Minggu, 10 Mei 2015

[Nusantara Bertutur] Mantri Kunyit

Cerpen Mantri Kunyit dimuat di Nusantara Bertutur (NB), Kompas Klasika, 26 April 2015. Kebetulan cerpen saya ini adalah cerpen orderan dari redakturnya langsung (tema Hari Bumi). Senangnya mendapat kepercayaan dari NB! ^^ Selanjutnya, NB dibuka untuk umum. Sejak bulan April 2015 NB hanya menerima naskah tematis. Naskah tematis bulan Mei 2015 monggo dibaca di banner berikut (sumber: Twitter @NBertutur).



Syarat pengiriman:
1. Amati ciri naskah NB. Ciri naskah NB tentunya berbeda dengan ciri naskah majalah Bobo atau majalah Aku Anak Saleh. Jadi, jangan mencak-mencak kalau naskah Teman-teman tidak lolos terus hehehe
2. Panjang naskah maksimal 400 kata
3. Self editing. Bayangkan, begitu banyak naskah yang diterima oleh redaktur. Kalau naskah kita sudah rapi, bisa jadi naskah kita diprioritaskan untuk dibaca
4. Perhatikan deadline naskah. Masing-masing tema sudah ada deadline-nya
5. Kirim ke: nusantarabertutur@gmail.com
6. Sertakan biodata, yakni nama lengkap, alamat, dan nomor rekening
7. Tidak ada pemberitahuan jika naskah dimuat
8. Kalau dimuat, tersedia honor Rp150 ribu. Hari Minggu tulisan dimuat, Senin honor ditransfer. Cepat, kan? :)
9. Rajin-rajin pantengin Twitter @NBertutur untuk info naskah tematis bulan berikutnya.

            Mau tahu nilai plus kalau naskah (dongeng) kita dimuat di NB? Naskah kita akan dibacakan oleh kakak-kakak pendongeng NB dan divideokan. Jadi, anak-anak se-Indonesia bisa bebas menonton. Bunda Yessy Gusman dan Bunda Ratih Sanggarwati juga pernah membacakan dongeng NB. Pendongeng NB rutin datang ke sekolah-sekolah atau acara anak-anak dan membacakan cerita karya kita ini. Beberapa waktu lalu, NB juga membukukan naskah-naskah yang pernah dimuat. Masing-masing penulis mendapat bukti terbit. Hasil penjualannya untuk amal. See? Insya Allah jadi amal jariyah yang berlipat-lipat buat penulisnya. Happy-nya lahir batin. Nah, Teman-teman mau mencoba? :)



Buku Nusantara Bertutur seri pertama




Mantri Kunyit

“Aduuuh, baru pertama kali liburan di desa sudah mulas begini, sih!” gerutu Shinta sambil memegangi perutnya yang dari tadi serasa melintir.

“Lho, kok, liburan di desanya yang disalahkan?” tegur Mama, tapi dengan wajah cemas. Memang baru kali ini Mama dan Papa mengajak Shinta liburan seminggu di Cawas, Klaten, desa tempat tinggal Mbah Kakung dan Mbah Putri.

Papa ikut-ikutan cemas. “Kita bawa ke dokter sekarang, Pak. Kasihan Shinta kesakitan begitu,” kata Mama lagi.

Mbah Kakung menggeleng, kemudian menyahut, “Di sini ndak ada dokter, Git. Adanya mantri. Sini, Bapak antar Shinta ….”

Kring! Kring! Dering bel sepeda memotong pembicaraan mereka.

“Mbah, maaf datang malam-malam. Ini saya bawakan gethuk singkong buatan Ibu. Mumpung masih hangat.” Terdengar suara anak laki-laki. Anak laki-laki itu seumuran Shinta.

“Wah, wah, kowe baik sekali, Le. Terima kasih, yo.” Mbah Kakung menepuk-nepuk pundak Tomo, anak laki-laki itu.

“Aduuuh ….” Shinta mengerang lagi.

“Lho, ada yang sakit toh, Mbah?” Tomo melongok ke arah dipan.

Mbah Kakung mengangguk. Begitu Mbah Kakung selesai menjelaskan, Tomo meraih sepedanya. “Saya mau ambil sesuatu di pekarangan, Mbah! Nanti saya balik lagi ke sini!” teriak Tomo.

Tak lama, Tomo datang membawa … hei, apa itu? Bumbu dapur!

“Setiap saya sakit perut, Ibu memberikan air rebusan kunyit dan gula merah. Mudah-mudahan sembuh, Mbah.” Tomo tampak cekatan mengiris-iris kunyit. Dia tidak peduli jarinya jadi kuning-kuning. Gayanya sudah seperti mantri cilik saja. Mbah Putri membantu menjerang air.

Keesokan harinya, Tomo menengok Shinta. Wajah Shinta tampak segar.  Perutnya sudah enakan.

“Desa kami pernah kekeringan. Semenjak bencana itu, saya dan teman-teman membentuk kelompok Hati Bumi. Kami ingin benar-benar mencintai Bumi dengan hati. Kami menanami pekarangan dengan kunyit, lengkuas, jahe, macam-macam. Kami sering bikin kegiatan, contohnya sekarang ini. Ramai-ramai membuat tas kain sebagai pengganti kantong plastik untuk berbelanja. Kamu boleh bawa beberapa ke Jakarta kalau kamu mau,” jelas Tomo panjang lebar.

“Aku mau banget! Tas kainnya bagus-bagus! Teman-temanku pasti suka!” Mata Shinta berbinar. “Terima kasih … Mantri Kunyit!”

Tomo tertawa. “Huuu … bisa saja kamu!”

Dengan wajah jenaka, Shinta mencangklong lima tas kain sekaligus ke bahunya. [] Haya Aliya Zaki

Hikmah Cerita
Bencana alam seperti banjir, longsor, dan lain-lain sebenarnya akibat ulah manusia. Sayangi Bumi, maka Bumi akan menyayangi kita. Bumi adalah warisan untuk anak cucu.


31 komentar:

  1. Judulnya aja sudah nenedang Mak Haya.
    Makasih sharingya. :)

    BalasHapus
  2. Bagus Mbak Haya ceritanya. Dari judulnya sudah penasaran pengen baca. Terimakasih banyak sharingnya :)

    BalasHapus
  3. Ceritanya sederhana tapi bermakna. Terima kasih sudah berbgai cerita dan informasi :)

    BalasHapus
  4. Makasih infonya y mbak...
    Misinya NB emang kece bgd

    BalasHapus
  5. MakHayy, selalu tajub dengan ide2 ceritamu, thanks sharingnya ya mak, masih harus banyk belajar bikin cerita anak aku

    BalasHapus
  6. suka deh cerita begini.. buat anak-anak :)

    BalasHapus
  7. Sederhana tapi ada pelajaran di dalamnya. Nice story Mak Haya ^_^

    BalasHapus
  8. Idenya simple tapi kena banget..keren deh dirimu mak. Beberapa x bikin cerita anak dan rasanya blm pede ngirim kak.. belum sekeren punyamu ;)

    BalasHapus
  9. trims Mak Haya atas sharringnya... sekarang Nusantara Bertutur tiap minggu tematik ya ceritanya? Kisah2 dlm NB menurutku ringan namun bernas mengajarkan nilai2 kepada anak2 kita... sangat bagus bagi bacaan anak2...

    BalasHapus
  10. pengen bikin cerita keren begini.. hehe.. *belajar ayo belajar*

    BalasHapus
  11. sukaa ceritanyaa, aku ngga pernah baca kompas lagi mba jadi ketinggalan info NB ini huhuhu

    BalasHapus
  12. wah jadi pengen coba...makasih infonya mka Haya

    BalasHapus
  13. Ah keren ceritanya, sederhana tp idenya kreatif n ngena banget.
    Kok bisa yaa dpt ide2 keren kyk gini

    BalasHapus
  14. Mbak Haya, aku udah bilang belum ya...kalau judulnya keren. ��

    BalasHapus
  15. Judulnya saja sudah menarik, apalagi ceritanya, bagus dan penuh makna. Makasih infonya mb Haya.

    BalasHapus
  16. orang jadi penasaran dgn membaca judulnya saja :) Makasih infonya ya mak

    BalasHapus
  17. Harus belajar lagi bikin cerita anak nih...

    BalasHapus
  18. Asik ceritanya, sukaaa^^

    Terima kasih sudah sharing mak, masih harus belajar nih...

    BalasHapus
  19. Kebetulan beberapa hari ini aku sakit perut. Terus tadi aku beli kunyit botolan. Esok mau lebih rajin akh. Bikin sendiri. Trims juga info menulis NB.

    BalasHapus
  20. Udah lama nggak baca cerita anak yang seperti ini... maklum dah tua.

    Ini bagus mbak, bisa mengajarkan anak untuk mencintai lingkungan.

    BalasHapus
  21. Mbak yang satu ini memang sungguh terlalu kecenya. Tulisannya asyik dibaca. Selamat ya mbak...

    BalasHapus
  22. Menariiiiiik mbak :)

    jadi tertantang pengen bikin cerpen juga euy
    meski harus susah payah, coz segmentasinya anak-anak
    hehehe

    tapi ntar pengen coba deh

    BalasHapus
  23. Judulnya bikin penasaran. Dan sukaaa ceritanya.

    BalasHapus
  24. Bagus ceritanya, Kak. :D Aku rindu baca-baca cerita anak. Paling ya minjem bukunya adek-adek sepupu. Heheh :P

    BalasHapus
  25. di kepala kebanyang tukang obat herbal yang tangannya kuning-kuning karena kunyit mba, hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak apa2 kebayang tukang obat kay agitu daripada tukang obat yang suka komen di blog ya hehehe oops maaf mbak haya OOT

      Hapus
  26. Ceritanya bagus mak...dan sesuai dengan tema, apalagi pesannya yang sangat penting buat bumi..bravooo..

    BalasHapus
  27. nyimak dulu, nanti kupraktekin

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan