Jumat, 15 April 2016

Selembar Asa Milik Mbah Sopiyah

Saya selalu menanamkan dalam diri bahwa belajar bukan hanya dari mereka yang sudah “senior” atau dari mereka yang memiliki titel berderet. Belajar bisa kepada siapa aja, termasuk kepada anak kecil. Saya pernah menyinggung hal ini di postingan Shafiyya, Pahlawan Saya untuk Memulai (Kembali) Hidup Sehat. Sekarang saya mau cerita tentang ketegaran seorang perempuan pedagang kue yang berusia hampir 80 tahun. Mbah Sopiyah, kami menyapanya.

“Kueee …! Kueee …! Kue, Neeeng …!” seru Mbah Sopiyah di depan pagar rumah.

Sebenarnya hari itu saya sedang tidak ingin makan kue. Ceritanya lagi mencoba mengurangi macam-macam camilan karbo. Namun, saya tidak sanggup menolak panggilan Mbah Sopiyah. Pukul 10 pagi menjelang siang, sepertinya kue Mbah Sopiyah belum laku semua. Saya memutuskan keluar untuk membeli. Nanti sebagian kue saya kasih buat mbak cuci dan sebagian lagi saya simpan buat anak-anak.

Saya meminta mbak cuci memilih beberapa kue untuknya dan saya sendiri memilih beberapa kue untuk anak-anak. Uang lima puluh ribu saya serahkan ke jemari keriput Mbah Sopiyah. “Udah, udah, ambil aja kembaliannya, Mbah,” kata saya ketika Mbah Sopiyah hendak membuka dompet lusuhnya untuk mengambil uang kembalian.



Mbah Sopiyah mengusapkan lembar uang lima puluh ribu tadi ke wajahnya. Ini memang kebiasaan beliau setiap menerima uang bayaran dari pembeli. “Alhamdulillah, makasih ya, Neeeng. Sekarang saya mau pulang. Makasih banyak ya, Neeeng.” Wajah perempuan kurus itu tampak sangat gembira.

Saya mengangguk sambil menarik napas dalam-dalam. Perlahan punggung Mbah Sopiyah hilang di tikungan jalan. Di atas sana, matahari sudah siap-siap membakar kulit, namun hati saya terasa sejuk seperti baru ketetesan embun.

Mbah Sopiyah hidup sebatang kara di kota. Beliau ngekos di daerah Petukangan, which is jaraknya 5 km dari rumah saya. Kalau jualan kue di daerah kosan, enggak pernah laku. Menurut Mbah Sopiyah, saingannya banyak. Jadilah beliau jualan kue di sekitar rumah saya. Berangkat dari kos setelah selesai shalat subuh. Pulang menjelang zuhur. Kebayang setiap hari beliau kudu bolak-balik jalan kaki 10 km. Ya, saya ulangi, JALAN KAKI! Saya yang masih muda (kalau dibandingin sama Mbah Sopiyah yaaa halah) dan kuat bisa olahraga jalan kaki 3 km aja rasanya udah bangga banget. Konon Mbah Sopiyah yang udah ringkih begitu. Belum lagi beliau jalan kakinya sambil menjunjung tampah kue di kepala. Dijamin beraaattt hiks!    

Entah sudah berapa tahun Mbah Sopiyah melakoni hidup seperti ini. Suaminya narik becak di kampung, Mbah Sopiyah jualan kue di kota. Tiga tahun yang lalu, suami Mbah Sopiyah meninggal. Anak-anak tiri beliau benar-benar lost contact a.k.a tidak mau tahu keadaan Mbah Sopiyah lagi. Dulu sekali Mbah Sopiyah pernah punya anak dari suami pertama (sudah meninggal juga), tapi anaknya yang waktu itu berumur 6 tahun meninggal terseret banjir.      

“Maaf, Mbah, kenapa Mbah tidak mengemis aja? Kerja begini, kan, capek?” tanya saya hati-hati. Saya teringat macam-macam pengemis dengan berbagai “gaya” di jalanan. Bodi masih sterek, tapi tangan selalu menadah uang.

Mbah Sopiyah langsung menggeleng. “Jangan, pantang bagi Mbah mengemis. Mbah takut hidup enggak berkah. Mbah cuma pengin (meninggal) khusnul khotimah nanti,” jawabnya lirih.

Dada saya tercekat. Dengan segala kondisinya, Mbah Sopiyah selalu menaut syukur di hati. Lebih baik beliau bersusah-payah mengais rezeki daripada berharap belas kasihan orang lain.

Jadi, setiap saya ingin mengeluh ini itu, wajah Mbah Sopiyah terlintas di benak saya. Malu menyelinap. Berkah dari Allah tidak sebanding sama kesulitan yang saya alami. Berkah-Nya yang tidak bakal bisa saya hitung satu per satu. Dari sisi kesehatan aja, misalnya, dalam sehari jantung saya masih bisa berdenyut seratus ribu kali. Setiap jam, satu miliar sel dalam tubuh saya terus berganti. Ginjal saya masih mampu menyaring satu liter lebih darah per menit. Dan demikian seterusnya. Begitu banyak alasan untuk bersyukur. Belajarlah dari Mbah Sopiyah, Hay! bisik sebuah suara di telinga saya.



Makasih untuk pelajaran hidup darimu, Mbah. Saya meminta izin kepada Mbah Sopiyah untuk membantu membayarkan kos-kosannya setiap bulan. Mbah Sopiyah setuju. Saya senang. Sesekali juga saya borong kue-kuenya untuk dibawa suami ke kantor. Bantuan ini memang tidak banyak. Saya hanya berharap Mbah Sopiyah selalu dianugerahi kesehatan dan kebahagiaan. Kiranya Allah mendengar selembar asa sederhana dari seorang pedagang kue berakhlak mulia. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. [] Haya Aliya Zaki 

31 komentar:

  1. Amin ya robbal alamiin
    Smoga mbah sopiyah dimudahkan urusannya dan dberikan kesehatan selalu...

    Beekaca2. Cerminan diri juga nih mbak..

    BalasHapus
  2. Ya Alloohh.. kuatnya jalan sejauh itu kaak,

    BalasHapus
  3. MasyaAllah...mbak Haya, semoga rezeki dan kesehatan selalu tercurah pada mbah Sopiyah. Semoga Allah limpahkan rezeki yang barokah untuk orang-orang yang mau menolong mbah Sopiyah. Aamiin

    BalasHapus
  4. Subhanallah... Semoga Mbah Sopiyah diberikan hidup yang berkah dan akhir khusnul khotimah (seperti cita2nya).
    Barokillah juga untuk Mbak Haya yg sudah berbagi nasehat. :)

    BalasHapus
  5. Masyaallah hebat mbak sopiyah meskipun harus susah payah tp beliau ttp semangat cari rizki halal ya cikgu. Moga2 simbah sehat n simudahkan rezekinya begitu jg cikgu yg ikhlas bantu mbah sopiyah

    BalasHapus
  6. Semoga mbah Sopiyah senantiasa sehat dan diberi kesabaran.

    BalasHapus
  7. Amin yra, huks sedih bacanya, klo sdh menyangkut lansia hatiky selalu rapuh:( smg mbah sehat selalu dan senantiasa berada dlm lindunganNya. Amin.

    BalasHapus
  8. Semoga yang memberi dan diberi diberikan keberkahan luar biasa, Aamiin

    BalasHapus
  9. Aamiin. Semoga Mbah Sopiyah selalu diberi kesehatan.
    Kalau sudah begini rasanya ingin selalu mengucap syukur.

    BalasHapus
  10. Terima kasih sdh berbagi pelajaran dari Mbah Sopiyah, mba... Semoga Allah memberkahinya selalu...

    BalasHapus
  11. Luar biasa, Mbak. Baik si Mbah Sopiyah yang lebih memilih bekerja keras demi rupiah yang tak seberapa ketimbang mengemis, juga Mbak Haya yang peduli pada orang-orang kecil seperti beliau.

    Bagi Mbak Haya mungkin bantuannya tidak seberapa, tapi kalau dibalik pake sudut pandang Mbah Sopiyah, uluran tangan itu terasa banget membantunya. :)

    BalasHapus
  12. Semoga jualannya selalu laris ya mbah, mbah sopiyah. Umur tua bukan halangan untuk terus berjuang. Pantang baginya mengemis, lebih baik mencari rejeki dengan jualan kue-kue manis :))

    BalasHapus
  13. Simbaaaaaah, saluuuttttt! Panjang usia dan berkah usia dan rejekinya ya mbah. Laris manis dan in sha ALLOH didekatkan rejeki baiknya selalu.

    BalasHapus
  14. semoga rezeki mbah lancar, aamiin

    btw di daerah sya sudah mulai jarang terlihat penjual tradisionil spt ini

    BalasHapus
  15. Duh... jadi malu. Gak sebanding rasanya keluhan-keluhanku dengan kehidupan beliau. Semoga mbah Sopiyah selalu sehat. :'(

    BalasHapus
  16. jadi malu suka ngeluh ini itu dan ngrasa gak nerima hidup ini :( Sehat panjang umur ya mbah Sopiyah :)

    BalasHapus
  17. pelajaran yang berharga banget dari mbah Sopiyah ya.., jadi malu karena kadang suka lupa akan nikmat yang begitu banyak yang kita terima..

    makasih banyak artikelnya mba Haya.., bikin hati ademmm...

    BalasHapus
  18. nah yang begini nih yang harus dapata acungan jempol, salut yang masih berusaha di hari tuanya

    BalasHapus
  19. Mbak Sopiyah
    semoga sehat selalu dan berkah amin

    BalasHapus
  20. Yang membedakan adalah harga diri, ya. Di sisi lain, banyak yang tampilannya kinclong kinyis-kinyis tapi hobi minta-minta :)
    Semoga Simbah selalu diberi kemudahan oleh-Nya.

    BalasHapus
  21. Tegar, semangat, dan tidak mau merendahkan diri dengan meminta-minta. Mbah Sopiyah memang inspirator yang luar biasa...

    BalasHapus
  22. semoga rejekinya semakin banyak, tetap sehat, dan tetap semangat nggih mbah....
    yang muda jangan mau kalah sama yang tua, yang tua jha semangat kerjanya luar biasa kuk...

    BalasHapus
  23. Semoga Mbak Sopiyah selalu mendapat keberkahan hidupnya. Dan, keinginan beliau untuk khusnul khotimah dikabulkan. aamiin

    BalasHapus
  24. Haya, postingan yang menyentuh sekali. Uang 50ribu tanpa disadari suatu saat nanti akan mendapat ganti dari Allah dengan cara yang tidak kita duga menjadi 10 x lipat. I had been there before, memberikan dengan ikhlas uang yang sedikit mendapat ganti tanpa diduga 10xlipat. Subhaanallah. Formula itu kalau kita ingat dan ikhlas akan menjadi kenyataan tanpa kita tahu kapan terjadinya.

    BalasHapus
  25. Wah onde-onde, mauuu....
    Sesuai namanya, Mbah Sopiyah berhati bersih dan jujur, ingin bening di mata Tuhan ya Mbak.
    Saya pun ingin meniru sikapnya. Makasih makasih, lemparin juga dong ketannya :)

    BalasHapus
  26. Org tua skrg lbh strong

    BalasHapus
  27. Saat membacanya tanpa sadar mata saya berkaca-kaca Mba Haya :'(
    semoga Mbah Sopiya selalu diberi kesehatan dalam menjalani hari-harinya, amin..

    jadi malu nih, selama ini saya banyak banget ngeluhnya :(

    BalasHapus
  28. Heuheu...apalah saya ini..kebanyakan kufur nikmat :(

    BalasHapus
  29. MAsya Allah mak haya, semoga rezekimu mengalir deras ya mak. dari tanganmu ada setetes rezeki mengalir utk mbah sopiyah. semoga mbah sopiyah dikelilingi orang2 baik sepertimu mak *hug

    BalasHapus
  30. Mbak Sopiyah dan Mbak Haya sama-sama keren dengan cara yang berbeda :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan