Selasa, 24 Juni 2014

Pelatihan Menulis Republika Bookfiesta, Kiat Menembus Penerbit Republika


“Orang yang besar bukanlah orang yang memiliki harta banyak atau bangunan megah, melainkan mereka yang memiliki karya.” – Syahruddin El-Fikri, redaktur harian Republika
 
Sabtu (21/6) tepat pukul 10.00 pagi saya tiba di kantor Republika di Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan. Rangkaian acara Republika Bookfiesta dalam rangka merayakan milad Republika baru saja dibuka. Pemotongan tumpeng pertama diserahkan kepada Ustaz Subhan Nur, penulis buku Energi Ilahi Tilawah.

Pembukaan Republika Bookfiesta



Buku antologi saya  Fight Love Hope dijual di bazaar
Dalam waktu dekat, Republika akan mengadakan lomba menulis novel. Muh. Iqbal Sentosa, editor senior penerbit Republika, berharap penulis-penulis baru muncul dari pelatihan menulis yang diadakan kali ini. Bahkan, kalau bisa, menjadi salah satu pemenang lomba menulis novel Republika. Aamiin. Selain pelatihan menulis, Republika Bookfiesta juga mengadakan bazaar, bedah buku bersama Ustaz Yusuf Mansur, dan audisi presenter serta pemeran film Seven Secret dari novel terbitan Republika.

Kalau kita bisa bercerita, kita pasti bisa menulis

Sesi pertama pelatihan menulis diisi oleh Syahruddin El-Fikri, penulis produktif buku-buku agama sekaligus redaktur harian Republika. “Kalau kita bisa bercerita, kita pasti bisa menulis. Kalau sudah ada kemauan, kita sudah punya modal menulis,” kata Syahruddin di awal pertemuan. Coba rekam suara kita, dengar ulang, kemudian tuliskan kalimat demi kalimat. Koreksi, koreksi, dan koreksi setelah ditulis. Saat menulis, kita punya waktu berpikir.

Syahruddin El-Fikri

Bingung mau menulis apa? Biasanya Syahruddin menugaskan reporter baru ke pasar. Baginya, pasar adalah pusat berita. Mulai dari tukang parkir, pemilik toko emas, sampai penjual telur, semua bisa jadi berita. Cerita tentang tukang parkir bisa digali mulai dari tarif parkir, tiket, jumlah kenderaan, sampai ke sosok tukang parkir sendiri. Kalau sang reporter cuma bisa dapat 1 – 2 cerita setelah main ke pasar, berarti reporter tersebut termasuk reporter pasif.

Sesi pertama ini lebih bersifat sharing dan memotivasi. Jadi, menurut hemat saya, kalau dikatakan pure pelatihan menulis, rasanya kurang cocok.

Dapur Penerbit

Sesi kedua, sesi mengulik Dapur Penerbit bersama Muh. Iqbal Sentosa. Sesi ini lebih menarik. Sedikit wawasan tentang Republika. Republika lahir tahun 2002. Ada harian Republika (surat kabar), penerbit Republika, Republika Online/ROL (portal media online), dam alifTV (televisi berbayar).

Bicara soal buku, penerbit Republika pertama kali menerbitkan buku Panduan Puasa Quraish Shihab (kumpulan tanya jawab di harian Republika). Setelah itu disusul novel Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 karya Habiburrahman El Shirazy, Hafalan Shalat Delisa karya Tere Liye, dst. Rata-rata cetak ulang 14 kali. Wow, mungkin sebagian besar sudah pada baca novel-novel bestseller ini, ya?

Muh. Iqbal Sentosa

Salah satu yang penting untuk diketahui adalah jumlah judul buku banyak sekali, sementara tempat untuk display di toko buku Gramedia terbatas. Sekitar 60 – 70% buku-buku yang di-display adalah buku-buku terbitan Gramedia. Sisanya untuk buku-buku penerbit luar. Maka, terjadilah “pertarungan”. Buku yang laku akan dipertahankan. Buku yang tidak laku akan di-retur. Buku yang tidak laku belum tentu karena tidak bagus, tapi tidak punya tempat untuk di-display hiks.

Di sinilah gunanya promosi. Promosi yang dianggap paling murah, cepat, dan efektif adalah via media sosial. Hare geneee sebaiknya penulis punya media sosial semacam Facebook, Twitter, dan blog untuk bantu promosi, demikian saran Iqbal. Coba bayangkan, urusan buku laku bukan semata-mata urusan royalti. Sedikit buku yang terjual, berarti sedikit pula yang membaca gagasan dan buah pikiran kita. Sedih enggak, sih?

Bareng Bunda Yati Rachmat dan Hanniffy (foto milik Hanniffy)
Tebak, ini selfie atau bukan?
Media sosial juga bisa dipakai untuk mengetes naskahmu sebelum dikirim ke penerbit. Posting naskah di Facebook atau blog. Bagaimana komentar pembaca? Adakah kritik dari mereka? Komentar dan kritik dari pembaca bisa jadi masukan berharga. Hm, selanjutnya, mungkin kamu bertanya-tanya. Apakah naskah yang sudah diposting di media sosial akan laku kalau dijadikan buku? Bukankah naskah sudah dibaca orang banyak? Jangan khawatir. Buku Sepotong Hati yang Baru karya Tere Liye tetap laris manis meski sudah diposting berkali-kali di Facebook.    

Layak terbit dan layak pasar

Syarat sebuah naskah diterbitkan oleh penerbit Republika adalah LAYAK TERBIT dan LAYAK PASAR.

LAYAK TERBIT maksudnya sbb:

-   tidak mengandung unsur SARA, pelecehan, kekerasan, dan eksploitasi seks. Jadi, jangan coba-coba kirim naskah model Jakarta Undercover ke sini. Naskah eksploitasi seks yang “berlindung” atas nama sastra juga tidak akan diterbitkan. So, kirim naskah sesuai dengan misi visi penerbit.

-   bukan plagiat.

-   bersifat kebaruan, baik tema maupun sudut pandang.

-   mengandung pesan yang kuat dan up to date.

-   tata bahasa dan logika runtut.

-   penulisnya autentik. Misal, penulis yang  berlatar belakang pendidikan dan/atau berprofesi di dunia pendidikan, akan lebih klop kalau menulis buku bertema pendidikan. Meski, tidak menutup kemungkinan untuk menulis buku-buku bertema lain.

LAYAK PASAR maksudnya diterima oleh masyarakat luas.

Kirim naskah sejumlah 250 halaman (spasi dobel TNR 12). Penerbit Republika prefer menerima kiriman naskah print out, bukan digital. Naskah print out “aman” bagi penulis dan memudahkan editor. Warning, sebaiknya kamu tidak mengirimkan naskah digital kepada penerbit yang belum jelas kredibilitasnya. Bisa saja mereka katakan naskahmu tidak layak terbit. Tapi, suatu saat, naskahmu terbit dengan diubah sana-sini dan bukan atas namamu!

Yang ingin kirim naskah ke penerbit Republika, jangan lupa teliti lagi akurasi data, tata bahasa, logika, typo, dll. Stop berpikir, “Ah, nanti, kan, ada editor yang memperbaiki.” Kalau naskahmu “bersih” dan memenuhi semua syarat, proses terbit juga cepat. Lengkapi dengan surat pengantar, sinopsis, keunggulan naskah, dan biodata penulis, ya. Seandainya layak terbit dan layak pasar, royaltinya 8 – 10%.

Good news, kamu boleh chit chat lebih dahulu dengan Iqbal melalui e-mail iqbal@republikapenerbit.com, Twitter @ayahbagas, atau WhatsApp 085219065915. Beliau sangat terbuka untuk diskusi. Sekarang ini banyak penerbit menerapkan sistem “jemput bola”, termasuk penerbit Republika. Bukan zamannya lagi penerbit duduk diam menunggu naskah datang. Oiya, sekadar info, sementara ini, penerbit Republika tidak menerbitkan naskah kumpulan cerpen (kumcer) karena segmen pasarnya kurang luas. Naskah novel dan nonfiksi, yuk, welcome.

“Boleh jadi pada awalnya Anda yang ‘mengemis-ngemis’ kepada penerbit. Teruslah berkarya. Yakinlah pada saatnya, penerbit yang akan ‘mengemis-ngemis’ (naskah) kepada Anda,” kata Iqbal tersenyum.

Terpilih sebagai salah satu penanya terbaik
Nah, tertarik? Ayo, semangat! Segera menulis dan kirim! [] Haya Aliya Zaki






26 komentar:

  1. “Boleh jadi pada awalnya Anda yang ‘mengemis-ngemis’ kepada penerbit. Teruslah berkarya. Yakinlah pada saatnya, penerbit yang akan ‘mengemis-ngemis’ (naskah) kepada Anda,” kata Iqbal tersenyum.

    Wiiih ini bikin semangat :)))

    Mak, kalo di kota saya, toko buku yang rame itu Gramedia. Teman2 saya, kalo ada antologi saya terbit nanyanya begini, "Ada di Gramedia?" ... orang sini gak begitu suka beli online. Jadi kalo mau terbitkan buku bagusnya mencari penerbit yang kira2 bisa membuat buku kita ada di Gramed.

    Lalu ttg promo ... kata banyak penulis sih seperti itu. Kalo menghadiri acara2 yang ada penerbitnya, kata mereka juga begitu.

    Terakhir: Kayaknya itu foto selfie deh, pasti mak Haya acting serius kan, trus selfie-an? *kabuur*

    *balik lagi* Makasih sharingnya ya Mak
    *kabur lagi*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa itu foto selfie. Aku pura-pura serius wkwkwk.

      Hapus
  2. Kereeen..ilmunya. Ikut pelatihan emang nggak rugi ya. Coba di Solo sering ada kayak gini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rasanya haus terus berburu ilmu ya, Mbak. :)

      Hapus
  3. Artikel yang saya sukai dan butuhkan
    Terima kasih tipsnya
    Saya akan mencoba kirim buku memoar ke Republika, semoga layak diterbitkan walau saya bukan seleb.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sukses ya, Pakde. Monggo dikontak editornya. Katanya, blio menerima diskusi dengan tangan terbuka. :)

      Hapus
  4. baguss banget mbak..
    pengen coba ikutan.
    salam kenal mbak..^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga. Semoga bermanfaat. :)

      Hapus
  5. sekarang banyak penulis buku yang aktif di socmed,dan itu poin plus juga ya bt promo buku hehe..makasih mak sharingnya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Poin plus juga di mata penerbit hehehe.

      Hapus
  6. Terima kasih sharing ilmunya, mak. Sangat bermanfaat nih:))

    BalasHapus
  7. aku masih belajar membaca mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Lidya tulisannya wes apik, kok. :)

      Hapus
  8. Mengemis-ngemis?? Tersindir nih mak..tp beneran kata2 itu bikin semangat deh...
    Cobain ahh kirim naskah novelku ke Republika... who knows?? ^^
    Thanks for sharing this valuable knowledge mak 😚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ga ada salahnya mencoba, Mak. Ada kontak editornya di atas kalau Mak Muna mau diskusi. Sukses, ya. :)

      Hapus
  9. Infonya jempooool bgt mak..makasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bermanfaat dan bisa dipraktikkan. :)

      Hapus
  10. Pengin banget ikut acara seperti itu. Sayang, di daerah saya tidak/jarang ada.

    * Kebanyakan orang atau media massa nulisnya ‘ustad’; KBBI nulisnya ‘ustaz’; kalau santri di pesantren nulisnya ‘ustadz’ (kombinasi antara media massa dan KBBI). Tapi sepertinya pelafalan kita sehari-hari lebih condong ke ‘ustad’ ya, Mak? He-he.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaah, makasih infonya, ya. Saya lupa-lupa ingat ini di KBBI 'ustad' atau 'ustaz'. Tempo hari ggogling, kok, malah siwer. Sudah saya koreksi. :)

      Hapus
  11. Wah, keren postingan Mak Haya ini. Bunda belum selesai nih, blaru tulis coret-coret, hehe... Mungkin yang keluar dari kepala aye, gak akan selengkap ini. Tapi tetap akan dibuat postingan, buat update blog, hehe.. Masih ada beberapa PR nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayoo, Bunda. Sekalian update blog. :D

      Hapus
  12. udah nebak itu foto selfie xixixi...:)

    BalasHapus
  13. Foto selfienya keren,mbak.hehehe..saya masih belajar menulis dari sudut pandang yang berbeda supaya layak jual.makasih infonya,mbak haya :-)

    BalasHapus
  14. Sip sip. Saya juga masih harus terus belajar. :)

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan