Senin, 30 Juni 2014

Mereka yang Abadi



Keluarga kecil saya (karikatur oleh Yodha)

“Marry a writer, if you want to live forever.” – craneHARDCORE



Saya ingin menulis seperti wartawan ini, demikian batin saya, saat membaca koran, suatu malam. Entah dari mana saya bisa dapat pemikiran seperti itu. Semakin sering saya membaca buku atau koran, semakin kuat keinginan saya untuk belajar menulis. 


Semenjak itu, saya menulis setiap hari, menulis apa saja. Dengan bangganya saya mencantumkan “MENULIS” sebagai hobi saya di biodata. Saya membeli buku-buku karya penulis kondang dan mempraktikkan teori ala mereka. Istilahnya, berguru tanpa bertemu. Belajar secara autodidak, kenapa tidak? Maklum, saya kesulitan menemukan pelatihan menulis di Medan pada tahun 90-an.


Satu per satu naskah saya dimuat di media cetak. Fiksi maupun nonfiksi. Sedikit demi sedikit honor ditabung untuk membeli mesin tik. Nikmat menulis lebih terasa ketika memakai mesin tik hasil dari keringat sendiri. Alhamdulillah. 

Tulisan saya di media cetak


Setelah menikah, saya akui, keluarga adalah inspirasi terbesar dalam menulis. Tahun 2005, novel pertama saya berjudul Si Kembar (DAR! Mizan) terbit. Novel ini saya persembahkan untuk Mama, suami, dan sulung saya, Faruq (waktu itu anak saya baru satu). Tahun 2009, terharu rasanya ketika tulisan saya tentang komunikasi suami-istri dibukukan di Mari Bicara 100 Kisah Menghangatkan Hati (GPU). Kadang saat saya dan suami berselisih, salah satu dari kami akan mengambil buku itu. Kami membacanya untuk meredam emosi, kemudian mencoba tersenyum dan mencari solusi. Setelah anak-anak lahir, saya menulis polah dan celoteh mereka dalam beberapa buku dan artikel-artikel parenting. Tulisan-tulisan ini merupakan saksi dan seni indahnya menjadi seorang ibu.  

Novel Si Kembar (DAR! Mizan)

Pujian diam-diam dari Faruq di novel saya Hilangnya Berlian Pink (DAR! Mizan) :)


Pengalaman tak terlupakan membantu merawat Ummi (almarhumah mertua perempuan) yang terkena sakit kanker otak, saya tulis di buku Fight Love Hope (Al Kautsar). Sampai sekarang, Bapak (mertua laki-laki) masih menyimpan buku ini untuk mengenang Ummi. Selain untuk Ummi, saya berharap buku ini juga bermanfaat untuk mereka di luar sana yang menderita kanker dan sedang berjuang untuk hidup.


Self reminder, saya mesti pilah-pilih mana hal-hal tentang keluarga inti yang boleh saya ungkap untuk khalayak ramai, mana yang tidak. Yang berbau aib, menjelek-jelekkan, dan kira-kira ‘membahayakan’ anak-anak, tidak akan saya sampaikan.


Bagi saya, keluarga bukan hanya mereka yang bertaut darah. Kisah seru dan lucu semasa di kos, saya tulis dan dibukukan di Anak Kos Dodol Bareng Konco (Gradien). Senangnya, tulisan ini terpilih sebagai satu dari lima tulisan terbaik. Teman-teman kos adalah keluarga paling top yang saya punya ketika saya berada di rantau demi menuntut ilmu. 

Beberapa buku saya


Hobi menulis membawa saya ke profesi editor. Teman-teman di penerbit adalah keluarga. Hobi menulis membawa saya menjadi juri Konferensi Penulis Cilik Indonesia dua tahun berturut-turut. Tak pernah saya sangka kalau saya bakal bercengkerama dengan anak-anak Papua yang tetap semangat menggantung mimpi, meski banyak kendala. Mereka keluarga. Hobi menulis membawa saya bertemu komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB). KEB beranggotakan emak-emak luar biasa yang punya segudang kesibukan, tapi masih menyisihkan waktu untuk berbagi cerita melalui tulisan di blog. Saya tidak pernah merasa sendiri. Ya, mereka semua keluarga.  
   
Editor buku Tendangan Si Madun (DAR! Mizan)

Bersama penulis cilik dari Papua

Saya dan Kumpulan Emak Blogger


Keluarga adalah segala-galanya. Seorang penulis biasanya 'keranjingan' menceritakan sosok orang-orang yang mereka cintai, terutama keluarga, melalui tulisan. Saya salah satunya. :) Dan, kamu, siap-siaplah untuk abadi. [] Haya Aliya Zaki

3rd Giveaway Nakita: Hobi dan Keluarga

 


16 komentar:

  1. Produktif berkali-kali Mbak Haya. :D
    Insyaallah berkah ya, Mbak. ^^

    BalasHapus
  2. Hobi kalau ditekuni memang mengasyikkan ya Mak haya.. (semangat menekuni hobi saya lagi yg sudah beberapa bulan ini vakum), terimakasih sharenya Mak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Yang penting tekun dan konsisten. Cemungudh! :)

      Hapus
  3. haduh haduhh aku garuk garuk kalo disuruh nulis produktif gini qiqiqi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kyaaa ngenyek, nih, ah. Blog Mak Shinta update tiap hari, gitu. :v

      Hapus
  4. Salut pokok'e dg mamak ini.

    BalasHapus
  5. keren habis ceritanya mak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Digigit atau ditelen, kok, bisa habis, Mak? Xixixi.

      Hapus
  6. terima kasih untuk partisipasinya. Tercatat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyiiik, didatengin juri. Menangin ya, Mak wkwkwk.

      Hapus
  7. Pengen deh bisa seperti dirimu yang keren bgt ini mak... sukses terus ya ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mak. Doa yang sama buatmu. :) Tapi, jujur, aku belum merasa sukses. Yang dirasakan, sekarang ini adalah menulis sudah jadi kebutuhan, bukan sekadar hobi lagi. Btw, sumpah, aku pengin traveling terus kayak dirimu! :)

      Hapus
  8. makasih sharingnya mak, wah keren! :D

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan