Sabtu, 05 Desember 2015

Ketika Ibu Melukis Kata-Kata

            Teman-teman, bulan Desember identik dengan Bulan Ibu. Why oh why? Yak, seratus buat jawabannya! Sebentar lagi kita menyambut Hari Ibu. Jadi, jangan bosan, pleaaase. Sebulanan ini saya bakal mengulas tentang ibu, ibu, dan ibu.

Figur ibu sangat berpengaruh dalam kehidupan umat manusia. Tugasnya tidak sebagai ibu biologis, yaitu melahirkan dan menyusui saja, tapi juga guru yang pertama dan utama. Ibu pendidik bagi anak-anaknya. Kelak, diharapkan lahir generasi penerus yang tangguh dari rahim mereka. Aamiin.

Sebagian ibu harus bekerja mencari nafkah karena desakan ekonomi. Jangan salah, fenomena ini bukan hanya terjadi di wilayah perkotaan, lho. Di daerah pedalaman seperti Kalimantan Barat dan Papua misalnya, ibu menjadi tulang punggung keluarga. Selain mengurus anak dan memasak, mereka bekerja di ladang, menyadap karet, dan menumbuk padi. Perempuan di sana memiliki etos kerja di atas rata-rata. Mungkin terkesan agak “mengeksploitasi”, tapi yang hendak saya tekankan adalah betapa pentingnya peran ibu dalam kehidupan.

Pastinya alasan ibu bekerja bukan cuma karena desakan ekonomi. Ibu juga butuh wadah untuk berekspresi di bidang yang mereka sukai. Ada yang menjadi guru,  pedagang, penulis, dll. Saya ingin membahas kiprah tiga ibu yang melukis kata-kata alias ibu femes yang menulis. Mungkin Teman-teman sudah pada kenal sosok mereka, yaaa. Tidak ada salahnya saya ulas lagi. Sepak terjang mereka begitu fenomenal dan menginspirasi.

1. J.K. Rowling
Pada tahu dong siapa J.K. Rowling? J.K. Rowling aka Joanne Kathleen Rowling adalah penulis buku serial Harry Potter yang super duper populer. Buku yang berkisah tentang penyihir cilik tersebut menimbulkan histeria di jagat perbukuan dan memecahkan rekor sebagai buku terlaris sepanjang masa. Kisahnya diangkat ke layar lebar oleh Warner Bros. Fantastis, Harry Potter juga dijadikan tema taman hiburan The Wizarding World of Harry Potter di Islands of Adventure, Universal Parks & Resorts.

Udah tahu kan siapa yang di sebelah J.K. Rowling itu?

Siapa yang mengira kalau dulunya Rowling hidup dalam flat kecil dan harus bekerja paruh waktu agar bisa menghidupi dirinya dan Jessica, anaknya? Selain bekerja paruh waktu, Rowling menulis. Dia menumpahkan semua idenya di notes kecil. Setelah itu, mengetik naskahnya dengan mesin tik manual.

         Rowling sempat jatuh bangun karena naskah Harry Potter ditolak banyak penerbit. Barulah ketika Bloomsbury menerima, hidup Rowling berubah seratus delapan puluh derajat. Baginya, inilah momen terbaik kedua dalam hidupnya. Momen pertama tentu saja melahirkan Jessica. Harry Potter membuat Rowling meraih banyak penghargaan. Dia ditahbiskan sebagai penulis terkaya sepanjang sejarah kesusastraan. Sekarang Rowling bisa saja berhenti menulis. Dia tidak perlu takut jatuh miskin. Namun, Rowling memilih lanjut karena kecintaannya yang kuat pada dunia menulis.   

2. Ratna Indraswari Ibrahim
Wah, kalau membicarakan sosok ibu yang satu ini pasti bibir kita tidak berhenti berdecak kagum! Ratna merupakan cerpenis produktif dengan segala keterbatasan. Sejak umur 13 tahun, kedua tangan dan kaki Ratna tidak berfungsi karena penyakit radang tulang. Keterbatasan tidak menjadikannya sosok yang pemurung dan mudah putus asa. Sebaliknya, beliau sangat periang!

Buku kumpulan cerpen Ratna yang telah terbit antara lain Kado Istimewa (1992), Namanya Massa (2000), dan Sumi dan Gambarnya (2003). Bukan hanya menulis cerpen, perempuan berdarah Minang ini juga menelurkan beberapa novel.  Satu cerpen bisa dikerjakan Ratna selama berbulan-bulan. Novel? Bertahun-tahun! Saat menulis, Ratna dibantu asisten. Karya-karyanya mengusung tema anti-marginalisasi dan anti-penindasan. Bisa dibayangkan, dengan kondisi seumur hidup di atas kursi roda, justru Ratna menebar cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

almh.  Ratna Indraswari Ibrahim (kiri)

Tahun 2005 Kompas memberikan Anugerah Kesetiaan Berkarya. Tak kurang dari 400 cerpen dan 10 novelet buah karya Ratna. Innalillahi wa innailaihi roojiuun, Ratna berpulang tahun 2011 pada usia 61. Dunia literasi berduka. Harimau mati meninggalkan belang gajah mati meninggalkan gading manusia mati meninggalkan nama. Semoga kita bisa terus meneladani semangat seorang Ratna Indraswari Ibrahim.

3. Asma Nadia
            Awalnya Asma Nadia dikenal melalui buku-buku remaja. Belakangan dia menghasilkan karya dengan tema-tema baru yang lebih luas menjangkau khalayak. Teknik penceritaannya pun berbeda.

Asma telah menghasilkan puluhan buku dan prestasi bejibun. Karya-karya islaminya memberikan pencerahan. Bukan sekadar cerita yang menghibur, begitu habis dibaca, tidak berbekas  makna. Cuma yang buku Catatan Hati Seorang Istri entah kenapa saya malah jadi “puyeng” setelah baca. :)) *peace, Mba Asma* Tulisannya Surga yang Tak Dirindukan difilmkan dan meraih satu juta penonton dalam waktu satu bulan. Menyusul Cinta di Ujung Sajadah dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea difilmkan.


Asma Nadia

Meski bekerja, quality time bersama keluarga bukanlah impian. Pemenang tiga  penghargaan Adikarya IKAPI ini banyak belajar. Belajar mengarungi samudera kehidupan, terutama menata riak gelombang keluarga kecilnya. Sebagai ibu, Asma adalah ibu yang penyayang, senang bercanda, namun sangat disiplin. Keceee!

Oke, cukup cerita tentang tiga penulis femes tadi. Bagi saya pribadi, menulis itu benar-benar “sesuatu”. Saya bisa berkarya dari rumah sambil dasteran haha! Rasanya senang bukan kepalang setiap membaca tulisan yang dimuat di media cetak. Dan, sejak merambah dunia maya, saya makin hepi. Saya tidak perlu menunggu sampai berbulan-bulan supaya tulisan saya tayang di media orang lain. Sekarang saya sudah punya media sendiri, yakni BLOG. Justru gantian brand yang “antre” programnya tayang di blog kita. Uhuuukkk. :D  

Yang ini penulis biyasa biyasa sajah

Aktivitas menulis merupakan bentuk komunikasi dan pengekspresian diri yang sangat positif. Pernahkah terpikirkan, ketika ibu melukis kata-kata, ibu mewujudkan begitu banyak kebaikan di sekelilingnya? Semoga bisa menjadi bekal untuk akhirat nanti. Baidewei baswei, bukan tak mungkin suatu saat nanti ada dari Teman-teman yang mengikuti jejak ketiga tokoh di atas sebagai penulis femes. Acem kalian rasa? [] Haya Aliya Zaki

Ketiga foto penulis femes diambil dari Facebook masing-masing

34 komentar:

  1. 3 ibu yg sungguh keren termasuk foto ibu yg terakhir. Pengen bisa sekeren ibu2 diatas ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha siapa itu ibu yang terakhir? Asma Nadia, ya? :p

      Hapus
  2. amin amin ya robbal alaminn...
    dan salut juga buat ibu yang tetrakhir disebutkan hhhhee ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini juga. :))) Aamiin, makasih, Rohma. :D

      Hapus
  3. Yang nolak Harry Potter nyesel banget deh.Mba Haya,nomor empat,..keep inspiring mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, yang nolak Harry Potter nyesel tujuh turunan tuh. Thank you, Mba Nunu. You inspire me. :)

      Hapus
  4. yup! Seorang juga butuh wadah untuk berapresiasi. Selama keluarga juga terurus dengan baik. Kenapa tidak? :)

    BalasHapus
  5. Foto yg trakhir lg anggun2nya ya kak :)

    BalasHapus
  6. Selain memiliki passion ketiganya juga tidak merasa tersandera atau terpenjara dalam bingkai' ibu rumatangga:' atau ' ibu pekerja'
    Time management is paramount.
    Terima kasih atas artikelnya yang menginspirasi.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  7. Klw nulis cerpen yg laen paling lama berbulan bulan..saya mah bs berpuluh tahun..asli gak pede..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pede ajaaa. Kan ga ada yang marahin. :))

      Hapus
  8. generasi sekarang mungkin tidak kenal dengan ratna indraswati ya mba haya...saya termasuk yang suka cerpen-cerpennya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu, Mba Rina. Saya juga suka cerpen-cerpen almarhumah.

      Hapus
  9. Saya sering mendengar nama Asma Nadia, tapi belum pernah baca bukunya. Hehe
    Tapi, benar.. Asma Nadia ini memang telah menghasilkan banyak karya dan prestasi. :)

    Salam hangat dari Bondowoso..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh juga atuh dibaca buku-bukunya. :D

      Hapus
  10. Baru tau cerita ttg ibu Ratna. Salut sama beliau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Dwina. Beliau memwng istimewa.

      Hapus
  11. Wow keren bahasannya mbk. Pengen sukses kayak ibu keren itu

    BalasHapus
  12. Ibu bernuansa ungu... sepertinya aku pernah ketemu ya.
    *mintadilemparsalad

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wong aku malah mau minta dibikinin salad wkwkwkwk.

      Hapus
  13. Asyiik ya, kalau jadi penulis tenar terus buku2nya difilmkan. Ratna Indraswari Ibrahim dalam bukunya gak pake nama samaran? Mau cari bukunya ah, yang kumpulan cerpen itu. Mau searching kali2 aja masih ada tu buku. Makasih, Haya, baca ini jadi info bermakna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pakai nama asli, Bunda. Semiga masih ada yg jual, ya. Soalnya buku lama.

      Hapus
  14. Mantap kak, aku menelusuri jejak siapa ya?secara agak2 kurang awak imajinasinya kak, hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha bisa aja adekku ini. Be yourself aja, Dek. :D

      Hapus
  15. penulis femes selanjutnya...mbak Haya! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah hehehe. Aku penulis shalelah aja dah. Aamiin.

      Hapus
  16. Menjadi penulis merupakan hal yang "mahal" :) Sekali baca tulisan Mbak Haya, nggak bisa berhenti euy! hihi

    BalasHapus
  17. 4-ibu-ibu yang di foto ini kereeeen et femeees :)..selalu ada banyak inspirasi dari para ibu yang selalu berjuang untuk orang-orang yang dicintanya :)

    BalasHapus
  18. Aihh kerenn.. Dari ketiga penulis femes saya belum pernah baca karya2nya alm bu ratna, wah sepertinya menarik nanti saya akan cari deh. Haha maaf mbaa banyak komen and stalking blog mb haya, menggali ilmu malam2, hihii makasih banyak mb dan salam kenal

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan