahun 2015 lalu, angka kesakitan pasien DBD di Tangerang Selatan berada di bawah angka rata-rata kesakitan pasien DBD nasional. Menurut Ibu Airin, mereka menggalakkan program 1 Rumah 1 Jumantik (akan dibahas di poin berikutnya). Beliau mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut andil, termasuk mahasiswa. Para mahasiswa ikut membantu memonitor upaya tersebut. Di sekolah-sekolah juga. Anak-anak diajari dan diharap nanti bakal memberi tahu orangtua mereka. Kadang orangtua lebih mendengar kata-kata anaknya daripada petugas penyuluhan hihihi. Rencananya tahun 2020 Kota Tangerang Selatan bebas jentik nyamuk. Keren, ya? 

Dengue dan penyakit DBD
Dengue adalah VIRUS yang ditularkan oleh nyamuk Aedes spp. Hati-hati, jika salah satu anggota keluarga kena DBD, anggota keluarga lain pun bisa terkena. Nah, ini kejadian sama dua anak saya seperti yang udah saya sebutkan di atas.

Nyamuk yang paling cepat berkembang di dunia ini telah menyebabkan hampir 390 juta orang terinfeksi setiap tahunnya. Menurut data WHO, Indonesia dilaporkan sebagai negara ke-2 dengan kasus DBD terbesar di antara 30 negara atau wilayah endemis! Allahu Rabbi! The saddest thing is tercatat pada tahun 2015, penderita DBD di 34 provinsi di Indonesia sebanyak 129.179 orang di mana 1.240 orang dari mereka meninggal dunia. Tuh, DBD benar-benar kasus luar biasa! :(( 

Gejala DBD adalah pasien demam, tapi TANPA radang tenggorokan, batuk, pilek, atau diare. DBD punya 3 fase, yakni demam, kritis (pelana kuda), penyembuhan. Fase yang berbahaya itu fase kritis. Setelah 3 hari, suhu tubuh pasien memang turun, namun tetap lesu dan tidak mau makan.   


Virus dengue menyerang trombosit (keping darah), sel endotel (bagian luar dari pembuluh darah), dan sistem imunitas tubuh. Inilah sebabnya pasien DBD bisa mengalami pendarahan hebat, shock, bahkan kematian. Obat-obat yang mengandung asetosal HARAM diberikan karena sifatnya mengencerkan darah. Pasien yang terkena DBD lebih dari sekali sangat riskan. Fyi, obat untuk menyembuhkan penyakit DBD BELUM ADA. Yang dibutuhkan pasien DBD hanya 2. Apa itu?

CAIRAN dan OKSIGEN

Virus zika juga ditularkan oleh nyamuk Aedes spp. Jadi, pencegahannya sama seperti pencegahan terhadap virus dengue, ya. Penyembuhannya juga sama, cairan dan oksigen.

Perbedaan gejala infeksi virus dengue dan zika
Virus dengue itu sebenarnya JAUH LEBIH BERBAHAYA, lho, daripada zika. Urutan cek laboratoriumnya adalah virus dengue terlebih dahulu. Kalau dengue negatif, cek chikungunya. Kalau chikungunya negatif, baru cek zika. Di sisi lain, virus zika menjadi berbahaya jika mengenai ibu hamil. Pertumbuhan otak janin akan terganggu (otak janin mengecil atau mikrosefali). So, ibu hamil yang demam (tanpa radang tenggorokan-batuk-pilek-diare), mata merah, dan badan pegal-pegal, segeralah ke RS!

Program “1 Rumah 1 Jumantik”
Peringatan ADD di Indonesia dikemas dalam simposium bertema Bergerak Bersama Cegah DBD melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik. Kalau baca kata “simposium” kesannya berat gimana gitu, ya. :p Enggak, kok. Intinya, sih, kita sendiri yang paling tahu kondisi rumah kita, termasuk lokasi jentik-jentik nyamuk.

Jumantik adalah juru pemantau jentik. Setiap rumah memiliki at least 1 orang anggota keluarga yang disepakati untuk melaksanakan kegiatan memantau jentik di rumahnya dan mencegah DBD dengan cara 3M Plus. Jumantik ini dilatih oleh puskesmas setempat.

Jika setiap rumah ada satu anggota keluarga yang teredukasi, insya Allah masyarakat kita lebih peduli berpartisipasi mencegah datangnya penyakit DBD.

Cegah DBD dengan 3M Plus
Populasi nyamuk bisa dikendalikan dengan melakukan fumigasi (penyemprotan). Sebaiknya fumigasi sampai ke bagian dalam rumah juga. Jangan di luarnya aja. Tutup tempat makanan dan tempat lain jika perlu.

Prevention is better than cure.

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Pepatah ini amat sangat berlaku sekali dalam kasus penyakit DBD. Konon pula BELUM ADA pengobatan khusus untuk DBD. So, Teman-teman, siapa pun kita bisa menjadi jumantik. Saya pribadi berusaha rutin menguras bak mandi, membersihkan pot tanaman, dan mengecek tempat wadah air seperti ember, gayung, tampungan air dispenser, dsb. Pokoknya, cermat memperhatikan rumah dan lingkungan sekitar. Hindari menumpuk barang bekas. Soalnya bisa menjadi sarang yang nyaman buat nyamuk. Jangan lengah sehari pun. Iiih, nehi dendi hidup seatap sama rombongan nyamuk!


Sejauh mana pengetahuanmu tentang dengue?
Mau tahu sejauh mana pengetahuan kita tentang dengue? Mari buka web Dengue Buzz Barometer. Pengembangan metode edukasi dengue dilakukan oleh Asean Dengue Vaccinational Advocacy. Web ini merupakan kerja sama dari 5 negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Di sini kita bisa ikutan kuis seputar dengue dan DBD. Ada pilihan bahasa masing-masing negara. Selain kuis, kita juga bisa membaca aneka berita terkait dari negara-negara lain. Rasa senasib sepenanggungan ini bikin kita tambah kuat dan semangat menghalau penyakit. Betul taiye? :)


Isi kuis di web

Ketemu temen kuliah yang ternyata jadi ketua panitia acara ADD hihi

Oiya, pada percaya enggak, sebenarnya, membasmi manusia itu lebih mudah daripada membasmi nyamuk! Serius! Jadi, sekali lagi, pencegahan penyakit DBD butuh peran serta kita semua. Stop menunggu pemerintah atau orang lain bertindak. Kita mulai dari diri sendiri, yuk! [] Haya Aliya Zaki


Tulisan ini adalah opini pribadi dan didukung oleh Sanofi Group Indonesia

9 komentar:

  1. Aku suka outfinya Mbak Haya. Kecee....
    eh...salah pokus.

    BalasHapus
  2. memulai dari diri sendiri adalah tindakan paling efektif dalam mencegah penyakit yah Mba Haya :)

    BalasHapus
  3. artikel yang mencerhakan
    TFS, salam sehat dan semangat Mbak Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir, Mas Agung. Salam sehat dan semangat juga. :)

      Hapus
  4. Saya jadi tahu neh mba perbedaan gejalanya. Terima kasih mba

    BalasHapus
  5. Anakku yang cowok kena DBD bulan lalu, sudah cek lab di 2 hari demam, hasil Anti Dengue Ig G dan Ig M serta Anti Salmonella typhi Ig M semuanya negatif. Jadi yah kirain emang bukan DBD, setelah demam sembuh kok masih lemes anaknya baru cek lab lagi dan shock berat trombosit sdh 26.000 langsung masuk RS deh.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan