Jumat, 20 Maret 2015

iSiaga EcoCash: Sampah Elektronik Bisa Jadi Duit

Tahukah Teman-teman bahwa sampah rumah tangga bukan cuma kuah lontong sayur, kantong plastik, atau kertas-kertas bon. Di antara sekian banyak sampah yang rumah tangga kita hasilkan setiap hari, ternyata ada sampah elektronik juga! Hape, radio, komputer, televisi, dll. Dari data yang saya baca di majalah Intisari edisi 2012, ada sekitar 20 – 50 juta ton sampah elektronik di dunia. Penghasil terbesar adalah Amerika Serikat, yakni 3 juta ton. Mau tahu ke mana semua sampah elektronik ini dibuang? Jangan kaget, 70% sampah elektronik “dihibahkan” ke negara-negara berkembang, salah satunya Indonesia. Kyaaa … mending yang dihibahkan itu Justin Timberlake atau George Clooney, gitu. Dijamin diterima dengan tangan terbuka dan hati berbunga-bunga. Lhaaa … ini … sampah! Hiks!  

Kita tidak bisa membuang sampah elektronik sembarangan. Banyak material beracun di dalamnya, seperti timbal, merkuri, dan kadmium. Lingkungan bakal tercemar. Berbahaya bagi manusia. Sebut saja efeknya penyakit saraf, cacat bawaan, dan gangguan perkembangan otak anak. Seram!

Yang paling ribet urusan buang-membuang sampah elektronik pastilah ibuk-ibuk. Betul, betul, betul. Biasanya sampah elektronik enggak laku dijual. Minta tolong pemulung ngangkut, eh, kita yang diminta bayaran. Apalagi kalau sampah elektroniknya segede Sulley, monster biru di film Monster Inc. Itu, lho, mesin cuci maksudnyaaah. *lebay detected* Tapi, serius, saya pernah kesulitan membuang mesin cuci. Kudu sewa kendaraan khusus buat ngangkut. Niatnya mau buang sampah, kok, jadinya malah keluar duit, ya?

Saya lega karena kini Lighthouse menyediakan jasa iSiaga Recycle (EcoCash). Selama ini iSiaga punya jasa one stop digital assistance, yakni Tech Support, Website, Design, dan Printing. Perusahaan kecil yang merasa belum perlu menyewa karyawan, tapi butuh jasa-jasa tersebut, bisa menghubungi iSiaga. Seandainya kita para ibuk-ibuk rumah tangga yang butuh, kita juga bisa menghubungi iSiaga.

Amrit Gurbani, CEO Lighthouse
Jasa-jasa iSiaga

Saya dan teman-teman Warung Blogger hadir di acara launching iSiaga EcoCash di Pong Me!, Jakarta Selatan (16/3). Amrit Gurbani, CEO Lighthouse, menjelaskan bahwa salah satu masalah yang jadi perhatian iSiaga adalah gadget yang semakin beragam. Setiap tahun keluar entah berapa jenis gadget. Sampah elektronik tambah banyak. Nah, iSiaga EcoCash menampung sampah elektronik, bukan untuk dijual kembali, melainkan untuk didaur ulang. Berikut langkah-langkahnya.



1. Pickup service    
Daftar melalui online iSiaga.com/ecocash atau langsung telepon iSiaga. iSiaga akan menjemput sampah elektronik ke rumah kita. Sementara ini, penjemputan hanya berlaku di wilayah Jakarta dan Tangerang. Di luar daerah ini kena biaya. Mudah-mudahan Teman-teman bisa menggerakkan para pengepul barang bekas di kota-kota lain selain Jakarta dan Tangerang untuk bekerja sama dengan iSiaga.   

Jenis sampah elektronik yang bisa diproses iSiaga EcoCash

2. Cash earnings
Tim iSiaga mengecek sampah elektronik kita dan membayar dengan harga sesuai kondisi. Apaaa? Dibayaaar? Sampah elektronik bisa jadi duit? (((DUIT))) Iyes! Turn your trash to cash! Di iSiaga EcoCash, sampah elektronik kita bisa jadi duit walaupun nominalnya enggak seberapalah, yaaa. Duit akan ditransfer ke rekening bank kita. Asyik!

3. Social outlook
Alternatif lain, duitnya ditransfer ke Yayasan Cinta Anak Bangsa a.k.a YCAB Foundation. YCAB Foundation fokus pada pendidikan dan pemberdayaan ekonomi anak muda dan ibuk-ibuknya. Sharing is caring. Farhan menjelaskan tentang organisasi non-profit ini. Resmi mengundurkan diri sebagai penyiar bulan Januari lalu, Farhan menjabat Sekretaris Jenderal YCAB Foundation. Ada 3 pilar YCAB Foundation, yakni House of Learning and Development (HoLD), Healthy Lifestyle Promotion (HeLP), dan Hands-on Operation for Entrepreneurship (HOpE). HoLD menyediakan pendidikan untuk anak-anak putus sekolah dan pelatihan keterampilan untuk ibuk-ibuknya.  HeLP menggencarkan edukasi tentang gaya hidup sehat, terutama melalui sekolah-sekolah. HoPE memberikan dana untuk membeli peralatan yang mendukung pendidikan keterampilan ibuk-ibuk tadi. Dana iSiaga EcoCash dari kitalah yang dipakai untuk program HoPE ini. Gimana? Udah jelas, kan, duit dari penjualan sampah elektronik kita untuk apa dan ke mana? Kayaknya lebih asyik kalau duitnya disumbangkan aja ke YCAB Foundation, kali, ya. Bisa buang sampah elektronik (pada tempatnya) sekaligus beramal itu rasanya benar-benar sesuatu. ^^

Farhan (kedua dari kiri), Sekretaris Jenderal YCAB Foundation

Saya dan teman-teman Warung Blogger (foto milik: Evi Sri Rezeki)

 Di postingan berikutnya saya akan cerita pengalaman saya menjual sampah elektronik ke iSiaga EcoCash. Kebetulan saya punya beberapa sampah elektronik, seperti hape, tablet, dan televisi. Teman-teman di daerah sekitar Jakarta dan Tangerang punya sampah elektronik di rumah? Yuk, hubungi iSiaga EcoCash, yuk! ^^ [] Haya Aliya Zaki

www.iSiaga.com
081290090069
info@siaga.com



30 komentar:

  1. wah keren ya mbak sampah ternyata yg elkektronik berbahaya, tapi did aerah malah di simpen jadi koleksi keramat mbak hehe

    BalasHapus
  2. Wah keren banget idenya. Menerima sampah elektronik untuk dijadikan sesuatu yang lebih berguna. Sayangnya rumah saya tidak berada di Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di daerah Bogor, Depok, Bekasi, masih bisa dijemput. Kena biaya dikiiit. :)

      Hapus
  3. penggagasnya keren banget nih,kreatif banget gitu. wah,aku punya beberapa smpah elektronik,masih disimpan sih,siapa tau ya kapan2 bisa dijual ke ecocash hehehe...makasih infonya mak^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, iSiaga EcoCash bisa menjawab kebingungan kita ibuk-ibuk soal sampah elektronik ya, Mak. ^^

      Hapus
  4. Sampah electronic memang isu besar di sini maaak...city of New York sudah tidak membolehkan lagi buang barang electronik sembarangan...bagus kalau di tanah air sudah ada Jasa ini..btw, aku lagi sama temen YCAB niih di NY :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, lagi ada acara YCAB di sanakah, Mak Indah? YCAB keren, ya. Tempo hari aku dengar penuturan Farhan soal organisasi ini. Semoga terus konsisten membantu pendidikan dan ekonomi untuk anak-anak muda dan ibu-ibu. :)

      Hapus
  5. Iya, Mbak, sesuatu bangeeet :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap-siap mau jual sampah elektronikku ke iSiaga, nih, Va. ^^

      Hapus
  6. Balasan
    1. Bandung belum, Mbak. Semoga dalam waktu dekat, ya. :)

      Hapus
  7. Wah sampah elektonik di rumah ada banyak, komputer jadul, tivi jadul, printer, charger, kabel de el el. Coba di Surabaya ada ya? BTW jempol bingits untuk idenya iSiaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga Surabaya bisa segera dalam waktu dekat ya, Mbak. Atau, mungkin Mbak Titi bisa jadi penggagas kerja sama antara pengepul sampah elektronik di Surabaya dengan iSiaga? ^^

      Hapus
  8. Kebetulan banget mau ngganti kulkas karena sudah ngadat. Maklum udah 10 tahun usianya. Trims infonya, Hay

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ayo hubungi iSiaga supaya sampah elektroniknya bisa dijemput ke rumah, Fita.

      Hapus
    2. datang dijemput, pulang tak diantar...hehehehe... baca ini, aku juga sudah memilah-milah sampah elektronik di rumah buat dijual ke iCash :D

      Hapus
  9. Kapan ke Cianjur Selatan bisa dijemput ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk sementara waktu ini belum bisa, Mbak. Doakan segera, ya.

      Hapus
  10. Langsung ngumpulin sampah elektronik nih hebat di jual

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, aku juga lagi ngumpulin, nih, Lid.

      Hapus
  11. Iya, saya aja sampe numpuk namanya sampah elektronik. Kata suami jg gt, ga bs sembarang buang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, masalah kebanyakan ibuk-ibuk ini ya, Ria.

      Hapus
  12. Ideeenya bagus amat ya ini....aku ada yang mati mati mati total gitu hape...pengen tak jual kesini deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, coba jual ke iSiaga EcoCash, Cha.

      Hapus
  13. Briliannn banget nih, yang punya ide iSiaga...! Ganteng pulak, ala-ala Jason Statham *glek*

    Maaaak, dikomporin aja deh, iSiaga-nya supaya melebarkan sayap sampe ke Suroboyooooo :)) Aku enggak ngerti seluk beluk "pemulung" ginian euyy

    BalasHapus
  14. sgt menarikkkk.. aq juga terlibat merecyle daur ulang sampah sepertikardus susu botoldan koran bekas..profit produk untuk pendidikan anakyg tidak mampu :)

    BalasHapus
  15. Aku punya 1 nih, kayanya mau kularikan ke sini deh ;)

    BalasHapus
  16. Thank You ya mba udah bantu sharing soal perkenalan ecocash :) Semoga kapan2 bs kerjasama lagi..

    BalasHapus
  17. Waduh ini dia nih, saya lagi bingung sekarang kalo di Bandung buang sampah elektronik ke mana. Ketemu posting-an Mbak yang ini. :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan