Rabu, 17 September 2014

Smartfren Community Sharing: Community Management is the Brainware, Social Media is the Tool

          

        Setelah cukup lama menggaungkan campaign “I Hate Slow”, kini Smartfren hadir dengan campaign global “Sharing” atau “Berbagi”. Media sosial pastinya akrab banget dengan yang namanya “Sharing”, ya. Berbagai aktivitas kita share via media sosial, mulai dari selfie bangun bobok, makan, masak, jalan-jalan, bikin ini-itu, sampai mau bobok lagi. Meski sebagian besar hanya kejadian lumrah sehari-hari, ternyata asyik juga untuk disimak, dikomentari, bahkan ditiru huehuehue.

       Acara Smartfren yang berlokasi di Kafe Pisa, Menteng, Jakarta, hari Jumat (5/9) lalu menarik banget buat saya. Soalnya tema-nya seputar komunitas. Kebetulan saya lumayan aktif di beberapa komunitas dumay. Belakangan rada ‘pecicilan’ di sebuah grup nostalgia jadul, sih. *abaikan* Pastinya kopdar Smartfren kali ini menambah wawasan baru. Siapa tahu bisa diterapkan juga. Begicu.  

Pukul 19.00 wib acara dimulai dengan presentasi Abang Edwin SA (Bangwin) tentang Community and Social Media. Latar belakang Bangwin tidak diragukan lagi. Sejak tahun 2000, Bangwin sudah bergabung dengan ragam komunitas. Tak tanggung-tanggung, beliau pula mantan Senior Community and Social Media Manager for Yahoo! Indonesia. Sekarang beliau berwirausaha sebagai konsultan sesuai bidangnya.


Blogger di acara Smartfren
   
Sebenarnya komunitas itu apa, ya? Apakah sekelompok orang di depan rumah main kartu bisa disebut komunitas? Apakah sekelompok emak yang sedang rumpi di kantin sekolah anak bisa disebut komunitas? Menurut Wikipedia, community is a social unit of any size that shares common values. Jadi, komunitas adalah sekumpulan orang yang memiliki minat, kondisi, dan/atau profesi (work type) yang sama. Sesimpel itu.

Terkadang, anggota komunitas cuma sedikit, tapi kalau bonding kuat, hal-hal keceh badai joss diwujudkan bareng. Komunitas yang paling kuat bonding-nya adalah yang berdasarkan kondisi. Saya ambil contoh komunita sahabat saya, Grace Melia, yakni Rumah Ramah Rubella (RRR). Anggota komunitas RRR sebagian besar adalah orangtua yang memiliki anak terinfeksi virus TORCH. Meski jadi silent reader di komunitas tersebut, saya melihat bonding yang kuat sekali antara para orangtua yang anaknya terinfeksi TORCH ini. 

Menurut Bangwin, membuat komunitas itu MUDAH. Yang sulit adalah menjaga agar komunitas tetap awet dan enggak garing. Caranya gimana?

Community management is the brainware. Social media is the tool. Lalu, Bangwin memberikan analogi sederhana. Coba bayangkan kalau kita diberikan sebidang tanah luas untuk dibikin taman. Apa saja tantangannya? Bagaimana kita menarik perhatian pengunjung? Bagaimana supaya pengunjung bisa mendapatkan values? Bagaimana agar pengunjung merasa aman dan nyaman? Bagaimana agar kita bisa diberi good reviews oleh pengunjung?

Poin di atas tadi merupakan check values untuk komunitas. Intinya, anggota bertahan dalam komunitas karena mudah mengakses info dari komunitas, mendapat values, merasa aman, dan nyaman kumpul-kumpul. Thanks to social media. Berkat media sosial, kita jadi mudah bergabung dengan komunitas dan mengakses segala macam info. Tinggal pencat-pencet ponsel! Males banget, kan, kalau apa-apa kudu buka PC dulu. Lokasi yang berjauhan pun bukan lagi masalah.    

Untuk mempertahankan, alangkah bagusnya jika komunitas dumay mengadakan gathering offline. Kenapa? Ketika sesama anggota komunitas dumay bertatap muka, respek antara yang satu dengan yang lain meningkat. Mungkin di dumay hobinya debat sengit, tapi begitu ketemu ternyata bisa mengobrol haha hihi. Iya, ya? Betul kata pepatah lawas, tak kenal maka tak sayang.   

Poin warning dari Bangwin: sebaiknya komunitas didirikan BUKAN UNTUK BERJUALAN. Anggota tidak akan bertahan karena melihat komunitas punya pamrih. Kalaupun mau jualan, pakai strategi brandless dan tidak hard selling. Berikan produk ke anggota agar mereka punya self experience. Setelah itu, biarkan anggota ‘bicara’ tentang brand yang bersangkutan. Strategi ini cukup efektif. Taati peraturan jualan di sebuah komunitas. Beda komunitas biasanya beda peraturan.     

Narsum berikutnya adalah Joh Juda, Owner Fotodroids (komunitas memotret pakai ponsel android). Status? Jomblo. *eh* “Kebiasaan masyarakat telah berubah. Dulu kalau mau makan, ya, makan aja. Sekarang? Pasti foto-foto makanan/selfie, di-share, baru makan. Bahkan, kalau makanan telanjur dilahap dan belum sempat difoto, makanan tersebut harus dipesan lagi! Kecenderungan masyarakat untuk sharing sangat tinggi,” Juda membuka pembicaraan. “Salah satu efek baiknya, hasil jepretan masyarakat (citizen journalism) ‘lebih dipercaya’ daripada wartawan karena dianggap lebih jujur.”

Joh Juda

Nah, saya jadi tergelitik, nih. “Bagaimana etika memotret sebenarnya?” tanya saya. Beberapa teman mengaku sebal dengan aksi orang-orang memotret di berbagai acara. Saya pun pernah membaca soal ritual ibadah umat Budha yang terganggu karena aksi turis memotret di candi Borobudur.

Bicara etika susah-susah gampang. Belum ada barometer yang mengatur. Di negeri kita sepertinya bebas-bebas saja memotret. Beda dengan FiIipina yang dilarang memotret di ruang umum. Di Amerika ada tempat-tempat tertentu yang tidak boleh dipotret.

Saran Juda, kalau memang tidak terpaksa memotret, sebaiknya tidak usah. Kalau memang objek tersebut tidak sebegitu berharganya untuk dipotret, sebaiknya jangan. Contoh, pernah kejadian di sebuah negara di mana rakyatnya kena kerja paksa. Wartawan tidak ada yang memberitakan karena telah disogok. Namun, ada satu wartawan yang berani. Dia memotret seorang bapak yang sedang termangu melihat kaki anaknya dipotong oleh tukang jagal, di daerah tersebut. Foto-foto ini disebarkan kepada dunia. Pemimpin zalim dihakimi. Kasus kerja paksa pun bisa dikalahkan. Kata pemimpin zalim tersebut, “Hanya Kodak yang tidak bisa saya sogok pakai uang.” Wow! Ini salah satu contoh objek yang penting untuk dipotret, Teman-teman. *kemudian hening* *mendadak melamun inget foto-foto selfie saya yang bertebaran hiii ….* *piye jadinya, jal?*

Kalau bisa saya simpulkan, sih, memotret harus lihat situasi dan lingkungan sekitar. Jangan sampai aksi memotret kita bikin orang pengin ngejitak kita huhuhu. Apalagi, jadi masalah panjang. Narsum terakhir adalah Christian dari yangcanggih.com. Christian memutar video peralihan ponsel selama 15 tahun. Mulai dari ponsel segede gaban yang bisa bikin pingsan kalau nimpuk orang sampai ponsel canggih tipis ringan nan eleykhan. Jadi ngikik sendiri ngeliat penampakan ponsel tebel yang pernah saya pakai. Zaman ngekos pakai ponsel cuma bisa buat telepon. Begitu ada fasilitas SMS, senengnya bukan main. Langsung bolak-balik SMS pacar bwahahaha!

Christian

Fyi, kabar gembira buat kita semua. Kini Smartfren punya microsite baru namanya Semangat-Berbagi.com. Teman-teman monggo share keseruan foto, video, artikel tentang travel, makanan, gadget, dan lain-lain. Selain merasakan indahnya berbagi, Teman-teman bisa dapat merchandise dan gadget keren dari Smartfren, lho. Mau atau mau banget? Makanyaaa buruan cek microsite-nya buat ikutan!    





Pada kesempatan ini, tim Smartfren memperkenalkan lebih jauh produk mereka Andromax G2 Touch Qwerty. Ponsel ini hadir untuk mengakomodir kita-kita yang sering typo kalau berponsel ria. Snapdragon dual core 1,2 GHz Cortex A7. RAM 512 MB ROM 4 GB. Dual card. Sensor kamera utama 5 MP dengan LED flash dan autofokus. Kamera depan 1,3 MP. Bikin video? Bisa! Eits, jadi makin gampang sharing foto dan video via media sosial, dong. Smartfren bekerja sama dengan Gameloft. Banyak games menarik sudah terinstal di Andromax G2 Touch Qwerty. Yang suka chatting, BBM sudah terinstal juga. Harga enggak bikin kantong bolong. Sejak launching bulan lalu, penjualannya cukup bagus.   

sumber

Produk Smartfren berikutnya adalah Mini Router Smartfren Connex M1. Mini router CDMA 2000 1x EV-DO Rev.B multifungsi sebagai wireless storage dan powerbank berkapasitas 4400 mAh. Kelebihan lain, mini router dapat diakses hingga 6 perangkat secara bersamaan. Warnanya cantik-cantik. Ada merah dan putih. Harga lumayan murah Rp499 ribu aja.

sumber

Acara dimeriahkan dengan game, doorprize, dan live tweet masing-masing berhadiah Andromax G2 Touch Qwerty. Sayang, belum rezeki saya hiks. Semoga besok-besok, yaaa hihihi. Sekadar saran, sebaiknya lain kali tidak terlalu banyak narsum dalam satu acara, sementara waktu yang tersedia hanya sekitar dua jam. Tujuannya supaya narsum tidak terburu-buru. Waktu untuk tanya-tanya juga lebih banyak. Seperti di sesi Joh Juda, hanya satu orang yang punya kesempatan bertanya, yakni saya. Saya yakin masih ada peserta lain yang ingin bertanya dan menggali ilmu lebih dalam. Mumpung ada pakarnya gitu, lho. Ehm! But overall, acara Smartfren Community Sharing “Community and Technology” sangat bermanfaat. Makan malamnya enaaakkk. Saya enggak nolak kalau diundang lagi. Sukses untuk semua program Smartfren, ya! [] Haya Aliya Zaki



33 komentar:

  1. Balasan
    1. Udah, Maaakkk. Maaf tadi malam kutinggal ngeloni anak-anak dulu. :))

      Hapus
  2. Terimakasih buat ilmu komunitasnya, jadi pahaam. di acara itu nggak ada sharing ilmu cara deketin gebetan di satu komunitas ya? :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jiahahaha ada usul ga narsumnya siapa? :D :p

      Hapus
  3. yg kodak tadi blm mudeng mak.. maksudnya gimana? aku nih sejak ngeblog jadi narsis, hihi

    thanks infonya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kejadian zaman dulu, Mak. Dulu kalo motret, kan, pake Kodak. :D

      Hapus
  4. Etika memotret..penting tuh kayanya dimulai di Indonesia ya mak. Sering liat paa traveling orh motoin bule tnp permisi...kl yg dipoto ga masalah si gpp ya kdg kan ada yg sewot kl ga minta izin dlu...
    Seru acaranya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha, mungkin takjub sekali-kalinya liat bule ya, Mak? Jadinya bule difoto-foto. *_*

      Hapus
  5. asli kereeen nih acaranya, tema yang di bahas juga menarik :D nambah-nambah ilmu nih ya mak..
    Smartfren gadgetnya emang canggih-canggih, sayang banget di daerah aku belum kejangkau jaringannya *hiks* *curhat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mayan buat nambah wawasan ya, Mak. Btw, dirimu tinggal di manakah?

      Hapus
  6. Aku punya reouter wifinya smartfren, kalau ditempatku di Yogya lumayan bagus jaringannya :)
    Tulisan ini musti dibaca sama penggerak komunitas nih, benar banget uraiannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di sini Smartfren juga bagus, Kak. Awak pake modemnya. :D Materinya bagus, Kak, cuma waktunya kurang. :( Moga lain kali bisa lebih lama.

      Hapus
  7. Balasan
    1. Palingan lebih hati-hati aja, Mak. Lihat -lihat culture setempat juga. Beda culture, beda aturan. :)

      Hapus
  8. Setujuuu komunitas tidak berjualan #halah
    tapi jualan dan promo itu samakah?????

    *puk2 nanti menang lagi laiptuit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya tujuan utama komunitas didirikan bukan untuk jualan, Cha. Contoh, KEB didirikan untuk mengumpulan emak-emak yg hobi ngeblog, komunitas pencinta kucing didirikan spy member bisa curhat masalah kucing, mengumpulkan kucing-kucing jalanan, bikin baksos kucing, dst. Kalau sekali-sekali mau diselingi jualan/promo, monggo, sesuai peraturan. Tapi tujuan utamanya bukan itu. Cmiiw.

      Hapus
    2. Aaakkk belum rezeki laiptuit xixixi.

      Hapus
  9. Bener2 bermanfaat nih mak artikelnya, jadi gak ragu lg sama smartfren....dan acaranya tuh lho seru bgt bisa nambah ilmu kayaknya, kapan ya ada acara gituan di bali???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga-moga dibaca pihak Smartfren dan segera diadakan di Bali ya, Mak. ;)

      Hapus
  10. Aku datang di minggu sebelumnya, mak. Jadi nggak ketemu kita yak. Btw, sepakat juga tentang bagaimana menjaga komunitas. Apa-apa juga, kalau membuat sih gampang, menjaganya itu yang bututh effort besar yes. Sama kaya menjaga perasaan di hati gitu... *eh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga KEB awet dan makin caem ya, Mak. ^^

      Hapus
  11. Acaranya sangat bermanfaat ya Mak... Sayang aku gak bisa hadir...jauh... E, aku juga pengguna modem Smartfren nih... Koneksinya lancar gak lelet... Baru kali ini punya modem yang gak nikin gusar karena anti lelet...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga next time diadakan di tempatmu ya, Mak. Aku pake modem Smartfren juga. ;)

      Hapus
  12. menarik yang soal memotret mak haya, berarti sekarang kudu pinter-pinter cari moment yang pas saat memotret, takutnya ganggu orang lain hehe.. ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jangan sampe dijitak orang pas lagi motret, Dek. :))

      Hapus
  13. Ooh jadi dulu pernah SMS2-an sama pacar waktu baru ada fitur SMS ya Mak?
    *merunduk,takutditimpuk pake Andromax G2 Touch Qwerty*

    :D

    Keren reportasenya .... jadi intinya, bagaimana membuat komunitas nyaman ... maka akan bisa bertahan lama ya ...

    Ada komunitas yang saya tahu sebenarnya didirikan untuk maksud jualan. Sekarang sepiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii sekali di sana. Eh kalo mau jualan bisa, asal yang soft-soft gitu ya cara jualannya, Mak ....

    Oks, makasih sharing bermanfaatnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Soale dulu kalau mau kirim pesan, kan, pake pager. Kudu telp ke mbak-mbak operator. Maluuuw. :))
      Jualannya sesuai peraturan komunitas dan soft selling. Kira-kira begitu. :)

      Hapus
  14. setuju komunitas bukan untuk jualan alias mencari keuntungan pribadi ...tapi memajukan anggotanya bersama-sama

    BalasHapus
  15. Betul sekali.
    Membentuk atau membuat komunitas itu mudah, memeliharanya yang kedodoran. Itulah sebabnya harus diawaki oleh admin yang cakep dan kreatif.
    Terima kasih artikelnya yang menarik
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang cakep, kreatif, dan gesit sat-set-sat-set gitu ya, Pakde. :))

      Hapus
  16. Mba, acaranya bagus banget. Nambah lengetahuan. Apalasi soal komunitas begini. Suka bangett.

    Btw, tentang foto itu, yang pemting jangan sampai nyolong foto, ya. Soal, kadang ada yang gak terima. Hehehe

    Makasih sharingnya, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya kita ga terima kalau foto kita dicolong. Kapan-kapan aku bahas soal ini di postingan berikutnya. Kami akan kembali setelah ikan-ikan berikut ini hag hag hag.

      Hapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan