Minggu, 18 Mei 2014

Veronica Widyastuti: Bersyukur, Bersemangat, Berbagi



Perempuan satu ini mungkin tidak tahu kalau diam-diam saya berguru cara menulis cerita anak kepadanya. Membaca karya-karyanya yang menderas, saya banyak belajar. Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengenalnya lebih jauh. Kami ngobrol cantik-tik-tik. Meski tidak lama, obrolan ini sangat berharga. Sudah saya duga, sosoknya memang sederhana dan tidak terlalu banyak bicara, namun karya-karyanya unik, bermakna, asyik dibaca.

Siapakah dia?

“Menulis membuat saya bahagia,” itulah kalimat pertama yang diucapkan Veronica Widyastuti (Vero), perempuan kelahiran Sleman, 7 Januari 1980. Profesinya sehari-hari adalah reporter majalah anak-anak Bobo. Kamu pasti tahu, dong, majalah beken ber-ikon kelinci biru ini? Dari kecil sampai sekarang saya suka baca majalah Bobo. Kalau sekarang, sih, bacanya bareng anak-anak hehehe. Meski profesinya reporter, Vero lebih senang disebut penulis. Dia menulis apa saja, mulai dari liputan, artikel pengetahuan, sampai fiksi.

Entah kapan mulai menulis, Vero sendiri lupa. Sewaktu SMP dan SMA, dia sudah berkutat dengan kegiatan ini. Vero aktif mengisi mading dan majalah sekolah. Zaman kuliah, dia gencar menulis artikel parenting. Menulis serius dijadikan profesi ketika dia bergabung dengan majalah Bobo pada tahun 2004. Wow, sudah 10 tahun!

“Menulis membuat saya bahagia karena saya bisa berbagi apa saja melalui tulisan. Hanya, pengalaman liputan ke luar Pulau Jawa selalu luar biasa buat saya. Saya menikmati keindahan alam dan budaya Flores, ketemu ibu-ibu suku Dayak yang masih memanjangkan telinga, melihat tambang batubara dari dekat, dan masih banyak lagi. Suatu saat, saya ingin keliling Indonesia, kemudian menuangkan semua keindahan dan keberagaman Indonesia melalui tulisan,” cerita ibu dari satu putri bernama Sekar (4 tahun), dengan mata berbinar. Lebih lanjut Vero bercerita bahwa yang namanya liputan, kendala pasti ada. Misalnya, waktu tugas liputan ke Nias. Cuaca di sana yang hujan terus, cukup menyulitkan. Vero harus kreatif supaya mendapatkan hasil liputan yang oke.  



Soal buku, hingga kini, Vero telah menulis 16 buku cerita anak solo, antara lain buku bergambar seri I Love Monster (Penerbit Kanisius), Nasi Goreng Meledak! (DAR! Mizan), Mareta, Tolong Aku! (Penerbit Kanisus), Me & Lionel Messi (DAR! Mizan), dan Princess Badung (Tiga Serangkai). Ada 1 buku yang Vero jadi co-writer, yakni Bola-Bola Mimpi di Kaki Alif (Tiga Serangkai), buku antologi Bayangan Penari Kecil (Human Books), dan buku antologi Best Friend Forever (DAR! Mizan). Yang diterbitkan oleh Bobo ada Kumpulan Cergam Bobo (3 – 6) dan Kumpulan Cerpen Bobo 56 Detektif Kacau.

Sebenarnya, semua buku punya cerita seru di balik penulisannya. Tapi, kalau ditanya yang sangat berkesan, Vero menyebutkan buku Mareta, Tolong Aku!. Proses penulisannya paling lama. Melalui buku itu, Vero memasukkan ilmu psikologi, ilmu yang dia miliki sebagai Sarjana Psikologi, lulusan UGM, Yogyakarta. Bukan hal yang gampang, lho. Secara, ini buku cerita anak. Respons pembaca anak-anak pun bagus, terbukti dari banyaknya e-mail curhat yang dikirim kepada Vero. Yang bikin lebih berkesan, buku Mareta, Tolong Aku! berhasil meraih penghargaan nominasi Buku Anak Terbaik 2013 dari Balai Bahasa Yogyakarta. Selamaaat! Oiya, selain menulis buku, Vero juga rutin menulis di blognya Cerita-Cerita Veronica. Yang senang baca cerita anak atau pengin belajar menulis cerita anak, silakan mampir!



Dalam rangka Hari Buku Nasional, Vero mengaku menyukai karya-karya penulis lokal Rae Sita Patappa. Ide-ide Sita selalu keren. Sebuah benda atau kejadian sepele bisa disulap jadi cerita bagus. Juga, ada nilai kehidupan terselubung dalam setiap cerita-cerita Sita, penulis asal Kapuas Hulu, Kalimantan Barat itu.

Menurut Vero, apa yang benar-benar harus diperhatikan saat menulis cerita anak?

“Kalau kamu ingin menekuni dunia cerita anak, seriuslah. Dunia anak sepertinya santai dan main-main, tapi sesungguhnya kita punya tanggung jawab yang besar kepada pembaca. Anak-anak mudah terpengaruh dengan apa yang mereka baca. Jadi, kita harus hati-hati menyuguhkan sesuatu kepada mereka. Tulis cerita yang menghibur dan membuat mereka menjadi anak-anak berkarakter positif,” kata Vero, bijak. 

Ehm, kembali lagi ke pekerjaan sebagai reporter majalah Bobo tadi, menurut Vero, bagaimana komentar teman-teman tentang sulitnya tulisan mereka menembus majalah Bobo? *puk puk Vero*

“Aaakkk ... sejujurnya saya merasa tidak enak dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Bahkan, ada yang protes juga. Saya berterima kasih sekali atas semua masukan dan kepercayaan teman-teman yang sudah mengirimkan naskah ke Bobo. Berkat kepercayaan teman-teman, naskah di Bobo membanjir,” papar Vero tersenyum. “Naskah yang masuk begitu banyak dan kami harus membaca satu per satu. Cerita yang bagus pun masih harus diseleksi supaya cerita yang dimuat bukan hanya bagus, tapi tema-nya beraneka. Sementara, setiap Minggu, Bobo hanya bisa memuat 4 cerita. Antrean pemuatan jadi panjang. Saran saya, sebaiknya naskah yang sudah dikirimkan tidak ditunggui terus. Cukup dicatat tanggal pengirimannya. Sambil menunggu, yuk, tulis dan kirim cerita yang lain. Tetap sabar, gigih, dan pantang menyerah!”

Baru-baru ini Vero mendapat kesempatan mengajar di Kelas Inspirasi Jakarta. Ini bukan kali pertama Vero mengajar anak-anak. Sebelum bekerja di Bobo, dia sempat mengajar hampir setahun di sebuah preschool di Yogya. Vero pernah beberapa kali mengisi pelatihan mading atau penulisan yang diadakan Bobo. Cuma, kalau di Bobo, waktunya singkat. Paling 10 – 15 menit. “Kalau di Kelas Inspirasi saya berasa jadi guru beneran haha! Mengajar sehari saja, energi rasanya terkuras. Saya senang berbaur dengan anak-anak. Mereka semua luar biasa!” Penulis yang berdomisili di Tangerang ini menunjukkan foto-fotonya saat mengajar.


Sebagai teman dan pembaca setia tulisan-tulisan Vero, saya berharap Vero tidak berhenti mengabdikan dirinya di dunia anak-anak. Anak-anak butuh orang-orang seperti Vero. Tetap bersyukur, bersemangat, dan berbagi, ya! [] Haya Aliya Zaki

Semua foto milik Veronica Widyastuti

20 komentar:

  1. wah keren, sampe skarang aku malah blum bs bikin picbook haha ajari donk mak haya yuks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk mau nulis tema apa, Mak? :D

      Hapus
  2. Pengin foto bareng sama anak-anak itu.

    BalasHapus
  3. Keren semangat berbaginya :")

    BalasHapus
  4. Btw bobo bahasanya jg enak dibaca g seperti buku cerita anak yg sedikit susah kata2nya sekarang -___-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang sulit nulis yang sederhana, mudah dipahami, menghibur, tapi punya nilai ya, Cha. Ga mudah jadi penulis cerita anak. Vero salah satu inspirasiku.

      Hapus
  5. Iya Mbak Haya Aliya, memang gak mudah menjadi [enulis cerita anak :) Tanggung jawabnya besar.
    (Aulia Manaf)

    BalasHapus
  6. Benar Mbak Haya Aliya, memang tidak mudah menjadi penulis cerita anak. Saya masih belum pernah tembus Bobo :(
    Tapi tidak putus asa dong. Buktinya , baru 2 cerita anak tembus koran lokal ...hehehhe :)
    (Aulia Manaf)

    BalasHapus
  7. sosok seperti ini yang kita harus kenali dengan baik..lucky you mak..bisa ketemu langsung :D....refernsi yang bagus nih buku-bukunyaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, lucky me. :D Buku-bukunya recommended, Mak. Suka semuanya. :)

      Hapus
  8. ah majalah bobo mengingatkan saya pada masa kecil untuk bisa beli majalah bekasnya aja ga mampu hiks..harus minjam ke teman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sampai sekarang majalah Bobo masih digandrungi ya, Mak. :)

      Hapus
  9. wah keren, aku juga lagi pengen belajar bikin cerita anak nih mak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, aku pun masih terus belajar. :)

      Hapus
  10. kalau berdekatan dengan dunia kepenulisan anak, kenapa yaaa kok awet muda dan senantiasa fresh terusss...malah tanya aku inii

    BalasHapus
  11. Iyaaa... bawaannya hepi terus ya, Mak. Pas ngedit naskah KKPK, aku bisa ngikik-ngikik sendiri. Baca tulisan anak-anak yang polos jadi hiburan tersendiri. :))))

    BalasHapus
  12. Terima kasih sudah berbagi profil Mbak Vero. Aku juga suka dia! Juga Mbak Haya, tentunya :)

    BalasHapus
  13. Baru ngeh kalau mbak Vero ini masih muda banget.. hehehe

    makasih tulisan ini haya....

    BalasHapus

Terima kasih sudah membaca dan meninggalkan jejak. Semoga tulisan ini bermanfaat. Mohon maaf, komentar Anonim akan saya hapus. Dilarang copy paste atau memindahkan isi blog. Jika hendak mengutip, harap mencantumkan sumber blog ini. Salam.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pagerank Alexa

Iklan