Rabu, 10 Februari 2016

Deteksi Dini Pada Tumbuh Kembang Anak

        “Dikit dikit talkshow parenting, perasaan orangtua zaman dulu enggak ada yang begitu, deh.”
            “Ikutan talkshow parenting? Situ enggak pede jadi orangtua, ya?”
            “Mengasuh dan mendidik anak, kan, bukan cuma teori? Ngapain?”

            Well, mungkin … mungkiiiin di sekitar kita beredar komentar-komentar seperti di atas. Fyi, ikutan talkshow parenting bukan berarti kita orangtua yang tidak pede. Kondisi sekarang lebih complicated. Selain itu, segala info udah mudah didapat di mana-mana, termasuk dari talkshow parenting. Zaman dulu mau cari talkshow parenting juga enggak bakalan ada-lah haiii hihi. 

        Awal tahun 2000-an saya mengalami kasus bingung sebagai ibu baru. Setelah melahirkan Faruq, ASI saya sulit keluar. Pengalaman Mama dan ibu mertua ASI-nya lancar lancar aja jadinya saya enggak bisa tanya lebih jauh. Ketika berumur lebih dari 15 bulan, Faruq belum jalan juga. Bingung lagi. Kesalahan saya, saya cari info sana-sini bukan dari pakar dan akhirnya malah tambah semrawut. Setelah kenal internet dan ikut talkshow parenting, dapat, deh, tambahan ilmu bermanfaat terkait tumbuh kembang anak. Memang tidak melulu cocok, tapi alhamdulillah sebagian besar teori dan praktiknya klop. Satu lagi, sebagai ibu, saya merasa tidak sendiri. Banyak kawan untuk berbagi. Nasihat Mama dan ibu mertua? Teteuuup diperhatikan.  
    
            Nah, seminggu yang lalu saya mendapat undangan menghadiri smart health parenting talkshow dari Brawijaya Clinic, fX Sudirman, Jakarta (30/1). Cuuuss langsung ke TKP. Brawijaya Clinic merupakan “anak” dari Brawijaya Women and Children Hospital yang berdiri tahun 2006. Di Brawijaya Clinic kita bisa medical checkup, USG, periksa kesehatan anak, periksa gigi, periksa kulit, dll. 


Brawijaya Clinic di fX Sudirman, Jakarta

Tema talkshow-nya adalah Lindungi Buah Hati dengan Nutrisi dan Stimulasi yang Tepat. Pemateri dr. Nathanne Septhiandi, S.pA. Dokter hanteng lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini udah malang melintang di dunia kesehatan anak. Selain praktik dokter, beliau juga aktif di berbagai organisasi sesuai bidangnya. Menarik!

dr. Nathanne Septhiandi, S.pA. 

              Pernah mengalami kasus bingung sebagai ibu baru kayak saya? Menurut dr. Nathanne, sebaiknya hal-hal yang “mengganjal” diketahui sebelum anak berusia 3 tahun. Semakin dini terdeteksi, penanganan semakin mudah dan hasil yang diharapkan pun semakin baik. Kalau terlambat, penyimpangan sukar diperbaiki. Teman-teman yang baca penuturan dr. Nathanne jangan mendadak parno, tapi juga jangan sengaja menunda-nunda!

Stimulasi
            Selama ini kita selalu mendengar kata “tumbuh kembang anak”. Sebenarnya, “tumbuh kembang” itu apa, sih? Jawabnya, “tumbuh” meliputi ukuran fisik, seperti tinggi badan, berat badan, lingkar kepala (mengukur dimensi otak anak), dst. Sementara, “kembang” meliputi kemampuan sensorik, motorik, emosi, kemandirian, dst. Faktor yang memengaruhi ada 2, yakni internal dan eksternal. Faktor internal berupa genetik dan proses sejak kehamilan. Faktor eksternal berupa gizi, aktivitas fisik, penyakit, pola asuh (orangtua dan nanny), pengaruh teman, dan lingkungan sekolah.  

            Stimulasi (termasuk kasih sayang) anak dilakukan bukan cuma pada saat tertentu. Stimulasinya enggak ribet, kok, Teman-teman. Contohnya memeluk, tersenyum (bayi umur 3 bulan udah bisa balas senyum, lho), main cilukba, cipak cipak air, menggambar, tebak-tebakan, makan bersama, dll. Stimulasi bisa dilakukan kapan aja dan di mana aja, bahkan sejak anak ada di dalam kandungan usia 6 bulan. Jadi inget waktu hamil Faruq, saya getol ngaji dan nempelin suara murottal CD ke perut. Sekarang Faruq senang menghafal surat Alquran. Hm, ada hubungannya enggak, ya? Wallahu ‘alam.

            Stimulasi yang tepat akan membuat sinaps (sel-sel otak) semakin banyak dan kompleks. Ini berkaitan dengan kecerdasan majemuk nantinya. Sebaiknya stimulasi seimbang otak kanan dan otak kiri. Dr. Nathanne detail sekali menjabarkan aneka stimulasi dan deteksi kemampuan normal bayi dari 0 – 36 bulan via slide.

Beda, ya, sinaps anak yang cukup stimulasi & kasih sayang dengan yang enggak 
Stimulasi seimbang otak kanan dan otak kiri

Nutrisi
            Pemberian makan merupakan bagian terpenting dari kehidupan anak, terutama batita. Di momen ini sebagian besar terjadi interaksi orangtua dan anak. Faktanya 50 – 60% orangtua melaporkan anaknya mengalami kesulitan makan. Anak yang kesulitan makan akan rentan infeksi, pertumbuhan terganggu, bermasalah dengan perilaku dan kognitif (potensi intelektual). Deteksi dari awal. Berikut macam-macam kesulitan makan dan solusinya.

1. Inappropriate feeding practice
            Anak di atas umur 1 tahun cuma bisa makan bubur? Anak di atas umur 1 tahun cuma mau minum susu? Ini salah satu kesulitan makan jenis inappropriate feeding practise. Penyebabnya, perilaku makan yang salah dan kebiasaan memberikan makanan yang tidak sesuai usia.

Do’s
- Suasana makan menyenangkan
- Atur jadwal makan; 3 kali makan utama dan 2 kali camilan di antaranya (susu bisa dikasih 2 – 3 kali sehari)
- Atur rasio makanan padat dan cair 70 : 30
- Buat variasi makanan
- Sajikan makanan secara menarik
- Dorong anak untuk makan sendiri
- Tawarkan makanan secara netral (tanpa bujukan atau paksaan, no drama heee)
- Jika dalam waktu 10 – 15 menit anak tetap tidak mau makan, angkat piring makan anak (lama makan maksimal 30 menit)
- Hentikan proses makan jika anak marah
- Bersihkan mulut dan alat makan anak jika acara makan telah selesai.

Dont’s
- Menjadikan makan sebagai reward (please … makan itu wajib, yak)      
- Mainan, televisi, atau gadget yang dapat mengganggu proses makan.

2. Small eaters
            Anak aktif dan tumbuh kembang normal, tapi tidak tertarik sama makanan? Anak cuma mau mengonsumsi sedikit makanan utama? Bisa jadi anak termasuk small eaters.

Do’s
- Meningkatkan kalori makanan rumah dalam bentuk mentega, santan, susu
- Pemberian suplemen nutrisi
- Pemberian nutrisi enteral
- Pemberian nutrisi parenteral.
*tapi jangan pulak anaknya ditakut-takutin, "Kalau kau enggak mau makan, mamak infus aja kau! Infuuus!"

Dont’s
- Menawarkan camilan atau susu di luar jadwal makanan utama.

3. Food preference
            Food preference ini termasuk anak yang picky eaters. Kalau istilah orang Medan, pilih pilih tebu. Kebanyakan milih kalau mau makan. Ini enggak mau itu enggak mau. Ah entah hapa maunya pusing pala mamaknya jadinya. 

Do’s
- Kasih contoh makan yang menyenangkan tanpa menawarkan makanan tersebut kepada anak
- Sajikan makanan dalam porsi kecil
- Sajikan beberapa makanan walaupun bukan makanan kesukaan orangtua
- Paparkan anak terhadap makanan baru
- Campur sedikit makanan baru dengan makanan yang disukai anak, pelan-pelan tingkatkan porsi makanan baru
- Taruh makanan di meja yang mudah dijangkau anak.

Dont’s
- Tetap melanjutkan makan padahal anak mau muntah.

Pesan penting dari dr. Nathanne, tidak semua masalah bisa diatasi dengan mudah karena melibatkan banyak faktor. Minta bantuan tenaga ahli. Kunci utama ada pada orangtua dan nanny.

Oiya, kalau boleh saran untuk panitia, sebaiknya talkshow nutrisi dan stimulasi dibuat terpisah mengingat waktu yang sempit, tapi materi cukup banyak. Jadi, talkshow nutrisi satu sesi khusus dan talkshow stimulasi satu sesi khusus, gitu. Kedua tema talkshow ini oke banget. Info seputar nutrisi dan stimulasi adalah info yang paling sering dikepoin ibuk-ibuk muda kayak saya. Terbukti dr. Nathanne kebanjiran pertanyaan dari peserta. Semoga ke depannya menjadi perhatian pihak Brawijaya Clinic, yaaa. Hopefully.  

Suasana talkshow 

Goodie bag

            Terima kasih talkshow-nya, Brawijaya Clinic! Sayang saya tidak bawa anak. Padahal yang bawa anak dikasih free dental screening untuk anak huhu. But, alhamdulillah, salah satu isi goodie bag acara adalah voucher diskon 50% mammography screening. Seperti diingatkan kalau saya belum melakukan checkup penting ini. Siap-siap atur jadwal, ah. [] Haya Aliya Zaki

Catatan:
- Semua gambar (bukan foto) dalam postingan ini milik dr. Nathanne Septhiandi, Sp.A.
- Jadwal praktik dr. Nathanne Septhiandi, Sp.A. di Brawijaya Clinic fX Sudirman and Oktroi Plaza Kemang sesuai dengan perjanjian. Informasi:

Brawijaya Clinic @ fX Sudirman
fX Sudirman
Jl. Jendral Sudirman #K 8A-8B,
Pintu Satu Senayan, Jakarta Pusat
Telp : 021-25554099 , 25554154

Brawijaya Clinic @ Oktroi Plaza
Oktroi Plaza Building
Jl. Kemang Utara Raya No.1
Jakarta Selatan
Telp : 021-71792074, 71792101

Brawijaya Clinic @ UOB Plaza
ANZ Square – UOB Plaza
Podium Thamrin Nine
Jl. MH. Thamrin No.10 Jakarta Pusat
Telp : 021-29261880



31 komentar:

  1. Penting banget memperhatikan tumbuh kembang anak sejak dini ya Mba.. Pengetahuannya makin nambah nih sering ikutan seminar kayak gini ya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian dishare siapa tahu ada pembaca yang butuh. :)

      Hapus
  2. Alhamdulillah kita menjadi orang tua di era dimana banyak ilmu utk dipelajari dan sarana yg terbuka luas utk berbagi & mendapat ilmu. Ini berkah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, betul banget, Mba Anne.

      Hapus
  3. Wahh talkshow yg sarat ilmu yahh.. aku juga pengen dateng kalo ada talkshow2 kayak gini :)

    BalasHapus
  4. TFS yah kakak..

    Jaman dlu kan perkembangan nya blm pesat bgt, ortu ga ikut seminar parenting jg msh ok lah. Klo skrg, perkembangan makin menggila, kynya emang hrs banyak2 ilmu parenting :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Dek. Nambah wawasan ga ada salahnya. Malah bagus kan yak.

      Hapus
  5. Anak saya baru usia 4 bulan dan sering saya ajak ngobrol dan becanda (gemess) :D kalau ada talkshow parenting mendidik /merawat anak baru lahir (<1thn) boleh donk ikut xixixi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Stay tuned di komunitas Fun Blogging. Ini undangannya dapet dari komunitas BRID. Bisa juga mantengin di sana.

      Hapus
  6. Jaman dulu bahkan penyakitnya juga gak serame sekarang

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa, Mba, katanya penyakit pun semakin rame dan "canggih".

      Hapus
  7. Iya bener banget, anakku Hania terdeteksi Speech delay saat umur 2th 9bulan,dan Alhamdulillah berkat tahu lebih awal jadi bisa kekejar dengan terapi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ikut senang dengarnya. Salam buat Hania, Mba.

      Hapus
  8. Sekarang sudah banyak ya acara-acara sarat ilmu seperti ini. kalo dulu biasanya cuma dari buku aja.
    Soal makan, anak-anak nih kalo sudah suka dengan makanannya biasanya makan banyak *eh semua juga seperti itu ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya kalo udah suka dengan 1 jenis makanan, terus makan makanan yang itu jadi banyak ya, Mba? Bagus, Mba. Tapi ga ada salahnya dikenalkan dengan beberapa makanan baru secara berkala, kata dr. Nathanne.

      Hapus
  9. Beruntungnya diriku jadi ibu muda *pamer* di era yang semuanya serba IT Mak. Mau cari info ya tinggal klik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dulu kudu ribet buka kliping koran atau tabloid. :))

      Hapus
  10. Pak dokternya masih muda gtu..ganteng kayanya
    #salahfokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya Muna malah terlalu fokus ya hahahaha.

      Hapus
  11. Dokternya bikin mata seger hahahhahahaa... tapi memang ya, sering kali ada yang nyinyir kalau bahas soal seminar parenting... Padahal anak-anak zaman sekarang beda, orangtuanya perlu belajar lebih banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha ini juga beda fokusnya. :)) Biarlah anjing menggonggong nona cantik berlalu yah.

      Hapus
  12. Sekarang banyak seminar-seminar semacam ini ya mbak, bahkan di daerah. Memang butuh sekali tahu agar bisa deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mba Susi. Di daerah juga semakin banyak sepertinya.

      Hapus
  13. Beruntung sekali saya dulu bisa mendeteksi masalah si bungsu, Mbak, jadi dia bisa tumbuh normal meski agak terlambat.
    Dahulu dia tidak mau bicara dan kesulitan menyebut kata, tetapi bisa. Meski banyak yg mengolok-olok si bungsu sebagai si bisu, saya yakin dia bisa. Dan benar... dgn terapi sendiri di rumah, dia bisa bicara dalam 6 bulan dan terus bertambah. akan lebih cepat jika bisa deteksi dini dengan bantuan medis. TFS mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, senang dengarnya, Mba. Yang bikin berat antara lain bully dari orang-orang di sekitar, ya. Semoga si bungsu tambah baik perkembangannya. Aamiin.

      Hapus
  14. Kalo penghargaan setelah makan boleh makan es krim gimana ya mba?atau boleh nonton tv tapi makan dulu?
    Duh moga raffi termasuk yg sel otaknya banyak :"$

    BalasHapus
  15. Di era globalisasi penyampaian informasi memnag lebih mudah ya, apalagi dengan talkshow kaya gini. Sangat informatif ^^

    BalasHapus
  16. namanya juga orang tua gak ada sekolahnya. Jadi, salah satu ilmunya di dapat dari talkshow, ya :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan