Selasa, 31 Maret 2015

Mari Putuskan Rantai Kemiskinan dengan Perbaikan Gizi!

Teman-teman mungkin bertanya-tanya dengan judul postingan saya kali ini. Bisakah rantai kemiskinan bisa diputus dengan cara memperbaiki gizi?

Jawabnya: bisa.

Seperti yang kita tahu, gizi adalah hal mendasar yang dibutuhkan bagi pembangunan berkelanjutan setiap bangsa. Upaya peningkatan gizi masyarakat, khususnya gizi di awal kehidupan, merupakan investasi.  Investasi apakah? Investasi yang dapat memutus rantai kemiskinan dan keterbelakangan sebuah bangsa. Catet!




Acara Nutritalk yang diselenggarakan oleh Sarihusada di JW Marriot Hotel Jakarta (20/3) membahas hal tersebut. Tema-nya Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global Bagi Perbaikian Gizi Anak Bangsa. Nutritalk menghadirkan dua pembicara yang keren-keren, yakni Dr. Martine Alles, Director of Developmental Physiology and Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition (Belanda) dan Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, Guru Besar Tetap Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA), Institut Pertanian Bogor (IPB).


Dr. Martine Alles

Saya sudah pernah beberapa kali bertemu Prof. Hardinsyah di acara Nutritalk. Namun, dengan Dr. Martine, baru kali ini. Sepertinya menarik mendengarkan pemaparan Dr. Martine tentang fakta dan pengalaman mengoptimalkan gizi di berbagai negara, terutama Belanda. Untuk itu, semua blogger dan media dibekali fasilitas sistem interpreter (alat penerjemah bahasa berupa headset). Berasa kayak lagi ikut konferensi PBB qeqeqe.   




Sejak 1955 sampai 1997 Belanda mencatat rata-rata peningkatan tinggi badan hampir 10 cm pada anak, remaja, dan dewasa muda. Faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan generasi yang positif ini adalah peningkatan gizi dan kesehatan anak. Susu diperkenalkan di sekolah-sekolah. Sekarang konsumsi susu di Belanda cukup tinggi rupanya. Padahal, pada Perang Dunia II, wanita-wanita Belanda sempat mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan. Mereka melahirkan bayi-bayi dengan berat badan rendah. Sementara, seribu hari pertama penting banget. Perkembangan organ dan pertumbuhan otak pada periode ini memengaruhi kesehatan mereka di masa depan.   




Di acara Nutritalk ini Dr. Martine juga membahas tentang pentingnya manfaat vitamin D. Seperti yang kita ketahui, tanpa bantuan sinar matahari, provitamin D di dalam tubuh enggak bakal bisa diubah menjadi vitamin D. Sekitar 20 menit sehari sebanyak 3 – 4 kali seminggu terpapar sinar matahari udah cukup. Pukul berapa? Jangan kaget, waktu yang disarankan adalah pukul 09.00 – 13.00 wib. Selama ini kita salah kaprah bahwa kulit tidak boleh terpapar sinar matahari di atas pukul 09.00 wib. Tapi, tapiiii, tetap perhatikan kondisi lingkungan, ya. Masalahnya, jam kerja yang panjang di dalam kantor (ruangan) membuat orang-orang kurang terpapar sinar matahari. Kekurangan vitamin D erat kaitannya dengan riket (pelunakan dan pelemahan tulang). Tindakan untuk yang kekurangan vitamin D adalah dengan memberikan minyak hati ikan kod dan terapi liburan bagi anak-anak yang tampak pucat.

Menarik, Dr. Martine bercerita tentang penelitian yang dilakukan pada turis yang akan liburan musim panas seminggu di Florida. Pulang dari berlibur, vitamin D sang turis dicek. Ternyata, seminggu berlibur musim panas di Florida membuat sang turis memiliki cadangan vitamin D untuk 4 bulan di tubuhnya. Wow!

Di Indonesia sendiri, jumlah balita yang kekurangan gizi masih tinggi, yakni 37,2% atau 8,8 juta balita Indonesia pada 2013. Menurut Prof. Hardinsyah, masalah gizi di Indonesia masih mengkhawatirkan. Gizi untuk bumil, busui, dan balita perlu benar-benar diperhatikan. Di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 tercantum Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak serta Perbaikan Status Gizi Masyarakat sebagai 2 dari 10 isu strategis nasional dan arah pembangunan kesehatan.


Prof. Dr. Ir. Hardinsyah



Salut dengan Sarihusada yang sudah tiga tahun konsisten menggaungkan solusi perbaikan gizi melalui Nutritalk dengan melibatkan blogger dan media. Menurut Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada, kesadaran akan pentingnya gizi sangat penting. Apalagi, bagi ibu dan anak. Kalau gizi baik, kualitas generasi bangsa Indonesia juga semakin baik.

Teman-teman, yuk, ikut menggaungkan kampanye melek gizi dengan cara masing-masing. Semoga dengan perbaikan gizi, rantai kemiskinan bisa terputus. Aamiin. ^^ [] Haya Aliya Zaki

Catatan: sebagian tulisan ini diolah dari press release “Gizi Sebagai Solusi Permasalahan Kesehatan dan Pertumbuhan Anak Bangsa” milik Sarihusada.


15 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Oh ya, di sana anda bisa dengan bebas mendowload music, foto-foto, video dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus
  2. Terima kasih info sinar mataharinya. Selama ini saya kira sinar matahari pada pukul 09.00-13.00 bisa menimbulkan efek yang tidak baik.

    BalasHapus
  3. Waah, ternyata sangat baik ya membawa anak-jalan-jalan pagi setelah sarapan :)

    BalasHapus
  4. Selama ini saya kira yang bagus itu matahari pagi jam 7-8, tapi ternyata Matahari jam 9 - 1 toh yang bagus, baru tahu saya Mba. Makasiih informasinya :)

    BalasHapus
  5. Duhh, aq kurang tinggi *brarti....* tettot :v :v
    sadar sih, dulu memamg kurang, makanya sekarang anak ku bener2 tak perhatiin gizinya, biar tinggi badannya & berkembang otaknya, investasi dari sekarang :D

    BalasHapus
  6. Siap-siap mandi sinar matahari pagi hari ini iya mbak. wah keren ya acaraya pakai sitem interpreter juga

    BalasHapus
  7. Terima kasih, Emak Haya untuk sharing ilmunya. Gizi memang penting untuk kehidupan!

    BalasHapus
  8. Gizi sangat berperan dalam kehidupan yang, Mak.
    Peranan vitamin D kadang kita lupakan.
    Nampaknya kegiatannya menarik, terima kasih sudah berbagi.
    Jadi ingin berbagi pengalaman kami yang bahas 1000 Hari Pertama Kehidupan yang lalu, jika berkenan, Mak bisa berkunjung ke blog saya di
    https://nurlienda.wordpress.com/2015/03/02/kampanye-1000-hari-pertama-kehidupan-di-salman-itb/ :D

    BalasHapus
  9. Haaah? Barubtahu adanya cadangan vitamin D. :D

    BalasHapus
  10. saya tersentuh dengan kalimat, 'putuskan rantai kemiskinan dengan perbaikan gizi', sebuah pencerahan.
    Karena selama ini ada image, kalau tentang rantai kemiskinan berhubungan dengan perekonomian saja

    BalasHapus
  11. butuh kesadaran dari kita semua untuk selalu memperhatikan gizi, ya, Mak :)

    BalasHapus
  12. Gizi salah satu untuk meningkatkan daya saing manusianya, dan otomatis kalau sudah sadar gizi maka out putnya makin makksimal.

    Kalau yang Vit D, kayaknya perlu disosialisasikan ke masyarakat lagi Mba, kita butuh semacam rumusan yang jelas untuk standar gizi yang baik untuk segala usia hahaha, itu sih tanggapan saya Mba

    BalasHapus
  13. Jadi selama ini banyak yang salah persepsi ya, Mbak.. Thanks for sharing :D

    BalasHapus
  14. Setahu saya sinar matahari yang bagus adalah pagi sampai jam 10 siang

    BalasHapus
  15. Masyarakat kita memang butuh untuk selalu diedukasi dengan masalah2 kesehatan & gizi semacam ini. Karena tidak semua orang mendapat informasi yang sama dan merata. Paling tidak dari ranah terkecil kita berusaha peduli dengan hal ini sekaligus menyebarkanya di lingkungan kita, minimalnya di keluaga sendiri ^ ^

    Btw, salut buat sari husada yang mau mengadakan nutritalk ini.

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan