Jumat, 11 September 2015

Seminar Cita Persada: Pendidikan Karakter Anak Berawal dari Rumah


            “Nanti kalau Pak XYZ telepon, bilang Mama enggak ada, ya. Jangan lupa.”
            “Nak, kamu nyalip antrean, gih. Biar dapet duluan. Kamu, kan, kecil. Enggak bakal ketahuan.”
            “Lho, kok, nerabas lampu merah, Mas?” | “Ah, biarin aja. Mumpung lagi sepi dan enggak ada polisi.”

            Sebagian orangtua mungkin pernah bablas melakukan hal-hal di atas. Parahnya, mereka melakukan di depan anak-anak. Sepintas kelihatannya tidak ada masalah, ya. Tapiii ... tanpa disadari, sebenarnya orangtua sedang mengajarkan anak berbohong, tidak tertib, dan melanggar aturan. Jika terus-menerus seperti ini berarti orangtua sedang mempersiapkan bom waktu yang berbahaya dalam diri anak-anak mereka di kemudian hari!
         Hidih, kayaknya, kok, serius banget? Iya, ini memang serius! Seperti yang kita tahu, perkembangan karakter anak berawal dari rumah, dari pendidikan orangtua, nenek, kakek, nanny, dan orang-orang terdekat. Alhamdulillah, saya dan teman-teman blogger mendapat undangan seminar yang mengulik lebih dalam tentang menanamkan karakter anak dari sekolah Cita Persada, Cinere Raya, Depok (8/9). ^^


       Character is our destiny. Karakter menentukan kesejahteraan sebuah bangsa,” demikian Ibu Ruth Maureen (Kepala Sekolah Cita Persada) membuka seminar.



         Ada atau tidak ada orang yang melihat, kita tidak akan mengambil dompet yang bukan milik kita. Itulah karakter. Ada 48 kualitas karakter yang harus dipahami orangtua, yakni respect, honesty, responsibility, dst. Wah, banyak juga. 

Macam-macam karakter

        Menurut para ahli, pendidikan karakter TIDAK DIPENGARUHI oleh waktu dan budaya. Zaman dulu atau sekarang mau orang Indonesia atau bule, pendidikan karakter tetap sama. Contoh, soal antre di mana-mana rule-nya sama, kok. Ya sama-sama kudu tertib! Jadi, jangan beralasan kalau orang bule bisa lebih tertib karena budayanya sono, misalnya. Oiya, ini beberapa poin yang sempat saya catat dari penjelasan Ibu Maureen.

Ibu Ruth Maureen

1. Anak senang berkhayal dan melebih-lebihkan cerita. Jangan buru-buru mencap anak pembohong jika ternyata apa yang diceritakan anak tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Hindari bertengkar dengan pasangan di depan anak. Tidak baik untuk karakter anak nantinya.
3. Jika ingin mengajari anak, sebaiknya satu suara. Jangan Teman-teman bilang A, suami bilang B. Orang dewasa aja mumet, apalagi anak. :p Sebaiknya diskusikan dulu apa yang harus disampaikan kepada anak.
4. Mau melarang anak? Beri penjelasan sederhana dan masuk akal. Tidak perlu menakut-nakuti lebay jablay babhaaay.
5. Minta anak agar langsung datang ketika dipanggil sekalipun anak sedang main atau melakukan hal lain yang digemarinya. Ketika anak meninggalkan kegiatannya untuk memenuhi panggilan kita berarti anak sedang belajar menguasai dirinya.
6. Ajak keluarga olahraga bareng. Olahraga bareng bukan cuma bikin sehat, tapi juga mengajarkan cara berkompetisi dan arti sportivitas kepada anak.
7. Kalau Teman-teman ditegur suami saat melakukan kesalahan, tanggapi secara positif. Anak bakal melihat dan meniru. Jangan jadikan anak-anak kita generasi anti-kritik.

8. Beri reward eksternal dan internal ketika anak melakukan sesuatu yang positif. Reward internal berupa pujian. Reward eksternal berupa uang, hadiah, cap star, dst. Kalau memberikan reward eksternal, jangan lupa tetap berikan reward internal.

9. Puji anak saat mereka melakukan hal positif. Bukan puji anak "cantik", "ganteng", dan sejenisnya. Pujian seperti ini mendidik anak menjadi pribadi sombong. 
10. Hati-hati jika selalu memberikan kemudahan kepada anak dengan tujuan anak senang. Ingat, anak yang dimanja bukanlah anak yang bahagia. Kelak, anak yang dimanja akan sulit menguasai dirinya. Padahal, anak bakal terjun ke masyarakat dan bergaul dengan orang banyak.
11. Anak-anak yang sering jalan-jalan sama orangtuanya ke museum, konser, traveling dst insya Allah perkembangan mentalnya bagus (good bonding). 

         Yuk, simak video berikut ini. Karakter anak adalah cerminan orangtua dan orang-orang terdekatnya.


         Setelah seminar, kami diajak keliling-keliling sekolah Cita Persada. Sekolah umum yang dibangun tahun 2005 ini memiliki jenjang pendidikan TK – SMP. Bahasa komunikasi sehari-hari adalah bahasa Inggris. Guru-gurunya ramah dan tampak energik. Pendidikan karakter diutamakan di sini. Contoh simpel, selesai makan anak-anak cuci piring sendiri. ^^ Fasilitas mulai dari perpustakaan, ruang komputer, laboratorium IPA, sampai kolam renang pun ada. Halamannya luas. Seru buat anak-anak main. Aih, jadi pengin gegoleran di rumput sambil ngomong menatap langit, “I feel free ....” *apa seh*



 


            
       Satu pengetahuan lagi sebelum saya pulang nih, Teman-teman. Tidak seperti sekolah kebanyakan, sekolah Cita Persada urung memperbolehkan murid-muridnya sharing makanan. Tujuannya untuk mencegah hand-foot-and-mouth-disease (HFMD). HFMD merupakan infeksi viral yang ditularkan melalui tangan, kaki, dan mulut. Hari gini, penyakit semakin macam-macam aja, ya. Sebisa mungkin diantisipasi. Antisipasi bukan berarti parno berlebihan, lho. Soal sharing, bisa dalam hal lain, tidak harus berupa makanan. Saya sepakat! 

Bloggers visited Cita Persada school (foto milik @tikabanget)

Again, soal karakter, pastinya kita pengin anak kita bukan cuma punya pekerjaan bagus dan hidup mapan di masa depan. Kita juga pengin anak kita punya kepuasan terhadap dirinya sendiri dan memberikan kontribusi untuk masyarakat sekitar. Menurut Ibu Maureen yang jebolan University of Colorado USA ini, benih yang baik akan memberikan hasil panen yang baik. Sejatinya orangtua tidak bisa menanamkan karakter kepada anak cuma dengan cara menasihati dan mengingatkan. Beri teladan setiap saat di mana aja kapan aja sampai selama-lamanya. Enggak masuk akal, kan, kalau kita nyuruh anak beresin tempat tidur, sementara tempat tidur kita sendiri berantakan kayak pasar tumpah Kebayoran. Kebayang juga waktu kecil anak diajari bohong dan nilep, udah gede bisa-bisa jadi koruptor. Hiiiy ... naudzubillah min dzalik! Children see children do. Good character is caught more than it is taught! [] Haya Aliya Zaki

29 komentar:

  1. Wah, betul itu mba, kadang suka nggak sadar melakukan sesuatu yg sebelumnya kita larang. Makasih sharingnya, sekolahnya keren banget ya. Bersih, rapi, kek gak ada debunya

    BalasHapus
  2. Salah satu yg selalu kuajarkan sama anak adalah gak boleh nyontek, copas jawaban ulangan teman hehehe

    BalasHapus
  3. Children see.. children do.. pendidikan karakter mulai dari orangtuanya dulu dengan berikan keteladanan untuk anak. Setuju itu ka..

    By the way, sekolah Citra Persada oke nih salah satu concernnya dalam membangun karakter, sesuai sekolah ideal saya...^^

    BalasHapus
  4. membentuk karakter anak yg baik memang harus dimulai dr org tuanya, lingkungan terdekatnya. Tfs mba....

    BalasHapus
  5. Kadang hal - hal sepele yang kayak gitu yang ngebentuk mental anaknya jadi yang nggak baik. Hmm... Kalo sekolah disitu berapa ya biayanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung hubungi aja nomor kontak sekolah yang ada di website ya, Put. :)

      Hapus
  6. Yup..children see... children do .... nggak gampang ya jd orangtua
    Btw itu sekolahannya keren ajah muridnya paati betah bgt ya

    BalasHapus
  7. Hmm ... jadi orangtua itu memang gak mudah ya. Belajarnya seumur hidup. Jika salah meletakkan dasarnya, kasihan kelak anak-anaknya. Tks, sharingnya Hay.

    BalasHapus
  8. Makasih sharingnya mba Haya.

    Dan saya jadi ingat beberapa tahun lali, lihat anak yg menjatuhkan termos di halte busway, c Ibu langsung memarahi, menjewer dan saya ampe ngeri. Bagaimana jadinya karakter c anak nantinya?.
    Maka, semenjak saya punya anak selalu berusaha hati2, kalo melarang biasanya saya bujuk perlahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Lis. Kalo anak-anak menjatuhkan termos atau menumpahkan air, mestinya bukan karena sengaja. Mereka lagi belajar segala sesuatunya, kan. Menurut Ibu Maureen, pikiran anak-anak itu belum nyampe. Dikasih penjelasan dan pengertian aja. Ga usah kitanya marah-marah heboh. Nanti pelajarannya ga dapet, yang diinget anak malah cuma marahnya.

      Hapus
  9. Melakukan segala sesuatu dengan benar saat tidak ada yg melihat..itu terlahir karena latihan ya mak ayaa.. :D

    BalasHapus
  10. Thanks for sharing Mak. Salah 1 PR saya juga untuk cari sekolah yang menanamkan pendidikan karakter nggak hanya pendidikan akademis saja. Tapi tentu saja orang tua yang punya porsi lebih besar dalam hal pendidikan karakter ini karena yang lebih banyak berinteraksi dengan anak.

    BalasHapus
  11. Asyik banget seminar Ibu Maureen, gak membosankan :)
    Dan banyak hal yg jadi bahan evaluasi cara mendidik anak buat diri sendiri, beruntungnya bisa ikutan ini....

    BalasHapus
  12. Naksir sekolahnyaaa.... :)))

    Memang hal-hal dasar begini ngga akan berubah dari waktu ke waktu ya Mbak Haya.... dan benar-benar butuh bimbingan orang tua, bukan justru orangtua yang mengajarkan bohong ya :))

    BalasHapus
  13. hand foot and mouth disease.. noted sharingnya kak :)

    BalasHapus
  14. mendidik anak susah-susah gampang.. ketika di sekolah sdh ok.. maka d rumah dan lingkungan msyrkt juga hrs mndukung.. spya anak bs jd insan paripurna sesuai tujuan pnddkn nasional..

    BalasHapus
  15. Ada kolaaam renangnya boooooookkk
    eudann
    iya aku beberapa kali masih berantem depan Raffi..kudu dikurangi ini.. --"

    BalasHapus
  16. anak itu anugerah plus amanah yang luar biasa berat yaa.
    mendidiknya susah susah gampang, karakternya beda-beda. tinggal emanya yang musti pinter-pinter mengarahkannya. kadang tahu ilmunya doang, prakteknya susah banget!

    nice sharing mbak :)
    semoga kita bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita
    semoga kita

    BalasHapus
  17. mudah-mudahan standar sekolah Indonesia bisa mendekati ini kedepannya

    BalasHapus
  18. seneng banget bisa dapat ilmu banyak dari seminar ini, jadi pingin ikutan materi selanjutnya

    BalasHapus
  19. Waah, bermanfaat banget seminarnya ya, Kak. Apalagi untuk mama muda seperti liza.

    BalasHapus
  20. Iya mak....berawal dari rumah, orangtua mencontohkan anak mencontoh yg baik

    BalasHapus
  21. saya lagi kewalahan menghadapi sikap Alfi, habis baca ini langsung tenang, mungkin beberapa sikap yang ditunjukkan Alfi itu karena bercermin dari saya ya mbak, tanpa sadar saya telah membentuk karakternya

    BalasHapus
  22. ini hal baru wat saya,, semoga saya bisa mendidik anak anak saya kelak menjadi karakter yang baik sebaik baiknya :)

    BalasHapus
  23. Dapat banyak ilmu di seminar ini ya mbak Haya, makasih sudah sharing.
    Duh itu sekolahnya keren bener ya ada kolam renang dan tampak bersih lingkungan sekolahnya :)

    BalasHapus
  24. Pas mak haya posting artikel ini, saya diajarin seperti ini :

    "Nanti kalau Bu Lurah dateng, bilang Mama baru aja pergi ke Tanah Abang, ya."

    Saya sadar betul kalo ini pernyataan berbohong tapi melihat kondisi mama saya yang padat di organisasi, ga ada salahnya juga berbohong biar mama bisa istirahat sejenak.

    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi kenapa ga terus terang aja Dek ke Bu Lurah kalo ga bisa atau ga mau? :D

      Hapus
  25. Alhamdulillah istri kami mendidik anak dari rumah, dia terlihat sangat menikmati karena menyadari bahwa itu merupakan amanah dari Sang Pencipta.

    BalasHapus
  26. Boleh minta sharingnya system pengajaran di sekolah Citra Persada untuk anak SD bagaimana ya...

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan