Rabu, 25 November 2015

Alya Namira Nasution: Royalti Buku untuk Bikin Perpustakaan Gratis


Kebetulan nama gadis manis berseragam putih abu-abu ini mirip dengan nama saya hihihi, yakni Alya Namira Nasution. Dinda, demikian dia disapa, punya segudang prestasi di bidang menulis. Selain itu, Dinda juga getol menularkan “virus” membaca melalui perpustakaan gratis Rumah Buku AlyaNayya miliknya. Mau tahu serunya hari-hari Dinda?

Alya Namira Nasution (Dinda)

Bagi putri pasangan Muhammad Haris Nasution dan Ade Nur Sa’adah ini, menulis adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Sejak kecil, Dinda memang akrab dengan dunia Bunda yang bekerja sebagai wartawan. Dinda sering melihat Bunda mewawancarai tokoh-tokoh hebat. Salah satu tokoh hebat yang membekas di hati adalah penyair ternama yang mendapat julukan Burung Merak, W.S. Rendra.

“Kakung” demikian panggilan Dinda kepada Rendra. Masa kanak-kanak Dinda dihabiskan di Bengkel Teater Rendra. Dia suka mengamati Rendra bekerja di perpustakaan. Umur tiga tahun, saat Dinda sudah bisa membaca, Rendra membelikannya buku-buku klasik. “Waktu aku ulang tahun yang ketujuh, Kakung kasih hadiah novel Eragon. Novel itu langsung aku baca sampai selesai,” kenang Dinda, tersenyum. Dari sekian banyak koleksi buku, karya Enid Blyton, Roald Dahl, dan Jacqueline Wilson adalah buku-buku favoritnya.  

Teman-teman, kesukaan akan membaca membawa Dinda pada dunia menulis. Awalnya Bunda menyarankan ikut workshop Kecil-Kecil Punya Karya yang diselenggarakan penerbit DAR! Mizan. Semenjak itu, Dinda semakin suka menulis. Hingga tahun 2015 ini, telah belasan buku solo dan antologinya terbit, antara lain Ayo, Kita Jujur (Pustaka Ola), Duo Somplak (Pustaka Lebah), dan  Detektif Tanpa Kasus (Bentang Belia). Yang teranyar Ghost Dormitory San Fransisco: Kamar Tanpa Nomor (DAR! Mizan). Kalau buku Eyang Rendra, Kenangan Terindah (DAR! Mizan) adalah persembahan istimewa Dinda untuk Rendra yang kini telah tiada. Satu buku biasanya diselesaikan dalam waktu satu sampai tiga bulan. Dinda tipe penulis yang detail. Saat menulis buku Ghost Dormitory San Fransisco, misalnya, dia benar-benar mencari informasi akurat melalui browsing, membeli peta, dan membaca teliti buku-buku lain yang dibutuhkan.

Sejumlah prestasi bergengsi di dunia menulis pula diraih, seperti juara harapan lomba menulis cerpen bahasa Inggris Hari Anak Nasional (2011), karya tulis terbaik Konferensi Anak Majalah Bobo (2011), juara satu lomba menulis cerpen Kemendikbud dan Mizan (2011), Penulis Laskar Pelangi Anak Bentang Pustaka (2011), dan masih banyak lagi. Jangan kaget, Dinda mulai merambah dunia film. Gadis penyuka nasi goreng seafood dan milkshake ini meraih juara tiga lomba membuat film pendek nasional di ajang Kid Witness News Panasonic tahun lalu.

Dinda dan mantan Menteri Kesehatan RI, almh. Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih

Ketika ditanya cara membagi waktu antara sekolah dan kegiatan di dunia menulis, Dinda merendah, “Sebetulnya aku sama saja dengan anak remaja lainnya. Aku mulai mengetik setelah pulang sekolah. Pukul delapan malam semua kegiatan di depan laptop berhenti, kecuali hari libur.” Kadang-kadang Dinda ditegur Ayah dan Bunda karena terlalu lama di depan laptop. Mereka khawatir kalau mengurung diri terus di kamar, Dinda tidak lagi menikmati hangatnya paparan sinar matahari dan hijaunya pemandangan pepohonan. Mata juga cepat lelah jika nonsetop menatap layar monitor.

“Seringkali ide menyerbu tanpa bisa aku cegah. Makanya aku betah berlama-lama di depan laptop,” aku Dinda. Seandainya belum memungkinkan membuka laptop, ide-ide disimpan dulu di memopad ponsel.  

Dinda pernah mengalami kejadian lucu di toko buku. Waktu itu, dia dan adiknya yang berusia sembilan tahun, Jingga Nayya Nasution (Jingga), melihat beberapa anak sedang bingung memilih buku. Dengan semangat Jingga berkata kepada mereka, “Hai, kalian beli buku kakakku aja! Kalian juga bisa minta tanda tangannya sekalian! Ini dia kakakku!” Hahaha ...! Rasanya Dinda ingin ngumpet malu mendengar kata-kata Jingga! Tapi, itulah Jingga. Dia memang suporter utama dan ‘marketing yang andal’ bagi kakaknya. 

Dinda dan Jingga

“Dengan menjadi penulis, aku bisa mendirikan Rumah Buku AlyaNayya. Aku suka sekali membaca. Aku ingin teman-teman juga suka membaca. Sebagian besar royalti bukuku, aku gunakan untuk membeli buku. Teman-teman boleh pinjam buku gratis dari Rumah Buku AlyaNayya, tapi dengan syarat, buku-buku yang dipinjam harus dijaga. Sekarang koleksi bukuku sudah mencapai 2000-an judul,” tutur Dinda yang tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Cilik Indonesia. Semua peminjam buku di perpustakaan terdata. Sehari bisa dua puluh orang yang meminjam buku.

Pojok nyaman di rumah Dinda

Seiring berjalannya waktu, peminjam buku di perpustakaan Rumah Buku AlyaNayya semakin berkurang. Dinda pun melakukan survei (bagi-bagi kuesioner) dan menganalisis. Respondennya anggota perpustakaan dan teman-teman. Rupanya, penyebabnya adalah gadget. Hari gini gadget sudah menjadi kawan duduk yang asyik. Di sisi lain, Dinda juga introspeksi. Dia berusaha membenahi perpustakaannya agar tetap diminati pengunjung. Permasalahan ini dituangkan Dinda ke dalam karya tulis berjudul Buku vs Gadget. Di luar dugaan, karya tulis tersebut berhasil meraih juara dua dalam lomba karya tulis tingkat SMA 2015 Depok. Dua tahun sebelumnya Dinda meraih juara satu untuk event yang sama. Yeay! Selamat, Dinda!      

Jujur, apresiasi dari pembacalah yang membuat Dinda semangat menulis. Yang bikin agak sedih, pajak royalti buku di negara kita lumayan gede. Bahkan, salah satu lomba menulis yang dimenangi Dinda pajak hadiahnya sampai 25%. Bayangkan, seperempatnya, Bok! “Di keluarga kami, Dinda-lah yang paling banyak menyumbang untuk negara,” kelakar Ade, bunda Dinda.

Dinda dan keluarga kecilnya

Harapan Dinda, pajak untuk penulis jangan gede-gede, dong. Please! Buku, kan, salah satu sarana untuk mencerdaskan bangsa hehehe. Semoga kedudukan penulis semakin dihargai ya, Dinda. Selalu semangat! [] Haya Aliya Zaki

           Foto-foto dokumentasi pribadi Dinda
 
   

             











30 komentar:

  1. Keren sekali cerita Dinda, Mbak Haya.
    Kelak jadi penulis hebat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Salut juga dengan orangtua Dinda ya, Pak.

      Hapus
  2. Waah salut sekali dengan prestasi Dinda dan jiwa sosialnya yang tinggi.Sukses terus Dinda...

    BalasHapus
  3. Membaca buku itu memang harus digalakkan. Jangan sampai tidak bisa membeli tidak bisa membaca. Keren idenya anak muda satu ini.

    BalasHapus
  4. Aih, yang muda aja semangatnya menginspirasi gitu. Saya yang tua jadi malu. :(

    BalasHapus
  5. Masyaallah keren euy Dinda masih kecil tapi karyanya udah banyak n bagus2. Banyak baca buku ise jd ngalir terus ya cikgu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai nulis waktu masih umur 8 tahun. Sekarang udah remaja. :D

      Hapus
  6. emang sekarang minat baca mayoritas orang2 sudah sedkit terkikis dan menipis.
    Salut banget sama Dinda ini.. generasi yang banyak ide dan kritis dengan bakat menulisnya ^_^

    BalasHapus
  7. Appah? Dua ribu buku? Itu sih sudah cukup untuk stok perpustakaan sekolah. *ngiri
    Tapi, Mbak. Membaca hal begini rasanya tuh asing. Seperti membaca cerita-cerita inspiratif sewaktu kita anak-anak. Maksudku, jarang kan ada anak-anak seperti ini, yang mau membaca sekaligus berbagi.

    BalasHapus
  8. Keren sekali anak ini. Yang tua maluuu... Belum konsisten nulis :(

    BalasHapus
  9. keren banget ini anak, jadi malu nih

    BalasHapus
  10. Wihh, jempol deh buat Dinda. Mudah-mudahan pajak buku jadi dihilangkan.

    BalasHapus
  11. Keren ini anak. Aku ajabaca Eragon pas kuliah dulu, dia usia 7 tahun. Ckck..

    BalasHapus
  12. Hadeuh... kecil-kecil udah keren. Udah besar jadi mentri pendidikan ya, Dinda. Biar perpustakaan makin banyak. Jadi malu nih tante nia yang koleksi bukunya cuma seuprit.
    :(

    BalasHapus
  13. Duuh sampe merinding bacanya mbaa.
    Tuhan memberinya banyak hal mba, salah satunya kesempatan bertemu si Burung Merak WS Rendra, itu kesempatan yang langka.
    Aku yang tiga tahun bertetangga saja hanya bisa melihat dia latihan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, tetanggaan sama almarhum Rendra ya, Mba? Ga usah ngobrol, lihat beliau latihan aja udah seneeeng. :D

      Hapus
    2. Mba Nefertite, tinggal dimana? soalnya kami hampir dua tahun tinggal di padepokannya Rendra dan 10 tahun terakhir ini tinggal di kecamatan yang sama dengan kediaman Rendra

      Hapus
    3. Hehehe mba Ade, saya tetanggaan sama beliau saat masih SMA, puluhan tahun silam.
      Di Yogyakarta, kost saya dekat dengan rumah beliau, hampir setiap sore saya menonton Bengkel Teater latihan.
      Saya penggemar beliau dan Bengkel Teaternya, dan saat masih SMP saya pernah membaca salah satu puisinya di panggung.
      Sebenarnya waktu itu kepengin sekali loncat ikut latihan, hanya nyali anak kost, ternyata saya tak berani
      Salam mba

      Hapus
  14. wah keren..semoga tambah produktif sehingga perpustakaannya semakin majau

    BalasHapus
  15. Selalu ada harapan kelak Salfa juga bisa menuangkan ide-ide brilian seperti Dinda.
    Dan semoga ga dinyinyirin orang kalau "terinspirasi" dari kesuksesan orang lain...

    Salut sama ortu, Dinda
    Mbak Haya salamin aku ya ke Dinda ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nyinyir kenapa maksudnya, Tante? Cuekin aja orang nyinyir nyindir. Anjing menggonggong, cewe cakep berlalu. Insya Allah disampein salamnya ke Dinda. ^_^

      Hapus
  16. salut buat dinda..
    semuda ini tp apa yg dilakukan sdh kece badai..keren

    BalasHapus
  17. Dinda keren ya, pemikirannya itu loh. Kalau ketemu, pasti bisa nyambung neh sama Dinda, sama-sama suka Rendra.
    Jadi, kapan ngajakin ketemuan sama Dinda mba Haya? #eh hehehe

    BalasHapus
  18. Ayo, main ke Depok, Tante Lis hehehe.

    BalasHapus
  19. hebaaat yah kecil-kecil sudah penuh dengan kontribusi positif untuk dunia di sekitarnya..saluuut untuk Dinda :)

    BalasHapus
  20. Seumuran itu saya masih malas membaca.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan