Sabtu, 28 November 2015

Satu Jam Bersama Dewi "Dee" Lestari

Beberapa bulan lalu saya beruntung mendapat kesempatan menghadiri talkshow Woman in You yang narsumnya salah satu penulis favorit saya, Dewi Lestari (Dee). Konon pula acara gawean Dari Perempuan ini diadakan tidak jauh dari rumah saya, yakni di The Flavor Bliss Alam Sutra, Tangerang. Langsung yuk yak yuk capcus wus.

Teman-teman, cerita talkshow Woman in You yang berdurasi satu jam, saya rangkum dalam bentuk tanya jawab dari kami yang hadir di sana. Dee tidak sekadar sharing seputar dunia kepenulisan, tapi juga sharing tentang dunia wanita. Monggo dikunyah.

Dewi Lestari (Dee)

1. Buku apa yang paling Dee suka?
            Buku-buku spiritual, science, dan puisi. Yang paling suka yang terakhir. Puisi itu ibarat oase. Dee tidak perlu berkerut-merut memahami cerita. Dia hanya butuh menikmati kata-kata. 

2. Kapan waktu Dee menulis?
            Subuh. Sekitar pukul 04.00 subuh Dee bangun untuk mengumpulkan ide yang terserak dan menuangkannya ke dalam tulisan. Pikiran masih segar, belum dijejali aktivitas yang lain. Ketika pagi menyergap, Dee menutup laptopnya. Dia bergegas mengurus anak-anaknya (Keenan dan Atisha) berangkat sekolah, belanja sayur, memasak, dll.

3. Dari mana mendapat ide tulisan?
            Ide tulisan tidak harus didapat dengan bepergian jauh. Lihat sekeliling kita. Seorang PENULIS yang baik adalah juga PENGAMAT yang baik. Ide menulis cerpen Rico de Coro didapat saat Dee sedang “terperangkap” di kamar mandi bersama kecoak (coro). Dee memang paling takut sama kecoak. Dilalah dia tinggal di rumah lama yang sarang kecoaknya lumayan. Itu tadi, Dee mandi sambil ketakutan memelototi kecoak di tembok haha! Selesai mandi, Dee berpikir, bagaimana jika dia menulis tentang kecoak sebagai tokoh utama. Hm, karakter apa yang cocok kira-kira? Karakter kecoak yang perhatian, mungkin? Ya, why not? Dari situ Dee mulai merangkai cerita. Akhirnya jadilah cerpen Rico de Coro, cerpen yang berkisah tentang kecoak bernama Rico. Rico jatuh cinta dengan gadis remaja yang tinggal di rumah tempat dia menumpang. Kisah cinta yang unik. Cerpen ini merupakan cerpen yang paling saya suka di buku kumpulan cerpen dan prosa Filosofi Kopi karya Dee.

4. Pengalaman apa yang berkesan saat melakukan riset?
            Nah, kalau yang ini pertanyaan saya. Selain terbuai oleh kata-kata dalam karya Dee, saya juga selalu mendapat wawasan baru. Wawasan ini tentunya karena riset yang memadai. Ada 4 macam riset, yakni riset pustaka, browsing internet, wawancara, dan datang ke TKP.

Dee pernah dua bulan ngekos di salah satu kos-kosan mahasiswa di Bandung saat menggarap novel Perahu Kertas. Soalnya, tokoh-tokoh dalam novel ini adalah mahasiswa. Dee ngekos untuk riset apa dan bagaimana laku mahasiswa sekarang. Mulai dari kegiatan mereka, cara mereka berbicara (bahkan cara bergurau), sampai suasananya. Jelas beda dong ya dengan mahasiswa tahun 90-an kayak kami. (((KAMI))) Sebenarnya Dee tidak betul-betul ngekos, sih. Dia datang pukul 08.00 pagi dan pulang pukul 05.00 sore. Persis kayak orang kerja kantoran. Jadi tidak menginap di sana. Kadang tengah hari Dee pulang untuk menengok anaknya, Keenan (waktu itu berumur 3 tahun), dan sekalian tidur siang sebentar. Bangun tidur, balik lagi ke kosan. Waktu tempuh rumah Dee dan kosan sekitar 20 menit. Bagi Dee, pengalaman ngekos ini sangat membekas. Oiya, fyi, sebagian besar setting di novel Dee, seperti Tibet, New York, dst juga memanfaatkan riset. Bukan datang langsung ke TKP.

Enggak nyangka Dee humble banget orangnya

5. Apa yang Dee lakukan untuk menghilangkan rasa jenuh?
            Teman-teman jangan berpikir bahwa Dee ini rajiiin banget menulis tanpa kenal jenuh. Jangan! Yang namanya manusia pasti manusiawilah mengalami jenuh. Namun, ada satu kata yang membuat Dee konsisten menulis. Apa itu?

            Deadline.

          Penulis itu ibarat bertarung dengan halaman kosong. Tanpa deadline, biasanya kita bermalas-malasan menyelesaikan tulisan. Pada dasarnya pekerjaan menulis sama dengan pekerjaan lainnya, kok. Punya deadline! Jika Teman-teman adalah penulis pemula yang belum dikejar-kejar pembaca atau target dari penerbit, pasanglah deadline sendiri. Anggaplah ada sesuatu atau seseorang yang sedang menunggu tulisan kita selesai. Dee tidak bisa memulai sebuah tulisan tanpa menetapkan deadline terlebih dahulu. Istilahnya, ketika dia akan mulai, dia sudah tahu kapan dia harus selesai.   

6. Bagaimana cara merangkai kata-kata yang mampu membetot pembaca?
            “Tulislah sesuatu yang ingin kamu baca,” demikian saran istri Reza Gunawan ini. Maksudnya, tulislah sesuatu yang memang kita suka. Kalau kita sudah menemukannya, insya Allah semua mengalir lebih mudah. Kita bisa betul-betul “masuk” ke dalam cerita. Itulah sebabnya ada penulis cerita chicklit, teenlit, dst. Passion orang berbeda-beda. Sekali lagi, pilih yang paling kita suka. Untuk lebih detailnya, pastinya berkaitan dengan teknik menulis ina inu. Tidak bisa dijabarkan panjang kali lebar sama dengan luas dalam talkshow yang cuma satu jam inilah yaaa.     

Bareng Mba Renny Yaniar dan Kak Ade Nur Sa'adah (foto milik: Kak Ade Nur Sa'adah)

7. Siapa sosok inspiratif dalam hidup Dee?
            “Ibu saya,” Dee menjawab yakin. Bagi Dee, ibunya adalah manusia paling sempurna. Ibu seorang ibu rumah tangga biasa, tapi aktif di lingkungan sekitar, gereja, dan dharma wanita (ayah Dee seorang ABRI). Rumah mereka selalu ramai oleh kegiatan. Ibu bisa mengatur semuanya dengan apik. Bukan cuma itu, Ibu juga sangat pandai menjaga penampilan. Maksudnya bukan berpenampilan glamor atau bagaimana, ya. Dee tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Di matanya, penampilan Ibu selalu enak dilihat. Ketika sekarang menjadi ibu, Dee merasakan betapa beratnya menjadi ibu seperti ibunya dulu. Satu lagi, dalam sehari Ibu sering masak dua kali (pagi dan sore). Sementara, Dee mungkin masak dua hari sekali. Waktu menjawab pertanyaan tentang sosok inspiratif ini, suara Dee bergetar. Kadang dia menjeda, seolah tak sanggup melanjutkan kata-kata. Ibu wafat ketika Dee masih kuliah. Sosok Ibu sangat bermakna bagi seorang Dewi Lestari.

8. Karya mana yang paling sulit “dilepas” ke publik?
Supernova 1: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Dee benar-benar bekerja keras menyelesaikan karya pertamanya. Begitu meluncur ke publik, eh, karyanya ini menuai hujanan kritik pedas. Rasanya down banget! Syukurlah semua mampu dilewati. Menurut Dee, penulis harus punya dua sikap: bisa menghadapi kritik dan bisa menghadapi sukses. Eits, jangan salah. Enggak semua orang bisa bersikap eleykhan ketika sukses, lho. Ada yang songong tak tertahankan dan akhirnya kariernya kandas. “Konsisten berkarya sebaik-baiknya. Tetap rendah hati. Itu kuncinya,” tutup Dee bijak. [] Haya Aliya Zaki

                        

49 komentar:

  1. Wah senangnya bisa ketemu Dee, mak.
    Aku juga suka karya-karya beliau. Cakep-cakep sih :)

    BalasHapus
  2. Makasih mbak sharringnya. Pbagian waktu dan konsistensi Dee perlu dicontoh ya. Untuk bs menyelesaikan tulisan apalagi berbentuk novel itu ga mudah, penuh godaan, kadang malah terbengkalai.. Dee Bikin semangat nulis sesuai impian :)

    BalasHapus
  3. Total banget Dee nulisnya. Sampai ngekos buat dapat suasana kost2an. Pantes aja Perahu Kertas bagus banget. Di antara karya Dee sy paling suka Perahu Kertas.

    Makasiiih sudah share, Mb Haya :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama. Aku paling suka PETIR. Kalau Perahu Kertas entah kenapa ga chemistry. Mungkin karena umur ga muda lagi walaupun paras masih tampak muda hahahaha. *digetok gayung*

      Hapus
  4. Makasih banget sharringnya mba. Bagus banget.. memang Dee luar biasa. Karya karya mu bagus bagus karena ternyata dia benar benar terjun dan serius total menggarap karyanya.

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Didik biarpun cowo jangan mau kalah. Semangat! :D

      Hapus
  6. Terus terang mba, itu yg Kesatria, Putri dan Bintang Jatuh merupakan buku pertama tersulit yg pernah kubaca. Bukannya nggak bagus loh ceritanya, namun gaya bertutur Dee memang out of the box. Pada masa pertama kali baca novel tersebut, diriku pusing banget. Hihihiii...kebiasaan baca buku yg isinya ngikik ngikik sih ;)
    Lagi mengumpulkan niat untuk membaca ulang Supernova pertama itu kembali mba, mohon doa restu :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Supernova 1 aku juga ga tamat. :)))) Terlalu banyak catatan kaki. Pusing. Coba baca Petir, Jeng. Seru, aku suka.

      Hapus
    2. Yang Gelombang juga seru banget, katanya. Tapi aku belum baca.

      Hapus
  7. Baru punya buku Supernova. Lainnya minjem 😀.
    Pernah dengae critanya, semua anak di rumahnya adalah kutubuku. Masa mereka kecil selalu baca buku, bahkan di toilet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ke toilet juga bawa buku hahaha. Minimal bawa majalah atau koran.

      Hapus
  8. Wah hebat, mbak Dee meskipun jadi penulis terkenal ternyata termasuk seorang ibu yang hebat pula, masih bisa mengurus keluarganya dengan baik. Rajin dan Konsisten, makasih tips nya mbak Dee :D :D
    Thanks udah share :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, beliau keibuan sekali kelihatannya. :)

      Hapus
  9. Dulu pernah ikut acara talkshow dan book signing setelah peluncuran 'akar', dan dee in real life emang humble banget. Wish i could meet her again one day :)

    BalasHapus
  10. Wah ternyata jam kerja dan takut kecoanya sama sama saya *disambung-sambungin aja XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Disambung-sambungin jadi panjang, Va. :p

      Hapus
  11. Sesekali aku perlu mengunjungi talk show kepenulisan kayaknya nih. Atau kalau nggak, ya memang kudu rajin baca. Baca, baca, n lagi lagi kudu baca. Senang baca tulisanmu Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Senang kalau tulisan ini bermanfaat, Isna.

      Hapus
  12. Wuaaah keren. Makasih mbak Haya, sharenya. Berarti emang mesti bikin deadline sendiri ya hehe..
    Eh ya, salam kenal ya mbak Haya :) *telatKenalan hehe*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Makasih udah mampir, ya. :)

      Hapus
  13. aseg..dpet ilmu lg..
    makasih ya cikgu udh share ilmu dr penulis kece dee.. :)

    BalasHapus
  14. kak dewi lestari!
    paling takjub dengan bahasa di kumpulan cerpennya. apa ini berarti tulisan saya bisa menjadi seperti kak dee? hehehe mengingat rumus “Tulislah sesuatu yang ingin kamu baca,”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, coba dipikirkan. Jadi peer di rumah, ya. :))))

      Hapus
  15. Momen berharga banget ya bisa dapat wawasan dari seorang penulis dengan karya yang sudah melanglangbuana ini :)
    Penampilannya sangat bersahaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, humble and simple. Makasih undangannya ya, Ani. :)

      Hapus
  16. jadi rico de coro terinspirasi dari kecoa? keren ya :)) dari tiga seri supernova terus perahu kertas dan kumpulan cerpennya di filosopi kopi aku paling suka perahu kertas dan filosopi kopi. apalagi perahu kertas, suka karakter kugy yang ajaib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Rico de Coro kan cerita tentang kecoa. Btw, Supernova apa aja yang udah dibaca, nih?

      Hapus
  17. ada yang kelupaan mbak. makasih untuk info ilmu menulis ala dewi dee lestarinya :))

    BalasHapus
  18. Di buku FilKop saya juga paling suka sama cerita Rio de Coro. Ikutan begidik jijik mbayangin keluarganya. Hihihi. Makasih Mbak Haya berbagi ilmunya. :)

    BalasHapus
  19. Alu suka tulisan Dee.. meski lembut tapi ada tenaganya... dan asli memaku kita utk menyelesaikan bacaan kita

    BalasHapus
  20. I am one of her biggest fans mbaaaa....hampir semua bukunya aku punya dan aku bawa ke mana-manaaa...kecuali yang seri terbaru hiks. She is amazingly creative :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga segera dapat yang seri terbaru ya, Mba Indah. Yes, she is. :)

      Hapus
  21. Seneng sekali ya bisa ketemu penulis inspirstif ini. Kapan ada even jumpa Dewi Lestari lagi ya, hehehe
    Hobi Dee membaca, membuahkan kematangan batin dan ini muncul di goresan tangannya membuat cerita
    Makasih mba Haya sharingnya.
    Ilmu dari penulis sekelas Dee sungguh berharga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga nanti ada kesempatan bertemu Dee. Kembali kasih, Mba Nefer. :)

      Hapus
  22. Jujur cikgu belum banyak novel Dee yg aku baca alesannya ya kaya mbak uniek..berat bahasanya. Waktu baca adalah waktu refrwahing buatku jd klo bahasanya berat malah pusing sendiri n kalo udah ga bisa nangkep isi ceritq aku merasa gagal sebagai manusia #halaahh...

    BalasHapus
  23. Dee, engkau memang pribadi dan penulis luar biasa.

    BalasHapus
  24. Banyak masukan berharga dari wawancara ini.
    Dee pernah menjadi model BlogCamp loch.
    Terima kasih sajiannya yang memikat.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
  25. Karya Dee saya paling suka sama Perahu Kertas. Cerpen2 di revtoverso juga suka. Apalagi filosofi Cinta Sebatas Punggung-nya. Baperr bacanya :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan