Minggu, 08 Februari 2015

Jalan-Jalan ke Singapura: Medical Checkup di Paragon Medical

Jalan-Jalan Singapura: Halo, Singapura! bisa di baca DI SINI.

Malam pertama di Singapura, saya tidur nyenyak. Mimpi indaaah banget. Mau tahu mimpi saya? Saya mimpi makan bermangkuk-mangkuk longan red date hahaha! Menu ini santapan favorit saya semalam di Grand Hyatt. Makanya sampai kebawa mimpi. Isi longan red date adalah manisan longan, kurma tanpa biji, dan kismis. Manis, tapi tidak terlalu manis. Rasanya bikin saya sulit berhenti makan! Tapi, kalau nambah terus, kan, malu. Mau pamer fotonya, eh, ternyata kehapus dari kamera hiks.

Pukul 7 pagi saya membuka gorden jendela kamar. Ow, langit Singapura masih gelap gulita. Apa saya bobok cantik lagi? Tapi, kalau nanti telat bangun bagaimana?




Akhirnya, saya memilih leyeh-leyeh di kasur sambil blogwalking. Pukul 7.30 telepon kamar berdering. Eh, siapa yang menelepon ke kamar? Apa suami saya? Kenapa enggak menelepon ke ponsel saja? Toh, dia sudah tahu nomor saya. Atau, Mrs. Fern? Tapi, kami janjiannya, kan, masih satu setengah jam lagi?

Begitu saya angkat, terdengar suara di seberang sana, “This is your wake up call ….”

Bwahahaha! *ngakak gelundungan* Idiiih, itu, sih, alarm dari hotel, yak. Katrok amat saya! Pakai acara penasaran to the max segala bwahahaha!

Otreee, kembali ke topik. Teman-teman yang mengikuti cerita di blog saya mungkin sudah pada tahu. Beberapa waktu lalu saya pendarahan. Fisik sempat drop. Sekarang pendarahan sudah berhenti. Tubuh mulai fit. Tapi, saya tetap ingin memeriksakan diri. Alhamdulillah, kali ini saya mendapat kesempatan medical checkup ke Paragon, Orchard Road, bersama teman-teman bloggers dan tim Reader’s Digest Indonesia (RDI).

Selasa pukul 9.00 pagi saya, Natali, Dessy, dan RDI sampai di Paragon. Paragon merupakan pusat perbelanjaan barang-barang mewah dan kulineran asyik. Lho, mau medical checkup, kok, ke Paragon?

Eits, begini. Singapore Medical Group (SMG) merupakan jaringan pelayanan kesehatan yang memiliki lebih dari 50 dokter spesialis dengan 22 spesialisasi medis. Ada 15 klinik yang tersebar di Paragon, Mount Elizabeth Novena Specialist Centre, Novena Medical Centre, dan Gleanegles Medical Centre. Jadi, selain pusat perbelanjaan dan tempat kulineran, di Paragon juga ada pusat medis. SMG melayani pasien dari 61 negara dengan 15 bahasa. Wow! Teman-teman yang mau berobat di Singapura jangan cemas soal bahasa, ya. Tim penerjemah siap grak membantu.

Selama ini pelayanan medis di Singapura memang sudah tepercaya, baik oleh pasien lokal maupun mancanegara. Pastinya karena keahlian mumpuni para dokter. Dokter-dokter di Singapura menjadi tonggak utama perawatan medis mulai dari mata, jantung, operasi otak, terapi kanker, transplantasi organ, sampai penelitian tentang stem cell (sel punca). Selain itu, sebagai pasien, kita butuh batin yang tenang saat berobat. Penduduk Singapura welcome sekali dengan pendatang dari berbagai kultur budaya dan ras. Tingkat keamanan wilayahnya tinggi. Tidak ada konflik perang, demo, bencana alam, atau hal-hal lain yang mengancam keselamatan.

Jika Teman-teman ingin berobat ke Singapura, perwakilan Singapura yang ada di Jakarta siap membantu, mulai dari membuat janji, memberikan second opinion, sampai mengatur pasien berangkat dan tiba di Singapura. Jangan lupa membawa paspor setiap datang ke rumah sakit atau pusat medis di sana. Rekam medis disimpan berdasarkan nomor paspor. All computerized. See, no need to worry. Just focus on recovering well. J

Rencananya hari ini saya tes darah, urin, jantung, mata, dan kulit. Aura pecicilan mendadak muncul. Rasanya enggak sabar pengin konsultasi kulit di sini! Siapa tahu pas pulang wajah saya berubah kinclong tring silau men! *ngaca sambil cubit-cubit gemas pipi sendiri*

Baideweiii, waktu ditanya apakah saya rutin medical checkup, saya malu sendiri. Hm, sepertinya kita sering takut mau medical checkup. Hayooo … pada ngaku. Takut bakal ketahuan punya penyakit A, B, atau C. Padahal, semakin dini memeriksakan diri, semakin cepat penyakit ditangani. Betul, tak? Mungkin selama ini kita mengira cuma tsunami dan gempa bumilah yang bisa merenggut banyak jiwa. Padahal, padahaaal, sikap mendiamkan penyakit pun menyebabkan hal yang sama hiks! Sebagian penyakit tidak menimbulkan gejala atau keluhan, contohnya kanker. Rutin medical checkup sangat perlu!

Sebelum medical checkup, saya melihat-lihat lokasi The Cancer Centre. The Cancer Centre menjadi tempat pilihan untuk pemeriksaan gejala kanker dan kemoterapi (terapi kanker dengan menggunakan obat-obat kimia) pasien kanker. Top 3 cancers yang ditangani adalah kanker usus besar, kanker payudara, dan kanker paru-paru. The Cancer Centre punya terobosan terbaru bernama Targeted Therapy. Obat-obat kimia yang digunakan hanya menyerang sel-sel kanker. Sel-sel normal tubuh tetap aman. Wow, saya baru tahu, nih. Yang saya pelajari selama ini obat-obat kanker bersifat sitotoksik, artinya obat-obat kimia tersebut pukul rata menyerang sel-sel kanker dan juga sel-sel normal tubuh. Teknologi medis di Singapura memang terbilang maju. Sekadar info, ada 21 rumah sakit dan pusat medis yang memiliki akreditasi Joint Commision International (JCI) dan 11 rumah sakit memiliki sertifikat International Organization for Standardization (ISO). Setiap hari The Cancer Centre mengobati 15 – 20 pasien dari pagi hingga pukul 9 malam. Tempatnya bersih, tenang, dan homy.    

The Cancer Centre
Ruang tunggu The Cancer Centre



Sebelum menampung urin, saya diminta mengisi formulir riwayat kesehatan, a.l alergi obat, penyakit yang pernah diderita, dan penyakit orangtua. Riwayat kesehatan ini penting untuk membantu menegakkan diagnosis dan menentukan jenis terapi.

Formulir riwayat kesehatan

Setelah menampung urin, kami mengobrol dengan Felicia Hu, Director Public Relations and Communications SMG. Dengan bahasa Inggrisnya yang cepat, Felicia menjelaskan tentang buku Cancel Cancer Live Right Eat Well yang mereka terbitkan untuk pasien kanker. Buku setebal 300 halaman itu ditulis duet oleh Dr. Wong Seng Weng dan Chef Eric Teo.


Dr. Wong Seng Weng adalah Medical Director of The Cancer Centre. Beliau dokter spesialis diagnosis dan terapi kanker pasien dewasa, khususnya pasien kanker payudara, kanker paru-paru, dan kanker saluran pencernaan. Sementara, Chef Eric Teo adalah seleb chef peraih berbagai prestasi, salah satunya World Gourmet Summit Executive Chef of the Year (2006, 2008, 2009).

Melalui buku berbahasa Inggris dan Mandarin ini, Dr. Wong Seng Weng membuka mata kita tentang apa itu kanker dan mitos-mitos seputar kanker. Komplet! Pakai contoh kasus juga. Dari pengetahuan akan datang kekuatan –kekuatan melawan kanker, demikian menurut sang dokter. Chef Eric Teo melengkapinya dengan aneka resep makanan sehat dan lezat. Foto-fotonya keren! Mirip makanan restoran, bukan makanan pasien. Seperti yang kita tahu, asupan makanan sangat penting bagi pasien kanker. Terapi kanker biasanya memiliki efek samping yang mampu menurunkan daya tahan tubuh. Selera makan hilang karena muntah berlebihan. Saya paham, kebetulan saya pernah membantu merawat ibu mertua yang sakit kanker otak. Pasien kanker diusahakan makan makanan bergizi baik untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan bisa lanjut ke terapi selanjutnya. Recommended book!

Setelah Dessy, giliran saya cek darah. Darah dimasukkan ke 3 tabung berbeda warna dan ukuran. Menurut Felicia, kami bisa menerima hasil checkup dalam waktu tidak kurang dari sejam.


Ambil darah

Selanjutnya, periksa jantung dengan alat ECG (electrocardiography). Saya diminta berbaring santai. Tangan dan perut saya ditempeli kabel-kabel. Hanya beberapa menit, pemeriksaan selesai. Saya pun boleh makan sandwich dan minum teh tariiik! Yes! Yes! Yes!


Electrocardiography

Lomaknyooo sandwich niiiy

Selesai makan, pemeriksaan mata. Pemeriksaan mata yang pertama untuk menentukan tekanan mata. Wah, yang ini saya baru tahu juga. Biasanya yang diperiksa hanya tekanan darah. Kali ini tekanan mata. Nama alatnya tonometry.

Alat untuk memeriksa tekanan mata

Bayu (RDI) sedang diperiksa tekanan matanya

Caranya, dekatkan wajah ke alat, kemudian topang dagu di alat tersebut. Mata jangan berkedip. Nanti seperti ada embusan angin yang tiba-tiba mengarah ke mata kita dan membuat kaget hihi. Menurut Felicia, pemeriksaan ini untuk mengetahui apakah mata kita terindikasi penyakit, misalnya glaukoma, atau tidak.

Pemeriksaan mata berikutnya, saya diminta membaca kalimat di buku dengan berganti-ganti lensa dan membaca huruf di layar dari jarak tertentu. Alhamdulillah, semua pemeriksaan menyatakan mata saya sehat.



Smile! I've got perfect eyesight!

Petugas medis bertanya apakah saya pernah memakai lensa kontak. Saya mengatakan tidak. Petugas medis mengingatkan tentang risiko memakai lensa kontak. Sebaiknya lensa kontak dipakai dalam rentang waktu 8 – 10 jam. Hati-hati jika memakai lensa kontak warna-warni untuk kecantikan (kosmetik). Biasanya ada dua lapisan di lensa kontak, yakni lapisan bening dan berwarna. Belilah lensa kontak di toko yang sudah tepercaya. Kalau beli di toko sembarangan bahaya! Katanya, lapisan berwarnanya itu sekadar dicat atau asal ditempelkan. Hiiiy … ! Kasihan mata kita!

Untuk pengobatan mata, saya tertarik dengan Relex Smile (REfractive Lenticule EXtraction, SMall Incision Lenticule Extraction). Relex Smile adalah pengobatan dengan teknologi laser berupa sayatan mikro di permukaan kornea. Lebih canggih daripada lasik biasa. More gentle and bladeless. Hanya membutuhkan waktu 10 – 15 menit untuk satu mata. Proses penyembuhannya pun cepat. Saya ingin mata minus dan silinder Faruq diobati dengan cara ini. Meski masih berumur 11 tahun, minus dan silinder Faruq cukup gede. Sayang, umur pasien minimal harus 18 tahun. Pada usia 18 tahun pertumbuhan bola mata sudah terhenti. Sabar ya, Nak! J




        Di postingan berikutnya saya akan bercerita tentang konsultasi saya dengan dokter spesialis kesehatan wanita Dr. Christina Low dan dokter kulit Dr. Jonathan Yong. Keduanya dokter spesialis lulusan universitas di Irlandia. Fyi, handsome sangatlah Dr. Jonathan ini! Mirip Chow Yun Fat waktu masih muda! *molaaaiii* Mau tahu pengalaman emejing saya di-Hydrafacial? Hydrafacial, fasial tanpa jarum dan tidak sakit sama sekali. Stop menyanyi lagu Sakitnya Tuh di Sini ala Cita Citata. *nunjuk hidung yang langganan ditusuk jarum fasial* Meski tidak sakit, komedo dijamin mabur kabeh. Mau tahu? Tungguin, ya! ^^ [bersambung] Haya Aliya Zaki

50 komentar:

  1. Mantap Makk liputannya... Singapura memang byk menginspirasi dalam banyak hal... Selalu ada point yang bisa ditulis... Aku betah nyimak cerita Mak Haya di sini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku tunggu oleh-oleh ceritamu pulang dari Singapura nanti ya, Mak. Have a safe flight! :)

      Hapus
  2. Untunglah aku rutin MCU (setahun sekali). Aku justru penasaran kalau ada sesuatu yang mencurigakan di tubuh, Hay. Walau setelahnya jadi tau dan malah nambah mikirnya, tapi paling tidak bisa cepat tahu cara pengobatannya. Btw, ditunggu lanjutannya. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ga ada yang mencurigakan pun tetap harus checkup, Kak. Moga kita selalu dianugerahi kesehatan, ya. Aamiin. Tunggu postingan selanjutnya. :D

      Hapus
  3. Mantab surantabs ya kak pelayanannya pantesan aja pasiennya dari mana2..
    Eh aku termasuk yg males medical check up paling2 pa2 yg rutin bantu ngecek tekanan darah lumayan kan ada dokter gratis ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi aku juga malesan. Tapi pas dikasih tahu begitu dan setelah ngalami sakit, insya Allah pengin rutin checkup, Mun, supaya cepat ditangani kalo ada apa-apa. :)

      Hapus
  4. waaaa asyiknyaa dapet medcheck gratissss..
    singapur pelayanannya emang oke punya.
    Sayang di Indonesia kalah sama pelayanan, padahal dr segi kualitas dokter juga keren.

    Moga sehat2 terus yaa mak hayaa.
    ditunggu lanjutan tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyes, great service salah satu kekuatan mereka. Aamiin. Doa yang sama untukmu, Nisa. :)

      Hapus
  5. wah postingan kesehatan nih. alatnya canggih

    BalasHapus
  6. Itu 15 bahasa ada Bahasa Jawa nggak ya? =)) Bukan ke takut sih Mbak kalau cek ap kalo aku, hihi lebih ke males hahahaha. Eiya, penasaran banget yang Mbak bilang komedo maburrr... eh kok bersambung huhuhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahah ini anak kalo komen bikin aku atit uyut aja. :)))) Iyaaak tungguin yang postingan Hydra, ya. :D

      Hapus
  7. baguuuus mak pengalamannya...dan liat Cancer Centernya oke bangeet ya...di sini metode targeted juga sudah dikembangkan, beberapa malah sudah memakai..tapi karena baru, masih diliat efisiensinya dalam pemunahan seluruh sel kanker. Tapi you are so lucky lho, to get this valuable experience...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak Indah. Senang bisa share ttg hal ini buat teman-teman. Makasih sudah sharing ttg targeted therapy juga. Jangan bosan mampir, ya. :)

      Hapus
    2. Btw, aku selalu jadi silent reader di blog Mak Indah, terutama membaca cerita engkau berobat kanker di New York City. Terus berjuang ya, Mak. Allah bless your journey. *peluk*

      Hapus
  8. Makasih sharingnya Mbak Haya. Aku salah satu yang takut Medical Check up. Ngaku..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayooo mulai sekarang jangan takut lagi hehehe. Lebih baik mencegah daripada mengobati. #selfreminder

      Hapus
  9. asyiknya bisa jalan-jalan ke sana cikgu, nyaman banget ya cancer centre nya... pasien juga pasti g terlalu stress jika suasana RS nya senyaman itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sering disebut "hospitel" alias hospital dengan servis hotel, Mak hehehe.

      Hapus
  10. Tadi perasaan udah komen di henpon eh ternyata ilang. hiks T_T
    Akkk seru, Mak!
    Sebenernya aku pengen tau lebih tuh tentang perawatan matanya karena mataku minus 4 silinder 2 sekarang hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Putri bisa cek di website mereka di http://www.paragonmedical.com/. Mungkin bisa konsul via dunia maya. Oiya, untuk pengobatan minus dan silinder ada Relex Smile. Boleh konsul ke dokternya dulu.

      Hapus
  11. uwaaa seru banget makkk,untung aku dulu mau make lensa kontak tapi gagal terus,alhamdulillah bertahan dengan kacamata hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi aku juga ga berani pake lensa kontak, Mak. Slebor gini. Ga telaten ngerawat lensa kontaknya.

      Hapus
  12. Aaak.. terakhir MCU karena mau nikah, hahaha. saya juga pernah baca dan tau kalo lensa kontak gak boleh beli sembarangan, makanya suka ngeri kalo liat yang promo2 lensa berwarna, punya temen yang matanya udah kenapa2 gegara pakai lensa kontak soalnya x(

    terakhir, semoga sehat terus ya mbaaak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa ... kenapa mata temannya, Is? Hiks aku juga ngeri kalo ada yang nawarin lensa kontak warna-warni gitu. Mata kan sensitif banget, ya. Aamiin, moga Is dan keluarga juga sehat-sehat selalu, ya. :)

      Hapus
  13. isa ingung aku kalo alarmnya model di tlp gitu...hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahah mari kita bingung bareng. :)) *koprol*

      Hapus
  14. Btw,apakah fasilitas cihuy ini bisa ditebus dgn bpjs? #seriusnanya #walauterdengarnyinyir #nyinyirbpjsmaksudnya #bukannyinyirmakhaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum bisa setahuku. Tapi, kalo asuransi komersial mungkin bisa dipake treatment keluar negeri. Tergantung masing-masing perusahaan asuransi. Bisa dicek langsung ke perusahaan asuransinya, Mak.

      Hapus
  15. Aku punya keloid di dada nih. BANYAK. Dan kalau mau hilang total sih gak bisa, karena ini genetik. Pernah berkali kali suntik keloid di dokter kulit, eh setelah aku berhenti, keloid malah tambah banyak. Bekas suntikan pun berubah jadi keloid juga. Susah haha..

    KAyaknya aku harus meluncur ke Singapura kali yaaaa... Siapa tau ada penemuan mutakhir masalah keloid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa langsung ke webnya http://www.paragonmedical.com.sg. Isi form. Bisa tanya-tanya via Skype atau telepon dulu.

      Hapus
  16. pantes yaaa banyak yg lebih suka berobat ke singapur
    alatnya canggih, lebih profesional, dan pelayanannya juga bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Singapur jadi 1 dari 10 destinasi medical tourism terbaik di dunia, Mbak.

      Hapus
  17. Aku ngga pernah periksa kesehataann :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, periksa, Mak. Udah di atas umur 30 harus lebih mawas, katanya. :)

      Hapus
  18. wuih seeru liputannya khas Blogger yg santai tulisannya, baca sampai habis. Oia yg membuat saya penasara dg perawan Singapore, satu yaitu seluk beluk orearasi Botoks, ups kirain diceritain juga disini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha kagak adeee yang ekstrem geto. Semua alami-alami aja. :D

      Hapus
  19. Puaaaas sangat membaca reportase mak Haya yg details tp gak ribet (dr dulu aku sdh kagum).
    2 thn lalu aku sempat cek jg ke RS Paragon ini mak ttg kankerku...
    ternyata sekarang sdh lbh canggih lg ya terapi kankernya...luar biasa...

    Terima kasih banyak mak Haya utk tulusan yg sangat informatif ini...

    Salam

    *gak sabar nunggu next session nya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah pernah ke Paragon ya, Bun? Pastinya sekarang di sana tambah maju dan maju. Sehat-sehat selalu ya, Bun. Tunggu postingan selanjutnya, ya. ^^

      Hapus
  20. wah, cek kesehatannya gunakan alat canggih begitu, puas pastinya ya di cek disana.
    postingannya keren mba guru Haya, informatif banget

    BalasHapus
  21. Pemeriksaan darah selesai dalam 1 jam? Pasti alatnya canggih, tuh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tapi karena selesai checkup kami langsung jalan-jalan, hasilnya dititipin di hotel, Mbak. :)

      Hapus
  22. Yang menarik, perwakilan di Jakarta yang membuatkan deal, janji dsb, jadi pas ke SGP nya tinggal jalanin urusan aja, gak perlu repot urus ini itu ya? ini strategi buat penghematan waktu dan biaya juga. Mantap manajemen nya....

    Cozy banget ya tempatnya plus canggih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, pasien tinggal bawa badan untuk berobat hehehe.

      Hapus
  23. kapan ya di Indonesia pelayanan kesehatannya bisa kaya Singapura. be the we, kira2 biayanya berapa ya klo berobat kesana? kepo.

    BalasHapus
  24. Pantesan ya Mbak, Singapura selalu menjadi jujukan warga Indonesia yang mampu untuk berobat :)
    Senang sekali ya kalo dinyatakan sehat. Kesehatan emang tak ternilai harganya :)
    Ngomong-ngomong soal soft lens, saya jadi ngeri juga. Gak boleh asal beli ya. :D

    BalasHapus
  25. lengkap banget ya mba buat med check doang padahal :") duh itu dikursin indo berapa rupiah ya...mupeng biar sehat pengen juga

    BalasHapus
  26. Wah canggih-canggih mbak, termasuk oplas di Singapura juga bisa ya? Hehe

    BalasHapus
  27. Deretan tes yang sangat takut untuk ku lakukan, takut menghadapi hasilnya -_-

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan