Rabu, 24 September 2014

Female Daily Blogger Workshop (1): Bagaimana Menyikapi Pencurian Foto?

Ki-ka: Hani, Pru, Fifi, Phira, dan MC

Salah satu tanda kamu terkenal adalah foto-fotomu banyak dicuri orang.

Kalimat di atas saya baca di dinding Facebook teman. Waktu itu foto-fotonya di media sosial dicuri orang. Yang lebih parah, foto-fotonya diikutsertakan si pencuri dalam sebuah lomba dan si pencuri menang! Haduh … sakitnya tuh di siniii *tunjuk dada* dan di siniii. *tunjuk kantong* Soalnya hadiah lombanya uang tunai jutaan rupiah, seingat saya.

Saya tahu banget rasanya karena pernah mengalami. Tulisan dan foto saya dicuri orang. Kebetulan saya dan si pencuri sedang ikut lomba blog yang sama. Saya kalah, sementara si pencuri menang huhuhu. Dan, saya telat melapor ke panitia lomba. Hadiah telanjur diserahkan. Tapi, hal ini jadi perhatian panitia. Si pencuri masuk daftar hitam acara-acara mereka selanjutnya. Pedih ini lumayan terobati. Teman-teman segera lapor ke panitia kalau mengalami hal ini, ya. Jangan bimbang jangan ragu, apalagi malu. Seharusnya yang malu itu yang mencuri! *kompres jidaaat*

Menarik, di antara materi tentang branding, making money from blogging, dst di acara Female Daily Blogger Workshop di ArtOtel, Jakarta (20/9), saya ingin mengulik tentang PENCURIAN FOTO. Seorang ibu peserta workshop curcol.

Suasana workshop

“Saya punya blog resep. Isinya resep-resep masakan dan foto-foto. Awalnya saya semangat ngeblog, tapi belakangan malas. Resep dan foto saya dicuri, dipindahkan begitu saja di blog si pencuri. Saya sudah capek-capek belanja, masak, motret yang bagus, eh, malah dicuri. Saya harus gimana?” 

Siapa yang tidak senang melihat foto makanan? Saya paling sering cuci mata lihat-lihat foto makanan dan foto traveling. Hm, pengin curcol lagi, nih. Teman saya yang lain pernah mengalami kejadian lebih parah dibanding ibu tadi. Foto makanan di blognya dicuri sebuah brand besar! Bayangkan, brand besar yang notabene pasti punya bujet gede untuk bikin foto bagus. Sudah diperingati berkali-kali di fanpage Facebook-nya, brand tersebut tetap bergeming. Wew. Speechless.

Selfie sejenak

Kebetulan narsum Female Daily Blogger Workshop Sabtu lalu adalah blogger beken semua. Marischka Prudence (Pru), travel blogger; Fifi Alvianto (Fifi), Mom Blogger dan Editor in Chief LAIQA Magazine; Saphira Zoelfikar (Phira), Co-Founder Indohoy.com; dan pastinya Hanifa Ambadar (Hani), Co-Founder Female Daily Network. Nah, saya pengin tahu pendapat mereka. Teman-teman juga, kan?

“Web besar seperti Kompas, misalnya, foto-fotonya pasti banyak dicuri orang. Apakah mereka protes? Bagi saya, ini risiko menjadi ‘besar’ dan berkembang. Kita harus siap menghadapi risiko tersebut,” kata Hani. Fifi mengamini. Siap sukses berarti kudu siap juga menghadapi kejadian pahit kayak gini. Hani menyarankan pakai watermark. Sebaiknya watermark-nya nama blog kita. Tapi, hati-hati. Buat watermark sedemikian rupa agar nge-blend dengan foto. Jangan sampai watermark mengganggu estetika foto.

Saya jadi ingat pengalaman traveler @DuaRansel. Melalui linimasa Twitter, mereka bercerita. Foto-foto traveling mereka pernah dicuri dan ajibnya, si pencuri seenaknya ngomong, “Siapa suruh fotonya enggak di-watermark!” What?! Jadi, pemilik foto yang salah karena tidak watermark, bukan si pencuri? Dunia benar-benar sudah terbalik! *kompres jidat lagiii*

Banyak fotografer kondang justru TIDAK membubuhkan watermark pada foto-foto mereka. ”There’s something worse than having your beautiful blog’s photos stolen by e-robbers: vandalizing the photos with your gigantic watermark. Kalau sebuah foto yang pertama kali terlihat adalah watermark-nya, bukan keindahan foto itu sendiri, the beauty is wasted,” @DuaRansel berpendapat. “Lagi pula, kasih watermark di pojok bawah foto, pencuri tinggal crop. Watermark di tengah foto bisa di-sotosop. Tergantung pencurinya niat atau enggak,” lanjutnya.       

Kembali ke narsum Female Daily Blogger Workshop. Pru awalnya membubuhkan watermark pada foto-fotonya. Namun, lama-lama dia cuek. “Pencuri yang mengaku-ngaku foto kita sebagai fotonya, sebenarnya dia sedang menggali kuburnya sendiri. Blogging is a small world. Kita semua terkoneksi. Aksi pencurian begini pasti ketahuan. Pencuri bakal masuk daftar hitam,” papar Pru santai. Hal penting yang harus diingat adalah ketika foto kita dicuri, kita jangan malah koar-koar di media sosial dengan menyebutkan link blog si pencuri. Nanti traffic blognya jadi rameee. Untung di dia, dobel enggak enak di kita, dong. So, cuek! Anggap si pencuri seperti titik terkecil di semesta yang tidak pernah ada huehuehue. Jangan lemah semangat. Ngeblog jalan terus!

Marischka Prudence

Phira memilih menegur. Caranya dengan mengirim e-mail dan menulis komen di postingan blog si pencuri. Pas kejadian di Phira, e-mail dan komen Phira tidak dibalas. Tapi, setidaknya si pencuri tahu bahwa Phira tahu dan Phira mengecam pencurian tersebut. Moga aja lain kali si pencuri jera, yak.

 Apakah Teman-teman setuju dengan pendapat blogger beken tadi? Teman-teman punya pengalaman tulisan atau foto yang dicuri? Bagaimana menyikapinya? Boleh share di kolom komentar. Pengin tahu, nih. Yuk, saling tambah wawasan. [] Haya Aliya Zaki

81 komentar:

  1. Saya pernah ngalamin mbak.. Foto2 traveling di album yang khusus saya bikin untuk jualan postcard dicuri orang, bahkan dicetak menjadi postcard.
    Saya taunya karena kebetulan kami sama2 member grup postcrossing.com... Saya kaget pas ngeliat foto2 itu diposting ama dia, padahal waktu itu saya belum publish kalo saya jual postcard.. Jadi dia selain nyolong foto2 saya, juga nyolong start ide saya :D
    Pas saya tanya ke dia, jawabannya juga malah menyalahkan saya...
    Kasus ini sempat rame di grup postcrossing Indonesia :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow! Akhirnya tindakan apa yang dikasih ke dia, Mbak? Moga di-banned selamanya dari grup. Serem banget. Bukan hanya curi foto, tapi curi ide jualan. :(

      Hapus
    2. Dia emang gak jual postcard hasil dari ngambil foto2 saya itu sih mbak.. Tapi dia nyolong start untuk nyetak foto2 itu jadi postcard dan dikirim ke postcrosser luar... :(
      Saya email aja sih ke dia.. Yang bikin gondok itu dia gak minta maaf, malah balik menyalahkan saya, dan menganggap kalo nyetak foto dari google untuk dijadikan postcard itu adalah hal yang wajar meski tanpa minta ijin dari si pemilik foto :(

      Hapus
    3. Kalo dari komunitas sendiri ada tindakan? Supaya namanya masuk daftar hitam di mana-mana. -___-

      Hapus
  2. Wahhh...acaranya bagus bangett...sayang, saya baru tau. Terimakasih sudah berbagi. Kita harus lebih hati-hati ya, kalau nggak mau "sakit hati". :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah hati-hati juga bisa kecolongan. :))

      Hapus
  3. Hem setuju sih mak, tinggal laporin aja, hehehe,,,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu kalo lomba. Kalo bukan lomba, kan, ga ada panitia yang bisa dilaporin. :)

      Hapus
  4. Saya pilih watermak mak,ditipisin tp g tebel2 amat.takutnya malah merusak feel di fotonya :)
    Tfs...

    BalasHapus
  5. Belakangan aku ngga watermark photo mak, selain kualitas poto sebelum naik web tak turunin, aku juga udah merasa legowo banget kalo diambil. Udah siap mental ceritanya.

    Makanya ngga banyak naro photo juga karena kadang masih suka geregetan kalo diambil. Sementara pake no right click, tapi ini ngga jaminan juga.

    Karena sebetulnya kalo udah siap ambil traffic dari google image, harus siap juga photo bisa diambil saat searching.

    Masalah pencurian, sama aja lah kaya nyuri di dunia nyata pasti hasilnya ngga halal apalgi kalo kita ngga ikhlas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi jangan irit-irit banget juga naruh fotonya, Shin. Aku suka cuci mata lihat foto-foto di blogmu. Cantik semua. :D

      Hapus
  6. Belum pernah kecurian. Mungkin krn fotonya jelek2 :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyaaa mbak tjantik satu ini kerjanya merendah mulu. I lop yu puuul. :* Ajarin bikin novel kece, Mbaaak. :D

      Hapus
  7. baru aja beberapa waktu ini nyoba pake watermark mak. suami yg nyaranin. sayang katanya klo dicomot2 orang seenaknya. sblm ini saya sih ga mslh soalnya smpet ngerasa ribet buat nyisihin waktu nambahin watermark *malesan*..hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus ekstra waktu, tenaga, pikiran. Soalnya ga bisa sembarangan kasih watermark, ya. Jangan sampai estetika foto hilang, kalo kata Mbak Hani. :)

      Hapus
  8. Saya tetep pake watermark tipis. Belum pernah ngecek sih, ada yg nyolong atau engga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, aku suka lihat foto-foto di Instagram-mu, Mak. Bikin lapeeer. :v

      Hapus
  9. Kalo urusan foto emang bagian yg paling lama utk jd sebuah artikel buatku. Editing foto plus watermark is a must buatku. Terlepas ujung2nya di crop atau disotosop. Dimana2 maling dan copaser jg pasti lebih pinter daripada kita. Jd ya legowo ajalah. Sing penting udah usaha pake watermark :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi udah siap mental jadi terkenal ya, Line. :))

      Hapus
  10. Belum pernah, Mak. Kualitas foto aku biasa aja. Tapi tetep aku watermark biar mantap hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Foto-fotomu bagus, Mak. Bikin laper hahaha.

      Hapus
  11. setuju dengan watermark saya mak!... setidaknya ikhtiar dulu biar fotonya gak dicuri (meski fotonya gak bagus2 amat hehehe)

    teringat kasus di twitter antara seseorang yg menjelek2kan kota Bandung dengan twitter balasan Ridwan Kamil, yang ternyata foto profil twitter yg menghina itu memakai foto orang lain yaitu anak sma di salah satu sma di Jakarta..

    duh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem, foto kita diambil untuk tujuan kejahatan. Jangan sampe, deh. Naudzubillah.

      Hapus
  12. Foto2 desain baju teman baik saya di payetgaunpesta.com dicuri tim kreatif salah satu production house sinetron Indonesia yg waktu itu sempat populer. Orang2 yg nonton sinetronnya berasa familiar ama foto2 tsb dan lapor ke pemilik blog. Saya sarankan waktu itu untuk mendatangi production house dan minta pertanggungjawaban. Wong tim kreatif kok nyuri, mana sisi kreatifnya ya hehe. Ujungnya hepi ending. Mereka ngaku khilaf krn kejar tayang dan minta maaf, bahkan temanku dpt orderan untuk bikin desainnya di gambar jd baju beneran krn ada scene catwalk di jalan ceritanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, seneng baca cerita happy ending begini. Moga makin banyak orang yang punya kesadaran atas karya cipta. Salam buat temannya, Mbak. :)

      Hapus
  13. Saya pernah artikel kontes dicopas. 3 paragraf cuman tapi kecewanya tuh disini *tunjuk dada* untungnya sama2 kalah :D
    Dan efeknya sy jadi males ngunjungi blognya. Walau gak sy tegur tapi cukup tau ajalah kelakuannya begitu. Kasihan klo diketahui org banyak soalnya si pencuri ini kondang bnget di sosmed. Sy yakin semua blogger kenal kok sm dia.
    Klo foto blm pernah sih dicuri, blm bs foto bgus sih haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, ikut prihatin. :( Kenapa ga coba japri aja? Setidaknya dia tahu kalo Mbak tahu dan mikir ulang kalo mau melakukan lagi. Semoga ga kejadian lagi ya, Mbak. :(

      Hapus
  14. Saya masih gimana mood untuk urusan ini, Mak.

    Dulu foto yang di blog gak saya watermark. Trus pernah nyobain di setting gak bisa di copas. Tapi, sekarang lagi copas. Ceritanya gara2 kesel aja ngeliat beberapa foto saya diambil tanpa disebutin sumbernya. Tapi, giliran foto yang lain disebutin sumbernya. Dan, itu kejadiannya gak sekali. Saya sempet heran aja, kenapa giliran foto punya sy gak disebutin sumbernya? Cuma mau nanya males aja. Saya milih di watermark sekarang.

    Gak tau deh bertahan sampai kapan diwatermark. Pokoknya gimana mood :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wew, sampe berkali-kali ya, Mak? Perlu dipertanyakan juga itu. Hmmm.

      Hapus
  15. Aku sebenarnya jg lbh seneng ga pk wtrmark...kl pun pake pasti tipis bgt. Dan sebenernya rada cuek sih kl hasil fotoku diambil...(tp kok blm ada yg ambil yaa..:p *fotojelektapipede

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tahu-tahu foto Mak Dwina nongol di iklan skin care. *kyaaa* *canda* Jangan sampe kejadian, Mak. Aku suka lihat foto-fotomu. Macam foto model. :))

      Hapus
  16. Belum pernah mbak Haya. Karena fotoku juga biasa aja.
    Makasih sharingnya

    BalasHapus
  17. Saya mah bantu meresin kompresan Mak Haya aja lah. Aku belum pake watermark, selain blm bisa tekniknya, juga saat ini aku pikir belum perlu Mak. Nantilah...hehehe (kok pilihan komen gak dibuka untuk open url, Mak?)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setting komen udah diubah, Say. *peres kompres*

      Hapus
  18. Wahhh workshop yang mencerahkan banget mbak mendamaikan hatiku yang sedang galu gundah gulana hehe mantep dah ^-^ aduh saya jadi tersepoi hehe pas s am suasana hati...setuju sama mbak Prue nge blog jalan terusss dah mantap ^-^.9 mksih mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggap aja salah satu ujian menjadi blogger sukses. Semangat! :v

      Hapus
  19. wah penting banget watermark foto ya mak.. kalau ambil foto di istockphoto yang ada watermarknya termasuk nyuri ga mak itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru di sini dikatakan bahwa para fotografer dan blogger kondang biasanya tidak watermark foto karena mereka lebih care sama estetika foto. Watermark dikhawatirkan merusak keindahan foto, Mak. Tapi, semua kembali ke pilihan masing-masing. Kalau mau watermark, monggo. Asal hati-hati. Untuk ambil foto kalo nyebutin sumbernya gpp, Mak. Atau watermark foto tsb tidak kita dihapus. Cmiiw.

      Hapus
  20. Kalau aku yang sering dicuri adalah foto2 gula aren dan gula semut, Mbak Haya. Dulu belum ngeh watermark. Es setelah di watermarkpun gak mengjalangi pencurian tuh. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah watermark ga menghalangi pencurian juga ya, Mbak? Berarti kita terapkan cara Pru. :))

      Hapus
  21. Foto saya biasa aja, jadi ga ada yang copas. hehehe

    BalasHapus
  22. Terima kasih banyak krn sdh berbagi hal yg bermanfaat ini mak Haya.
    Buat bunda sendiri sih biar aja lah kl mmng diambil fotonya oleh sang copas....berarti fotonya bagus yaa....hehehe

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sip, Bunda. Makasih udah mampir, Bun. ^^

      Hapus
  23. setuju mak. Cuek. Tapi bukan berarti kita tdk melakukan apa2 ya...
    dengan cara menegur si pencuri, kita sudah melakukan sesuatu.

    BalasHapus
  24. Salah satu risiko jadi orang terkenal: foto-fotonya dicuri dan disalahgunakan orang tak dikenal. Hmm, selalu ada selfie di sela-sela acara, ya, Mak.

    BalasHapus
  25. selain watermark ada beberapa cara lain juga untuk memproteksi image atau foto diantaranya adalah cukup memasang image yang resolusinya kecil, sembunyikan image source atau bisa dengan javacsipt yang mendisable pengunjung untuk melakukan klik source blog, seperti yang dikutip http://www.naturefocused.com/articles/image-protection.html

    salam :D

    BalasHapus
  26. Foto karikatur keluaga saya dua kali dijadikan iklan! Huhuhu ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa iyaaa. Jadi billboard gede untuk tujuan komersil pula ya, Mas. :(( *puk puk*

      Hapus
  27. Aku jg sekarang males watermark mak..toh kl tu org niat seperti mak haya bilang bisa aja dia edit ulang. Terserah deh mo diambil jg monggo....itu berarti foto2ku bagus kan hihihi
    Btw beberapa bulan lalu aku terima email dr salah satu hotel di Lombok minta izin pake fotoku utk promosiin Lombok di web mereka di fotonya langsung ngelink ke blogku... nah ini baru sip..meskipun ga dibayar seneng aja udah ikut andil memasarkan pariwisata Lombok :)

    BalasHapus
  28. Nah, kalo nge-link ke blog kita, sih, gpp ya, Mun. Aku juga ngeliat traveler-traveler kondang biasanya pada ga makai watermark, sih. Rupanya dah siap mental qeqeqe. *_*

    BalasHapus
  29. seperti fans yang mencuri foto kesukaannya ..

    BalasHapus
  30. Belum pernah kecurian, mak. Soalnya foto saya masih amatiran sih..hehehe..

    BalasHapus
  31. Foto2ku ndak ada yg istimewa, Mak Haya, tapi yo tetep kukasih watermark :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Watermark foto-fotomu lucu, Jeng. Bentuknya kacamata, sesuai karakter pemilik blog xaxaxa.

      Hapus
  32. Aku pernaah brapa kali tutorialnya dicopas orang sekaligus sama kata-katanya jugak. Tp yabgitulah, biarin aja. Cm skrg aku tambahin aja watermark gitu. Ini tulisannya bikin smangat mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetap semangat berkarya, Mia. Dikopas pasti karena bagus. ;)

      Hapus
  33. Assalamualaikum salam kenal mba, utk bisnis fotografiku pernah mba, diakui fotonya org itu... tp utk blogku sih belum tau mba, tp aku pake watermark, kebetulan emang sengaja diperjelas bangt logonya dan dibikin lucu logonya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam. Jadi pengin lihat watermark-nya. :D Oiya, apa yg Mbak lakukan kepada si pencuri waktu itu?

      Hapus
  34. Watermark is a must for my pic Mak.. saya pasang jelas-jelas.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal jangan sampai watermark 'ngalingin' foto alias 'menyia-nyiakan' keindahan foto seperti yang disebutkan @DuaRansel di atas ya, Ris.

      Hapus
  35. Salam kenal Mbak :)
    Aku kemarin ikutan juga acaranya, sayang ga dapat tempat untuk workshopnya. Padahal pengen banget.

    Bener banget tuh sama yang dibilang Mbak Hani dan Prue. Jadi gak kesel-kesel amet lagi deh kalo dicuri fotonya. (Walaupun saya belum pernah dicuri sih hehehe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Semoga kapan-kapan bisa ikutan workshopnya kalo diadakan lagi. :)

      Hapus
  36. Foto2 saya enggak ada yang bagus. Watermarknya juga cethar banget. Alias norak, kak.

    Bener. Sudah dimark, tetap saja dicuri dg cara dicrop. Saya pernah beberapa kali ngerasain.

    Jadi, saya ikutan orang2 beken di atas, ah. Cuek saja sajo. Nanti toh ada balasannyo.


    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi ya kalo kayak gitu caranya ga berkah ya, Dah. Pasti adalah ganjarannya nanti.

      Hapus
  37. Meh. Jangankan dicuri orang lain, dicuri surat kabar juga pernah :D kayaknya wartawannya ngambil deh dari blog. Tapi gak kasih keterangan sumber foto. Tapi udah lama banget sih kejadiannya, tahun 2005 :D mau protes ah yasudahlah, saya tetep gak ikhlas. biar nanti di akherat aja hukumannya. heuhuehue

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beuh parah, ya. :( Jurnalis mestinya amat sangat paham etika. Semoga ga kejadian lagi. *puk puk*

      Hapus
  38. Kalau saya, Alhamdulillah, dan jangan sampai ada yang ambil tanpa permisi foto-foto yang ditempelkan di blog pribadi saya (walaupun kualitas foto saya juga nggak bagus-bagus amat). Saya bisa memahami perasaan rekan-rekan blogger yang mengalami peristiwa yang pastinya nggak diinginkan oleh siapa pun ini.

    Pengalaman berkaitan dengan tempel-menempel foto, biasanya kalau foto itu bukan hasil karya saya pribadi, saya cantumkan, "pinjam dari sini", kemudian dilink-kan, supaya pembaca tahu sumbernya dari mana sekaligus menyatakan bahwa gambar/foto itu bukan milik saya. Trus, gambar/fotonya pun nggak saya edit, misalnya, ditambah gambar atau tulisan. Tidak. Khawatirnya kalau malah menyalahi aturan hak cipta. Sedangkan kalau fotonya hasil jepretan saya sendiri, sejauh ini, baru dilengkapi watermark aja, pakai nama beken saya: "Ratri Puspita". Hihihi.

    Apakah ada sistem pengaman foto? Kalau nggak salah, untuk tulisan sudah ada ya, dengan cara nggak bisa dicopas langsung. CMIIW. Kalau foto bagaimana? Adakah semacam perangkat lunak atau aplikasi yg menjadikan foto-foto koleksi pribadi yang diunggah ke blog tidak bisa dicopas sembarangan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang tahu kalo soal prangkat lunak atau aplikasinya. Saya ga pernah pakai. Pasrah wae. :))))

      Hapus
  39. Alhamdulillah Mak, belum pernah dicuri. Alamat memang belum terkenal Mak. Sekaligus gak jago jepret-jepret foto. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga kalo dah terkenal ga kejadian juga. :D

      Hapus
  40. Hi Mak salam kenal :) Ternyata kita barengan kmaren yah. Besok kalau ngikut acara blogger lagi semoga bisa ketemuan dan ngobrol ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, salam kenal, Maureen. :) Tempo hari acaranya seharian dan banyak orang. Ga ada kesempatan kenalan satu-satu kita, ya. Next time hopefully. ;)

      Hapus
  41. Dulu waktu jaman friendster foto ku kadang di curi orang, mbak, saya mah seneng-seneng aja sih, tapi idu dulu, kakau sekarang mah nggak dong *sok cakep banget ya aku hahaha

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan