Jumat, 11 Maret 2016

Benarkah Kehidupan Penulis Tidak Ada Konflik?

“Ri, gimana penelitianmu?” tanya saya kepada Riri (sebut saja namanya begitu) ketika bertemu.

Riri langsung tepok jidat. “Oh iya, maaf, Mbak! Aku lupa ngomong. Kata dosen pembimbingku, kehidupan penulis enggak ada konflik. Jadi aku diminta ganti survei kehidupan para pegawai bank,” jawab Riri nyengir.

Whaaat?! Kalimat Riri asli membuat saya melongo cantik kayak itik. Bagi saya, justru sebaliknya, dunia menulis penuh warna. Meski bukan penulis heiiitz, setidaknya itu yang saya rasakan.



Banyak cerita berkesan yang saya simpan di dalam hati dan kepala. Sekitar tahun 2008, saya kehilangan beberapa kliping koran tulisan saya, termasuk dokumentasinya di komputer. Begitu googling, saya nemu tulisan tersebut disalin ulang oleh seseorang di blog dengan mencantumkan nama saya sebagai penulisnya. Rasanya bagai ketiban rezeki nomplok! Beberapa ibu-ibu pernah meminta izin untuk mengambil 1 – 2 postingan blog parenting saya untuk mereka masukkan ke file pdf cerita parenting. Bukan untuk tujuan komersil, melainkan hanya disebarkan di kalangan pribadi. Rupanya tulisan-tulisan sederhana itu bermanfaat juga. Seorang mahasiswa pernah menawari saya menjadi narsum tesisnya. Tema-nya tentang komunitas dan event blogger yang saya datangi. Hm, unik. Berkat berkomunitas dan aktif datang ke event blogger, tahu-tahu dipercaya menjadi narsum tesis. Senang bisa membantu. Masih ada lagi cerita-cerita berkesan lainnya. Yang terakhir, Riri, suatu hari dia mengajak chit chat via media sosial. “Mbak Haya bisa tak support data seputar konflik kehidupan beberapa penulis untuk penelitianku?” tanya Riri. Saya menyanggupi. Namun, tunggu punya tunggu, Riri sang mahasiswi “menghilang”. Sekian lama tak ada kabar, ternyata ….     

Benarkah kehidupan penulis woles woles aja?

Well, buat teman-teman mahasiswa *berasa sebaya ih*, jelas ada konflik di dunia penulis yang bisa digali. Lebih bagus lagi kalau diiringi pencarian data solusi. Contohnya sbb.

Konflik dengan keluarga
Saya beberapa kali mendengar cerita teman yang keinginannya menjadi penulis ditentang orangtua. Ada yang banting setir beralih ke profesi lain dan ada pula yang keukeuh dengan pendirian. Profesi penulis dianggap tidak membanggakan dan MDS (Masa Depan Suram). Hiks! Bahkan,  salah satu penyebab teman saya berpisah dari pasangannya adalah karena pekerjaannya sebagai penulis selalu dihina sang pasangan. Kalau passion udah mendarah daging, rasanya memang berat untuk kompromi.


Konflik dengan lingkungan sekitar
X: “Penulis? Oh, tukang tik maksudnya?”
Saya: *pengin nyilet yang nanya*
Y: “Minta, dong, bukunya! Gratis, ya!”
Saya: *mendadak lapar, pengin nelen nih orang*
Z: “Kok, pasang tarif? Ngajar nulis itu, kan, ladang amal!”
Saya: *asah keris*

Komentar-komentar miring di atas beberapa kali menghampiri. Saya pernah berhadapan dengan teman yang ngotot minta buku saya gratis. Teman lama, kami baru ketemu setelah sekian tahun. Bukannya saya medit, tapi sikap meksonya itu bikin ilfil. Seolah-olah karya saya tidak layak dihargai dengan rupiah. :)

Mbak Eno, teman saya, pernah membahas tentang mereka yang menuding penulis “tidak tulus atawa tidak ikhlas” gara-gara memasang tarif. Padahal, penulis juga profesi. Iya, penulis juga profesi, sama seperti profesi lain yang menjual jasa. Kalau penulis pasang tarif, bukan berarti kebaikan dalam tulisan-tulisannya serta merta tergerus. Cari rezeki melalu menulis, ya, halal. Modalnya mulai dari tenaga, duit, mikir, menalar, sampai riset. Belum lagi kalau risetnya kudu wira wiri ke mana-mana. Yang penting tidak copas sikut sana sikut sini.  “Gini-gini penulis juga bayar pajak, lho! Setali tiga uang dengan profesi dokter dan konsultan mandiri lainnya,” celetuk Mba Eno lagi. Hmmm ... sepertinya konflik penulis yang ini sebelas dua belas dengan blogger, yaaak. :p

Konflik keuangan
Yang namanya tanggal muda atau tanggal tua tidak berlaku dalam kehidupan penulis lepas. Honornya sering kapan-kapan. Kapan-kapan ada kapan-kapan tidak ada. Kirim naskah ke media cetak, antrenya luar biasa panjang. Royalti buku baru nongol tiga bulan sekali. Bagi yang masih mendapat jatah bulanan dari suami, mungkin tidak begitu masalah. Namun, bagi penulis perempuan yang single parent, ini benar-benar tantangan. Saya pribadi, sekarang seratus persen terjun ke media digital (blogging, website, dll). Semacam mengawinkan kemampuan menulis dengan kemajuan teknologi informasi. Menurut hemat saya, hari gini peluang di media digital lebih besar. Pastinya ada perbedaan berkecimpung di media digital dan media cetak, yang paling saya nikmati tetap proses menulisnya.

Penulis lepas “dituntut” produktif berkarya. Saya sering mengamati status-status mereka di media sosial. Sesekali mengobrol privat. Bagaimana mereka mengembangkan kreativitas sehingga berbuntut aneka peluang? Bagaimana mereka mengakali penghasilan agar bisa cukup untuk biaya sehari-hari, bayar tagihan, sampai berinvestasi? Perjuangan yang menarik untuk dikupas sebenarnya. Terbukti mereka bisa mendobrak mitos starving writer.

Saya tidak pernah bosan membaca kisah hidup JK. Rowling sebelum beliau mencapai masa jaya. Tujuan akhirnya bukan semata-mata ingin “hidup-kaya-raya-makmur-sejahtera”, bukan. Lebih ke menjaga bara semangat berkarya aja, sih. Toh setelah bergelimang harta, JK. Rowling tidak meninggalkannya passion-nya sebagai penulis.     

   
Konflik manajemen waktu
Harus saya akui, ini konflik terbesar saya hahaha. Iri sama suami yang komit enggak bakal pegang kerjaan kantor begitu tiba rumah. Lha, saya? Kadang subuh buta atau malam bentet dikejar-kejar deadline. :p Pernah pukul sebelas malem dapat Whatsapp kerjaan. Pernah pukul enam pagi disuruh kirim proposal. :)) Pernah kejadian saat saya asyik menelepon klien, Sulthan teriak-teriak aduhai, "Ummiii! Aku mau e-eeek!" Hahaha! Seru, seru, kerjaan di dunia digital 24/7! Semua dibarengi kerjaan domestik dan urus anak. Sampai saat ini saya merasa masih harus terus belajar memenej waktu dengan baik.

Segini dulu, deh, curhat seputar konflik di kehidupan penulis. Teman-teman ada yang bisa menyebutkan konflik lain? Apa solusi yang Teman-teman ketahui? Yuk, sekalian curcol di sini! :)) [] Haya Aliya Zaki

66 komentar:

  1. harusnya riri bilang kalau menurut bapak/ibu dosen "kehidupan penulis tidak ada konflik" berarti saya masih bisa lanjut dong dan bahkan ucapan bapak/ibu bisa jadi hipotesis dong.. hipotesis null nya "kehidupan penulis tidak ada konflik", nanti h1 nya bilang "kehidupan penulis ada konflik".. terus riri tetep neliti penulis deh :D


    Makasih sharingnya Mba Haya :D hana jadi tahu lebih banyak konflik yang dihadapi penulis..
    tetap semangat ya Mba :D

    BalasHapus
  2. Hidup penulis banyak konfliknya tapi mereka bisa nyari solusi dengan kepala dingin, makanya gak ada konflik internalnya yang keliatan sama orang luar *sotoy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada konflik tapi anteng aja yak hehehe.

      Hapus
  3. Suka banget sama bagian konflik manajemen waktu. Saya rela pergi jam 5 ke kantor, supaya bisa jam 6 sampe dan nulis sebelum jam kantor 7.30:D

    Mungkin Mba Riri harus menemukan dosen lain for the 2nd opinion hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih tipsnya, Mbak. Iyaaa second opinian memang penting. :)

      Hapus
  4. Yang terakhir aku bangeeeeettt. Punya krucils 2 nggak pernah bisa nulis kalo mereka masih melek. Pasti dirusuhin. Jadi mengorbankan jatah tidur yang sampe sekarang blm konsisten, hiks..saya pecinta tidur :p. *Lalu inget udah ditagih2 lanjutan cerita sama pembaca. Eeaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eaaa samaaa. Kadang-kadang kudu ngorbanin jatah tidur. Kalau sekarang sih aku mencoba mengurangi menunda-nunda pekerjaan. Penyakit dari dulu. :D

      Hapus
  5. Konflik yang disebut Mba Haya beberapa pernah kualami jg mbaa. Justru unik ya kalo mngambil tema konflik penulis mungkin ga banyak yang tau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penginnya sih diangkat, Mi. Cucok kita.

      Hapus
  6. Semua profesi bahkan ibu rumah tangga saja punya konflik. Gimana bisa manusia ga punya konflik. Mungkin dosen mba riri lelah ya Mba.

    Dengan konflik dsb kalau bekerja dengan passion itu tetap menyenangkan 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju banget, Des. Tantangannya itu malah tambah bikin maknyus, ya.

      Hapus
  7. Kehidupan penulis tak ada konflik? Hehehee... Belom tau dia. :D
    Masalah kita sama. Menej waktu, apalagi punya bayi. Huaaaaaah... nongkrong depan lappy dengan cantik itu kayak mimpi. Kucing-kucingan, euy. Tapi seruuuu :p

    BalasHapus
  8. Semua yang ditulis Mbak Haya di atas, juga saya alami.
    Termasuk para tetangga yang suka bertanya. "Kok di dalam rumah terus? Tidak kerja?"
    Lalu, saat bisa belanja-belanja sedikit, tetangga tanya lagi, "Uang darimana, ya? Kok bisa belanja-belanja?"
    Giliran sering dapat paket buku dari teman atau penerbit atau bukti majalah terbit, mereka komen lagi. "Kok tiap hari ada kiriman. Apa sih, isinya?"

    hahaha... mereka itu lebih heboh dari presenter infotaimen hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha berasa dikejar-kejar paparazi ya, Pak. Hebring euy tetangga. Keponya luar biasa. :D

      Hapus
  9. Penulis juga manusia...jiaaah...
    Tentu saja ga lepas dari konflik hehhehe

    BalasHapus
  10. aku udah biasa dari awal suami selalu kerja di rumah mbak hehehe.
    sama temenku pernah tuh aku di komplain katanay dirumah trus, ngeblog kan enak gak susah hahaha belum tau dia

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, bilang gitu aja, Lid. Sekali-sekali ajak nengokin kerjaan blogger. :))

      Hapus
  11. Bener, kita juga bayar pajak 😁 menang hadiah lomba aja dipotong pajak, hehe...

    Aku sih konfliknya sama listrik Mbak 😊 kalau masih mesin tik atau tulis tangan sih mungkin lain lagi ceritanya 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, temenku juga ada nih konflik sama listrik. Jadi kudu prepare banget kalo mau ngetik. Disesuaikan sama byar pet listrik.

      Hapus
  12. Ini dosennya pasti kurang gaul cikgu. Meskipun masih taraf penulis abal2 aku ngerasain banget tuh kalo nulis begitu menyuta waktu kadang dikomplen anak bojo mending duitnya trs banyak nunggu royalti aja hasilnya segitu2 doang...
    Eh kok jd curcol hahahha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga kadang-kadang dikomplain anak dan suami, Mun. :)) Mungkin doku ga berlimpah, tapi insya Allah berkah, ya.

      Hapus
  13. Kadang dosen pengen judul yang "uwauwow"..ala ala berita online. Dunia kepenulisan masih dianggap sesuatu yang anteng saja dan kurang menarik.

    BalasHapus
  14. Suruh dosennya nginap di rumahku semalam aja, Hay. Hahaha ....
    Btw, point tentang memenej waktu itu juga selalu jadi ujian yang hasilnya jarang dapat "A". Bagian ini justru yang suka menimbulkan konflik, selain ngadepin teman yang suka minta buku karyaku gretongan. Pfiuuuh ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo awak yang minta gretongan ke Kak Wiek, boleh kaaan? *dikepruk gayung*

      Hapus
  15. Sama mbak yang terakhir, suka dukanya xD. Tapi walau cuma nulis blog, tulisanku makin hari makin lumayan bagus *ecieeee muji diri sendiri. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eits, jangan salah, ngeblog juga butuh keterampilan menulis. Btw, hati-hati elipsis. XD

      Hapus
  16. Cikgu Haya, emang kheki juga kalo ada (bukan satu orang lagi!) yang kalo liat buku Me and My Life bunda langsung bilang: "Boleh donk nih, satu di gratisin." Ya, ampuun dia kira gue nyetak buku gratis apah? Btw Cikgu, I wonder why I can't open my facebook. Anytime I klik to open Facebook, the wordings such as the following will appear: Your Computer Needs to Be Cleaned
    It looks like your computer is being affected by malware. We’ll help you fix the problem to keep your account secure and prevent malware from spreading to friends.
    Malware is software that tries to steal personal information and causes problems when you use Facebook. Clicking or sharing links that contain spam can give your computer malware. I don't know what to do. Actually I have something to be shared with our beloved FED members. Let me see perhapsj now it is okay, but if not then I have to be absent from FED. I apologize for this inconvenience (for me.)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya beberapa teman mengalami problem yang sama. Udah aku mensyen di Facebook ya, Bun.

      Hapus
  17. Bentar, asah keris dulu. Hahhaaaaaa....

    BalasHapus
  18. saya lumayan banyak suka duka nya jadi penulis. kalau diingat memang bikin nangis. untung saya sabar dan sudah cinta sama dunia tulis menulis. yang disebutkan mba haya semua pernah saya alami, dari deadline ga kenal waktu, keluarga ga ada yg mau tahu, teman2 mentak gratisan ada pula yg bilang beli buku tapi ga bayar2. belum lagi penerbit yg mundur2 royalti, potongan pajak yg banyak, naskah di PHP in, naskah ga kembali raib, dll.

    mata minus, tulang bengkok, tangan kapalan, pundak pegal itu sdh ga ada rasanya.


    makasi mba haya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, salut, Mbak! Semoga semua rintangan itu semakin menguatkan Mbak Erna berjuang di dunia kepenulisan. Ini yang kumaksud dengan "passion yang sudah mendarah daging'. Semoga berkah. :)

      Hapus
  19. Hahaha, saya pernah ngalamin yang dikira tukang ketik. Tetangga liat di "ruang kerja" ada laptop sama printer, dia kira saya terima jasa pengetikan semacam rental gitu. Jadilah dia numpang ngeprint.

    Soal masa depan suram, saya justru diberi motivasi berbeda sama guru SMP saya. Beliau saya catat sebagai orang pertama yang harus disebut kalau mengilas-balik kiprah saya di dunia kepenulisan yang masih dangkal ini. Beliau dulu cerita bagaimana cerahnya menjadi penulis. Selain materi, menjadi penulis juga dihargai.

    Problem saya sejauh ini sih, setelah berkeluarga harus banyak mengalah pada kebutuhan. Jadilah menulis kadang-kadang saja, lebih banyak habiskan waktu untuk ngurus dagangan karena penghasilan terbesar di sana. Tapi tetap saja gairah itu tak bisa dibendung, dan saya ingin sekali full time menulis. Insya Allah ada jalannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kebaikan terus tercurah kepada Mas Eko sekeluarga, meskipun bukan berupa materi dari menulis. Semangat ya, Mas! :)

      Hapus
  20. Uwooouwooo
    Miripppp mbak. Yabg semalam baru kualami nih. Lagi diamanahi shafing di grup penulis, ehh.. anakku tereak. "Buuunnn... aku **k"
    Aduhaiii deh.

    Konflik lain kalao buat aku, marena bukan fulltime writer, adalah godaan menulis saat seharusnya aku melakukan pekerjaan utama. Trus... begadang atau tidak begadang itu aja konflik batin banget buatku. Karena aku sadar betul secara kesehatan, gak ada untung2 nya begadang. Tapi dari sisi pekerjaan nulis, ya guna banget. Ha..ha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sekarang udah hampir ga pernah bergadang, Mbak. Bergadangnya satu hari penatnya bisa berhari-hari. Umur udah kasih alarm. Sing penting sehat-hat-hat-hat.

      Hapus
  21. Bahkan sampai konflik batin penulis pasti ngalamin.

    Saya malah beberapa bulan lalu ngalamin konflik yang lumayan bikin stress. Skripsi yang aku kerjakan di hapus sama virus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss! Skripsi saya juga pernah kena virus namanya virus Don Key. Semua huruf berubah jadi gambar kingkong. Konflik yang ruar biasa memang. >.<

      Hapus
  22. Ririii, penulis kan juga manusia.
    semua manusia apapun profesinya, pasti punya konflik #halah
    salam sehat dan sukses mbak Haya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam sehat dan sukses juga. Makasih udah mampir, Mas Agung.

      Hapus
  23. Pengen jitak dosen pembimbing Riri yang bilang hidup penulis gak ada konflik hahaha ... Hidup manusia mana ada yang gak punya konflik? Termasuk konflik dengan profesi yang dipilihnya. Dosennya harus 'diceburin' dulu jadi penulis kayaknya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diceburin ke lautan yang paling dalem ya, Chi! :))

      Hapus
  24. wuaaa mba Haya, tulisannya mengingatkan saya dengan beberapa potongan adegan waktu saya masih nulis skenario buat PH dan TV, beberapa kali ngerasa kalo ada yang nganggep di antara semua kru, kerjaan paling mudah dan enak ya nulis itu, hadeuuuh, pengen aku lempar sepatu rasanya. Gak tau apa itu nulisnya sampe berhari2, begadang, revisi sana-sini, coba kalo dia yang ngerjain, yang ada dibentak2 mulu sama produser kali, hihihi.. *loh kok aku malah numpang curhat di sini, hihihi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Padahal hal yang paling krusial dari sinetron atau film adalah cerita ya, Mba Zata. Pekerjaan penulis skrip itu maha-penting. Kalau ada alur yang loss, berabe taiye.

      Hapus
  25. banyak juga konfliknya ya mba..tapi setiap lini pekerjaan pun selalu ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mba. Pasti di semua pekerjaan ada konflik, termasuk pekerjaan menulis.

      Hapus
  26. Laaah.... ada namaku :p
    Pajak... waktu mau isi SPT kemarin, gaya-gayaan dong konsul sama AR. AR ganteng itu kaget waktu kusodorin bukti potong pajak 15% atas royalti yang cuma cukup buat beli kuota internet paket hemat. "Lima belas persen?" Nggak percaya ya, Mas AR? Huhu...kalo saya mah nyesek >.< Pedagang aja kena pajak final cuma 1% kalo omset di bawah 4,8 miliar. Nah penulis buku? Cuma seratus rebu kena 15%. Ngurus lebih bayar? Heuuuh.... :(

    Blogger yang dapat penghasilan dari blog kayak Haya kena pajak berapa persen, Hay?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe udahlah fee kecil pajaknya selangit ya, Mba Eno. Kalo di blogging biasanya 5%. Tapi yang mengagetkan itu tempo hari ada agen yang motong fee ngebuzzing sampai 40%. Nangis darah, deh. Lain kali lebih hati-hati baca surat perjanjian.

      Hapus
    2. Huaaa....40 perseeeen? Itu larinya ke mana? Nggak mungkin pajak yang masuk kas negara, kan?

      Hapus
  27. Hahaha, bagian yang Sulthan aku ngakak. Senasib, kita. Dunia penulis memang warna-warni banget. Kadang bikin ketawa, kadang bikin bete :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunia menulis penuh warna ya, Nik. Inget kita zaman dulu pada nulis untuk buku + media dan sekarang beralih ke dunia online. :)

      Hapus
  28. Memang ada sih pandangan profesi tertentu itu masa depan suram. Salah satu efeknya, pelajaran Bahasa Indonesia numpang lewat saja di sekolah dan jurusan Bahasa waktu SMA hanya 1-2 kelas, beda dengan IPA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha aku jurusan Farmasi malah nulis. :))))))

      Hapus
  29. Artikel nya sangat bagus sekali dan menjelaskan secara detail saya suka gaya bahasanya...

    BalasHapus
  30. Wah, dijelaskan prahara kehidupan penulis ya. Benar - benar membuka mata. Karena awalnya saya berpikir me-monitize blog itu semudah membalikkan telapak tangan. Ternyata butuh perjuangan dan komitmen.

    BalasHapus
  31. Bener nih, Mbak, untuk yg manajemen waktu, aku mesti belajar banyak haha! Gmn bagi kerjaan - ngeblog - ama kehidupan sendiri haha. Kadang mikir, kok kayaknya lbh sering berhadapan ama laptop drpd ama org Lulz :D :D :D

    BalasHapus
  32. Mba Haya, ada juga yang "Makeupin aku dong" for FREE, kerumahnya, di Bekasi, Timur -_____-, trus ada lagi "Bagi dong lipsticknya, mau dong ini, mau dong itu".

    Atau diajak ikut private makeup class yg emang boleh ngundang orang lain, trus yang kita ajak ngga bisa ikut. Pas dia tau isi goodienya kece badai trus dia bilang "Ahhhhhh, mauuuuuuuuuu".

    Bzzzzz. Mau ilmunya apa barang gratis neng?! hihihii *curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Weleh weleh di dunia beauty bloher pun ada juga ya, Roos. -___-

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan