Senin, 29 Desember 2014

Tip Menulis untuk Majalah Bobo

Beberapa hari yang lalu saya beberes buku dan nemu catatan workshop mini Menulis untuk Majalah Bobo. Seingat saya, saya ikutan workshop ini tahun 2011. Tahun 2011 alhamdulillah saya sudah dipercaya menjadi editor buku cerita anak dan aktif menulis untuk media cetak, termasuk media anak. Sesekali saya menerjemahkan dongeng untuk salah satu majalah anak (majalahnya sampun almarhum nggih). Namun, tak pernah ada kata CUKUP untuk belajar. Apalagi, pemateri workshop Menulis untuk Majalah Bobo adalah Mbak Veronica Widyastuti, yang waktu itu masih menjadi reporter majalah Bobo. Saya pribadi pengagum karya-karya Mbak Vero. Profil Mbak Vero bisa dibaca di SINI.


Nostalgia dongeng terjemahan

Veronica Widyastuti

Teman-teman, dulu media anak hanya sedikit. Sekarang banyak pilihan. Ini kesempatan bagi penulis untuk mengisi. Salah satu media anak, ya, majalah Bobo. Nah, mungkin sudah jadi rahasia umum kalau menembus majalah Bobo cukup sulit. *dikepret Mbak Vero hihihi* Dari pengalaman saya dan teman-teman, rata-rata waktu pemuatannya juga lama, yakni sekitar 1 – 2 tahun. Maklum, yang mengirim bejibun, tapi kapling terbatas. Naskah saya yang dimuat di Bobo bisa dihitung dengan jari. *gigit wajan* Terakhir dimuat dongeng Hati-Hati dengan Cokelat bulan Januari 2014. Salut sama Rae Sita Patappa yang dongengnya rutin dimuat di sana. Pengin belajar dan terus belajar.

Kapan ya dimuat lagi? Hehehe.

Ketentuan mengirim naskah
1. Font: Arial
2. Ukuran font: 12
3. Jarak baris: 1,5
4. Banyak kata: 600 – 700 kata untuk cerita 2 halaman dan 250 – 300 kata untuk cerita 1 halaman
5. Di bawah naskah cerita tersebut, cantumkan:
- Nama lengkap
- Alamat rumah
- Nomor telepon rumah/kantor/ handphone
- Nomor rekening beserta nama bank, dan nama lengkap pemegang rekening bank tersebut (seperti yang tertera di buku bank) untuk pembayaran honor.
6. Lampirkan biodata singkat yang berisi poin nomor 5, tempat tanggal lahir, riwayat pendidikan, dan pekerjaan.
7. Naskah berserta biodata bisa dikirimkan via pos, ke alamat:
Redaksi Majalah Bobo
Gedung Kompas Gramedia Majalah Lantai 4
Jalan Panjang No. 8A, Kebon Jeruk, Jakarta 11530 (dikutip dari fanpage Bobo) atau e-mail: bobonet@gramedia-majalah.com

Wajib diingat!
- Kenali karakteristik media. Cerpen majalah Bobo tentu berbeda dengan cerpen majalah Aku Anak Saleh. Sering-sering membaca media yang ingin kita tembus. Untuk Bobo, saya lebih senang menulis dongeng. Sebagai amunisi dan bahan belajar, saya mengoleksi buku Kumpulan Dongeng Bobo. Beli baru atau loakan enggak masalah. Oiya, yang utama, naskah yang ditulis nanti harus bisa dimengerti anak kelas 4 SD, ya.
- Cermati peluang yang ada di setiap media, misalnya di Bobo ada berapa rubrik cerpen, dongeng, dst. Kalau lebih banyak jumlah cerpen, Teman-teman bisa mencoba mengirim cerpen. Kans dimuat lebih luas. Perhatikan juga mana rubrik yang bisa diisi penulis luar, mana rubrik yang cuma bisa diisi oleh pihak majalah. 
- Fokus menulis dan tingkatkan jam terbang. Buat nama kita terekam di ingatan para redaktur majalah. Percaya atau tidak, media mengapresiasi penulis yang gigih. Gigih dan semangat meningkatkan kualitas tulisan pastinya.

Alur naskah di Bobo



Kenapa naskah saya ditolak terus?
1. Tema
Fakta: sebagian besar naskah ditolak Bobo karena tema terlalu biasa dan klise. Sekadar info, Bobo suka sekali cerita yang mengangkat kearifan lokal. Sayangnya, sedikit cerita tema seperti ini yang masuk ke redaksi. Kalaupun ada, biasanya tempelan belaka. 
Tip: bikin cerita unik, amati tren anak, rajin baca jenis fiksi maupun nonfiksi.

2. Ketentuan naskah
Fakta: sebagian penulis mengirim naskah terlalu panjang, pendek, atau tanggung untuk diedit.
Tip: cermati baik-baik ketentuan mengirim naskah. Sudah saya cantumkan di atas, ya.

3. Self editing
Fakta: banyak naskah yang masih belepotan, salah tik, dan ejaan. Naskah yang sudah cantik dan rapi biasanya akan langsung memikat editor. Tinggal menunggu antrean tayang kalau tema dll-nya cocok.
Tip: lakukan self editing!

4. Karakter penulis
- Fakta: penulis mengirim naskah tanpa kata pengantar.
Tip:  buat kata pengantar seperlunya; menyatakan keaslian, tidak sedang dikirim ke media lain, belum pernah dimuat.
- Fakta: jor-joran ngotot bertanya ke redaksi kapan naskah dimuat.
Tip: apabila ada pertanyaan bisa menghubungi langsung editor fiksi redaksi Bobo di nomor telepon: 021-5330170 pswt 33201-33203. Inga-inga, jaga hubungan baik. Bertanya boleh, tapi pakai jeda dan lihat sikon. Ikuti saran redaksi. Kalau ingin naskah dikembalikan, sertakan prangko balasan.

5. Jaga imej sebagai penulis
- Fakta: ada penulis yang mengirimkan naskah yang sama ke banyak media.
Tip: jadilah penulis yang jujur dan bertanggung jawab. Kirim satu naskah hanya ke satu media.
- Fakta: naskah sudah dimuat di Bobo, tapi dikirim ke media lain atau dibukukan tanpa pemberitahuan.
Tip: kalau naskah mau dibukukan, harap beri tahu redaksi.
- Fakta: penulis menjiplak karya orang lain.
Tip: redaksi senang dengan penulis yang ‘aman’. Jadi, jangan coba-coba melakukan plagiat. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang susah percaya. Hayooo, pengin nikmat sesaat atau bahagia jangka panjang? Huehuehue.

Intinya: rajin membaca, rajin menulis, dan rajin mengirim naskah. Sering-sering lakukan evaluasi terhadap naskah sendiri. Semoga bermanfaat, ya! [] Haya Aliya Zaki



44 komentar:

  1. makasih mak, ini nih aku mau coba juga...

    BalasHapus
  2. Poin 5 strip 1 nih mak pas bgt yg mau ak tanyain td. Xixi
    Kdg krn ga sabar nunggu berita dr redaksi, suka krm sana sini. Hehe
    Tp sejauh ini blum pernah sih, takut kalo dimuat semua #kepedean

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh ditanyakan ke redaksi. Tapi, ya itu tadi. Nanyanya jangan jor-joran dan ngotot. :D

      Hapus
  3. Makasiiih infonya, Mbak Haya. Mau belajar bikin dongeng plus cerpen yang ada unsur lokalitasnya. Belum bisa. Ihiks.... Semoga redaktur Bobo ingat nama saya. Belum ada kirim lagi euy. Ihiks lagi... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mau kirim lagi, nih. Ayo, kita kirim sama-sama. :D

      Hapus
  4. Majalah bobo, favorit masa kecil :)

    BalasHapus
  5. Mak Haya, info yang sangat manfaat. Boleh ya link postingan ini Bunda copas, jadi sewaktu-waktu di saat Bunda membutuhkannya (siapa tahu) Bunda langsung bisa klik. Makasih, Mak Cantik infornya.

    BalasHapus
  6. syukur alhmdullilah dapat tips keren nembus BOBO dari mak Haya caeem :) maturnuwun ya mak Haya

    BalasHapus
  7. haduuh itu majalah yg menemani saya sejak kecil mak, mskh tipsnya ya cikgu :)

    BalasHapus
  8. Makasih mak tipsnya.
    saya pernah coba kirim ke sana. Pantas saja tidak dimuat, karena memang belum memenuhi syarat, terutama yang memuat kearifan lokal itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih disukai tema kearifan lokal, katanya. Tapi, kalo mau kirim tema lain pun monggo. :)

      Hapus
  9. Banyak ide tentang kearifan lokal di sini terutama tentang suku laut. Cita-cita pengen mengangkat tema ini untuk cerpen Bobo. Apalagi sering beli bobo untuk anak saya. Makasih tipsnya Mbak.

    BalasHapus
  10. Waahhh lengkaaappp tipsnya. Makasiihh maakk. BTW, brp honornya? Harus kirim pos ya? Ga bisa via email? Kalau udah pernah ditulis di blog apa boleh dikirim? Hahaha, bawel, maaf ya mak banyak tanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Honornya Rp250 ribu. Dapet kiriman majalahnya kalo dimuat. Ada alamat e-mail kucantumkan di atas. Coba dibaca lagi. :) Kalau mau dikirim ke majalah, sebaiknya postingan yang di blog dihapus.

      Hapus
  11. Keren mbak haya ... super komplete bin detil ... makasih :D

    BalasHapus
  12. Terima kasih mak Haya cantik, ternyata benar, majalah Bobo mengangkat kearifan lokal. Naskahku yang dimuat di majalah Bobo waktu itu kan juga mengangkat daerah minang, sulam suji. Alhamdulillah dapet amunisi ini, insyaAllah siap dengan semangat baru tahun depan :-) *bookmark untuk jaga jaga hihhi

    BalasHapus
  13. terima kasih ya kak liya akan tips sangat bermanfaat yang ingin mengirimkan naskah tulisannya ke media.

    BalasHapus
  14. Sip, makasih sharenya, Mbak Haya :)

    BalasHapus
  15. Aku sering beli Bobo juga buat Vay. Tapi yang Bobo SD baru mulai nih...
    Aku memang pembaca rutin Bobo waktu kecil dulu.
    Ingin juga kalau ada waktu, mencoba menulis cerita dongeng.... untuk Bobo.

    Terima kasih Kak Haya sharingnya. Berguna sekali ini.

    BalasHapus
  16. lengkap..... makasih, Mak Haya :)

    BalasHapus
  17. enaknya sekarang bisa dikirim via email ya mbak

    BalasHapus
  18. infonya bermanfaat buat aku nih Mak. Lengkap bangnet dengan tipsnya (gaya Mak Haya selalu begitu, enggak tanggung kalau ngasih info. lengkap deh). Saya mau coba kirim nih, karena belum pernah ngirim cepern ke Bobo sebelumnya.

    BalasHapus
  19. tipsnya mantaaap :)...saya penggemar Bobo sejak kecil, sayang Bo et Obi hanya sebentar menikmati Bobo sebelum kami pindah...tapi sepertinya tetap melegenda ya..karena memang banyak cerita yang bermanfaat :)

    BalasHapus
  20. Tips yang lengkap, bagus, dan aplikabe.
    Saya belum pernah mengirim naskah ke majalah anaj-anak
    Layak dicoba, walau lamaaaaa nunggu terbitnya ya Jeng.
    Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  21. Terimakasiiiih mbak Haya untuk tipsnya .. yakin deh, abis ini semua bisa bikin cerpen di Bobo *menjura

    BalasHapus
  22. Terima kasih tipsnya, mbak... Aah, 1-2 th ya? *lalu ingat naskah yg dikrm bbrp bln lalu.. :)

    BalasHapus
  23. Wah tips-nya lengkap banget. Thanks for sharing,.Mbak Haya

    BalasHapus
  24. Majalah Bobo, santapan saya waktu kecil. Tapi belum pernah coba kirim tulisan ke sana. Makasih banyak infonya Mbak... lengkap sekali :D

    BalasHapus
  25. makasih sharing tipsnya, Mak....pingin banget kirim cernak ke Bobo. Tapi apa bisa ya? hehe...

    BalasHapus
  26. Makasih banyak Mak atas informasi dan tipsnya, bermanfaat banget, benar ya kita harus kenal dengan karakteristik media yang ingin kita tuju, saya pengen banget sekali-kali nulis di koran

    BalasHapus
  27. Wah, majalah bobo. Pengen banget nembus majalah ini :D

    BalasHapus
  28. makasih tipsnya cikgu... dulu langganan bobo, sekarang diterusin sama anak... pengen bisa mendongeng dan dikirim ke bobo, tapi takut memulainya... halah...

    BalasHapus
  29. Dulu pernah kirim terus mandeg. Harus dicoba terus ya mak.

    BalasHapus
  30. Makasih tipsnya mbak Haya, mau nyoba2 ah masukin ke bobo :)

    BalasHapus
  31. Maksud dari poin nomor 5 apa ya?

    BalasHapus
  32. terima kasih ilmunya, Mba. mulai deket sama bacaan anak nih, kudu bisa buat juga harusnya :)

    BalasHapus
  33. Nurul Safithri31 Oktober 2015 15.29

    Salam kenal, Mbak Haya.
    Saya berniat mengirimkan tulisan saya ke majalah Bobo dan karena ini pertama kalinya,saya masih agak bingung dengan mekanismenya. Untung saya bertemu artikel ini ^^
    Mau tanya mbak, kalau kita mengirimkan karya kemudian mengirim lagi karya berbeda sebelum dapat kabar soal karya yang pertama (dimuat atau tidaknya), boleh nggak ya? Terimakasih, mbak. Have a nice day!

    BalasHapus
  34. Salam kenal ya mbak Haya,
    Ijin tulisannya saya copas, share. Naskah saya blm pernah dimuat. Ini pelajaran yg berharga, bermanfaat. Dulu sekali, sblm internet seramai ini pernah dikembalikan gara2 temanya terlalu biasa. Terus berhenti deh.
    Mksh.

    BalasHapus
  35. Asli penasaran banget sama cerita anak xikgu beberapa x nyoba masukin ke majalah anak2 dan ga ada 1pun yg gol. Dan entah kenala maaih penasaran aja gitu. Waktu dulu nyoba pernah dibilang bahasanya maaih terlalu dewasa nyoba si sederhanakan tp tetep aja blm lewat. Hiks padahal merasa sebenernya aku bisa cuma butuh belajar lebih tekun aja. Aku simpen ini cikgu
    Pengen serius belajar lagi.. thanka for sharing

    BalasHapus
  36. Mengangkat tema kearifan lokal ya, Mbak. Trimakasih tipsnya :-)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan